CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 26


__ADS_3

POV Rohman


Detak jam terus berbunyi dan semakin larut ,aku masih di sini, belum pulang di tempat hingar bingar jauh dari Istriku, jika aku tidak membawa uang maka ia akan murka, aku tak membawakan kartu ATM milikku karena Anita menyitanya, menyuruhku bekerja serabutan, kuli dan apa saja yang bisa menghasilkan duit.


Jujur saja aku bingung, mana ada jaman sekarang banyak duit dalam waktu singkat bekerja, kerjaan haram saja susah apa lagi kerjaan halal. Ah, Anitaku.


Kadang aku berpikir ingin mengakhiri saja hubunganku dengan Anita karena mengingat dirinya begitu egois. Jika ia yang membelikan makanan maka jatah untukku hanya sedikit. Yang paling menyedihkan saat Anita berkata lumayan jika Ali tinggal di sini bisa meringankan pekerjaannya, ya tuhan apa Anita mengira anakku itu pembantu, salahku juga mengatakan pada Anita bahwa Ali anak penurut dan mandiri.


"Mas. Kita ke sono yuk!" Seorang wanita seksi berpenampilan sungguh menggoda membuyarkan lamunanku.


"Mau apa?" Tanyaku heran. Aku terus saja memperhatikan pakain yang ia pakai, begitu seksi nan menggoda. Apa tak ada pakaian lain yang bisa ia pakai, sampai ia harus berpakaian seperti itu.


"Mau duduk aja," jawabnya lalu merangkul dan mengajakku duduk di bangku pinggir jalan, banyak pasang mata menatapku heran. Andai aku bisa berteriak maka akan kuteriakan aku masih punya harga diri.


Tak lama seorang tante-tante datang dan langsung menciumku di depan banyak orang, aku terkesiap dengan apa yang ia lakukan, segera kupalingkan wajah dan pergi dari hadapan mereka.


"Tunggu!" Masih dengan lembut ia memanggilku.


"Mau duit ga?" Tanya tante-tante itu dengan mengelus jenggotku yang sudah mulai tumbuh, dengan hati ragu aku mengangguk pelan, walau bagaimanapun aku sangat butuh uang agar istriku di rumah sedikit senang dan tak menelanku lagi.


"Ada, sini masuk!" Ajak wanita bertubuh ramping, walau sudah terlihat sedikit tua tapi masih memperlihatkan buah dadanya yang sedikit mengkerut.


Aku memasuki ruangan yang gemerlap lampu indah. Banyak wanita cantik dan berpakaian seksi melebihi Anita, aku dengan sedikit ragu terus melangkah mengikuti langkah kakinya, pada akhirnya tiba di lantai dua dengan delapan kamar.


"Ayo masuk!" Perintahnya, seorang wanita menunggu di sana berpakaian seksi, tepatnya lingerie yang ia pakai memperlihatkan tubuhnya yang begitu sempurna, tapi sangat di sayangkan wajahnya tidak cantik, giginya sedikit maju.


"Ayo, Mas!" Tangannya melambai kearahku. Aku meneguk Saliva rasanya begitu mengerikan, kini aku paham maksud dari mereka, aku di sini ditujukan untuk memuaskan hasrat wanita tua yang ada di hadapanku saat ini.


"Ba ... Baik ...." Jawabku, kakiku seolah tertahan melihat wanita itu tersenyum lebar kearahku.

__ADS_1


Oh. Tuhan apa ini?


Saat aku duduk sempurna di atas ranjang ia mulai menggerayangi tubuhku, tak terlewatkan satu pun. Perlahan wanita tua yang kutaksir umurnya lima puluh tahun itu mulai membuka bajuku bagian atas, lagi-lagi aku menelan Saliva dengan susah payah.


"Minum dulu," ucapnya, mungkin ia menyadari bahwa aku saat ini sedang gugup. Segera kuraih gelas yang berisi air di tanggannya, aku menegaknya hingga tandas.


Sesaat wanita itu diam, bermain dengan ponselnya dan ia sedikit tersenyum melirik kearahku. Sungguh aku bingung dibuatnya.


Beberapa menit berlalu, aku mengirimkan pesan pada Anita bahwa aku tidak bisa pulang karena lembur, terpaksa aku berdusta padanya karena ia selalu menuntut uang dan uang, tubuhku mulai merasakan keanehan, keringat keluar sebesar biji jagung di tubuhku. Kepalaku pusing dan memandang kearah wanita itu seakan aku menginginkan dirinya dan bagian terlarang juga mulai menegang.


'Ya Tuhan apa ini?' batinku.


Wanita tua itu mendekat saat melihat aku sedikit aneh, ia meraba-raba bagian terlarang milikku, bagian yang kujaga dan kulindungi.


Wanita tua itu mencium aroma tubuhku seakan nafsunya begitu kuat untuk memiliki tubuh itu. Aku tak kuasa menolaknya, bagian terlarang itu sudah seutuhnya ia lihat dengan sempurna, ah bahkan dirinya terlebih dahulu ******* bibir ini. Sialan. Aku melakukan hal terlarang keduakalinya setelah Anita.


Hampir dua jam aku melayani wanita itu dan sekarang kami sama-sama puas. Tidak, sebenarnya aku tidak menginginkannya.


"Terimakasih, Mas," ucapnya. Demi apa tubuhku ini merasa sangat ternodai.


Wanita tua itu bangkit lalu memakai pakaiannya dan melempar segepok uang padaku. Mataku seketika berbinar, betapa aku sangat menginginkan duit itu untuk saat ini, demi cabang bayi yang akan lahir nanti.


Wanita tua itu kemudian keluar dengan pakaian seksi namun bukan lingerie. Selang beberapa saat wanita yang membawaku kesini tadi kembali masuk dan meminta bagiannya. Gila! Aku yang hilang kehormatan malah dia minta bagian.


"Bagian apa, Mbak?" Tanyaku mengernyitkan dahi, sangat heran dengan kelakuan wanita yang berada di hadapanku saat ini.


"Ini kamar bukan gratis. Ingat saya yang membawamu pada wanita itu. Jika tidak maka bersiaplah menanggung konsekwensinya," jelasnya membuat mulutku menganga.


Ya Tuhan ternyata belum usai.

__ADS_1


"Ingat! Semua video kamu dan Tante itu ada sama saya. Mana bagian saya dan selalu setia memeriksa dan menerima panggilan saya jika kamu tidak ingin malu," ungkapnya, rasanya aku ingin menghabisi wanita tua yang ada di hadapanku saat ini.


Kenapa sekarang rumah tanggaku tak bisa kukontrol saat bersama Mayang. Wanita itu juga salah tidak bersyukur sampai-sampai meninggalkanku.


"Ini nomorku ya. Bisa hubungi secepatnya karena laki-laki seperti kamu banyak sekali peminatnya." Ia terkekeh sambil memberikan selembar kertas kecil dengan deretan angka, tangan wanita tua itu segera meraih gepokan uang dan mengambilnya satu juta, jumlah yang banyak untuk makan satu hari. Tuhan pinggulku terasa begitu nyeri saat hendak bangkit dari duduk, mungkin ini efek obat yang wanita tua itu berikan padaku.


Dengan langkah tak berdaya aku keluar dari kamar terkutuk itu, rasanya tak ingin lagi kembali dan melakukan perbuatan ini, tapi mengingat ancaman itu membuat kepalaku semakin pusing.


Saat aku menuruni tangga, beberapa wanita cantik di bawah memandangku dengan tatapan begitu menggoda, seakan mereka ingin menerkam tubuhku. Ya walaupun tubuhku tidak se indah tubuh atletis tapi bukan aku mendusta, banyak wanita cantik yang suka padaku.


Setengah berlari aku keluar dari ruangan ini karena mereka mulai menggodaku, sampai di pintu luar ada seorang bapak-bapak menatapku tajam tapi kau abai, pasti bapak itu juga sedang ingin menikmati wanita seksi di dalam sana.


Aku duduk di trotoar jalan, memikirkan aku harus pulang apa bertahan, satu sisi kau takut jika Anita mencium bau tubuhku yang berbeda dengan tadi saat aku pergi. Ya Tuhan, aku mengacak rambutku kasar, aku khilaf yang kesekian kalinya.


"Anita kamu sudah tidur?" Kukirim pesan pada istriku di rumah.


"Belum. Takut, Bang."


"Baik. Kalau begitu Abang pulang." Kembali kubalas pesan untuknya. Kesempatan bagus, semoga saja sampai di rumah tak akan ada masalah baru. Jika Anita mengenali bau percintaan di tubuhku maka habislah aku di buatnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Sesulit apa pun hidup jika di landasi dengan rasa syukur maka akan terasa begitu istimewa, maka sebaliknya jika tanpa rasa syukur, hidup bergelimang harta pun masih merasakan kekurangan.


Tuhan sellau menerima hambanya yang bertaubat.


__ADS_2