
Sementara di tempat lain dua insan yang sedang di mabuk asmara merasa dunia hanya milik berdua.
”Dek, jangan tinggalkan Abang,” ujarnya menatap manik mata sang pujaan hati.
”Ga akan,” jawab gadis bertubuh mungil itu. Mata saling beradu, meneguk manisnya asmara yang sedang melanda jiwa.
”Kapan kita menikah?” Tanya gadis bertubuh ramping itu.
”Abang belum cerai dengan Mayang,” ucapnya. Ada rasa ragu dalam hati laki-laki bertubuh tinggi itu. Matanya terus menelisik setiap inci wajah sang pujaan hati, ia takut ada keraguan dalam hati kekasih. Juga takut jika suatu saat nanti Mayang akan menuntut haknya dan hak anaknya.
”Segera urus, biar kita bisa nikah,” tegasnya tanpa rasa bersalah. Tidakkah ada rasa iba pada seorang anak yang akan kehilangan kasih sayang seorang ayah. Ah mungkin tidak karena cinta bisa mengalahkan segalanya.
Hari ini Rohman dan Nita bolos kantor lagi, walau sudah dua kali mereka dapat teguran namun tetap saja melanggar, mereka abaikan karena perusahaan baru di kota S sedang membutuhkan banyak karyawan jadi Merkea berpikir pikir bisa melamar pekerjaan di sana.
Hari ini terasa begitu mendung, Anita si gadis cantik dan Rohman si laki-laki berwajah Turki kini tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tok ... Tok...
”Keluar,” hardik seseorang di balik pintu kost yang di tempati oleh Anita.
”Ga keluar atau kamu dobrak,” sungutnya seseorang kembali.
Pria beralis tebal yang sedang bersama Anita saat ini sebaik mencari pakaiannya yang teronggok di lantai kamar, gegas ia kenakan sebelum warga mendobrak pintu rumah yang mereka tempati.
”Gimana ini, Dek?” Keluhnya. Rohman mengacak rambutnya frustasi.
”Berani berbuat berani bertanggung jawab,” sindir Anita, mata Rohman membulat sempurna, seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Anita.
Suara gedoran pintu semakin kencang. Dengan mengumpulkan sebanyak mungkin nyali kemudian Rohman membuka pintu.
”Ada apa ya Pak?” Tanya Rohman dengan rasa tak bersalah sama sekali.
”Ada apa, ada apa. Jangan mesum di desa kami. Kalian sudah melanggar aturan di sini,” tuduh warga yang emosi.
”Kami tidak me lakukan apa pun,” ujar laki-laki beralis tebal itu. Sementara Anita bersembunyi di belakan tubuh Rohman hampir tidak terlihat.
”Kalian harus membayar denda. Jika tidak membayar denda maka bersiaplah besok datang ke masjid untuk melaksanakan hukuman cambuk untuk kalian berdua,” terang warga lainnya.
”Saya bisa tuntut balik kalian,” protes pria bertubuh tinggi juga beralis tebal itu. Bagaimana pun dia tidak terima jika harus membayar denda, jika untuk di cambuk maka seluruh warga kampung bahkan luar kampung akan menonton mereka, mereka akan di permalukan di sana. Bagaimana dengan Mayang dan keluarganya nanti pasti tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
”Saya ada buktinya bahwa kalian mesum di sini. Saya rasa video ini cukup untuk bukti, dan kami sekarang sudah tidak mau uang denda, kami mau kalian di cambuk aja, sesuai yang berlaku di daerah kita. Bagaimana setuju?” teriak salah satu warga. Lalu di sambut dengan kata setuju yang menggelegar.
”Minggu pagi kalian harus ada di depan Masjid,” kata warga lain. Memilih Minggu pagi karena warga banyak yang libur dan bisa menyaksikan mereka di hukum cambuk.
'Bagai mana ini,' Rohman mengacak rambutnya frustasi. Sementara warga sudah pulang ke kediamannya masing-masing sambil menggerutu kesal.
”Salah, Abang,” rengek Anita. Matanya menjatuhkan bulir bening.
”Pusing Abang pun, Dek,” keluh Rohman lagi. Ia menyambar ponselnya yang tergeletak di meja lalu pulang.
Sebab apa ini salah Rohman, ini bukan salah dia sepenuhnya. Salah gadis itu juga yang mau termakan bujuk rayunya.
Sepanjan perjalanan Rohman memikirkan cara agar dia tidak di cambuk. Bahkan berpikir untuk menjual mobilnya untuk membayar denda. Namun hati Rohman bergejolak, menolak jika hartanya, lebih tepatnya harta Mayang untuk di jual.
___
Brugh...
Ia melempar kunci kasar di atas meja. Jam menunjukkan pukul dua siang, perutnya sudah minta di isikan makanan, sementara di rumah sang kekasih yang ia cumbui tadi dia tidak masak sama sekali, karena memang Anita tidak bisa memasak.
Laki-laki beralis tebal itu menuju dapur, membuka tempat penyimpanan ikan, namun tak ada satu apa pun di sana, hanya laba-laba yang bersarang. Sudah lama tempat ini tidak di gunakan, ingin keluar rumah juga moodnya kurang baik. Pikirannya terus saja berkelana tentang bagaimana nanti kelanjutan hari Minggu, apakah membayar denda saja degan sedikit merayu mereka agar hukum cambuk tidak jadi di laksanakan.
”Waalaikumsalam,” jawabnya lalu menuju kedepan.
Benar saja istrinya hari ini pulang lebih awal. Pikiran Mayang merasa tidak enak, seakan suatu hal buruk akan terjadi, sepanjang jalan tadi Mayang beristighfar agar sang maha kasih tak memberikan suatu hal buruk pada orang terdekatnya.
”Kok cepat pulang, Dek?” tanya laki-laki beralis tebal yang kini menatapnya sendu. Ada sesuatu yang tidak bisa ia gambarkan saat ini, antara sedih dan kecewa.
”Lah kamu sendir ga kekantor?” Mayang balik bertanya, ”Biasanya paling sibuk,” Lanjutnya lagi.
”Apa, Dek? Abang ga salah dengar Adek manggil Abang dengan sebutan kamu?” Tanyanya dengan penuh penekanan.
”Ga kok,” sahutnya santai kemudian berlalu menuju kamar dan meninggalkan sang suami yang mematung di ruang televisi.
”Mayang!” Bentaknya, namun yang memiliki nama justru membanting pintu kasar. Rohman mengusap wajahnya kasar, mengacak-acak rambutnya. Keadaan yang di buat sendiri kini semakin runyam dan rumit. Tinggal satu rumah tapi terasa seperti orang lain, tak ada lagi istri penurut seperti yang ia mau.
Sementara di kamar yang hanya bercat putih polos dan banyak baju kotor bergelantungan belum sempat wanita satu anak itu mencuci karena sibuk bekerja. Mayang membanting tasnya kasar kesembarang arah.
'Biadab,' decaknya kesal. Matanya mengembun, rambutnya yang kuncir kuda kini ia lepas dengan kasar.
__ADS_1
'Cukup,' lirihnya, air asin yang dari tadi ia tahan kini luruh tak terbendung lagi. Memporak-porandakan apa yang ada di atas meja rias miliknya, meja rias yang di beli oleh mendiang ayahnya sebagai hadiah ulang tahunnya dulu. Tangannya terus saja memukul-mukul dadanya yang kian terasa sesak, kini kaca yang ada di hadapannya menjadi pelampiasan kemarahannya.
Ibu beranak satu itu melayangkan pukulan kearah kaca hingga pecah berkeping-keping diikuti darah segar yang mengalir dari jari-jari dan sekitarnya. Kini ia terduduk lemah, nafasnya terengah-engah lututnya kini gemetar.
Ingin rasanya Mayang menghabisi kedua insan yang sedang di mabuk asmara saat ini, kenapa dulu dia di incar jika harus di telantarkan, bahkan di saat perubahan drastis pada dirinya Rohman selalu saja menyalakannya.
Video yang memperlihatkan laki-laki bertubuh tinggi dan seorang gadis mungil nan cantik kini sudah tersebar luas, Mayang menyaksikan itu tadi saat melihat aplikasi Facebook miliknya, aplikasi yang biasa ia gunakan dulu saat mengiklankan sayuran dan cabai miliknya. Rata-rata teman Facebooknya juga orang terdekat di sini.
Saat mendengar kegaduhan di dalam kamar Rohman panik bukan main, dulu istrinya tidak sekejam ini. Mata laki-laki itu kini memperlihatkan ketakutan yang teramat dalam, ia memberanikan diri mengetuk pintu kamar.
”Dek!” Serunya. Sambil terus saja mengetuk pintu kamar. Namun hening tak ada jawaban, sesekali isak tangis perempuan itu yang terdengar.
"Dek,” panggilnya lagi.
Clek...
Pintu kamar terbuka, Mayang sang istri menenteng tas besar di tangannya.
”Adek mau kemana?” Tanya laki-laki beralis tebal itu dengan percaya diri.
”Pergi dari sini kamu, laki-laki biadab,” hardiknya. Namun mata Mayang kini tidak terlihat raut sedih sama sekali. Tangan yang tadi berdarah ia biarkan begitu saja, darah wanita satu anak itu berceceran di lantai.
”Ada apa ini, Dek,” Seakan tak percaya sang istri yang selama ini penurut tapi tega mengusir dirinya. Mayang merogoh saku celana kerjanya yang belum sempat ia ganti, mengotak-atik ponsel yang begitu lambat loading membuat ia jengkel. Untungnya video tadi sudah ia simpan sebagai bukti.
”Lihat ini kamu kan?” Seolah menuntut jawaban agar laki-laki beralis tebal itu menjawab pertanyaan darinya.
”Anu ... Itu...”
Keringan sebesar biji jagung kini mengalir di pelipis Rohman, matanya kini memerah, entah menahan amarah atau tangis, jika menangis apa yang ia tangisi, jika marah pun sama siapa? Di sini Mayang tidak bersalah. Sedangkan Mayang menatap nyalang kearah sang suami, tatapan yang tak pernah ia berikan dulu, tatapan hanya berlaku saat sang pemilik raga murka.
”Pergi!” Pekik Mayang sekuat tenaga, membuat laki-laki bertubuh tinggi itu terlonjak kaget. Dengan langkah gontai ia berjalan keluar, perut yang masih terasa keroncongan menambah lengkap penderitaan yang ia rasakan. Saat hendak menyambar kunci mobil Mayang terlebih dahulu mengambilnya dengan kasar.
”Kembalikan kunci mobilku, Dek,” pinta Rohman dengan penuh harap.
”Ini mobil saudaramu kan? Biar aku kembalikan nanti saat ia pulang dari Malaysia,” tawar ibu beranak satu itu dengan senyum mengejek.
”Itu mobil Abang,” Akunya. Mata Mayang membola, melotot kearah sang suami, ia berpikir apa suaminya selama ini korupsi?
Bersambung....
__ADS_1