
Dua hari berlalu kini Abizar benar-benar ingin mengajak Mayang untuk berbulan madu.
"Bapak mau jalan-jalan luar kota sama Ibuk. Ali ikut?" Abizar memandang wajah lesu Ali yang tidak rela jika ibunya pergi bersama dengan laki-laki yang baru saja ia panggil bapak.
"Enggak dong. Jika Ali ikut nenek takut sendirian," kata wanita yang telah melahirkan Mayang tersebut sambil memasang wajah sedih di depan Ali, wanita paruh baya itu ingin memberikan ruang dalam hubungan anaknya itu.
Padahal sama saja jika tinggal sendiri atau tidak sama sekali tak membuat nyalinya menciut, sementara Ali mengangguk karena ia takut terjadi hal buruk pada neneknya karena pamannya saat ini tak ada di rumah.
.
.
Laki-laki bertubuh gempal itu mempersiapkan pakaian Mayang yang akan di bawa sementara pakaian miliknya sudah dari beberapa hari yang lalu ada di dalam mobil.
"Siap bulan madu, Sayang?" Abizar menyenggol bahu Mayang pelan, ia begitu suka menggoda Mayang yang terlihat memanyunkan bibirnya.
Ibu satu anak itu mengira Abizar benar-benar akan mengaulinya saat benar-benar mereka telah berada di luar kota nantinya. Abizar hanya keluar kota terdekat, menginap dekat dengan pantai agar suasana berbeda ia dapatkan, karena hati yang terlalu sakit ia rasakan juga butuh pemandangan indah sekedar melepaskan rasa gundah untuk sementara waktu.
Dalam peejalan hening karena Mayang terlelap, laki-laki bertubuh gempal itu sesekali melihat kearah Mayang lalu mengusap rambut ibu satu anak itu dengan tangan kirinya.
"Aku mencintaimu, aku akan memperjuangkannya," lirih Abizar lalu mengusap wajahnya kasar. Ia merasa dirinya kini berada di ambang kehancuran yang akan membawa hatinya dalam derita berkepanjangan, namun ia sudah mempersiapkan diri walaupun terkadang masih ia rasakan perih dari setiap perkataan Mayang yang seakan mengoyak jiwanya.
.
.
Dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai pantai yang terletak di desa namun tersedia penginapan yang indah.
"Bangun, Sayang," lirih Abizar menguncangkan tubuh ibu satu anak itu pelan. Abizar menatap lekat ketulusan di wajah Mayang.
"Apa kita sudah sampai?" Wanita yang masih terlihat begitu muda itu mengusap matanya lalu mengecek liur yang dipikirkannya sudah mengalir kemana-mana nyatanya tidak ada sama sekali.
"Sudah. Kita masuk ke penginapan saja karena hari sudah begitu sore, takutnya terlalu magirib nanti kamu kesambet setan," seloroh Abizar membuat ibu satu anak itu mengulum senyum.
"Aku mau lihat matahari tenggelam sebentar," ucap Mayang dengan suara yang begitu lembut seakan sedang menggoda Abizar saat ini.
"Baik. Duduk di sana, aku akan memesan penginapan lalu memesan makanan," kata Abizar lalu meninggalkan Mayang begitu saja sebelum ibunya Ali itu menjawab pernyataan Abizar.
"Menyebalkan," ucap ibu satu anak itu kesal lalu menuju tempat yang Abizar tunjukkan agak jauh dari pantai. Kini rasa trauma Mayang sedikit sudah berkurang karena Abizar yang sering menceritakan dirinya akan menjaga Mayang sampai ajal menjemputnya.
__ADS_1
"Idah sekali, andaikan kamu tau senja, aku sungguh mengharapkan hubungan yang sehat, bukan hubungan yang terbatas karena penyakit. Aku mencintaimu!" Mayang mengucapkannya dengan lirih, beberapa bulir bening jatuh dari pelupuk matanya.
"Aku senang jika yang kudengar adalah kata cinta untukku, tapi sayangnya kata cinta itu untuk bang Rohman," ucap Abizar lalu duduk di samping ibu satu anak itu lalu mengecup pipinya sekilas.
"Sudah adzan, ayo masuk! Aku tak ingin kamu menamparku seperti saat kamu kesurupan kemarin, itu mengerikan," seloroh Abizar, sambil bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Mayang yang menatap kearahnya tidak suka.
"Apa aku semengerikan singa, Abi?" tanya Mayang mengejar Abizar dengan langkah cepat.
"Beda tipis," jawab Abizar, ia masuk kedalam penginapan yang sudah di bayar di muka.
.
.
Lima belas menit kemudian mereka telah selesai melaksanakan salat magrib dan perut keduanya merasa lapar.
"Kita kembali ke meja tadi, pasti makanan telah mereka sediakan," kata Abizar sambil menyambar gawainya.
"Setelah makan langsung masuk kedalam kamar kan?" Mayang bertanya sambil menatap serius kearah Abizar, seperti layaknya wanita malam yang sedang ingin segera mendapatkan uangnya.
"Tidak. Aku ingin tidur di pantai," ucap laki-laki bertubuh gempal itu, setelahnya ia mengulum senyumnya. Begitu polosnya Mayang Sari seperti orang yang baru dalam satu hubungan.
Ibu satu anak itu merasakan lapar yang luar biasa secepatnya melahap makanan yang sudah terhidang di hadapannya tapa menawarkan pada Abizar sama sekali, sementara laki-laki yang mencintai Mayang itu menatap penuh arti pada wanita yang bertahta di hatinya saat ini.
.
.
Sesat hening setelah makanan mereka habis dan pelayan membersihkan sisa makanan mereka, Mayang tersenyum menatap bintang yang bertaburan di langit begitu juga laki-laki bertubuh gempal itu yang justru tersenyum menatap kearah istrinya.
"Sayangnya kamu tidak pernah bisa merasakan ketulusanku," batin Abizar, ia bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Mayang yang masih menatap langit malam yang penuh dengan bintang.
Tak lama setelahnya awan mendung menutupi bintang-bintang, berganti dengan rintik kecil gerimis lalu turun hujan begitu deras seakan sedang mengusir Mayang yang terpaku di tempatnya. Ibu satu anak itu menoleh kearah kanannya namun Abizar tak ada lagi, Mayang memutar balik tubuhnya lalu berlari kecil menuju penginapan, meninggalkan meja yang hanya berpayung kecil itu.
.
.
Sampainya di penginapan pakaian yang dikenakan Mayang menempel di tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya karena basah.
__ADS_1
"Abi, buka pintu," lirihnya pelan, tak lama Abizar membukakan pintu kamar, melihat Mayang yang begitu seksi ia meneguk salivanya.
"Menggoda," batin Abizar, laki-laki bertubuh gempal itu meraih handuk lalu menempelkan di tubuh Mayang.
"Mandi lalu ganti pakaian!" Perintah Abizar yang di tanggapi malas oleh ibu satu anak itu.
Tak lama tubuh yang terlihat seksi keluar dari kamar mandi, hanya mengunakan handuk yang menutupi dadanya sampai bagian atas lututnya. Lagi-lagi Abizar menelan salivanya melihat Mayang.
"Mayang mencari pakaian tidurnya lalu melepaskan handuk di depan Abizar tanpa rasa malu sedikit pun, karena yang ibu satu anak itu inginkan saat ini Abizar segera mengaulinya, sementara Abizar memalingkan wajahnya menghindari menatap tubuh seksi Mayang, walaupun sebenernya benda berharga miliknya sudah menegang, ia memilih untuk berpura-pura tidur.
"Abi, aku sudah siap!" Ibu satu anak itu menguncang tubuh Abizar pelan untuk mengajak laki-laki bertubuh gempal itu mengaulinya.
Berlahan Abizar membuka matanya, melihat Mayang tampil mempesona dengan gaun tidur yang memperlihatkan buah dada dan paha mulusnya, lagi-lagi Abizar menelan salivanya, ia menahan hasrat yang begitu bergejolak.
"Ambil paper bag itu," lirih laki-laki bertubuh gempal itu sambil menunjuk kearah samping koper mereka.
Mayang mendekat kearah koper lalu mengangkat paper bag lalu mengangkat dan melihat isinya sambil senyum-senyum ia mendekat kembali kearah Abizar.
"Ini serius untukku?" Mayang melihat lingerie dengan raut wajah bahagia.
"Iya," jawab Abizar singkat, matanya fokus menatap gawainya.
"Aku pakai sekarang ya?" Ibu satu anak itu seperti sudah lama menjadi istri Abizar saja.
"Tidak usah. Aku tidak menginginkannya, aku mencintaimu apa adanya, bukan karena lingerie. Itu hadiah untukmu, pakailah di depan Rohman nanti jika kita tidak lagi bersama," lirih Abizar dengan hati pilu, sekilas ia melirik wajah istrinya yang berubah masam lalu kembali menatap gawainya.
"Kalau begitu kita bulan madu, setelahnya ceraikan aku secepatnya," ucap Mayang memindahkan gawai milik Abizar yang mengalikan pandangan kearah Mayang.
"Berhentilah menggodaku! Aku akan mengaulimu jika kamu sudah mencintaiku, Sayang," ucap Abizar lalu menutupi tubuhnya dengan selimut, Mayang berdecak kesal lalu melempar paper bag kelantai, beberapa lingerie itu teronggok begitu saja di sana, kata-kata Abizar sukses memukul mental Mayang kali ini.
Ada hati yang sama-sama perih saat ini, dua insan yang sedang sama-sama terluka saling menyembunyikan lukanya, keduanya tidur satu ranjang tapi saling membelakangi, Abizar berlahan berbalik, mengusap lembut rambut Mayang yang tergerai.
"Aku selalu meminta pada Allah agar kamu mencintaiku, Mayang," lirihnya hampir tidak terdengar, sementar Mayang menahan sesak dan menjatuhkan bulir bening begitu saja. Tak lama keduanya terlelap dalam keadaan hati hati terluka.
.
.
Hingga adzan subuh berkumandang keduanya tak saling bicara karena kejadian semalam yang membuat hati keduanya begitu hancur.
__ADS_1
Mayang dengan egonya begitu juga Abizar dengan niatnya mempertahankan cintanya.