CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 40


__ADS_3

Setelah kemarin Rohman menerima uang dari Yeyen hari ini ia putuskan untuk membeli sepeda untuk anaknya walau mungkin nanti akan ada drama yang akan di alaminya.


Penjual memperhatikan Rohman yang berjalan tertatih, ia terus saja menawar sepeda yang akan ia beli membuat penjual iba padanya, ia tersenyum bahagia saat sepeda itu berhasil ia dapatkan.


Tak lama ia sampai di rumah orang tua Mayang, ia menatap nanar kearah Ali yang baru saja pulang sekolah, peluh di wajah bocah itu membanjiri pelipisnya, karena cuaca terik dan berjalan kaki yang membuatnya begitu lelah.


"Ali," pekiknya sesaat setelah dirinya turun dari ojek, ia menyuruh tukang ojek itu menunggu dirinya.


"Ayah!" Bocah kecil itu berhambur kedalam dekapan Rohman yang berlutut, Rohman menjatuhkan bulir bening yang tak sanggup ia bendung, kembali ia mengingatkan perlakuannya dulu pada Ali membuat dadanya terasa nyeri.


"Ayah ada sepeda buat kamu, maafkan ayah dulu ga ada uang buat beli sepeda," dusta Rohman membuat Ali melonggarkan pelukannya.


"Iya, Ayah. Ali paham," bocah itu mengangguk. Anaknya Rohman itu biasa dididik untuk selalu mengerti keadaan orang di sekitarnya.


Sesaat anak dan ayah itu berbincang, Ali menceriterakan dirinya menjadi bahan cemoohan teman-temannya, sementara Rohman menutup kesedihannya.


Tak lama terlihat Mayang mendekat dari kejauhan menggunakan motornya.


"Ibu. Ayah belikan Ali sepeda," kata bocah itu sambil mendekat kearah Mayang, ia meninggalkan ayahnya yang duduk di kursi depan teras.


"Ayah ga punya uang, Nak," ucap Mayang pelan lalu mengacak rambut Ali sebentar dan menyuruhnya mengantikan pakaiannya.


"Mayang. Bisa kita bicara?" Laki-laki kurus itu menatap nanar kearah Mayang yang berdiri mematung.


"Bisa. Mari masuk," Mayang mempersilakan Rohman masuk terlebih dahulu.


Wanita cantik yang kini terlihat semakin bersih menjatuhkan bokongnya di atas sofa, begitu juga dengan Rohman.


"Mau bicara apa, Bang?" Mayang bertanya tanpa basa basi, karena tak ingin kehadiran Rohman menimbulkan fitnah karena membawa masuk laki-laki yang bukan lagi mahromnya.


"Aku ingin menjadi babu untukmu agar rasa berdosaku sedikit berkurang," lirih Rohman menatap lekat manik mata ibu dari anaknya itu.


"Jangan aneh-aneh," ucap Mayang tersenyum sinis.


"Aku serius, kita menikah lagi, jadi tak ada fitnah untukmu," kata Rohman berharap ada titik temu pada jawaban Mayang.


"Aku akan berpikir dalam waktu seminggu, Bang," ungkap Mayang menatap manik mata mantan suaminya penuh keraguan.


"Terimakasih, atas waktu berhargamu hari ini." Laki-laki bertubuh kurus itu meninggalkan rumah orang tua Mayang setelah memberikan salam.


Ojek yang tadi menunggu sudah tidak lagi di atas motor, laki-laki itu duduk di teras karena cuaca begitu panas.

__ADS_1


"Maaf, lama menunggu," ucap Rohman sambil mengulas satu senyuman paksa.


"Tidak apa-apa," jawab tukang ojek itu, karena ia merasa begitu iba pada laki-laki yang memakai tongkat di depannya saat ini.


Deru ojek meninggalkan pekarangan rumah orang tua Mayang, sekaligus menjadikan hati wanita yang sekarang hampir melupakan masa lalunya tersayat kembali, mengoyak luka lama yang hampir pulih.


.


.


.


___


Malam menjelma, Mayang tidak membuka tokonya lagi saat tadi siang ia pulang. Hatinya gundah jika harus mengatakan yang sebenarnya terjadi pada wanita yang telah melahirkannya, ragu untuk menceritakan Rohman ingin rujuk kembali dengannya.


"Buk, bisa kita bicara sebentar?" Akhirnya Mayang memberanikan diri untuk berbicara pada wanita yang telah melahirkannya itu.


"Tadi bang Rohman datang kesini?" Mayang berkata sedikit ragu.


"Mau apa dia kesini?" Wanita yang melahirkan Mayang itu kembali bertanya pada putrinya saat ini. Bukan ia tidak tahu kegundahan hati Mayang, namun ia memilih diam agar anaknya lebih mandiri dan menentukan pilihannya sendiri.


Satu pesan masuk di gawai Mayang membuat ibu satu anak itu menatap gawainya, ada pesan dari Abizar mengatakan bahwa dirinya harus hadir di pertemuan keluar Abizar malam ini. Mayang berdecak kesal dan melemparkan gawainya di atas ranjang, tak berniat sama sekali untuk membalas pesan dari Abizar malam ini.


Wanita cantik yang melahirkan anak Rohman itu masih memikirkan mantan suaminya, masih memikirkan akankah jika Rohman tinggal bersamanya akan membuat ayah anaknya itu bahagia. Begitulah sifat Mayang yang terlalu memikirkan kebahagiaan orang lain daripada dirinya sendiri.


"Buruan cantik, mamaku nanyain kamu terus." Lagi-lagi pesan dari Abizar terpampang di layar atas gawai Mayang. Mungkin saja ia telah menceritakan Mayang selama ini pada orang tuanya hingga membuat mereka menanyakan keberadaan Mayang.


"Jemput!" Hanya itu balasan yang Mayang kirim untuk laki-laki yang bersikap manis terhadap dirinya, Mayang terlalu takut mendekati laki-laki bujangan karena banyak kasus yang kita temui laki-laki bujangan hanya mencintai ibunya tapi tidak anaknya.


Padahal Abizar selalu menanyakan keberadaan Ali, sekolah bahkan pengajian sampai hasil rapot. Abizar juga pernah menawarkan membelikan sepeda Ali namun di tolak mentah-mentah oleh Mayang, ibu satu anak itu begitu takut jika kebaikan Abizar hanya untuk mendapatkan hatinya.


Tak lama suara mesin mobil Abizar terdengar jelas, Mayang tergesa keluar sebelum Abizar masuk kedalam rumah. Namun kalah cepat kali ini Abizar tepat berada di hadapan Mayang, Abizar terus maju hingga tubuh Mayang berhenti karena tertahan oleh tembok, tahan laki-laki gempal itu mengunci tubuh Mayang sehingga wanita cantik itu tidak dapat berkutik.


"Lama banget, aku menunggu balasan pesan darimu. Seperti istri camat aja," ucap Abizar lalu tersenyum miring.


"Minggir, jadi pergi ga?" Tanya Mayang dengan wajah bersemu.


"Pasti jadi, bawa Ali sekalian. Kalo bisa ga usah pulang," ujar laki-laki bertubuh gempal itu menatap manik mata Mayang lekat.


"Ya udah aku gantikan pakaian Ali dulu," kata Mayang melepaskan tangan yang menghalanginya.

__ADS_1


Abizar tersenyum menatap Mayang yang salah tingkah menghadapi sikapnya.


"Bismillah," lirihnya, Abizar sudah mendapatkan lampu hijau dari orang tua Mayang sebelumnya kini tinggal dirinya memperkenalkan Mayang pada keluarganya.


Usai mengantikan pakaian Ali yang tadinya bocah itu sedang belajar di kamarnya kini bocah itu bersorak gembira karena kata Mayang Ali akan di ajak berbelanja apa saja di pasar malam.


Rencana Mayang ingin memberi efek jera pada Abizar kali ini.


"Mau ke pasar malam kita, Om?" Tanya Ali mendongak menatap kearah Abizar penuh harap.


"Iya. Kita akan belanja sepuasnya," ucap Abizar mantap, perkataan Abizar membuat mata Mayang membola sempurna.


Laki-laki yang akan ia beri efek jera justru merasa senang menghabiskan waktu bersama Mayang dan Ali.


Lima belas menit perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah Abizar yang terlihat begitu mewah, rumah Abizar tiga kali lebih besar daripada rumah Rohman.


Abizar memberi salam, begitu juga dengan Mayang yang santun memberi salam dan mengecup punggung tangan wanita yang melahirkan Abizar itu.


"Cantik sekali calon istrimu, Nak," ucap wanita paruh baya yang mengenakan pakaian gamis dan hijab senada, terlihat jauh lebih muda dari ibu Mayang, Mayang yang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut wanita yang melahirkan Abizar itu melirik sekilas kearah Abizar yang tersenyum begitu manis kearahnya.


"Alhamdulillah," jawab Abizar sambil mengulas senyum.


Laki-laki bertubuh gempal itu mempersilakan Mayang dan Ali untuk duduk dan menikmati hidangan sederhana di rumahnya, beruntung saat Mayang datang keluarga besar Abizar sudah pulang kerumahnya masing-masing, jadi sedikit mengurangi rasa malu.


Abizar yang tak sabar ingin langsung mengajak Mayang dan Ali menuju pasar malam setelah ibu satu anak itu menghabiskan makanannya.


"Mau kemana kok buru-buru?" Tanya ibunya Abizar itu.


"Mau pacaran," sahut Abizar santai.


"Pacaran tapi bawa anak ya, May," kekeh ibunya Abizar, membuat wajah Mayang bersemu.


.


.


.


Seorang janda tak selamanya buruk dipandangan orang, ada orang tertentu yang menghargai seorang janda terlebih janda di tinggal pergi oleh suaminya untuk selamanya.


Hanya segelintir manusia yang menganggap janda manusia yang kotor, padahal sejatinya pikiran merekalah yang kotor.

__ADS_1


__ADS_2