CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 60


__ADS_3

Magrib telah datang menjelma, memperlihatkan cahaya kekuningan di ujung langit. Laki-laki pemilik mata elang itu baru saja pulang dari pabrik, ia menepikan mobilnya di samping rumah orang tua Mayang karena memang tidak ada bagasi mobil di rumah tua itu.


"Sayang," panggil Abizar setelah mengetuk pintu dan memberikan salam sebelumnya.


Wanita cantik yang sedang hamil itu sedang menyiapkan makan malam bersama sang ibundanya sementara Ali sudah berangkat ke pengajian pukul enam tadi.


"Kok telat pulang, Abi?" tanya Mayang sambil meletakkan mangkuk berisi sayuran di atas meja makan.


Tak dapat dipungkiri ia saat ini sedang mengingat masa lalunya bersama Rohman, Rohman sering pulang selepas magrib dan malas menyentuh makanan yang Mayang hidangkan.


"Iya, baru selesai memperbaiki mesin pengaduk adonan yang rusak," ujar laki-laki pemilik mata elang itu setelahnya ia menghela napas panjang.


Lagi-lagi Mayang merasa bahwa Abizar saat ini sedang berbohong padanya, ibu beranak satu itu malas menanggapi perkataan Abizar saat ini. Terlalu sering di bohongi membuat perhatiannya menipis juga pada laki-laki yang menjadi suaminya saat ini.


"Mau makan apa mandi dulu?" Mayang menatap manik mata Abizar begitu lekat tak ada kata kemesraan yang keluar dari bibirnya.


"Makan dulu, sekalian sikat gigi nanti," imbuh Abizar langsung duduk di meja makan.


Untungnya Abizar terbiasa dengan sikap Mayang yang dingin. Ia tak pernah ambil pusing jika Mayang bersikap cuek padanya, laki-laki itu menyadari bahwa Mayang masih terbelenggu dengan masa lalu yang begitu pahit.


Mayang menyendokkan nasi kepiring Abizar sementara wanita hamil itu hanya memperhatikan laki-laki pemilik mata elang itu mengunyah makanannya dengan lahap, Mayang tak menyentuh satu butir nasi pun untuk saat ini, melihat butiran nasi saja membuat perutnya merasa mual.


Tak lama Abizar sudah menghabiskan makanannya tanpa sisa, wanita hamil itu tersenyum saat Abizar mengeluarkan angin dari tenggorokannya.


"Apa masakanku enak?" tanya Mayang sesaat setelah dirinya mengambilkan handuk lalu menyerahkan pada laki-laki yang bergelar sebagai suaminya.


"Enak, aku pemakan segala," seloroh Abizar, membuat wanita yang melahirkan Mayang ikut tergelak.


" Kalau ga tau buaya aja di makan kalo udah matang, benar begitu, Abi?" tanya Leha di sela kekehannya.


"Iya, Buk. Tapi kalo Mayang yang masak," ucap Abizar membuat pipi Mayang bersemu.


Laki-laki bertubuh gempal itu bangkit dari duduknya lalu menuju kamar mandi, mandi lalu berwudhu dan melaksanakan salad magrib bersama kekasih halalnya.


Usai melaksanakan salad dengan hikmat Mayang menengadahkan doa pada sang maha kuasa, butiran bening dari pelupuk matanya luruh seketika tak dapat ia bendung, tergesa wanita hamil itu menyeka sudut matanya kemudian mencium punggung tangan Abizar.

__ADS_1


"Apa yang kamu risaukan?" tanya Abizar setelah mengecup pucuk kepala Mayang.


"Aku khawatir kamu akan meninggalkanku, apalagi sekarang kita belum satu kartu keluarga. Bisa aja sama perempuan di luar sana kamu mengaku masih bujangan," cetus Mayang membuat Abizar terkekeh kecil.


"Sampai segitu buruknya pemikiranmu padaku," kata laki-laki pemilik mata elang itu, ia menatap manik mata indah Mayang lalu tersenyum.


"Bukan begitu, tapi dulu bang Rohman ...." Tangan Abizar menempel di bibir tipis Mayang, laki-laki bertubuh gempal itu tak ingin mendengar apapun yang menyangkut dengan masa lalu Mayang saat ini.


"Jangan samakan aku dengan laki-laki seperti dia, perasaanku dan perasaannya berbeda. Begitu juga sikapku, aku mencintaimu dari sini." Abizar meraih tangan Mayang lalu meletakkan di dada bidangnya.


"Maaf," pinta Mayang pada suaminya saat ini.


"Aku memahami apa yang kamu rasakan, aku ingin kamu melupakan laki-laki itu agar kamu bahagia begitu juga dia," papar laki-laki bertubuh gempal itu sambil meringsut sedikit lalu memeluk tubuh langsing Mayang.


Detak jantung keduanya saat ini berdetak semakin cepat, Abizar melonggarkan pelukannya lalu mengangkat tubuh Mayang kemudian meletakkan tubuh mungil itu di pangkuannya.


Berlahan tangan Abizar melepaskan mukena yang masih melekat di kepala Mayang. Laki-laki itu mendaratkan kecupan di pipi mulus istrinya sekilas mengecup bibir tipis Mayang.


Menyentuh hidung mancung Mayang kemudian beralih menyentuh bibir tipisnya setelahnya mendekatkan bibirnya ke bibir tipis Mayang, ******* bibir istrinya dengan lembut.


"Mau?" tanya Abizar lembut, tatapan laki-laki bermata elang itu kini sudah begitu sayu, tak adapat di pungkiri saat ini ia merasakan hasrat ingin menikmati tubuh seksi Mayang yang ada di hadapannya saat ini.


"Buk ... Di luar ada bude Tuti," pekik Ali di depan pintu kamar, bocah itu mengetuk pintu kamar begitu keras.


Pasangan suami-istri yang sedang merasakan hangatnya kasih sayang saat ini menghentikan aktivitasnya, lagi pula masih pukul setengah delapan namun hasrat ingin mengauli tubuh Mayang sudah abizar rasakan.


"Mau apa lagi dia?" geram Abizar, ia tahu seperti apa sifat Tuti walaupun baru beberapa kali pertemuan dengan wanita yang memakai bedak pemutih itu.


Mayang bangkit dari pangkuan Abizar lalu melepaskan sarungnya tapi Abizar memelih membiarkan keluar mengunakan sarung. Mereka keluar bersamaan untuk menemui Tuti karena Abizar tak membiarkan satu hal buruk terjadi pada ibu satu anak itu.


"Eh ... MasyaAllah banget, calon imam idaman," ucap Tuti saat melihat Abizar mendekat kearahnya masih mengunakan sarung, Tuti tersipu malu setelah memuji Abizar yang hanya menanggapi dengan senyuman.


"Ada apa, Mbak?" tanya Mayang tiba-tiba sudah ada di samping Abizar saat ini.


"Anu, ada pesan dari neneknya Ali, kata beliau kamu di suruh kerumahnya malam ini juga, katanya ada kepentingan," jelas Tuti sambil menggoyangkan tubuhnya kekiri dan kekanan.

__ADS_1


"Apa tidak bisa besok?" tanya Abizar pada Tuti, ia merasa ada yang tak beres saat ini, terlebih Tuti terlihat begitu tidak menyukai Mayang.


"Ga bisa. Kata Tante harus malam ini juga, dia menyuruh bawa Ali juga kesana," ibuh Tuti lagi.


"Baik, aku siap-siap dulu. Ali buruan siap-siap, kita akan kerumah eyang!" perintah Mayang pada putranya yang sedang mengerjakan PR sekolahnya.


Tanpa menolak dan banyak tanya bocah kecil itu menurut dan mengantikan pakaiannya, hal yang sama juga Mayang lakukan sementara Abizar sedang berbincang di depan teras bersama Tuti.


Tuti seakan enggan beranjak dari tempatnya saat menatap wajah Abizar yang begitu mempesona, ia terasa jatuh cinta pada Abizar saat ini.


Tak lama Mayang keluar dengan gamis yang begitu mewah, wajah wanita hamil itu juga sudah di poles dengan makeup tipis yang terlihat semakin anggun.


"Cantik banget gamis kamu, May. Buat aku aja deh, kamu kan masih banyak di toko," kekeh Tuti membuat Mayang memutar bola matanya malas.


"Belinya pake uang, Mbak. Masa ia saya kasih gitu aja untuk Mbak," ungkap Mayang malas, ia melangkah beberapa langkah agak jauh dari Tuti.


"Pelit banget sih kamu. Lagian ini bekas kamu yang kumisnya!" seru Tuti lalu mendekat kearah Mayang, menyentuh sedikit gamis Mayang.


"Bayar dulu gamis yang belum lunas dua bulan yang lalu, Mbak. Terus kasih haknya Ali yang di berikan oleh ayahnya melalui Mbak, jangan serakah dan makan hak orang lain nanti matinya susah," cetus Mayang kesal.


"Kamu sumpahin aku mati sekarat?" hardik Tuti, wanita yang memakai bedak pemutih itu hendak menarik pasmina yang Mayang kenakan namun dengan cepat di tepis oleh Abizar.


Beruntung Ali tidak melihat apa yang di lakukan oleh Tuti saat ini pada ibunya.


Mayang begitu kesal pada Tuti saat ini, gamis yang ia izinkan untuk di cicil saja tidak Tuti bayar dan sekarang wanita yang memakai bedak pemutih itu dengan beraninya meminta gamis yang baru ia pakai dua kali. Mayang tergesa masuk kedalam mobil, ia malas berdebat dengan Tuti, semakin lama ia berdebat maka semakin sakit hatinya, bisa-bisa nanti anak yang ia kandung akan mirip dengan Tuti atau bisa jadi sama dengan sifat Tuti.


Sedangkan laki-laki bertubuh gempal itu masuk kedalam rumah untuk mengambil kunci mobil, melepaskan sarungnya lalu menggantikannya dengan celana jeans dan mengambil dompetnya juga berpamitan pada wanita yang telah melahirkan Mayang.


"Bang. Aku boleh ikut enggak?" tanya Tuti pada Abizar yang kini sudah berada di ambang pintu.


"Ga bisa, kami ga langsung pulang tapi mau kerumah mamaku dulu." Dusta Abizar, laki-laki pemilik mata elang itu tak menginginkan Tuti ikut bersamanya, terlebih perlakuan Tuti terhadap Mayang begitu kasar.


Wanita yang memakai bedak pemutih itu berdecak kesal lalu meninggalkan pekarangan rumah Leha tanpa memberi salam pada siapapun, ia begitu kesal pada Mayang dan Abizar saat ini.


"Tunggu aja, kamu akan bertekuk lutut di hadapanku nanti Abizar," gumam Tuti sambil menatap satu helai rambut yang ada di tangannya saat ini, ia yakin bahwa itu adalah rambut Abizar.

__ADS_1


__ADS_2