
Mayang berjalan kaki, sedangkan laki-laki bertubuh gempal itu mempertikan istrinya dari kejauhan, satu sisi ia memberi efek jera pada Mayang dengan menyuruh temannya membawa pulang motor milik Mayang, di sisi lain juga ingin Mayang meminta izin padanya kemanapun ia hendak pergi karena ridho suami adalah berkah untuk istri.
Abizar mendekat kearah Mayang yang sedang berjalan kaki menyusuri jalanan yang hampir gelap, tak lama lagi adzan Magrib berkumandang.
"Sedang apa di sini? Kata ibu ke toko, aku nyari ke toko kamu ga ada." Abizar membukakan pintu mobilnya, sedangkan Mayang tersenyum kecut pada Abizar.
"Kenapa?" Abizar menatap manik mata Mayang sesaat keduanya sudah duduk di dalam mobil.
"Ga ada," jawabnya pelan lalu mengikat ulang rambutnya yang sedikit berantakan.
"Pipi kamu merah, seperti ..."
"Bekas tamparan," pungkas Mayang lalu tersenyum sinis menatap Abizar.
"Ya." Hanya itu yang mampu Abizar ucapkan, ia sadar saat ini istrinya sedang terluka.
Laki-laki bertubuh gempal itu menepikan mobilnya lalu mematikan mesin membuat bola mata Mayang membulat sempurna menatap Abizar yang tersenyum.
"Mau apa di jalanan gini?" tanya Mayang sedikit meringsut dari duduknya saat tubuh Abizar semakin condong kearahnya.
Laki-laki bertubuh gempal itu mendaratkan kecupan di pipi Mayang yang terkena tamparan itu.
"Mulai hari ini, kemanapun langkahmu harus atas ridhoku," ucap Abizar lalu meraih tangan Mayang dan mengecupnya.
"Coba ceritakan apa yang terjadi tadi di rumah itu?" lanjut Abizar menatap manik mata Mayang, berharap ada kejujuran di sana.
"Itu rumah neneknya Ali ... Maafkan aku sebelum tidak meminta izin padamu," lirih Mayang menyeka bulir bening yang jatuh begitu saja.
Terus?" Abizar menginginkan Mayang menceritakan segalanya sebelum adzan magrib berkumandang.
"Aku menanyakan keberadaan mas Rohman untuk memperjelas padanya bahwa aku tidak ingin rujuk dengannya, tapi mas Rohman tidak ada di rumah itu ..." Tenggorokan Mayang tercekat, sejenak menjeda ucapannya.
"Yang kudapatkan hanya tamparan dan hinaan dari kakak kandung bang Rohman," jelas Mayang, ia sesugukan setelahnya.
"Sudah jangan menangis, besok biar aku yang antar kemanapun kamu pergi, agar aku selalu bisa melindungimu," kata Abizar lalu kembali menyalakan mesin mobilnya.
Sesaat setelahnya mereka tiba di masjid terdekat lalu melaksanakan salad magrib di sana.
Sekitar dua puluh menit mereka di masjid keduanya kembali melakukan perjalanan dan memutuskan pulang ke rumah ibunya Mayang, laki-laki pemilik mata elang itu tak pernah lupa pada Ali, selalu saja membawa pulang makanan apa saja yang menurutnya anak-anak suka.
.
__ADS_1
.
.
_____
Di Yayasan tempat tinggal Rohman saat ini ia hanya tidur beralaskan tikar dan berselimut seadanya, karena dia masih pendatang baru, berbeda dengan yang lainnya mereka sudah bisa mencari uang sendiri dan membeli apa yang mereka butuhkan sendiri.
Tubuh ringkih Rohman berjalan menuju teras, duduk di lesehan lebar yang biasa di gunakan untuk teman-temannya yang lain mengerjakan pekerjaannya di siang hari.
Rohman memandang langit-langit yang penuh dengan bintang setelahnya awan menutupi bintang-bintang berganti dengan rintik kecil yang menyejukkan kalbu.
Angin meniup dedaunan hingga melambai manja kearah Rohman seakan sedang mengejek kesendiriannya saat ini.
"Aku merindukanmu, Mayang. Tap aku akan berusaha ikhlas demi kebahagian kalian berdua, kuharap kamu jangan pernah risaukan aku seperti dulu dan seperti beberapa hari yang lalu. Aku juga akan berusaha memberikan nafkah untuk Ali semampuku," lirih Rohman, lalu menyeka sudut matanya yang berembun.
Seorang laki-laki seumuran Rohman menepuk bahu laki-laki bertubuh kurus itu, lalu laki-laki berkulit sawo matang itu duduk di sampingnya.
"Jangan sedih. Aku juga dulu sama sepertimu, merindukan keluargaku dan istriku. Lambat laun aku melupakannya dan aku menceraikannya demi kebahagiaannya. Bukankah wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik, istri kita dulu hanya jodoh yang tertukar sama kita, Sob." Laki-laki berkulit sawo matang itu terkekeh kecil, lalu mengusap pundak Rohman.
Rohman hanya menanggapi dengan kekehan kecil, terlalu dalam ia terjerumus ke lembah dosa membuat orang-orang di sekitarnya ikut merasakan sakit, namun saat dirinya sakit malah ia menyalakan Tuhannya.
Penyesalan terhadap Mayang selalu saja menghantui dirinya, selalu terbayang di pelupuk matanya saat ia mencukur rambut istrinya dan menyuruh Mayang mendi berkali-kali karena ia anggap Mayang masih bau.
Berjalan gontai sambil di bantu oleh tongkatnya lalu meninggalkan teras dan kembali kedalam kamar yang di tempati lima orang dalam satu kamar.
Langkahnya terhenti saat laki-laki bertubuh tembun bertato menghalangi jalannya.
"Suara tongkat lu bikin berisik," ucap laki-laki bertubuh tambun itu sambil menatap nyalang kearah Rohman.
"Mau gimana lagi, Bang. Memang kaki saya satu ini berisik," jelas Rohman sambil tersenyum kecil, walaupun hatinya luka saat mengatakan kakinya berisik.
Rohman juga tak pernah menginginkan keadaannya seperti ini, manusia selalu ingin hidupnya sempurna.
"Bacot kali bah!" Laki-laki bertubuh tembun itu mendekat kearah Rohman lalu merebut tongkang Rohman dan melemparkannya hingga membunyikan suara kegaduhan.
Beberapa temannya terbangun dan kemudian keluar melihat keadaan Rohman terjatuh di lantai dan tongkatnya sudah patah mereka menatap nyalang kearah laki-laki bertubuh tembun itu.
"Apa lihat. Sok jagoan?" tanya laki-laki bertubuh tembun itu setelahnya menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Punya hati dikit, coba posisi kamu seperti ini bang di perlakukan buruk apa kamu terima?" Teman satu kamar Rohman mbelanya lalu memapah laki-laki bertubuh kurus itu menuju kamarnya karena tongkat Rohman sudah patah.
__ADS_1
"Ya Tuhan aku ingin pincang," selorohnya setelahnya ia tergelak, sementara Rohman tak peduli pada laki-laki bertubuh tembun itu dan teman-teman Rohman juga meninggalkan laki-laki tembun itu di lorong kamar yang memisahkan puluhan kamar.
.
.
Pagi menjelma masih dengan suasana sejuk menembus tulang, Rohman di bantu temannya untuk berwudhu dan salad subuh sambil duduk, tak lama seperti biasa petugas kesehatan rutin memeriksakan perkembangan kesehatan mereka begitu juga dengan keadaan Rohman.
Salah satu dari teman satu kamarnya mengadu bahwa tongkat yang membatu Rohman berjalan sudah patah namun tidak mengatakan penyebabnya.
"Kita akan ukur lingkar kakinya, besok bersiaplah belajar dengan kaki baru," ucap petugas kesehatan sambil tersenyum kearah Rohman.
"Terimakasih, pak Dokter," lirih Rohman sambil menyeka sudut matanya yang berair.
Setela petugas kesehatan pergi mereka semua makan makanan yang tela di sediakan di dapur umum, makanan seadanya, namun terlihat nikmat jika di syukuri.
Laki-laki bertubuh kurus itu kembali teringat pada perlakuannya terhadap Mayang dulu, ia selalu membuang sayuran yang di masak oleh Mayang karena alasan ada ulat dalam sayuran yang di masak Mayang, padahal tidak ada sama sekali.
"Melamun aja, buruan habisin makananmu, Mas. Nanti kita belajar merajut lagi," ucap Nurul setelahnya ia menegak air mineralnya hingga tandas.
"Siap, Mbak Nurul," ucap Rohman, ia mempercepat menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
Tak lama nasi berlauk sederhana sudah tandas tak tersisa dalam piringnya. Laki-laki bertubuh kurus itu akan belajar tekun merajut agar menghasilkan uang, ia akan mengirimkannya untuk Ali anak semata wayangnya.
Masih mengunakan bantuan temannya untuk menuju teras dan mengerjakan pekerjaan yang akan ia tekuni semetara satu temannya yang satu kamar dengannya memberikan tongkat milik Rohman yang sudah ia perbaiki sebisanya.
"Ini, Mas. Tongkatnya udah jadi, tapi ya ga serapi kemarin," laki-laki bertubuh lebih pendek dari Rohman itu terkekeh menatap Rohman sambil menggaruk tengkuknya menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya menyerahkan tongkat milik Rohman.
"Ini juga udah bersyukur, udah sebagus ini. Saya malah ga bisa perbaiki," ucap Rohman menerima tongkatnya yang sudah terlihat beberapa paku dengan hati senang.
Sambil menunggu kaki palsu gratis dari Yayasan setidaknya ini dapat membantunya sementara waktu.
Rohman mencoba tongkatnya lalu berjalan menuju gerbang masuk, matanya terbelak saat melihat orang yang begitu ia kenal kini berada tak jauh darinya, berusaha mengejar namun langkahnya terbatas.
.
.
Masih ada orang-orang baik di dunia ini diantara orang-orang tak peduli terhadap hidup orang lain.
Kunci utama kebahagiaan adalah rasa syukur seberapapun kita dapatkan asalkan halal, kunci keberhasilan adalah tekat yang kuat, usaha di bantu dengan doa.
__ADS_1