
Rohman memacu motornya pelan, membelah jalanan licin, menembus rintikan hujan tubuh tinggi itu mengigil.
Rohman berteduh di gubuk kecil di pinggir jalan, ia mendekap tubuhnya sendiri.
"Ya-Allah aku menyesal atas apa yang telah kulakukan," lirihnya. Laki-laki bertubuh tinggi itu merogoh sakunya dan menelpon Tuti.
"Halo, Rohman. Kamu kok ga transfer lagi untuk Ali?" Brondong Tuti pada Rohman yang belum sempat memberikan salam.
"Maaf. Saat ini lagi ada masalah. Bisakah aku menumpang di rumahmu mbak Tuti?" Rohman kembali bertanya pada Tuti di panggilan telepon, sesaat hening tak ada jawaban.
"Maaf. Saat ini aku juga lagi butuh duit ga mungkin aku nampung kamu," jelas Tuti lalu mematikan panggilan sepihak. Laki-laki bertubuh tinggi itu mengelus dadanya, kini ia menyadari saat terpuruk tak ada saudara yang menganggap dirinya.
Gerimis kecil sudah berhenti, udara dingin masih terasa, aroma tanah menyeruak membawa ketengan. Rohman kembali memacu motornya pelan menuju kediaman ibundanya. Menerpa dinginnya angin dengan kecepatan pelan agar tubuh itu sampai kerumah orang tuanya dengan selamat.
.
.
.
.
Beberapa menit dalam perjalanan akhirnya Rohman tiba di rumah ibunya. Dengan wajah lesu dan sedikit pucat Rohman mengetuk pintu beberapa kali.
"Assalamualaikum." Kembali ia ketuk pintu rumah orang tuanya dengan hati yang pilu.
"Rohman, ngapain kamu kesini? Kamu ribut sama Anita?" Yeyen memberondong beberapa pertanyaan sekaligus.
"Ma, boleh tidak aku masuk dulu?" Tanya Rohman memelas, tubuh tinggi itu mengigil, beberapa jam perjalanan dingin mampu menembus tulang.
Dengan malas dan sedikit terpaksa Yeyen bergeser dari ambang pintu mempersilahkan Rohman masuk.
"Eti mana, Ma?" Tanya Rohman saat tidak menemukan adik bungsu berbeda ayah tersebut. Eti anak dari suami Yeyen yang lain dan sudah bercerai beberapa tahun yang lalu karena ayah Eti suka bermain judi.
"Eti sudah tidur," jawab Yeyen sekenanya. Rohman jarang bertemu dengan Eti karena mereka sama-sama sibuk.
"Bu. Izinkan Rohman tinggal sama ibu," kata Rohman mengiba.
"Tapi apa alasannya?" Tanya Yeyen bingung, sebab tak biasanya anaknya itu mendatangi kediamannya dan meminta untuk tinggal di rumah tua miliknya.
"Saya da Anita sudah bercerai, tadi saya menalak dia, Bu," jelas Rohman dengan mata berkaca-kaca, dalam satu kedipan saja bulir bening itu akan luruh seketika.
"Apa?" Pekik Yeyen tak percaya, anaknya harus kandas membina rumah tangga yang kedua kalinya.
"Iya, Ma. Anita selingkuh, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri," papar Rohman membuat mulut Yeyen menganga.
"Apa kamu kurang memberikan nafkah?" Tuding Yeyen pada anak laki-lakinya itu.
__ADS_1
"Aku memberikan nafkah bahkan aku rela menjual ...." Suaranya terputus saat menyadari apa yang ia perbuat tak pantas Yeyen mengetahuinya.
"Jual apa, Rohman?" Yeyen mengerutkan keningnya.
"Rohman rela jual motor kesayangan demi dia," dusta Rohmah.
Rohman bergegas masuk kedalam kamar tidur yang biasa ia tempati jika menginap di sini, membersihkan diri lalu mengantikan pakaiannya. Rohman menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, hari semakin larut, panggilan di gawainya dari wanita tua itu sudah begitu banyak.
Tangannya cepat membuka pesan aplikasi hijau masuk kegawainya.
"Jangan menghindari saya, atau video kamu siap untuk kusebar luaskan di media sosial."
"Aku tidak main-main." Pesan dari wanita tua itu mengancam.
Laki-laki bertubuh tinggi itu menghela napasnya panjang, mengenakan kaos putih den jacket kulit juga jeans hitam, kini Rosan siap bertempur melawan gemerlap malam.
Setengah berlari ia menghampiri Yeyen yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Ma Rohman pamit, ga usah nunggu aku pulang, tutup dan kunci aja pintunya," jelas Rohman sambil mencium punggung tangan Yeyen lalu berangkat tergesa. Sebenarnya banyak pertanyaan yang belum di utarakan pada anaknya itu.
Masih membelah kemacetan jalanan kota, Rohman melajukan kendaraannya pelan. Hal menjijikkan akan kembali ia ulangi demi uang.
.
.
.
Usai berbelanja mereka pulang sambil tersenyum bahagia, seperti pengantin baru jika mereka melihat sekilas.
Kendaraan Yazid berhenti di halaman rumah kontrakan Anita, beberapa mata memandang kearah mereka, namun wanita hamil itu tak peduli, mengabaikan tetangga yang ia anggap julid.
"Mbak. Mas Rohman kok ga pulang?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut ibu-ibu yang tak sanggup melihat mereka bahagia.
"Ga, Buk. Dia nyuruh sepupunya temani saya," dusta Anita dengan entengnya.
"Ouh. Kirain ada apa," kata ibu-ibu itu sambil tersenyum kearah Anita dan Yazid.
Walaupun pengakuan Anita seperti itu tapi tidak menutup kemungkinan orang kampung akan curiga pada gelagat Anita dan Yazid yang mencurigakan. Begitu beraninya laki-laki itu tinggal bersama Anita tanpa ada ikatan suci pernikahan.
Kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu masuk kedalam rumah sambil tersenyum puas. Terlebih Yazid, laki-laki yang mencari kepuasan.
Laki-laki tampan dan bertubuh gempal itu benar-benar mencintai Anita dan setelah anak itu lahir Yazid akan menikahi Anita, namun cara mereka yang salah. Harusnya Anita di bawa kerumah orang tuanya, bukan malah kumpul kebo (maaf.)
.
.
__ADS_1
.
___
Hari berganti bulan, Rohman masih bergelut dengan pekerjaan barunya yang menjadi candu, kini Rohman sudah menggunakan mobil. Laki-laki berwajah Turki itu tak ingin merasa miskin dan segera ia akan segera membuat Anita dan Mayang menyesal telah meninggalkan dirinya.
Mobil mewah Rohman berhenti di halaman rumah ibu Anita. Ali yang sedang bermain air keran segera menghentikan aktivitasnya dan melihat siapa yang datang.
"Siapa, Ali?" Pekik neneknya Ali di dalam rumah, karena ia juga tak ingin terjadi sesuatu pada cucunya itu.
"Ga tau, Nek," jawab Ali ikut berteriak juga. Karena Rohman begitu lama turun dari dalam mobil.
Ali terus saja memperhatikan mobil yang ada di halaman sampai seorang laki-laki yang begitu ia kenali turun dari dalam mobil.
Anak itu hampir saja melupakan sosok sang ayah, namun Rohman datang kembali dengan keadaan yang berbeda, sambil menenteng kantong plastik besar laki-laki itu mendekat kearah Ali.
"Kamu sehat?" Tanya Rohman pada anaknya yang berdiri mematung menatapnya.
"Sehat." Bocah kecil itu berjalan menyamping, ia berusaha menghindar dari sosok yang dulu sempat ia panggil ayah.
"Ibu mana?" Tanya Rohman lagi pada Ali yang hendak masuk kedalam rumah. Tak lama neneknya Ali keluar lalu memeluk tubuh cucunya yang seperti orang ketakutan. Ternyata trauma Ali saat ia melihat ibunya di pukul oleh ayahnya masih membekas dalam ingatannya.
"Mau apa lagi kamu kesini?" Wanita yang melahirkan Mayang itu menatap tak seka kearah mantan menantunya itu.
"Aku mau menjenguk Ali, Bu," ucap Rohman sambil merentangkan kedua tangannya berharap Ali mau memeluknya, rasa jijik yang ia rasakan dulu pada anaknya yang kumal kini telah sirnas berganti dengan kerinduan yang teramat dalam.
Bocah polos itu menggeleng pelan, tanpa dirinya tak mau menghambur ke pelukan Rohman seperti ia menghabilurkan diri kepelukan Riska adik Ibunya, bahkan Ali sempat tak mengizinkan Riska bekerja.
"Ini ada mainan, Ali pernah minta mobilan remote control kan? Maaf baru sekarang bisa ayah beli," ucap Rohman dengan mata berkaca-kaca. Begitu pilunya hati laki-laki yang menyandang status ayah itu.
"Ayah kan ga pernah sayang sama Ali." Anak kecil itu berusaha menghindar.
"Ayah sang kok sama Ali, sama ibu juga," kata Rohman setengah berdusta.
Setelah memalui drama dan sang nenek membujuk cucunya dengan penuh kasih serta pemahaman, akhirnya Ali mau memeluk tubuh tinggi yang sedikit mulai kurus karena keseringan bergadang.
"Ali mau jalan-jalan?" Tanya Rohman serius pada putranya yang dulunya tak pernah berarti untuknya, namun lagi-lagi bocah itu menggeleng pelan.
Mainan yang tadi ia bawa diletakkan kedalam rumah oleh neneknya Ali, karena Ali benar-benar tak mau menerima pemberian ayahnya ini, rasa sakit yang Rohman torehkan teramat dalam di hati bocah itu.
"Ibuk kapan pulang?" Rohman mengajak Ali terus berbicara agar suasana yang dingin mencair.
"Ibuk pulang malam. Jualan sendiri ga ada yang bantu," jelas bocah kecil yang sedikit banyak sudah mulai paham urusan orang dewasa.
"Emang ibu jualan apa?" Kembali Rohman bertanya, kali ini pertanyaannya serius.
"Ibu buka toko gamis di pasar." Bocah itu menjawab sambil mencongkel tanah dan membuat kubangan untuk kolam kecil.
__ADS_1
"Ya sudah. Kalo begitu ayah pulang," ucap Rohman berpamitan pada anak yang ia titipkan pada mantan istrinya itu, sementara Ali hanya mengangguk tanpa repon berlebihan, walau Rohman ingin mengecup sekilas namun tak ada kesempatan untuk laki-laki bertubuh tinggi itu kare ia juga tak ingin membuat Ali semakin takut padanya.