
Empat hari berlalu Ali sudah sembuh dan Mayang mengantarkan sekolah karena hari ini memang ada rapat untuk wali murid, bocah sembilan tahun itu seperti biasa kerumah sekolah. Ali terlihat baik-baik saja walaupun tanpa kita sadari di hatinya ada luka.
"Eh. Ada buk Mayang," celetuk salah satu temannya ibu Ali dengan melayangkan tatapan sinis.
"Terus kalau ada aku emang kenapa, Buk?" Tanya Mayang dengan nada sedikit kesal karena tidak suka pada tatapan ibunya teman Ali itu.
"Ya ga apa-apa sih. Cuma mau waspada aja," kata ibu itu menatap tidak suka pada Mayang yang berpakaian sedikit seperti anak ABG, celana jens dan baju kaos putih oblong panjang biasa.
"Wasapa?" Mayang mengernyitkan dahinya heran, bagaimana bisa harus waspada pada dirinya, padahal Mayang tak melakukan apa-apa.
"Takut suami ibu-ibu di sini di goda sama kamu," kata ibu-ibu itu dengan gaya khasnya yang julid.
"Najis!" Mayang meludah ketanah membuat ibu-ibu itu berdecak kesal dan berlalu dari hadapan Mayang.
Terkadang orang yang suka julid harus dibalas lebih keras agar dia merasakan tamparan kata-kata yang lebih, sementara Mayang memasuki ruangan yang akan di adakan rapat.
Beberapa saat menunggu acara rapat untuk wali murid pun dilaksanakan, menyimak segala suatu hal yang disampaikan mengenai buku, anak yang pintar dan dana yang menunggak di sekolah.
Usai rapat Mayang pulang menggunakan motor yang baru saja ia beli kemarin. Ibu satu anak itu menjual mobil dan menggantikan dengan motor matic keluaran terbaru untuk dirinya berangkat kerja dan mengantarkan Ali sekolah, jika belajar mobil maka banyak waktunya tersita dan juga kemungkinan besar Rohman akan meminta mobil itu kembali cepat atau lambat.
Ibu satu anak itu paham betul calon mantan suaminya itu, jika suatu barang yang telah ia beli walaupun dengan uang istrinya maka dengan mudah mengklaim itu adalah hak miliknya.
Mayang berniat mampir kerumahnya terlebih dulu mengingat beberapa hari sudah tidak membersihkan rumah karena Ali sakit, besok baru dirinya akan bekerja.
Masih di ujung jalan dirinya sudah melihat seseorang menunggunya di depan rumah, tak lain adalah calon mantan suaminya bersama wanita kebanggaannya.
Rohman bersama istri barunya duduk santai di halaman rumah Mayang sambil sesekali wanita mungil itu mengipasi wajahnya.
Kepalang tanggung jika Mayang memilih memutar balik, dirinya bertekat menghadapi Rohman dan istrinya. Saat Ali sakit di situlah Rohman dan Anita menikah, merajut cinta baru dan akan mendapatkan buah hati baru juga, tanpa dia sadari yang dikandung Anita hanya anak biologis dan tak bernasab padanya.
__ADS_1
"Nah itu!" Tunjuk Rohman kearah Mayang yang baru menurunkan standar motornya.
Ibu satu anak itu mendekat kerumahnya dan mengambil sapu lidi lalu menyapu halaman, dirinya tak berniat buka pintu sama sekali karena tahu betul sifat calon mantan suaminya akan nekat mengobrak-abrik isi didalam rumah jika yang ia inginkan dan ia cari tidak terwujud.
"Ga ada tata Krama, dikira kita batu," celetuk Anita terus saja memandang sinis pada Mayang yang sedang menyapu.
"Mayang, apa kamu sudah tak punya mata hati? Kamu tidak menghargai aku lagi? Walau bagaimana pun aku ini masih suami kamu," kata Rohman dengan suara meninggi. Apa dia pikir suami pantas di sebut suami jika tidak bertanggung jawab.
"Ya. Aku belajar dari kamu, Bang. Kamu tak pernah punya mata hati selama ini, tak pernah melihatku dengan hati dan nuranimu," sahut Mayang, ia berhenti menyapu. Dadanya kini bergemuruh melihat wanita yang sedang mengusap perut rayanya. Pikiran Mayang melayang, ia langsung menebak wanita itu sedang hamil.
"Beda Mayang, kamu memang jorok dan tak pantas di perlakukan seperti itu," ungkap Rohman. Matanya melotot kearah Mayang yang berdiri menatap calon mantan suaminya itu.
"Beda di mana, Bang. Apa aku bukan manusia?" Kata Mayang menahan bulir bening yang akan luruh. Sebenarnya ibu satu anak itu sungguh tak ingin terlihat lemah di hadapan laki-laki yang tak pernah mencintai dirinya.
Sesaat Rohman terdiam, seolah laki-laki tinggi dan putih itu sedang mencerna perkataan Mayang.
"Halah, ga usah sok suci. Kamu sama sepertiku saat menikah sama bang Rohman, sudah tak perawan, jadi terima saja nasibmu sebagai janda sekarang, kalau bisa segera urus perceraian kalian dan cepat serahkan sertifikat rumah milik bang Rohman," kata Anita. Sungguh wanita tak punya malu, dengan berkata begitu dirinya sama saja membuka kartu pada Mayang bahwa ia sudah tidak perawan, dengan bodohnya wanita itu meminta sesuatu yang bukan haknya.
"Dia punya hak. Anita meminta hakku atas rumah ini." Laki-laki berwajah Turki itu terlihat begitu bodoh karena membela cintanya. Tak pernah sedikit pun ia memikirkan Ali anak kandungnya, tak salah jika Mayang tak mengabari Rohman saat Ali sakit kemarin.
"Hak apa, Bang?" Mayang berusaha tenang, karena beberapa tetangga mulai keluar menyaksikan perdebatan mereka.
"Hak rumah ini lah. Aku juga ada ikut merenovasi rumah ini, kalau tidak dapur rumah ini udah jebol," kata Rohman dengan bangga dan percaya diri.
"Satu juta!" Tegas Mayang, tangannya membuka tas samping lalu mengeluarkan beberapa lembar pecahan uang seratus ribu dan menghitungnya di depan Rohman.
"Ini!" Mayang menarik tangan Rohman kasar dan memberikan uang pada satu juta pada ayah dari anaknya itu, padahal uang itu sebenarnya akan ia pergunakan untuk menambah beberapa gamis yang ia jual cicil untuk di bawa oleh temannya berjualan keliling.
"Aku mau rumah ini Mayang!" Bentak Rohman beberapa tetangga bisik-bisik tak percaya atas kelakuan Rohman yang berubah.
__ADS_1
"Ini rumahku, Bang. Angkat kaki dari sini atau aku akan melaporkan kamu dan perempuan ****** ini pada polisi," ungkap Mayang kesal. Sapu yang ia pegang Mayang angkat hendak memukul wanita yang menatap sinis kearahnya. Tergesa Rohman dan Anita beranjak dari tempatnya.
"Besok aku akan datang lagi dan meminta mobilku, Mayang," kata Rohman sambil berjalan menuruni dua anak tangga di teras.
"Astagfirullah..." Ibu satu anak itu mengelus dadanya pelan.
Niat hatinya menjual saja rumah yang banyak kenangan buruk bersama Rohman, rasanya ibu satu anak itu tak sanggup dengan bayang-bayang Rohman, bayang masa lalu yang terus saja mengusik hidupnya.
Mayang merogoh sakunya dan mengambil kunci rumahnya, membersihkan rumah yang sudah berdebu dan berniat menjual perabotan usang yang pernah Rohman belikan untuknya.
Sejenak ibu satu anak itu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur usang yang dulunya enggan Rohman untuk sekedar duduk di sana. Tanpa aba-aba bulir bening luruh seketika.
"Bang. Entah aku akan memaafkanmu atau tidak," lirih Mayang sambil menyeka sudut matanya.
"Assalamualaikum..." Terdengar salam dari arah pintu, lekas Mayang menjawab salam lalu mendekat. Hatinya kini tak sanggup menerima cacian dan cemoohan lagi, sudah cukup untuk hari ini.
"Masuk, Bik," kata Mayang mempersilahkan tetangganya masuk. Bik Sora wanita yang sudah berusia hampir enam puluh tahun, wanita itu begitu sayang pada Mayang. Bukan sayang tepatnya kasihan karena hatinya begitu lembut.
"Ada apa, Bik?" Tanya Mayang saat wanita tua yang seumuran dengan ibunya itu menjatuhkan bokongnya di kasur usang mikik Mayang.
"Bibik dengar keributan kalian tadi. Kata tetangga lainnya Rohman menginginkan rumah ini, benar?" Tanya bik Sora dengan nada hati-hati, wanita tua itu terlalu takut untuk menyakiti hati orang lain, dirinya mengingat umurnya tak lagi muda. Mayang mengangguk membenarkan ucapan bik Sora.
"Lalu bagaimana pendapat kamu?"tanya bik Sora lagi.
"Aku niat jual rumah ini, Bik," ungkap Mayang sambil menghembuskan napasnya kasar.
Rumah dengan sejuta kenangan manis dan pahit. Rumah yang melindungi dirinya dari terik yang menyengat.
"Ada tetangga anaknya Bibik mau beli, jual aja sama dia," kata bik Sora dengan wajah sedihnya. Dirinya akan merasa sedih juga bila Mayang tak datang memberikan sayuran padanya walaupun pada kenyataannya Mayang sudah beberapa bulan tak lagi berjualan sayuran.
__ADS_1
"Besok kita bicarakan sama pembeli ya, Bik," ungkap Mayang. Walau di lubuk hatinya tak pernah rela rumahnya menjadi milik orang lain tapi ini suatu keterpaksaan karena Rohman yang selau keras kepala sangat sulit di kendalikan, setelahnya bik Sora pamit pulang kerumahnya beberapa warga menatap tak suka pada bik Sora karena dirinya dekat dengan Mayang.
Bersambung....