CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 47


__ADS_3

Matahari baru saja terbit dan seakan masih malu menampakkan dirinya, karena hujan yang mengguyur bumi semalam begitu derasnya.


"Pulang atau masih mau liburan?" tanya Abizar pada wanita yang begitu ia cintai saat ini, melihat Mayang yang sudah bersiap membuatnya harus membuka percakapan terlebih dahulu.


Tadi selama sarapan di kantin terdekat mayang hanya diam tanpa sepatah kata pun.


"Masih mau liburan, kapan lagi nyegerin otak," lirihnya sambil mengikat rambutnya yang tergerai.


Tak ada bulan madu seperti kekasih halal pada umumnya, Abizar menahan hasrat untuk bercinta dengan Mayang dengan alasan yang ia buat sendiri.


"Kalau begitu ayo ikut aku!" Abizar menarik tangan Mayang hingga membuat wanita itu sedikit terhuyung.


"Mau kemana?" tanya Mayang sambil melonggarkan pergelangan tangannya yang di pegang oleh Abizar.


"Ikut aja, ga usah banyak bicara," kata Abizar setelah menutup kamar penginapan mereka.


Laki-laki bertubuh gempal itu terus berjalan sedangkan Mayang hanya mengikuti pasrah di belakang Abizar yang terlihat begitu tenang.


Batu yang begitu besar dan rata, namun begitu dekat dengan bibir pantat, deburan ombak sesekali memercikkan butiran air kecil seperti rintik gerimis hingga mengenai mereka berdua. Begitu romantisnya.


"Keren!" Ibu satu anak itu berdecak kagum, matanya memandang lautan biru, di sekitar mereka ada beberapa pepohonan.


"Kamu suka?" Abizar melingkarkan tangan di pinggang Mayang, sedangkan ibu satu anak itu hanya mengangguk dan tidak memperdulikan sama sekali tangan Abizar yang sedikit bergerak liar di pinggangnya.


"Abi, apa aku begitu buruk sebagai seorang wanita?" tanya Mayang menoleh dan menatap Abizar begitu dalam.


"Kenapa bertanya begitu?" Abizar meraih tangan Mayang lalu mengisyaratkan agar duduk di sampingnya.


"Aku merasa buruk, aku merasa bahwa selama ini gagal menjadi istri. Salahkah aku jika ingin mengulangi dan memperbaiki bersama Rohman?" tanya Mayang dengan mata berkaca-kaca, entah apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Dengar! Jika kamu buruk maka aku akan menjauh darimu secepatnya. Jika ingin memperbaiki hubungan rumah tangga tidak selalu harus dengan orang yang sama, kita bisa mengoreksi letak kesalahan dalam diri masing-masing, jika orang baru lebih tulus dari sebelumnya kenapa harus memilih orang yang pernah menyakiti," ucap Abizar sambil mengulas senyum.


"Aku hanya tidak ingin membuat kesalahan yang sama pada orang lain itu," ucap Mayang terkekeh kecil, seperti ada kekecewaan yang mendalam pada dirinya.


Sejenak keduanya hening, saling mendalami pikiran masing-masing, laki-laki bertubuh gempal itu sangat yakin jika hati Mayang saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Rintik air laut yang memercik itu semakin membasahi tubuh keduanya hingga pakaian yang mereka kenakan menempel di badan masing-masing, kedua mata indah itu saling menatap.


Abizar kini memposisikan dirinya tepat menghadap kearah Mayang, tubuh keduanya tak berjarak. Laki-laki bertubuh gempal itu menarik tubuh Mayang hingga wanita cantik itu duduk di pangkuannya saling berhadapan.


Mayang menatap lekat mata elang Abizar yang terkesan seram namun berwibawa. Ibu satu anak itu memberanikan diri mengecup pipi Abizar sekilas, namun laki-laki bertubuh gempal itu tak ingin melepaskan kesempatan begitu saja.


Dengan lembut kedua tangan Abizar memegang pipi Mayang lalu mendekatkan bibirnya kearah bibi ibu satu anak itu, Abizar melihat Mayang memejamkan matanya dan pipinya mulai bersemu.


Kini Abizar tahu sedikitnya ibu satu anak itu ada rasa cinta pada dirinya, kesempatan menyiram benih cinta kali ini Abizar tak ingin menyia-nyiakannya. Laki-laki bertubuh gempal itu ******* bibir Mayang dengan begitu menikmatinya, ia dapat merasakan Mayang juga menikmati permainan yang ia ciptakan saat ini, tubuh Mayang menggeliat kecil, tak ada yang bisa menahan hasrat yang bergejolak jika sepasang kekasih sedang dalam keadaan seperti ini.


Perlahan Abizar melepaskan lumatannya, lalu ia menatap lekat mata Mayang yang terlihat sayu.

__ADS_1


"Lanjutkan di kamar," kata Mayang pelan lalu hendak bangkit dari pangkuan Abizar.


Laki-laki bertubuh gempal itu menolak kekamar, ia memilih memeluk Mayang dalam hasrat yang kian menggebu. Sama sekali tak ingin melepaskan Mayang untuk Rohman.


.


.


.


____


Di rumah orang tua Rohman, laki-laki kurus itu sedang berdebat lagi dengan sang kakak karena Nila tak terima jika Rohman kembali kerumah ibunya terlebih membawa adik ipar.


Rohman menceritakan pada Yeyen jika dirinya akan segera rujuk dengan Mayang, pernyataan Rohman membuat Yeyen begitu bahagia, namun tidak dengan Nila, wanita itu takut jika Mayang rebut hak warisannya.


"Jangan tinggal di sini kalau balikan sama perempuan dekil itu," ucap Nila dengan nada cetus, padahal Rohman sedang menyantap makanan sederhana yang Yeyen suguhkan untuknya.


Wanita paruh baya itu kini terlihat lebih sehat semenjak Eti tahu ibunya sakit ia dengan ikhlas merawat Yeyen walaupun harus mengorbankan kuliahnya yang harus ditunda.


"Tapi dia menantu ibu dan anakku cucu ibu juga," kata Rohman pelan, setelahnya ia melanjutkan makannya.


"Halah, aku ga mau tau. Jika kalian menikah pokoknya jangan tinggal di sini, malas aku jika anakku berkelahi sama anakmu nantinya," ungkap Nila sambil menatap tajam kearah Rohman.


"Tapi mau tinggal dimana lagi Kak? Sedangkan keadaanku seperti ini." Rohman menyeka keringatnya karena sambal pedas yang menggugah selera sekaligus perkataan Nila yang begitu menyakiti hatinya.


"Ya usaha lah! Buat anak bisa masa kerja ga bisa, buat rumah ga bisa, ngamen di lampu merah lumayan banyak loh duitnya. Kan pada kasihan kaki kamu cuma satu," seloroh Nila, setelahnya ia terbahak, sementara yang lainnya hanya diam.


Rohman berpamitan pada wanita yang telah melahirkannya, ia pergi ke rumah orang tua Mayang, sekaligus ingin bertemu dengan Ali.


Seperti biasa, tak bisa membawa kotor seperti dulu, laki-laki bertubuh kurus itu harus naik angkutan umum setiap harinya atau bahkan ojek yang sering makan tak jauh dari rumah orang tuanya.


Tak lama ia sampai di pangkalan ojek, segera ia menyuruh mengantar dirinya ke rumah Mayang dan seperti biasa tukang ojek itu setia menunggu sampai Rohman pulang.


"Assalamualaikum," ucap Rohman tepat berada di ambang pintu namun tak ia temukan tanda-tanda kemunculan Mayang, tak lama keluar bocah yang dulunya ia abaikan.


"Ayah!" Bocah kecil itu berhambur dalam pelukannya.


"Ibu mana?" Rohman melonggarkan pelukannya lalu mencium kening Ali sekilas.


"Ibu keluar kota sama bapak," kata Ali dengan entengnya.


"Bapak?" tanya Rohman sambil mengerutkan keningnya.


"Iya bapak. Bapak sayang banget sama Ali, beli mainan, baju, ngajak Ali jalan-jalan," jelas bocah sembilan tahun itu.


"Bapak ga ngajak Ali main sekarang berarti bapak ga sebaik yang Ali pikirkan," ucap Rohman seketika, nenek Ali yang mendengar perkataan Rohman secepatnya keluar menghampiri laki-laki bertubuh kurus yang menurutnya tidak tahu diri.

__ADS_1


"Heh ... Rohman!" bentak wanita yang melahirkan Mayang itu dengan napas terengah-engan.


"Kenapa, Buk?" Rohman dengan santainyaasih bersikap biasa saja setela mengatakan hal yang tidak baik pada anak-anak.


"Ga usah racun pikiran Ali, kamu kok dari dulu ga pernah bikin hidup Mayang senang. Sudah kamu sunguhkan penderitaan bertubi-tubi, fitnah dan sekarang mau meracuni otak Ali. Kamu itu sebenarnya punya hati sama otak ga sih Rohman?" Suara wanita yang melahirkan Mayang itu meninggi beberapa oktaf membuat Rohman menunduk lesu.


Ia bangkit, lelah rasanya berjongkok satu kaki dan satunya di topang tangannya.


"Bukan begitu, Buk. Aku hanya ingin ..." Ucapan Rohman terjeda saat nenek Ali menyeret pelan tubuh Ali agar bocah kecil itu menjauhi Rohman dan tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Sudah ... Selama ini aku tidak pernah ikut campur tentang hubungan rumah tangga kalian bukan berarti aku tak merasakan sakit seperti yang Mayang rasakan. Aku sungguh belum bisa memaafkan kesalahan yang pernah menyakiti anakku dan cucuku," ungkap neneknya Ali dengan penuh kekesalan.


"Maaf. Aku hanya ingin mengabdi dan menebus dosaku pada Mayang dan Ali," ucap Rohman, matanya berkaca-kaca. Terlalu cengeng untuk seorang laki-laki.


"Jika ingin mereka bahagia cukup doakan. Tak perlu lagi masuk kedua kali dan menambah luka dengan kamu tidak memberikan apapun untuk cucuku," jelas wanita yang melahirkan Mayang tersebut.


"Sekarang pergi dan jangan pernah kembali kerumah ini," hardik neneknya Ali membuat Rohman mundur beberapa langkah setelahnya tubuh kurus Rohman berbalik arah lalu naik ojek dan meninggalkan rumah orang tuanya Mayang.


Luka yang telah ia goreskan tidak hanya membekas di hati Mayang dan Ali tapi juga berdampak pada eneknya Ali, wanita paruh baya itu begitu menyayangi cucunya.


.


.


Mata hari sudah di tutup oleh awan hitam, hati yang benar-benar hancur saat ini duduk di tepi jalan dekat dekan parkiran tempat biasa ia menjaga parkiran.


Sekilas ia melirik jam tangannya yang sudah lusuh menunjukkan pukul tiga sore sementara ia mencoba menelpon Mayang namun wanita yang melahirkan anaknya itu mengabaikan pesan dan panggilan darinya.


Awan semakin hitam, sesaat setelahnya turun hujan begitu lebat hingga menguyur tubuh yang penuh dengan dosa itu, laki-laki bertubuh kurus itu memejamkan matanya, meresapi setiap jatuhan air dari langit itu.


Kembali terngiang-ngiang apa yang wanita paruh baya tadi katakan, air matanya saat ini tersamarkan dengan rintik hujan yang begitu membasahi seluruh tubuhnya.


"Aku masih mencintaimu, tapi aku sadari cinta tidak harus memiliki dan aku menyadari bahwa aku begitu egois, aku yang tak pernah membiarkan dirimu bahagia," lirih Rohman lalu menyentuh bagian tubuhnya yang terasa nyeri.


Beberapa hari perkiraan sepi, hanya mendapatkan upah sedikit itupun masih di bagi, sedangkan ia juga membutuhkan obat.


"Aku mulai saat ini akan ikhlas melepaskanmu, Mayang," gumam laki-laki yang dulunya tak pernah menghargai cinta suci Mayang.


Laki-laki bertubuh kurus itu menatap benda pipih miliknya lalu melempar ke jalanan aspal hingga pecah berkeping-keping, ia akan melupakan Mayang dengan caranya.


Laki-laki bertubuh kurus itu kembali kerumah kakek yang begitu baik padanya lalu mengambil tas dan memasukkan beberapa pakaian miliknya, sementara laki-laki tua itu segera mendekat kearah Rohman.


"Mau kemana, Anak muda?" tanya laki-laki yang hatinya begitu tulus membantu Rohman.


Rohman terdiam mematung, ia juga tak tahu kemana langkahnya setelah ini, tubuhnya sedikit lelah karena kurang mengkonsumsi obat.


.

__ADS_1


.


Jika memang cinta tidak harus memiliki kenapa harus ada luka saat melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain.


__ADS_2