CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 43


__ADS_3

POV Rohman


Aku manusia yang hina dan kotor, rasanya sungguh tidak pantas aku meminta kembali pada Mayang namun sisi lain aku ingin mengabdi dan ingin sekali memohon maaf padanya.


Tak dapat kupungkiri aku juga masih berharap bahwa Mayang tidak jatuh kedalam pelukan orang lain.


Sebentar lagi Mayang meminta aku bertemu dengannya di taman kota, walaupun sedikit penasaran dengan tujuannya mengajak aku bertemu tapi tak berani kutanya melalui pesan WhatsApp, tapi aku lebih memilih menghargainya saat ini dan seterusnya.


Saat pertemuan nanti juga akan kukatakan padanya aku mengidap HIV, agar dia paham dan memberikan pemahaman pada Ali agar mereka tidak makan dan minum bekas dari bibirku, karena HIV bisa menular memalui liur bekas luka dan hubungan badan.


Ya hubungan badan.


Aku Rohman tak akan menyentuh Mayang jika kami sudah menikah nanti kecuali aku menggunakan pengaman itupun jika Mayang berkenan.


Matahari begitu meninggi, aku menjaga parkiran semampuku walau banyak orang yang mengeluh dan banyak juga yang simpatik padaku tapi aku nyaman dengan pekerjaan ini, andai saja aku melakukannya dari dulu mungkin aku akan merasakan bahagia saat ini bersama Mayang.


Seperti pepatah mengatakan nasi sudah menjadi bubur, begitulah aku saat ini. Kehidupan bersama yang indah tidak dapat kujalani dengan sempurna lagi.


Akhir-akhir ini aku sering melihat Mayang tidak membuka toko gamisnya, entah apa yang terjadi. Ah semoga saja firasatku salah.


"Pak, izin ga jaga parkiran ya?!" Aku mencari celah agar diizinkan tidak bekerja hari ini.


"Kenapa?" Tanya laki-laki tua yang sudah kuanggap sebagai bapakku itu.


"Mau ketemu sama Mayang, Pak," jawabku jujur, karena memang sebentar lagi aku akan memulai kehidupan baru.


Ah, bukan.


Tepatnya kehidupan lama yang ku ulang lagi, dengan konsep yang berbeda.


"Iya, besok harus jaga parkiran. Gantian saya yang libur," selorohnya membuat aku tersenyum simpul. Laki-laki tua yang hampir bungkuk itu masih terlihat kuat dibandingkan diriku yang masih muda ini.


Aku masih berandai jika tidak berpenyakit mungkin hidupku tidak semenderita ini, tergesa aku membersihkan diri lalu mencari pakaian terbaik yang kupunya, aku ingin terlihat rapi di depan Mayang walaupun kakiku menutup ketapananku saat ini.


.


.

__ADS_1


.


___


Kutatap jam tanganku yang sudah mulai kusam menunjukkan angka satu kurang, namun wanita yang ku tunggu masih belum tiba, harusnya ia sudah datang. Ah, biarkan kali ini aku menunggunya lebih lama karena dulu dia selalu setia menungguku walau kadang aku tak pulang.


"Bang. Maaf terlambat," seseorang menyentuh bahuku dari belakang, suara itu begitu kukenali.


"Iya, tidak masalah. Aku juga baru datang," jawabku berdusta, biarkan saja asalkan ia senang kali ini.


"Lapar. Makan dulu yuk!" Wanita yang melahirkan anakku itu duduk di sampingku tanpa merasa jijik, tidak seperti aku dulu yang selalu merasa jijik padanya.


"Aku tidak ada uang, Mayang," ucapku. Ya Tuhan kenapa kata-kata ini selalu kulontarkan pada Mayang dari dulu hingga sekarang, dulunya aku berbohong tapi hari ini aku sangat jujur karena uang habis aku gunakan untuk membeli obat.


"Biar aku yang traktir," kata Mayang sambil mengulas senyum. Kenapa selalu Mayang berbuat baik padaku padahal aku dulu selalu saja melukai hatinya.


"Tidak usah Mayang, Abang ga lapar," sahutku pelan sambil tersenyum kecil, aku begitu malu pada Mayang yang jika ia sampai memberiku makan lagi, sudah cukup dulu ia menafkahi diri ini dengan hasil keringat yang tidak pernah kuhargai sama sekali.


Mayang membantuku berdiri lalu mengandeng tanganku menuju rumah makan kecil di dekat taman, beberapa kali kumenolak tapi Mayang tetap memaksakan aku untuk ikut makan dengannya, karena katanya 'Rejeki sudah ada yang atur'.


Wanita yang dulunya kudzalimi kini malah menyayangiku dengan tulus, kupandangi wajah Mayang yang terlalu lelah itu, terlihat sedikit menghitam di bawah matanya.


"Habiskan makananmu, Bang," celetuknyaasih dengan mulut yang masih terisi nasi. Sepertinya dia benar-benar lapar.


Aku hanya mengangguk menanggapi permintaannya, sama sekali tak ingin mengecewakan dirinya, aku ikut menyantap makanan yang ia pesan.


Tak lama makanan sudah tandas tak bersisa, aku berharap Mayang terlebih dahulu membuka percakapan. Ia membuka gawainya dan tersenyum menatap gawainya, entah pesan dari siapa tapi saat ini aku merasakan cemburu jika dia dekat dengan laki-laki lain.


Aku menyadari bahwa aku begitu egois jika harus cemburu pada hal yang tak seharusnya aku cemburu.


"Mau bicara apa, Mayang?" Aku bertanya pada Mayang, aku sudah muak melihat dirinya tersenyum menatap gawainya.


"Oh iya aku hampir lupa," kata Mayang sambil terkekeh geli lalu memasukkan gawainya kedalam tas miliknya.


"Ada hal penting kah?" Aku mencoba mengatur napasku yang memburu lebih cepat, entak kenapa rasa grogi tiba-tiba menyerang.


"Begini, Bang. Aku menerima tawaran untuk balik denganmu bukan karena aku masih mencintaimu tapi ..." Perkataan Mayang membuat duniaku seakan runtuh, tapi aku tidak bisa memaksakan ia mencintaiku seperti dulu, aku menyadari perlakuanku padanya dulu cukup untuk membuat rasa cintanya padaku terkikis hingga habis tak tersisa.

__ADS_1


"Lalu?" Aku mengatur napas agar terlihat baik-baik saja di depan Mayang.


"Semua demi Ali, aku ingin kamu menghabiskan waktumu yang berharga untuk Ali, anak kita sudah lama kehilangan sosok ayahnya," papar Mayang dengan nada datar, terlihat jelas wajahnya menyembunyikan air mata.


Wanita yang melahirkan anakku ini begitu baik, sudah kusakiti masih saja berharap aku menjadi ayah yang baik untuk Ali, tapi tunggu! Kenapa dia mengatakan waktu berharga?


"Waktu berharga? Maksud kamu apa, Mayang?" Aku menyulut sebatas rokok untuk menghindari rasa gugupku.


"Ya, Bang. Aku tau segalanya termasuk ..." Kembali Mayang menjeda ucapannya. Ah, rasa hatiku tidak enak sekarang.


"Termasuk apa, Mayang?" Aku bertanya setelah itu mehirup rokok dalam-dalam.


"Termasuk kamu mengidap HIV, Bang."


Dadaku terasa sesak seiring dengan kuembuskan asap rokok yang belum lama ini menemaniku.


"Maaf, Bang jika kata-kataku menyakitimu. Apapun penyakitmu aku terima dan aku akan mengatakan pada Ali bahwa tidak meminum belas dari gelasmu nantinya," sambung Mayang dengan wajah cemas.


"Ga apa-apa, Mayang. Aku akan tebus semua kesalahanku pada Ali," kataku pelan. Aku bangkit hendak beranjak dari dudukku namun Mayang menghentikan langkahku.


"Tunggu, Bang."


"Ada apa lagi, Mayang?"


"Bersabarlah sampai selesai idahku bersama laki-laki yang yang terpaksa menikahiku. Setelahnya kita akan menikah, Bang," ucap Mayang dengan suara lirih.


"Aku akan bersabar sampai masa itu tiba, Mayang," kataku, mataku masih terus saja menatap manik mata Mayang yang terlihat semakin indah, entah kenapa setelah dia menggugat cerai diriku ia terlihat begitu cantik.


Aku melangkah keluar dari rumah makan itu, meninggalkan Mayang yang masih mematung, aku terus menahan rasa nyeri di bagian intimku agar Mayang tak meragukan bahwa aku masih sanggup membuat dirinya puas atas pelayanan yang kuberikan nantinya.


Ah, mungkin aku terlalu berharap banyak jika Mayang masih mau kugauli, tapi tidak menutup kemungkinan jika ia masih mau bercinta denganku. Tidak ada salahnya mempersiapkan mental sebelum berperang.


.


.


.

__ADS_1


Puing-puing yang berantakan akan ia susun dan tata ulang layaknya merajut benang kusut.


Hati retak itu akan ia perbaiki sebaik mungkin agar terlihat utuh kembali.


__ADS_2