
Pov Rohman
Hatiku sangat perih melihat Anita menghamburkan uang yang kudapat dengan merendahkan harga diri ini, tapi mau bagaimana lagi, Anita selalu saja menuntutku mencari uang, bahkan ia seakan tak peduli uang apa yang kudapat, halal ataukah haram ia tidak peduli sama sekali.
Sengaja Akau berangkat sore, karena rasanya aku tak sanggup memandang kawah istriku, walau Anita memaksaku mencari uang tapi ia tak bersalah sepenuhnya.
Sejenak aku duduk di warung makan karena memang perutku belum kuisi, nasi yang dijatahkan Anita rasanya tak membuat perutku kenyang.
Makananku telah habis, mataku membulat sempurna menyaksikan Mayang pergi dengan seorang laki-laki, pantaskah ia pergi bersama laki-laki sementara aku ini masih suami sahnya, walaupun aku jahat padanya harusnya ia bisa menjaga marwahnya sebagai seorang istri.
Aku setengah berlari mendekati Mayang yang sedang menenteng kantung plastik dan ingin memasuki mobil mewah. Wah ... Pandai sekali ia merayu laki-laki kaya, semoga untuk Ali bukan uang haram yang ia berikan, tak apa kalau aku yang memberikan karena aku adalah ayahnya.
"Mayang ...." Aku melambaikan tangan saat wanita yang mehirkan anakku itu menoleh ke arahku.
"Ada apa, Bang?" Mayang mengernyitkan dahinya, merasa dirinya hebat.
"Hebat ya kamu? Kita belum cerai tapi kamu gandengan sama laki-laki ini," kataku setengah membentak, entah kenapa rasanya aku begitu cemburu melihat Mayang jalan bersama laki-laki lain.
"Tenanglah. Ini sepupu, anak dari adik bapakku." Mayang berusaha menjelaskan tapi aku tak percaya begitu saja omongannya, bisa saja hanya akal-akalan dia.
"Benar dia sepupu, jika bukan sepupu juga kamu ga berhak atur aku lagi, Bang!" Wanita yang melahirkan anakku itu meninggikan suaranya membuatku jengah mendengarkan perkataannya.
"Maksudnya apa, Mayang?" Keberanian diri bertanya pada Mayang karena memang aku sungguh bingung saat dia katakan aku tidak berhak atas dirinya, walaupun sudah tiga bulan lebih aku tidak menggaulinya bukan berarti kami aku menalaknya.
"Memang surat dari pengadilan agama dan akta cerai tidak cukup untuk mengakhiri satu hubungan, Bang?" Mayang bertanya dan menatap sinis kearahku. Mukanya sungguh membuatku hampir muntah, wajah yang mengejek seolah aku laki-laki bodoh seperti dia.
Walaupun aku sedikit menyesal menikah dengan Anita tapi cintaku masih terpatri pada wanita yang sedang mengandung benihku itu.
"Coba tanya istrimu. Bukankah satu hubungan harus ada saling keterbukaan?" Cecar Mayang membuatku semakin membenci wanita yang telah melahirkan anakku itu.
Aku meninggalkan mereka berdua, laki-laki yang bersama Mayang tak banyak bicara, mungkin laki-laki itu minder karena aku jauh lebih tampan darinya.
__ADS_1
.
.
.
Malam merangkak naik, aku memasuki tepat kemarin, dengan nomor kamar yang sama tapi dengan wanita berbeda, kali ini wanita itu terlihat jauh lebih cantik dari wanita tua kemarin.
Tidak ingin menunggu perintah wanita itu memanggilku, aku langsung duduk di sampingnya. Ia menoleh ke arahku memperlihatkan giginya yang sedikit menguning mungkin karena pecandu rokok, lips merah menyala seolah membakar gairahnya.
"Mbak." Kuberanikan diri menyapa wanita berbibir menyala itu, aku yakin dia butuh belaian.
"Ya. Bisa kita mulai?" Seperti memulai ritual atau meeting saja, aku tersenyum kikuk menanggapi perkataan wanita itu.
"Bisa, Mbak. Tapi aku sepertinya butuh ...." Aku menjeda ucapanku saat aku melihat wanita berbibir menyala itu merogoh tasnya dan memberikanku sebutir pil.
"Minumlah. Lima belas menit setelahnya kita bisa bersenang-senang," ucapnya sambil tersenyum. Tak mau menyia-nyiakan waktu, aku segera meminumnya dan berbaring di atas ranjang sebentar sambil melihat gawaiku, kubuka aplikasi biru lalu melihat foto-foto wanita seksi yang bisa membangkitkan gairahku.
Kali ini aku tidak merasa jijik, entah mungkin wanita yang ada di hadapanku saat ini sedikit cantik. Kami terlarut dalam suasana sesaat, tiba-tiba wanita yang membuat nafsuku bangkit menghentikan aktivitasnya. Aku berdecak kesal, aku senang saat ia melakukan itu karena Anita tak pernah melakukannya untukku.
Berlahan sambil melemparkan senyum kearahku wanita itu menuju saklar dan mematikan lampu. Ah, tak apa mungkin ia kurang puas jika dalam keadaan terang. Ia kembali lalu melanjutkan apa yang sempat tertunda, namun anehnya wanita itu tak pernah ingin melakukan dari depan selalu menyuruhku melakukan dari belakang.
Berulangkali aku menghujam, aku sedikit merasakan keanehan karena wanita itu memegang bagian depan miliknya. Satu jam lebih kami melakukan hal yang kedua kalinya di benci oleh Tuhan.
"Kamu puas Sayang?" Tangannya meraba milikku, aku hanya tersenyum dan mengangguk. Sesaat setelahnya ia terlelap, tapi aku aku masih memikirkan Anita, apa istriku baik-baik saja kutinggalkan sendirian.
"Anita. Apa kamu di rumah?" Kukirimkan pesan pada wanita yang bertahta di hatiku saat ini.
"Di rumah ibuk," balasnya singkat membuatku sedikit bernapas lega, baiknya aku tidur di sini saja sementara sampai mentari terbit.
Tubuhku terasa begitu bau, bekas cairan dan keringat, aku mendekati saklar dan menyalakan lampu karena ingin mengambil handuk didalam tas kecil milikku.
__ADS_1
Tubuhku bergetar hebat saat yang kulihat di depan mataku saat ini adalah wanita cantik yang memiliki batang sepertiku dalam keadaan tanpa busana. Tidak ... Tidak .... Bukan wanita tapi banci.
Setengah berlari aku menuju kamar mandi dan memuntahkan isi dalam perutku, aku sungguh jijik dengan apa yang kulihat barusaja di depan mataku.
"Jadi dia banci?" Lirihku saat sudah mengeluarkan semua isi dalam perutku, rugi besar makanan yang kumakan di warung tadi terbuang sia-sia.
Terlebih dulu aku mencuci bagian milikku yang sudah masuk kedalam lubang kotoran itu, ya Tuhan bagaimana jika kotoran laki-laki itu masuk kesini. Lagi-lagi aku memuntahkan udara.
Berulang kali kusabun harta satu-satunya milikku yang paling berharga, setelahnya aku menguyur tubuhku dengan serangkaian niat mandi, walaupun dosaku melebihi gunung tapi aku aku harus membersihkan tubuhku.
Cukup lama aku di dalam kamar mandi, akhirnya aku keluar. Tak ada lagi aroma menjijikkan seperti tadi, yang tersisa hanya keharuman sabun mandi. Kupandangi banci itu masih terlelap, kurasa ia cukup lelah menghadapiku tadi.
Aku akan menunggunya bagun saja, banci itu belum membayar ku untuk memuaskannya saat ini.
Kujatuhkan tubuhku pelan di samping laki-laki melambai itu, mataku tak sanggup lagi menahan kantuk yang menyerang karena aku kurang tidur di siang hari, berlahan mataku terpejam dengan membawa segala dosa.
.
.
.
Mataku terasa begitu berat, tapi tangan merayap di tubuhku dan sesekali mencium perutku membuat aku merasakan sensasi yang berbeda.
"Anita," lirihku.
Entah mengapa ia malam ini terlihat begitu agresif, lampu remang-remang membuatku tak bisa memandang siapa yang duduk di atasku dan memainkannya dengan sempurna, durasi lebih singkat karena ini murni terjadi tanpa obat-obatan.
Wanita itu mengenakan pakaiannya dengan cepat, lalu menyalakan lampu dan tersenyum kearahku.
"Dua ronde. Kamu hebat!" Ia memujiku diiringi senyum manis. Kupaksakan memberikan senyum juga, namun terasa begitu berat.
__ADS_1
Laki-laki melambai itu melemparkan dua gepok uang, sepertinya satu gepoknya bernilai sepuluh juta, itu artinya aku di bayar mahal malam ini, sayangnya dia laki-laki jika wanita aku akan merasakan kepuasan dua kali lipat. Laki-laki melambai itu melenggang pergi meninggalkan aku yang terpaku, aku mengira Anitaku tadi yang melakukannya, nyatanya aku masih di sini bersama banci dan di kamar yang sama.