
Cinta yang telah tumbuh dan bermekaran terpaksa ia basmi agar orang yang ia kasihi menjemput bahagianya.
Mata elang milik Abizar masih enggan terpejam, menatap dedaunan yang melambai kearahnya seolah sedang menghibur hati yang sedang gundah, ia duduk di depan teras rumahnya.
"Aku malu pada diriku sendiri. Abizar yang tak pernah mau menerima kekalahan harus terpatahkan oleh seorang janda," lirihnya, wajah manis Abizar tersenyum sinis.
Menikmati setiap embusan angin malam yang begitu menyejukkan, tubuhnya terasa lelah seiring terpatahkannya tangkai bunga cinta.
Tubuh gempal itu bangkit dari duduknya, masuk kedalam kamar lalu menjatuhkan tubuhnya kasar.
"Aku sama sekali tidak ingin mengalah, walaupun keadaan mengalahkanku," Gumamnya lalu menutup mukanya dengan bantal.
Masih terngiang di telinga kata-kata Mayang yang seolah merendahkan harga dirinya, berlahan mata elang milik Abizar terpejam dalam keadaan hati yang gundah gulana.
.
.
.
____
Pagi menjelma begitu cepat, terasa baru beberapa jam Abizar memejamkan matanya namun matahari sudah menghangatkan bumi dengan sedikit malu-malu.
"Kesiangan," Gumamnya lalu tangannya meraba gawai miliknya, mata elang itu menyipit berusaha menyesuaikan cahaya.
"Mayang?" Lirih Abizar pelan saat beberapa pesan dari calon istri sementaranya itu.
Menyedihkan jika harus menjadi istri sesaat, sementara rasa cinta yang ada di hatinya benar adanya dan sangat tulus.
"Bisa kita bertemu?"
Kita akan menentukan tanggal pernikahan."
Jika tidak bisa, tidak masalah."
"Tapi aku berharap kita bisa bertemu."
Abizar tersenyum pahit membaca pesan dari wanita yang teramat ia rindukan, haruskan luka di atas luka ia terima?
"Aku akan datang, bertemu di luar atau aku kesitu?" Balas Abizar, bersikap tenang itulah kelebihan Abizar.
Tak lama centang biru, Mayang sedang mengetik pesan balasan. Jika untuk kepentingan Mayang sendiri maka akan begitu cepat ia balas, jika Abizar membutuhkan dirinya maka Mayang seakan ragu untuk membalasnya bahkan mengabaikan pesan Abizar.
"Andai cintaku dapat tergambarkan maka begitu indah pesonanya," lirih Abizar menatap foto profil Mayang lalu mengusapnya pelan.
Beberapa detik menunggu notifikasi masuk kembali ke gawai Abizar.
"Kita bertemu di taman, aku tidak ingin ibu mengetahui rencana kita, biarkan ibu berpikir kita menikah atas dasar cinta," balas Mayang membuat hati Abizar pilu, goresan demi goresa luka Mayang torehkan di hatinya.
Laki-laki bertubuh gempal itu memandang gawainya begitu lama lalu hanya membalas satu kata 'iya' pada wanita yang kini membuatnya semakin gila.
Beranjak dari tidurnya lalu menuju kamar mandi, membersihkan dirinya untuk bertemu dengan wanita yang bertahta di hatinya.
Sesungguhnya laki-laki juga memiliki titik lemah, hanya saja ia tak pernah memperlihatkan pada wanitanya apa sebenarnya yang ia rasakan, laki-laki sulit menggambarkan apa yang ia rasa.
Bulir bening sekilas jatuh dari pelupuk mata Abizar namun tersamarkan dengan guyuran air shower yang membasahi seluruh tubuhnya.
"Aku akan berjuang dengan caraku," lirihnya lalu menyelesaikan mandinya.
.
.
__ADS_1
.
Laki-laki bertubuh gempal itu keluar dari kamarnya setelah rapi, aroma tubuh yang membuat candu tercium jelas menusuk indra penciuman.
"Pagi-pagi udah rapi aja," celetuk Miska -- adik kandung Abizar.
"Mau ke KUA," selorohnya membuat wanita yang melahirkannya terbahak begitu juga Miska.
"Ga ngajak nih?" Miska menatap tajam kearah Kakak kandungnya itu.
"Pertanyaan aneh sih! Rapi salah, kumal kayak kemarin apa lagi," ungkap Abizar kesal lalu menolak kepala adiknya pelan sehingga membuat Miska berdecak kesal.
"Hobby aku tuh emang ngebully Kakak," kekehnya membuat wanita cantik yang dulu pernah menyusui mereka berdua menggelengkan kepalanya.
"Ribut aja, ayo makan!" Wanita yang melahirkan Abizar menyendokkan nasi kepiring Abizar dan putrinya.
Sesat hening di meja makan, tak lama setelah makanan habis dalam piring masing-masing Abizar pamit begitu juga dengan Miska yang berlalu setelah mengeluarkan gas beracun di dekat Abizar, sementara ibu dari anak-anak itu menggelengkan kepalanya heran.
"Punya adik bobrok ya gini, dapat perlakuan buruk," pungkasnya lalu menyalim takzim punggung tangan wanita yang melahirkannya itu.
Mengunakan mobilnya membelah jalanan yang ramai dan sedikit padat, laki-laki bertubuh gempal itu berdecak kesal karena macet sudah terlihat di depan matanya. Jika ia terlambat bisa-bisa Mayang akan pulang dari taman dan memilih pulang.
.
.
.
Satu jam menunggu akhirnya macet sudah terurai, benar saja Mayang sudah tidak ada lagi di taman, sementara gawai milik Mayang tidak bisa di hubungi, dengan berat hati laki-laki pemilik mata elang itu harus kerumah orang tua Mayang untuk bertemu dengan wanita yang ia cintai sekaligus wanita yang menorehkan luka.
Rasa lelah berputar-putar di jalanan dan bertemu kembali dengan kemacetan kota tak membuatnya lelah.
"Di mana?" Laki-laki pemilik mata elang itu bertanya pada Mayang sesaat setelah panggilan terhubung ke gawai ibu satu anak itu.
"Aku kesitu, persiapkan Ali juga, aku akan menghabiskan waktu bersamanya," ucap laki-laki bertubuh gempal itu menatap lurus kearah jalanan.
"Ali sekolah, lain waktu saja. Kita tetap bicara di luar setelah ini," kata Mayang pelan, sementara Abizar hanya bergumam. Sesaat setelahnya panggilan di matikan sepihak oleh ibu satu anak itu.
.
.
.
____
Di tempat parkiran Rohman sedang menjaga parkiran seperti biasa, sesekali ia berjalan tertatih mengintip toko gamis Mayang yang tak kunjung buka.
"Kemana kamu, Dek?" Lirihnya pelan.
Ingin mengirimkan pesan pada Mayang tapi hatinya terasa menciut, mengingat dirinya yang dulu tak pernah baik memperlakukan matan istrinya yang sesaat lagi akan menjadi istrinya lagi.
Panas begitu terik sesekali Rohman menyeka pelipisnya, keringat membasahi oblong pendek yang ia kenakan, menempel di tubuh kurusnya, kulit putihnya kini terlihat sedikit kecoklatan.
Rohman tersenyum pahit memperhatikan tangannya yang kecoklatan.
"Aku pernah menghina kulitmu Mayang, kini Tuhan memperlihatkan bagaimana aku sekarang yang berada di posisimu dulu," lirihnya sambil tersenyum kecil, ia mentertawakan kebodohannya dulu.
Penyesalan selalu datang di akhir, jika di awal maka itu adalah pendaftaran.
.
.
__ADS_1
.
____
Di taman Mayang dan Abizar saling diam, kegelisahan melanda hati keduanya.
"Bang," ucap Mayang lirih.
"Panggil Abi aja seperti kemarin, aku lebih nyaman," ucap laki-laki pemilik mata elang itu menatap Mayang sambil mengulas senyum yang begitu terasa berat.
"Baik," kata Mayang, ibu satu anak itu enggan menatap manik mata Abizar yang terlihat begitu menawan.
Sesat hening, Abizar bangkit dari duduknya lalu menuju penjual es krim yang tak jauh dari hadapan mereka, sementara Mayang menarik napas dalam-dalam menghirup udara secara rakus.
Terpaksa degan berat ia akan memutuskan menikah dengan Abizar dalam waktu dekat, tak peduli jika tetangga menganggap dirinya hamil di luar nikah karena terburu-buru menikah.
Beberapa saat memperhatikan Abizar dari kejauhan, laki-laki bertubuh gempal itu kembali dengan dua cup eskrim yang terlihat begitu menggoda, Abizar menyerahkan satu cup eskrim pada Mayang dan satunya akan ia nikmati juga.
"Makanlah, kata orang-orang eskrim sedikit dapat memberi efek menyenangkan," ucap Abizar, ia tak menunggu lama langsung menyendokkan eskrim kedalam mulutnya hingga dalam hitungan detik sudah tandas, sementara Mayang masih menikmati suapan demi suapan dengan menikmati perlahan.
Belum habis eskrim di tangan ibu satu anak itu datang seseorang menepis eskrim yang sedang ia makan hingga membuat pakaian Mayang terkena noda eskrim.
"Astagfirullah," lirih Mayang berusaha membersihkan eskrim di pakaiannya dengan tergesa sebelum cairan beku itu meleleh dan membentuk noda lebih parah.
Abizar menatap nyalang kearah wanita yang telah berkelakuan tidak baik terhadap Mayang.
"Ini yang tidak kusuka dari sifat kamu," berusaha menjauhkan tangan wanita yang terlihat jauh lebih muda dari Mayang.
"Aku tidak pernah membiarkan seorang pun mendekati kamu, Abi!" Wanita cantik itu menatap tak suka kearah Mayang.
"Hubungan kita sudah berakhir lebih dari empat tahun, bukankah saat itu kamu yang meninggalkanku?" Abizar menatap kearah mantan kekasihnya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Itu ... Aku hanya mengetes kejujuranmu." Wanita yang dulunya kekasih Abizar itu sedang berdusta, Abizar tahu jika mantan kekasihnya itu tidak pernah menginginkan dirinya wanita itu hanya menginginkan harta kekayaan Abizar.
"Aku tidak butuh alasan apapun, pergi atau aku akan memanggil keamanan," hardik Abizar, seketika nyali wanita cantik itu menciut.
Sesaat setelah kepergian mantan kekasih Abizar keduanya hening, Abizar menyentuh tangan Mayang pelan lalu meminta maaf atas kekacauan yang terjadi.
"Kita pulang atau masih mau bicara?" Laki-laki yang mencintai Mayang itu menatap mata Mayang lekat.
"Aku masih ingin berbicara," tuturnya lembut, mengalahkan lembut sutra.
"Katakan!" Abizar meringsut, hingga tubuh keduanya tak berjarak.
Debaran di dada Abizar dua kali lebih cepat, pipi Mayang menghangat dan memperlihatkan rona sedikit kemerahan.
"Kita akan menikah bulan ini ... Apa kamu setuju, Abi?" Mayang mengatakannya dengan susah payah, tangannya bergetar seolah sedang mengatakan cinta pada seseorang.
"Baik. Akan kita lakukan bulan ini, silahkan pilih tanggalnya permaisuriku," ucap Abizar pelan, senyum terus menghiasi bibir indahnya, sementara Mayang menyenggol bahu Abizar pelan karena malu.
Setelah tanggal dan tempat di tentukan, mereka memutuskan pulang. Bukan tempat yang mewah seperti keinginan keluarga Abizar, namun pernikahan siri yang akan di lakukan di kediaman orang tua Mayang.
.
.
.
Hati kian pilu menyiksa kalbu. Butiran cinta yang pernah tertuai tak mampu membalut rindu pada masa lalu.
Tuak cinta yang membuat mabuk di ambang kemelut panjang.
Akankah hati terpatri pada bingkai rindu yang telah ternodai.
__ADS_1