
"Abang tunggu," kata Tuti saat Abizar bangkit dari duduknya lalu mempercepat langkahnya menuju kasir.
Namun langkahnya terhenti saat seseorang sedang memeluk tubuh istrinya di luar restoran yang masih bisa ia lihat dari kaca transparan.
"Rasain," lirih Tuti sambil tersenyum puas menatap ekspresi wajah Abizar yang terbakar api cemburu.
"Apa?" tanya laki-laki bertubuh gempal itu pada Tuti yang berdiri tak jauh darinya.
"Ga ada kok, Bang," kekeh Tuti pelan takut jika Abizar mendengar perkataannya tadi. "Eh, itu bukannya Mayang ya?" sambung Tuti menunjuk kearah Mayang. Laki-laki berkulit sawo matang itu menatap kearah Tuti dan Abizar saat ini.
Laki-laki bermata elang itu tak membiarkan istrinya di peluk begitu saja di tempat umum, terlebih Mayang terlihat berusaha melonggarkan pelukannya namun gagal. Abizar mempercepat langkahnya walaupun Tuti berusaha menahan langkah laki-laki bertubuh gempal itu.
"Lepaskan istri saya," hardik laki-laki pemilik mata elang sambil menarik kasar tubuh laki-laki yang sedang mendekap Mayang saat ini.
"Bulsyit Men, dia janda. Kupastikan kartu keluarganya masih berdua dengan anaknya," ucap laki-laki berkulit sawo matang itu menatap sinis kearah Abizar setelah pelukannya dengan Mayang berakhir.
Laki-laki bertubuh gempal itu mematung, tak dapat mengatakan apapun saat ini karena laki-laki berkulit sawo matang itu saat ini benar adanya, Abizar menikahi Mayang masih secara siri.
"Ih. Biarin aja dia sama pacarnya. Antar aku pulang aja, kan kita searah." Tuti mengandeng tangan Abizar entah kenapa ia begitu yakin jika Abizar mau mengatakan dirinya.
"Lepaskan!" Abizar menghentakkan tangannya dengan kasar membuat Tuti bergidik ngeri dengan sikap Abizar saat ini, ia mundur beberapa langkah menjauhi Abizar.
Wanita memakai bedak pemutih itu menepi, sementara Abizar mendekat kearah laki-laki itu dan mendaratkan satu pukulan di wajah laki-laki yang kurang ajar menurutnya.
"Sudah. Hentikan, Abi!" Seru Mayang sambil meraih tangan laki-laki pemilik mata elang itu yang hendak mendaratkan pukulan sekali lagi ke pipi laki-laki berkulit sawo matang itu.
"Apa benar kata Tuti dia pacarmu?" tanya Abizar yang mulai terbakar api cemburu karena Mayang melarangnya memukul laki-laki itu, sementara Mayang mengeleng pelan, mengandeng tangan Ali lalu meninggalkan mereka bertiga.
Laki-laki pemilik mata elang itu berdecak kesal sementara Tuti dan laki-laki berkulit sawo matang itu tersenyum sinis.
Belum puas rasanya Abizar kalau belum mendapatkan jawaban dari Mayang sendiri siapa sebenernya laki-laki yang memeluknya tadi.
"Turun!" Perintah Abizar saat Mayang baru saja menapakkan kaki dalam angkutan umum, ia ingin pulang saat ini. Tangan ibu satu anak itu ia pegang begitu kuat.
"Lepas! Aku mau pulang." Mayang berusaha melepaskan tangan Abizar yang mencengkram di pergelangan tangannya begitu kuat.
"Ayo, Ali!" Abizar meraih tubuh Ali lalu mengendong bocah yang sudah lumayan berat itu.
Ibu satu anak itu berdecak kesal lalu turun mundur dan meminta maaf pada penumpang angkutan umum karena dirinya supir menunda keberangkatan.
Ibu satu anak itu di paksa masuk kedalam mobil oleh Abizar, matanya menatap nyalang kearah istrinya.
"Kalo lihat biasa aja, aku bukan musuhmu," celetuk Mayang pada laki-laki yang berada di sampingnya saat ini, sementara Ali asik bermain game di gawai milik Abizar di bagian jok belakan mobil.
Dengan kecepatan tinggi laki-laki bertubuh gempal itu memacu mobilnya tanpa menghiraukan keselamatan.
__ADS_1
"Walaupun ahli bawa mobil setidaknya pikirkan keselamatan anakku, tak masalah jika aku mati saat ini, tapi dia masih banyak impiannya yang belum terwujud," sambung Mayang lagi. Perlahan Abizar mengurangi kecepatan laju mobilnya lalu menepikan di bahu jalan.
Laki-laki bertubuh gempal itu tak konsentrasi berbicara jika sambil menyetir.
"Siapa dia?" tanya Abizar dengan nada pelan sambil menatap manik mata Mayang begitu dalam.
"Aku ga tau. Tiba-tiba manggil sayang dan meluk," jelas Mayang lalu wanita itu mengalihkan pandangannya.
Abizar menarik dagu Mayang agar menatapnya kembali. "Jawab yang jujur."
Abizar mengira Mayang berbohong karena menatap kearah lain, setau laki-laki itu orang yang berbohong enggan menatap mata seseorang.
"Aku tidak berbohong, mungkin saja dia orang setres," ucap ibu satu anak itu menatap manik mata Abizar lalu ia terkekeh kecil.
"Jangan tertawa, aku serius." Laki-laki bertubuh gempal itu melepaskan pengaman lalu memeluk tubuh Mayang.
"Bukankah satu hubungan harus ada rasa saling percaya?" tanya ibu satu anak itu.
"Iya. Itu sebabnya aku mencari kejujuran padamu. Tadi kenapa harus membela laki-laki sialan itu?" Abizar menyalakan kembali mesin mobilnya.
"Malu dilihat orang," kata Mayang ia menoleh kearah Ali yang sudah terlelap.
"Aku cemburu," ungkap Abizar pada wanita yang kini bertahta di hatinya.
.
.
Tuti tersenyum bahagia dalam angkutan umum yang sudah bejelan menuju rumahnya. Wanita yang memakai bedak pemutih itu tak menyangka bahwa orang yang bekerja sama dengannya bisa melancarkan aksi secepat itu.
"Jika seperti ini aku akan segera menikah dengan laki-laki itu," gumam Tuti.
Incarannya adalah Abizar saat ini, laki-laki berwibawa dan memiliki banyak harta, ia tak akan kurang satu apapun nanti.
.
.
.
____
Di yayasan, Rohman sudah berhasil merajut dua sweater dan sudah di jual bersama dengan sweater sahabatnya kemarin. Rohman menghitung rupiah yang tidak seberapa nilainya itu.
"Cuma lima puluh ribu," gumamnya lalu terkekeh kecil, seharian hampir patah pinggang merajut sweater namun hanya upah kecil yang ia terima.
__ADS_1
Rohman hendak memasukkan uang pecahan sepuluh ribu lima lembar itu kedalam saku bajunya namun seseorang merampas uang di tangannya dengan kasar membuat laki-laki bertubuh kurus itu terhuyung.
"Pajak!" serunya samlih mengambil uang sepuluh ribu lalu mengembalikan empat puluh ribu pada Rohman.
Laki-laki bertubuh kurus itu hanya diam saat ini dirinya tidak dapat berkutik terlebih Rohman baru di yayasan ini.
"Kembalikan!" hardik Nurulyang baru saja tiba sambil menunjuk kearah laki-laki bertubuh tembun itu.
"Sepuluh ribu doang, minta kan, Bang?" Laki-laki bertubuh tembun itu menatap kearah Rohman agar laki-laki kurus itu mengiyakan perkataannya, namun Rohman hanya diam tanpa suara.
"Ga boleh. Kembalikan atau aku akan melaporkan pada ketua yayasan sekarang," ucap wanita berambut ikal itu semakin mendekat.
Saat Nurul sudah tepat di hadapannya laki-laki bertubuh tembun itu, Nurul secepatnya merampas uang sepuluh ribu yang laki-laki itu pegang.
"Kan kamu bilang sendiri kalo mau duit ya kerja, apa perkerjaanmu malak sekarang? Kalo malak sana keluar aja dari yayasan biar dikucilkan." Nurul menatap nyalang kearah laki-laki bertubuh tembun itu, sementara Rohman berusaha duduk di bangku kecil.
Laki-laki bertubuh tembun itu pergi dari hadapan mereka tanpa aba-aba, sementara Nurul mengembalikan uang milik Rohman.
.
.
.
_____
Di rumah peninggalan almarhum ayahnya Rohman, sedang ada drama yang menyalahkan Mayang. Kakak kandung Rohman itu mengatakan Mayang menamparnya tanpa alasan.
"Masa sih, Nil?" tanya Yeyen setelah serangkaian drama ia ceritakan. Terlebih saat ini Tuti datang kerumah Yeyen untuk menunjukkan video yang memperlihatkan Mayang sedang menampar Nila di bantu oleh suaminya.
Nila berencana melaporkan Mayang ke kantor polisi atas tindakan yang ibu satu anak itu lakukan.
"Pikir-pikir dulu," kata Yeyen pada anak perempuannya itu, namun Nila yang keras kepala tak pernah mendengarkan perkataan ibunya.
"Tante ga usah belain mantan menantu Tante yang egois itu, biarin aja Mbak Nila lapor polisi sekalian aku dapat untungnya," ucap Tuti sambil berlenggak-lenggok kesana-kemari.
"Apa? Untung?" tanya Yeyen bingung atas ucapan ponakannya itu.
"Enggak ada kok," jawab Tuti sambil terkekeh kecil lalu menutup mulutnya. Ia menyadari salah dalam menyampaikan perkataannya saat ini.
Tuti menginginkan Abizar, jika Mayang mendekam di penjara maka kesempatannya mendapatkan Abizar akan lebih besar.
Membanting pintu dengan kasar lalu meninggalkan rumah tanpa berpamitan, sepanjang perjalanan ia menggerutu hingga tapa sengaja ia menabrak seorang laki-laki bertubuh tinggi dan gemuk.
"Ayo pulang!" perintah laki-laki bertubuh gemuk itu sambil menyeringai kearah Nila. Sementara Tuti yang takut memutar balik badannya dan berlari kembali kerumah Yeyen.
__ADS_1