
”Pi aku mau lontong sayur,” celetuk istriku saat kami duduk di teras rumah. Mayang tangannya lihai memisahkan padi dari beras yang baru saja kubeli. Beginilah Mayang yang selalu menampi beras sekaligus semuanya, katanya biar ga repot pas mau masak nanti. Tapi bagiku itu boros waktu.
”Ga ada duit, Dek. Duit udah buat cicilan motor dan DP rumah,” kutatap wajah istriku beberapa Minggu terakhir ini mulai bersih, rambutnya yang sebahu sudah di rapikan, tubuhnya kini sudah sedikit berisi.
”Alasan.”
Ekspresinya datar. Matanya terus fokus pada beras yang bercampur beberapa butir padi yang dia pilih.
”Serius, Dek.” Aku membela diri, tak ingin rasanya aku terlihat lemah dan bisa dia peralat.
Tidak lama kemudian istriku masuk lalu membereskan sisa-sisa tadi, mataku terbelalak melihat sebuah kalung yang melingkari leher jenjangnya. Perasaan kemarin kalung itu belum ada.
”Dek tunggu.” pintaku, lalu tanganku menyentuh kalung yang dia pakai. Kutatap manik mata indahnya, matanya masih seindah dulu.
”Kenapa?” Tanyanya datar tanpa ekspresi.
”Asli?” Aku balik bertanya rasanya tak percaya saja jika Istriku mampu membeli emas, terlebih emas yang Mayang pakai terlihat agak besar.
”Ga tau, Pi. Dikasih ibu,” tegasnya.
Ibu? Astaga. Apa ibu punya begitu banyak uang hingga dia mampu membelikan anaknya emas. Besok aku harus datang ke rumah ibu, sekedar memastikan emas yang di pakai Mayang. Jika benar tak apa, mungkin nanti bisa aku pinjam untuk kebutuhan mendesak menutupi cicilan rumah.
Tubuh ini begitu lelah untuk hanya berangkat ke kantor, kepalaku pusing akibat kurang tidur, semalaman Ali demam dan minta aku yang menemaninya, Ali beralasan bahwa nenek melarang Ali untuk membuat ibu begadang. Bisa saja anak satu ini, itu mungkin hanya akal-akalan saja agar Mayang bisa beristirahat tanpa terganggu.
Aku berbaring sejenak di tempat duduk yang terbuat dari bambu di teras rumah, mata yang begitu merasa kantuk tak lagi memandang tempat. Samar kudengar istriku menelpon seseorang, aku ingin bangkit tapi sepertinya kantuk ini menahanku, angin sepoi-sepoi juga mendukung tidurku. Ada baiknya aku bolos saja hari ini dari pada sampai di kantor nanti hanya tidur di sana.
__
Aku terperanjat saat suara mobil mewah melebihi mobilku memasuki halaman. Sedikit aku mengucek mata, mungkin ini hanya mimpiku saja. Rasanya tidak mungkin jika ini hanya mimpi saja karena orang berbadan kekar menju kemari, pasti pemilik mobil seperti ini orang yang sukses. Siapa yang mau ia temui di rumah ini? Atau mungkin aku yang mau ia temui? Mungkin saja aku akan dapat rejeki atau kerjaan tak terduga.
”Assalamualaikum.” Laki-laki bertubuh kekar itu membawa kantong makanan, seperti kantong makanan dari restoran ternama.
__ADS_1
”Waalaikumsalam.” jawabku tergesa lalu menjabat tangan yang ia ulurkan.
”Cari siapa, Pak?” tanpa basa basi aku mengutarakan pertanyaan pada laki-laki asing yang ada di hadapanku saat ini.
”Mayang. Benar ini rumah Mayang bukan?” Tanyanya penuh penekanan, jantungku yang seakan hampir copot di buatnya. Bagaimana bisa istriku memiliki teman seperti pria ini.
Otakku dan kepalaku mendadak pusing, mataku kini terasa panas dan hatiku nyeri. Apa maksud ini semua. Tak lama istriku kelur dan menemui laki-laki asing ini.
”Maaf, Pak. Menunggu lama,” istriku menjabat tangan pria asing di hadapanku.
”Maaf juga. Tadi saya membeli ini untuk anak kamu, dan kamu tau saya sedikit kebingungan mencari alamat kamu,” Imbuhnya lalu terkekeh. Kantong makanan itu berpindah ke tangan istriku.
”Dek, ini siapa?” Aku yang dari tadi di abaikan memberanikan diri bertanya pada istriku.
”Oh, maaf. Perkenalkan nama saya Bagas, saya calon Bosnya Mayang,” potongnya. Mayang hanya terdiam mematung, entah apa yang istriku pikirkan saat ini, atau mungkin dia mengira aku akan marah padanya.
”Benar, Dek?” tanyaku pada istriku yang kini memakai stelan seperti stelan kantor. Uang dari mana dia membeli baju sebagus itu, nanti aku akan mengintrogasi wanita yang kusebut istri ini. Wajahnya kini terlihat masam dan ditekuk.
Lucu sekali apa yang dia pikirkan? Apa dia mengira aku akan marah jika dia bekerja, justru ini sangat menguntungkan bagiku. Aku tidak perlu repot-repot memberikan uang bulanan untuknya lagi, jadi uang milikku utuh tanpa terpotong biaya makan di rumah sepeserpun.
”Iya boleh. Tapi kenapa mendadak dan bikin aku kaget. Terus bagaimana dengan Ali?” jawabku ragu, aku takut jika anak itu tidak ada yang peduli jika ibunya bekerja.
”Dia sama ibu, kamu tenang aja, Pi,” jelasnya lalu meraih tanganku dan menciumnya. Kebiasaan istriku memang begini, tapi raut wajah laki-laki yang kini posisinya sudah berpindah dan bersender di mobil mewahnya terlihat sedikit masam. Ah pasti dia cemburu.
Biar saja Mayang pergi, cari pengalaman. Paling satu bulan atau tidak hanya satu Minggu dia bekerja. Kulihat Mayang duduk di kursi depan di samping laki-laki tadi, aku berpikir sejenak jika laki-laki itu kaya pasti dia mempunyai sopir. Atau mungkin laki-laki itu hanya pencitraan di depan Mayang atau orang banyak, agar istriku tertarik untuk bekerja padanya. Entahlah.
Dengan lesu dan penuh rasa malas aku bangkit dari duduk lalu menuju kamar, melanjutkan tidur yang tertunda. Untungnya Ali tadi di bawa sama neneknya jadi aku aman, ibu mertuaku memang baik, sangat sayang pada cucu-cucunya berbeda dengan ibu kandungku yang pilih kasih. Ibuku begitu menyukai anaknya Mira - adikku, adikku yang royal terhadap ibu dan menuruti apa permintaan ibu dan terkadang tanpa diminta pun Mira akan membelinya, mungkin karena itu ibu begitu menyayangi anaknya Mira.
Jangan tanya aku berapa banyak uang yang kukasih untuk ibu, aku hanya memberi uang jika ibu meminta jika tidak maka aku akan mengabaikannya.
Belum terlelap sempurna tiba-tiba ponselku berbunyi, mengganggu saja. Dengan mata menyipit aku melihat layar yang bercahaya kini ada di tanganku.
__ADS_1
'Anita?' lirihku. Mau apa dia meneleponku, tak biasanya wanita ini menelpon ketika aku di rumah.
”Bang, bisa kerumah Anita ga?” Tanyanya tanpa salam. Lebih tepatnya merengek dengan suara manjanya.
”Ngantuk, Dek,” aku kembali menutup kepalaku dengan selimut tipis.
”Bang. Sebentar aja.” Kini suaranya terdengar seperti orang yang penuh dengan nafsu.
”Adek ga masuk kantor?” Tanyaku mengalih perhatiannya.
”Enggak. Sini bang cepetan!” Pintanya lembut. Mungkin saja dia sedang rindu padaku jadi memintaku datang, tak ingin melewatkan ini dengan sia-sia, toh dia sendiri yang memintaku datang, bukan aku yang mencarinya.
Anita tahu kalau aku sudah menikah, kami sudah dekat dalam waktu dua Minggu, dan gadis itu sudah mengutarakan isi hatinya padaku dan di dukung beberapa temannya. Anita sangat baik dan padai berdandan, wajahnya imut dan bibirnya seksi menggoda.
Pernah waktu aku mengajaknya jalan-jalan dua hari yang lalu Anita memintaku menceraikan istriku, katanya Mayang tidak pantas bersamaku, menurutnya istriku terlalu dekil.
Usai membereskan diri aku menuju rumah Anita bisa di bilang saat ini dia gebetanku, banyak yang mengincarnya juga di kantor tapi dia lebih memilih aku, dari segi wajah, gaya dan harta jauh aku lebih oke daripada beberapa temanku di kantor.
___
Tok... Tok...
Aku mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada jawaban justru Anita kembali menelponku.
”Masuk lewat pintu belakang aja,” bisiknya di seberang sana. Ada apa dengan gadis itu, mobil memang kuparkirkan jauh dari sini, karena gang yang sempit menyusahkan jika harus masuk.
Baiklah kali ini aku akan menuruti permainan gila seperti apa yang sedang gadis itu rencanakan. Aku berjalan pelan menuju pintu belakang rumahnya, benar saja pintu terbuka dan aku langsung masuk. Anita menyambutku dengan kue tart di tangannya.
”Slamat ulang tahun...slamat ulang, slamat ulang, slamat ulang tahun.” Kue disodorkan ke arah mukaku, segera kutiup lilin dan permohonan-ku. Semoga aku dan Anita berjodoh, kini rasa peduliku pada istriku sudah memudar.
Anita meletakkan kue di atas meja lalu berhambur memelukku. Ada yang aneh pada penampilannya, gadis yang bersamaku saat ini memakai lingerie renda yang indah, memperlihatkan tubuhnya yang ramping, belahan dadanya yang tidak memakai dalaman terlihat begitu jelas. Sungguh mempesona, pantas saja dia tak berani membukakan pintu depan.
__ADS_1
Nafasnya menggebu, bibirnya yang ranum mendekatiku dan setelahnya terajdi pertempuran antara kami. Aku menikmatinya tapi sayangnya dia sudah tidak perawan, permainannya yang sudah mahir melebihi istriku membuatku semakin gila padanya.
Bersambung...