CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 62


__ADS_3

"Tentang pinjaman semalam, tapi dengan satu syarat,"  terang Mayang pada mantan mertuanya itu. 


Bukan ingin membebani Yeyen tapi luka hatinya atas perlakuan keluarga ini belum bisa Mayang maafkan sepenuhnya. Mata Abizar membola sempurna, ia tak percaya akan ada syarat yang akan Mayang sebutkan. 


"Syarat apa?" tanya Yeyen ragu, ia tak menyangka Mayang akan memberikan suyarat tertentu padanya. 


"Jika tidak sanggup membayar dalam jangka satu tahun maka rumah ini akan menjadi hak saya karena cari uang itu susah," ucap Mayang lantang pada Yeyen saat ini. 


Flashback


Mayang masih teringat saat Yeyen memberikan pinjaman uang untuknya sebesar dua puluh ribu pagi harinya tapi harus segera di bayar sore hari karena kata Yeyen cari uang itu susah. 


Padahal saat itu Mayang hanya meminjam dua puluh ribu untuk membeli roti bayi untuk Ali yang saat itu masih balita. 


Wanita itu menerima dengan lapang dada walaupun ia di perlakukan buruk waktu itu karena Ali saat itu masih terlalu kecil dan juga Mayang berpikir bahwa Ali masih membutuhkan sosok ayah sebagai pelindung. 


Bukankah sudah ada pepatah mengatakan apa yang kita taman maka itu yang akan kita tuai, Yeyen terlalu menyayangi putrinya hingga lupa pada ada menantu juga yang harus ia anggap sebagai putrinya. 


"Sayang, apa syarat ini engga terlalu berat?" celetuk Abizar membuat Mayang tersadar dari pikirannya yang menjangkauasa lalu. 


Masih terekam jelas saat Rohman membentak dirinya di depan Yeyen namun wanita itu malah menyalahkan Mayang atas dasar wanita harus patuh pada suaminya bukan menjadi pembangkang. 


Kata-kata yang selalu terngiang di telinga Mayang membuat ibu satu anak itu masih merasakan kecewa pada keluarga Rohman. 


"Aku tidak peduli, jika tidak mau tidak usah pinjam!" seru Mayang lalu bangkit dari duduknya. 


"Tunggu, Mama mau kok, lagian rumah ini juga ada haknya Rohman," ucap Yeyen. Entah apa maksudnya mengatakan seperti itu, padahal Rohman dan Mayang saat ini tidak ada sangkut paut apapun lagi kecuali hanya anak. 


Darah daging tetap tidak dapat di pisahkan walaupun ajal menjemputnya. 


Mayang berpamitan pulang setelah menyerahkan sejumlah uang pada Yeyen dan tanda tangan atas materai, sedangkan Abizar hanya menatap tak percaya pada istrinya saat ini. 

__ADS_1


"Kenapa seperti itu? Ga boleh balas dendam,"   cetus Abizar saat mereka sudah tiba di dalam mobil. 


Berlahan Abizar melajukan mobilnya, sesekali menatap wajah Mayang yang lesu. 


"Sesekali orang seperti mereka harus di beri pelajaran," ungkap Mayang lalu tersenyum sinis. 


"Tidak baik seperti itu, biarkan menjadi masa lalu dan itu menjadi satu pelajaran bahwa kita tidak bisa percaya sepenuhnya pada seseorang," ungkap Abizar lalu tersenyum menatap bidadarinya. 


"Iya. Termasuk aku tidak boleh percaya sama kamu sepenuhnya, kan?" Mayang terkekeh kecil lalu menyetel jok mobil, ia membaringkan tubuhnya, rasa mual yang ia rasakan semakin parah jika dalam kendaraan saat ini. Saat ini Abizar salah berbicara pada Mayang karena hal menyakut masa lalunya jadi dirinya ikut terbawa. 


Lima belas menit mobil kini menepi di klinik dokter praktek yang biasa memeriksa kesehatan Abizar dan orang tuanya, ada sedikit hubungan keluarga antara dokter itu dan Abizar. 


"Halo, apa kabar, Pak Abizar?" seloroh laki-laki berpakaian kemeja batik itu, setelahnya ia tersenyum menatap Abizar yang tersenyum kikuk. 


"Baik tuan," kata Abizar pelan, jika tidak memikirkan ini klinik mungkin suara keduanya sudah menggema seluruh ruangan. 


Mereka berbincang sesaat, sang dokter menggoda Abizar yang menikah dengan janda muda membuat Abizar semakin kurus karena setiap malam bergadang membuat Abizar tergelak. 


Andaikan mereka yang mengolok tahu apa yang dirasakan Abizar maka mereka tidak akan tega mengolok. 


Dokter tersenyum kecil menatap layar monitor kecil di sampingnya, ada seogok daging yang tersimpan di rahim Mayang. Kembali sang dokter memerintahkan perawat wanita yang bekerja dengannya untuk mengelap sisa jel yang masih menempel di perut Mayang. 


"Duh. Ketahuan," batin Mayang sambil memandang ragu kearah Abizar. Ibu satu anak itu takut jika saat ini Abizar akan marah padanya karena telah berbohong. 


"Selamat Pak Abi. Anda memenangkan hadiah tanpa di undi," seloroh dokter membuat Abizar tergelak sekaligus bingung di buatnya. 


"Maksudnya apa, Dok?" tanya Abi pada dokter yang ada di hadapannya saat ini. 


Bukan ia tak tahu, hanya saja ia ingin laki-laki bergelar doktor itu memperjelas apa yang ia katakan tadi bahwa dirinya Batak salah mendengar. 


"Sudah dua Minggu, hebat banget baru buat udah jadi tanpa gagal," kekeh dokter itu sambil menuliskan beberapa resep obat lalu memberikan anda Abizar. Laki-laki bertubuh gempal itu terlihat jelas di wajahnya kebahagiaan yang tak biasa. 

__ADS_1


Sementara Mayang menahan malu, ia memilih keluar dari ruangan dokter dan langsung menuju mobil. Rasa bersalahnya pada Abizar saat ini juga begitu besar. 


.


.


Sedangkan di tempat lain Rohman sedang menunggu seseorang di kedai kopi yang tak jauh dari terminal, saat ini laki-laki kurus itu bersama orang asing. 


Ia menyerahkan barang haram itu dengan imbalan sejumlah uang yang sudah mereka sepakati. 


"Terimakasih!" Laki-laki bertubuh gempal dan bertatto menyerahkan sejumlah uang, sedangkan Rohman mengulurkan tangan dan menjabat tangan laki-laki itu namun bukannya membalas jabat tangan malah laki-laki bertubuh gempal dan bertatto itu pergi begitu saja. 


Sebelumnya Rohman mengecek buang yang di berikan oleh laki-laki itu, mungkin karena itu laki-laki bertatto itu marah dan meninggalkan Rohman dengan raut kesal. 


Rohman tersenyum, kini satu pelajaran lagi yang ia dapatkan. Rohman terlalu meremehkan orang lain dulunya dan kini karma sedang bermain dengannya. 


Bukan Mayang Sari yang meremehkan dirinya saat ini tapi orang lain yang mbalas perlakuan Rohman pada Mayang dulunya. 


Sekilas laki-laki bertubuh kurus itu melirik jam tangannya yang lusuh, sudah pukul dua belas siang, pantas saja perutnya saat ini benar-benar lapar. 


Beranjak dari duduknya, berjalan tertatih menyeimbangkan diri mengunakan kaki palsu yang baru saja ia pakai membuatnya sedikit kesusahan. 


Beberapa langkah berjalan ia sampai di rumahakan sederhana, Rohman memilih nasi dengan lauk ikan goreng dan tumis kangkung, kembali kenangan masa lalu berputar dalam otaknya. 


Dulu ia laki-laki egois yang hanya mementingkan dirinya dengan makan enak sedangkan anak dan istrinya hanya makan tumis kangkung yang menurut mereka begitu lezat. Rohman menjatuhkan bulir bening saat suapan keduanya, ia mengingat perkataan yang ia lontarkan tentang masakan Mayang yang tidak enak dan jorok sedangkan makanan yang ia makan saat ini tidak lebih baik dari makanan yang Mayang suguhkan apalagi Rohman harus merogoh sakunya untuk membayar tagihan. Bukankah di dunia tak ada yang gratis? 


Tapi laki-laki kurus yang tak pernah bersyukur itu melah menghina. 


"Mas, itu," tunjuk seorang wanita saat Rohman hendak menyuapkan nasi kembali dalam mulutnya. 


"Astagfirullah," kata Rohman sambil meletakkan sendok lalu bangkit dari duduknya. 

__ADS_1


Rasa perutnya seakan diaduk-aduk saat ini, bagaimana tidak, ikan goreng yang ia makan ada beberapa belatung yang keluar dari dalam perut ikan goreng itu. Benar saat ini karena sedang bermain dengan Rohman dengan cara yang berbeda.


Rohman menuju kasir lalu membayar tagihan makanan yang baru saja ia makan, makanan yang baru beberapa suap ia makan tapi harus membayar tagihan. Ada sedikit kesal di hatinya tapi harus ia relakan karena ia sadar siapa dirinya saat ini. 


__ADS_2