CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 14


__ADS_3

Dengan langkah gontai ia berangkat kerja. Mata emak-emak yang tak pernah setuju jika Mayang harus bercerai dengan suaminya. Padahal jika di pikir bijak selama ini Mayang diperlakukan layaknya babu bahkan lebih parah.


"Heh Mayang. Suami kamu bisa menikah lagi kalo kelakuan kamu gitu," kata mbak Anik tetangga Mayang, ia mempercepat langkahnya menyusul Mayang yang hendak bekerja, biasanya Mayang menunggu angkot yang lewat seperti biasanya.


"Terserah sih, aku ga peduli, Mbak," sahutnya santai. Malas sekali rasanya Mayang melayani wanita yang selalu ikut campur urusan rumah tangganya.


"Kalo aku jadi kamu ya. Aku ga akan ninggalin suami tajir seperti Rohman, hidup mewah harus di syukuri. Toh dia udah nafkahi kamu layak, ga kayak dulu lagi," lanjut Anik dengan nada sombong ciri khasnya.


"Setelah nanti ada surat cerai secara agama, silahkan ambil mas Rohman untukmu, Mbak," jawab Mayang kesal. Tangannya melambai kearah angkutan umum. Anik belum sempat menjawab perkataan Mayang menghentakkan kakinya kesal.


Orang-orang berpikir begitu bahagia kehidupan Mayang, karena ibu satu anak itu sangat pandai menutupi aib suaminya. Baginya aib suami adalah aibnya, tapi siapa sangka fitnah membalikkan fakta, mengatakan dirinya lah dalang dari semua masalah mereka.


Jika boleh memaki, rasanya ibu satu anak itu ingin memaki seluruh warga yang menghinanya dan menyalahkannya. Bahkan sepupu Rohman ingin Mayang remukkan.


Tidak butuh waktu lama dengan naik angkutan umum jika dalam keadaan tidak macet, namun jika macet melanda jalanan seperti melanda jiwanya maka ia pasti terlambat ke caffe.


Berkutat dengan komputer seperti biasa, memasukkan data-data dengan teliti agar tak ada menyelip satu rupiah pun. Mengecek berulang kali dan kini pekerjaannya selesai.


Ibu satu anak itu pun kini keluar dari ruangan khusus yang di sediakan Bagas. Matanya menyapu seluruh ruangan caffe yang sedikit padat, ramai pengunjung hari ini, di pastikan besok pekerjaannya akan lebih melelahkan.


Mengobrol dengan beberapa karyawan dan karyawati yang ada di caffe agar dirinya tak terlihat sombong sebagai sekretaris pak Bagas, tanpa ia sadari sepasang mata memperhatikan gerak tubuhnya. Seorang karyawan baru di caffe itu. Mayang melirik sekilas, merasa heran pada pemuda yang memperhatikannya saat ini tapi memakai seragam sama seperti karyawan lainnya. Mayang melambaikan tangan kearah pemuda itu sebagai isyarat agar ia mendekat.


"Hey. Kamu baru di sini?" Tanya Mayang tanpa basa basi.


"Iya, Kak," jawabnya. Kemudian menundukkan kepalanya.


"Semangat kerjanya, biar pak Bos bisa nambah gaji kalian!" Serunya membuat karyawan dan karyawati ikut bersorak semangat. Lalu Mayang meninggalkan caffe itu dan pergi sekedar mencari angin segar.


Suasana hatinya kini terasa teramat panas, apa lagi omongan tetangga yang akhir ini menyalahkan dirinya dan memojokkannya.masih terngiang di benaknya sepupu Rohman meminta rumahnya yang katanya itu rumah Adik sepupunya. Gila memang.


Menunggu angkot kembali, wanita itu ingin pulang saja, toh Bagas tidak datang kekaffe hari ini pikirnya.


Beberapa menit menunggu akutan umum tak kunjung datang. Mobil yang ia kenali berhenti tepat di hadapan ibu beranak satu itu.


"Butuh tumpangan, Nyonya?" Senyum Bagas mengembang memandang wajah Mayang yang kesal karena ia goda.

__ADS_1


"Saya nunggu angkot aja, Pak. Ga apa-apa lama juga," tolak Mayang halus.


"Angkot lagi saya suruh libur. Karena saya mau kamu berangkat sama saya saat ini ke acara ulang tahun teman saya," seloroh Bagas membuat Mayang mengulum senyum.


"Baik. Tapi kali ini sebagai seorang teman," kata Mayang mengulas senyum.


"Jika teman mulai saat ini panggil saja saya dengan sebutan Mas," jelas Bagas, ibu satu anak itu menautkan kedua alisnya.


"Tapi hanya hari ini?" Tanya Mayang bingung.


"Selamanya. Ayo masuk nanti tambah gosong." Bagas tergelak sementara Mayang tersipu malu. Lalu memasuki mobil milik Bagas dan mereka melesat ke tempat tujuan. Mayang yang tak ingin ikut campur urusan pribadi orang lain lebih memilih diam dan tak bertanya mengapa bukan istrinya yang di ajak, malah justru Mayang sendiri yang Bagas ajak untuk menghadiri acara temannya.


____


Sementara di tempat lain ada dua mahluk Tuhan yang sedang berseteru dengan pendirian masing-masing.


Rohman sibuk dengan wanita incarannya, memperlakukannya seperti ratu. Bahkan saat wanita itu marah ia susah payah membujuknya.


"Dek, kamu ada tabungan tidak?" Tanya Rohman pada kekasih hatinya saat ini.


"Ga ada. Udah aku kirim untuk ibuk," jelas Anita dengan nada manjanya.


"Adek ga mau di cambuk," rengek Anita, matanya menatap iba pada Rohman.


"Bagaimana jika rumah cicilan itu kita jual aja, kita bisa beli lagi nanti kalo udah ada uang," sarannya. Tangannya mengusap manja rambut sang kekasih.


"Terserah Abang deh. Pokoknya Nita ga mau di cambuk. Sakit tau!" Wanita itu mulai merengut, mengerucutkan bibirnya.


Semenjak Mayang mengusirnya ia tinggal di rumah Anita, rumah sang kekasih yang selalu setia pada dirinya, tak apa jika Anita tidak pandai memasak karena dia bekerja, maka Anita menghasilkan uang.


Rohman tak berpikir jika selama ini Mayang juga bekerja, tapi dengan kelas yang berbeda karena Rohman sendiri yang mengatakan bahwa Mayang tak boleh bekerja agar anak dan suami terurus. Perkataan hanya perkataan, tak akan pernah sesuai dengan kenyataan.


Sepasang kekasih itu bergegas pergi ke orang tua yang mengatakan bahwa dirinya akan di cambuk, bernego siasi agar mereka terbebas dari hukuman cambuk, tentunya dengan sogokan.


Kendaraannya tiba di halaman rumah yang penuh dengan bunga-bunga yang memanjakan mata. Pak RT di kampung Anita tinggal, beliau sedang duduk-duduk di halaman menikmati suasana sore hari, bersenda gurau dengan istri dan putrinya.

__ADS_1


"Silahkan masuk," ucap istri pak RT lembut.


"Terimakasih. Kami di sini saja," jawab Rohman angkuh. Karena memang di dalam rumah mereka mainan berserakan di lantai.


"Silahkan duduk," pak RT menepuk kursi di sebelahnya dan langsung di duduki oleh Rohman. Sementara Anita berdiri.


Laki-laki berwajah Turki itu menyampaikan keinginannya agar bisa bernegosiasi dan memberi waktu untuknya namun di tolak mentah-mentah oleh pak RT karena ini sudah keputusan warganya. Anita dan Rohman pulang dengan hati kacau dan berantakan, hanya ada waktu dua hari lagi mempersiapkan mental mereka agar siap melaksanakan hukuman cambuk.


___


Mayang terlihat senang walau hanya sekedar menghadiri acara ulang tahun teman Bosnya. Ia juga senang karena Bagas bersikap layaknya seorang sahabat.


Bagas mengantar Mayang pulang sampai kehalalan rumahnya, masih pukul lima sore jadi tak apa jika Mayang menyuruhnya masuk sekedar untuk minum teh, namun laki-laki itu menolak dengan halus karena takut ada fitnah untuk Mayang dan dirinya, jika di pikir memang benar seorang laki-laki masuk kedalam rumah perempuan tak bersuami akan menimbulkan fitnah. Deru mobil Bagas meninggalkan halaman rumah Mayang.


Seketika beberapa ibu-ibu keluar dari dalam rumah dan berkumpul di depan rumah kontrakan sepupunya Rohman yang tak jauh dari rumah Mayang.


Tak lama mereka berkumpul mamang tukang jualan sayuran yang sudah matang lewat dengan suara kenalpot khas miliknya.


"Sayur ... Sayur...."


Beberapa dari mereka berhambur membeli sayuran yang sudah matang, tak terkecuali dengan Mayang, mengingat anaknya mungkin saja belum makan walau dia tinggal bersama neneknya.


"Eh ... Mbak Mayang. Udah habis makan enak masih mau makan sayur murahan kayak gini juga," ujar sepupu Rohman sambil menatap sinis.


"Suka-suka saya. Hidup saya kenapa kamu ikut campur. Apa saya pernah minta makan sama kamu?" Mayang memilih beberapa sayuran yang sudah di bungkus dengan plastik terikat karet.


"Heh Mayang. Dia itu sepupunya suami kamu loh. Kok ga adab gitu," ucap ibunya Ugik dengan nada sedikit meninggi.


"Saya tau, Buk. Tapi dia yang mulai berdebat dengan saya." Ibu satu anak itu berusaha membela dirinya.


"Halah. Kamu itu udah jelas-jelas jalan sama laki-laki yang bukan mahrom, masih sok-sokan aja, lihat anak saya tidak pernah jalan sama laki-laki yang bukan mahrom," timpal Mbak Narsih. Sementara mamang sayur hanya diam saja, jadi pendengar setia.


"Iya, Buk. Kan aneh suami sendiri di usir yang jelas udah banyak berubah jauh lebih baik, dan bikin kulit istrinya glowing gini malah tambah ga tau diri," Buk Ugik menimpalinya lagi.


"Terima aja lagi si Rohman, kasian juga anak di pisahkan dari ayahnya." Saran mbak Mimi, wanita itu meraih dompet hadiah dari toko emas dan mengelarkan uang pecahan sepuluh ribu laku memberikan pada mamang sayur, mbak Narsih biasa membeli sayuran dulunya sama Mayang denga. Diskon besar, berbeda jika untuk tetangga lainnya. Hati Mayang rasa tercabik, jika semakin lama dirinya berada di sini bisa-bisa kuah dan sayuran dalam bungkusan akan melayang ke wajah ibu-ibu tak tahu diri ini.

__ADS_1


Sekuat tenaga Mayang mengontrol emosi dan segera berlalu dari hadapan mereka setelah menyodorkan pecahan uang dua puluh ribu rupiah. Membanting pintunya kasar hingga mereka terperanjat dan menyentuh dada masing-masing.


Bersambung....


__ADS_2