
"Tampan jangan ga datang hari ini. Bayarannya lebih gede dari kemarin," satu pesan masuk kegawai Rohman dan segera ia hapus, padahal jam masih menunjukkan pukul tiga sore.
Rohman berniat berangkat saja walaupun Anita belum pulang dari berbelanja, laki-laki bertubuh tinggi itu begitu takut jika video yang memperlihatkan dirinya sedang berbuat buruk itu tersebar.
"Anita, aku berangkat kerja," pesan singkat bia kirimkan pada istrinya. Menjijikkan sekali perbuatan seperti itu disebut sebuah pekerjaan.
"Baik, Bang. Hati-hati di jalan," balasnya singkat.
Langkahnya gontai menuju jalan aspal yang berjarak beberapa meter dari ia duduk saat ini, di kedai ia mentransfer uang untuk Ali pada rekening Mbaknya.
Tak butuh waktu lama menunggu akhirnya angkutan umum tiba, tergesa ia memasuki angkutan umum agar cepat sampai di tempat tujuan.
.
.
.
.
Di tempat lain Anita sedang bercengkrama bedengan kedua orang tuanya, ternyata wanita itu bukanlah perempuan yang terlahir dari keluarga kaya raya, sikap Anita yang royal turunan dari sang ayah yang begitu boros.
Anita berlagak sebagai sultan untuk menutupi dan mengaet pria kaya, tapi nasibnya tak seberuntung perkiraannya. Wanita mungil itu gagal mengaet pria kaya, malah dirinya terjerumus sampai memiliki anak di luar nikah.
Wanita cantik itu sangat enggan memperkenalkan Rohman pada ayah dan ibunya karena ia takut jika Rohman tak memberinya uang lagi karena Anita selalu mentransfer uang pada orang tuanya.
"Suamimu ajak kesini sekali-kali kenapa, Nduk?" Tanya wanita berusia sekitaran empat puluh lima tahun itu.
"Nanti kalau udah saatnya, Buk," dustanya, padahal tak ada niat dalam hatinya untuk memperkenalkan Rohman pada ibu dan bapaknya, karena Anita berniat akan segera mengigat cerai Rohman setelah anak yang ia kandung lahir kedunia ini.
Ibunya Anita menghidangkan makanan kesukaan anaknya itu, beberapa buah mangga juga ayahnya petik dari samping rumah, mengingat anaknya sedang mengandung pasti menginginkan buah yang sedikit asam untuk menetralisir rasa pahit di mulut.
"Buk. Anita boleh nginap di sini engga?" Tanya Anita saat menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
"Boleh, Nduk. Tapi gimana sama suami kamu?" Tanya ibunya Anita lembut, sangat jauh berbeda dengan sikap Anita yang sering marah-marah.
"Suamiku pulangnya agak pagi, Buk. Aku takut tinggal di rumah sendiri," jelas Anita memelas, padahal Rohman baru satu malam pulang pagi.
"Ya terserah kamu. Apa kamu tidak menaruh curiga sama suami kamu, Nduk? Masa pulang pagi terus memangnya kerja apa?" Tanya ibunya membuat ibu hamil itu tersedak.
__ADS_1
"Ga tau. Anita lupa tanya," kekehnya membuat ayahnya ikut tersenyum.
Usai makan Anita tidak membereskan sisa peralatan makan, ia mengabaikannya begitu saja. Wanita paruh baya itu terlalu memanjakan anaknya karena Anita adalah anak semata wayangnya.
.
.
.
.
Di tempat yang berbeda, Mayang sedang sibuk dengan usaha barunya, membuka toko pakaian kecil-kecilan di pasar yang sedikit jauh dari rumah orang tuanya, tak ingin hasil penjualan rumah dan mobil habis sia-sia, jadi wanita itu pergunakan untuk modal usaha. Suatu kebahagiaan untuknya kini ia resmi berstatus janda karena dua kali panggilan ke pengadilan Rohman tidak datang dan Tuti pun tak lagi menganggu hidupnya.
Tapi ada yang Mayang sesali, Rohman masih belum bisa merubah sikapnya untuk bertanggung jawab pada anaknya, walaupun sudah resmi bercerai harusnya Rohman masih menafkahi anaknya. Bukankah dalam agama mengatakan anak tanggung jawab ayahnya yang memberi nafkah.
"Mbak. Enak ya jadi janda?" Tanya ibunya Ugik yang sengaja membeli gamis mewah untuk ia pamer pada acara khitanan anaknya nanti.
"Enak, Buk. Ga terlunta-lunta dan kayak gembel seperti dulu," jawab Mayang menyindir sekaligus menampar sisi kepo dan sisi sok tahu buk Ugik.
"Oh. Terserah Mbak Mayang deh. Intinya saya cuma minta diskon harga gamis ini," kekehnya. Manusia selalu baik jika ada maunya dan baik jika sudah terlihat sedikit beruang.
"Yah itu bukan diskon, tapi ngasih uang bensin doang," kata buk Ugik memanyunkan bibirnya.
"Saya cuma bisa segitu, kalo ibuk Ugik ga mau silahkan cari tempat lain, saya yakin harganya lebih mahal," papar Mayang dengan kesal. Padahal buk Ugik sudah berkeliling dari tadi memang haga gamis seperti model yang ia inginkan harganya lima ratus ribu di toko Mayang hanya empat ratus ribu masih diskon dua puluh ribu.
"Iya deh. Bungkus aja," ucap buk Ugik sambil tersenyum kikuk, setelah membayar wanita bertubuh gempal itu berterimakasih lalu meninggalkan toko Mayang.
Ibu satu anak itu terlihat begitu ramah menyapa pembeli walau mereka hanya singgah lalu pergi lagi, sengaja Mayang tidak mempekerjakan orang lain karena ia merasa dirinya masih kekurang, sementara buk Ugik pulang dan bertemu dengan Tuti di persimpangan ujung saat keluar dari pasar.
"Eh, Bu Ugik," sapa Tuti sambil tersenyum lebar, bedak pemutih untuk siang yang ia pakai nyaris meleleh karena terik panas mentari yang begitu menyengat kulit.
"Tuti belanja?" Tanya buk Ugik sambil mengandeng tangan Tuti seperti biasa saat ia ingin menceritakan sesuatu.
"Iya nih." Tuti memperlihatkan sayuran belanjaan miliknya.
"Mayang udah banyak duit loh," kata buk Ugik membuat Tuti menggeleng tak mengerti. "Mayang dah punya toko baju gamis," sambung buk Ugik membuat mata Tuti melebar sempurna.
"Masa sih, Buk?" Tanya Tuti tak percaya, dirinya berharap Mayang menderita karena telah berani mengusir sepupunya.
__ADS_1
"Serius, nih aku beli gamis di toko Mayang," ungkap buk Ugik sambil memperlihatkan gamis renda yang lumayan berkelas.
"Wah. Gamisnya lumayan bagus." Wanita yang memakai bedak pemutih itu mengelus gamis buk Ugik kagum.
"Aku duluan, Ti. Suamiku dah nunggu," kata buk Ugik terus melenggang meninggalkan Tuti yang masih bingung.
Tuti yang penasaran dengan keberhasilan Mayang kembali menyusuri pasar, tak peduli walaupun panas menyengat wajahnya yang kini sudah seperti kepiting rebus itu.
"Ketemu," lirihnya saat melihat Mayang sedang duduk di kursi sambil menyantap makanannya yang sempat tertunda.
"Eh, Mayang ini toko kamu?" Tanya Tuti tanpa basa basi pada Mayang.
"Oh, Mbak Tuti toh," jawab Mayang saat makannya sudah ia telan habis yang di dalam mulutnya.
"Kamu kaya pasti hasil jual diri. Hebat juga," ucap Tuti sambil melihat gamis cantik yang terpajang rapi.
"Alhamdulillah, ini uang halal," ungkap Mayang masih dengan nada lembut. Ini pasar dan Mayang adalah penjual jadi dirinya tak ingin membuat keributan.
"Halah. Uang halal kok cepet banget dapatnya." Tuti terkekeh, sementara Mayang menggelengkan kepalanya. Ibu satu anak itu sungguh tak habis pikir pada kelakuan kakak sepupunya Rohman itu.
"Kalau ga tau asal usulnya ga usah asal bicara kalau Mbak Tuti ga mau mendekam di jeruji besi," ungkap Mayang penuh emosi, namun masih bernada rendah.
"Saya doakan semoga bangkrut." Tuti keluar dari toko sambil tergelak.
"Astagfirullah." Mayang beristighfar. Seorang pembeli menguatkan Mayang.
"Ga akan dikabulkan doa orang jahat sama Allah, Mbak." Wanita cantik itu tersenyum kearah Mayang memperlihatkan lesung pipinya yang cantik.
"Iya, Mbak bener," ajwab Mayang seadanya. Darahnya kini benar-benar mendidih mendengar ucapan wanita yang tak tahu malu itu.
.
.
.
Tak selamanya kejahatan itu selalu berjalan baik-baik saja, Allah maha melihat dan Allah tidak tidur.
Saat ini yang berniat jahat boleh saja tertawa atas penderita orang lain, pertahankan tawa jahat itu sebelum kamu menangis darah nantinya.
__ADS_1