
Sore ini Anita dan Rohman berkeliling mencari kontrakan namun belum juga ketemu, wanita cantik itu terus saja mengeluh karena berjalan begitu jauh.
"Bang. Pegel." Rengek Anita sambil menghentakkan kakinya.
"Sabar, Dek. Nanti juga ketemu," jawab Rohman sabar. Kenapa Rohman pada Anita begitu lembut sedangkan pada Mayang dirinya begitu kasar. Ah, ternyata benar cinta mengalahkan segalanya.
"Adek capek. Mana bawa-bawa koper lagi." Kini Anita duduk di trotoar. Banyak pasang mata memandang anmnun ia tak peduli.
Di tempat yang berbeda calon mantan istri Rohman sedang membawa anaknya ke rumah sakit, Ali sedang demam tinggi dari kemarin dan Mayang sudah izin pada bosnya bahwa dirinya hari ini akan mengantarkan Ali berobat, Bagas menawarkan dirinya untuk mengantarkan Mayang tapi dengan tegas Mayang menolak dengan bermacam alasan.
"Dok, apa anak saya harus rawat inap?" Tanya Mayang dengan hati yang pilu, memandang anaknya yang terkulai lemah.
"Sepertinya tidak. Pasien hanya demam biasa, tapi karena kurang minum mengakibatkan rehidrasi," jelas dokter menatap Mayang dengan serius.
"Jadi gimana Dok?"
"Jika pasien di bawa pulang tidak masalah tapi harus selalu dalam pantauan, dalam artian harus rutin memberikan minum dan mengompres pakai air hangat." Dokter menyodorkan resep obat pada Mayang. Sebenarnya dia lega karena Ali tidak di rawat inap, tapi berpikir juga kesehatannya yang lemah membuat Mayang dan orang tuanya khawatir.
Setelah menebus resep obat Mayang pulang mengendong putranya, taksi online yang ia pesan sudah sampai dari tadi dan menunggu di depan rumah sakit, beberapa menit dalam perjalanan dirinya tiba di rumah, sebenarnya ada niat dalam hatinya memberitahukan pada Rohman bahwa anaknya sekarang sedang sakit, tapi ia urungkan takut ayah dari anaknya itu akan ngamuk seperti sebelumnya.
Tiba di halaman rumah ibunya ada mobil terparkir di sana.
"Assalamu'alaikum..." Ucap Mayang yang masih berdiri di ambang pintu sambil menggendong Ali. Serentak dua orang di sofa ruang tamu menjawab bersamaan.
"Maaf. Aku lancang menemuimu lagi," ucapnya tersenyum manis.
"Ya. Ga masalah kok," jawab Mayang datar dan berlalu masuk kedalam kamar untuk membaringkan tubuh Ali yang sudah terlelap.
"Ya udah temani nak Denis, ibu mau masak dulu. Makan di sini ya, Nis," jelas ibu lalu meninggalkan Mayang dan Denis di ruang tamu. Memberikan ruang pada mahluk yang hatinya kini kosong, sementara Denis masih begitu mencintai Mayang sampai detik ini.
"Gimana keadaan Rohman?" Tanya Denis canggung, sebenarnya bukan itu yang ingin ia tanyakan. Tapi ingin menanyakan hati Mayang masihkan akan ia buka untuknya.
"Mana ku tau. Laki-laki ga bisa di percaya, awalnya baik. Aslinya munafik," kata Mayang dengan bibir yang terangkat sebelah, sementara Denis menatap penuh kagum setelahnya terbahak.
"Ga semua kali. Buktinya aku setia, sampai sekarang masih cinta sama kamu," jelas Denis menatap manik mata Mayang tanpa kedip, hingga Mayang salah tingkah.
__ADS_1
"Becandanya ga asik. Dulu katanya sahabat, sekarang kok cinta? Andai dulu bilang cinta mungkin aku ga akan terima Rohman."
"Maaf. Dulu aku ingin melanjutkan kuliah, kita sama-sama kuliah. Kukira setelah lulus kuliah dan bekerja aku akan melamarmu," terangnya. Terlihat begitu serius percakapan mereka tanpa di sadari mata Mayang mengembun.
"Terlambat kamu datangnya, apa jangan-jangan selama ini rusaknya hubunganku dengan Rohman gara-gara kamu," tuduh Mayang.
"Tidak. Aku bahkan ga niat, aku mendengar dan melihat kamu tak bahagia dengan Rohman membuatku meminta pada sang maha cinta agar Tuhan menunjukkan keajaibannya untukku. Hanya itu," jelas Denis masih menatap Mayang.
"Ya itu maksudku?" Denis mendelik tak paham maksud Mayang.
Sesat hening antara mereka, suasana canggung tak bisa mereka hilangkan, walau dulunya sahabat tapi Denis menaruh hati pada Mayang, benar pepatah mengatakan bahwa tak ada sahabat antara laki-laki dan perempuan. Pasti berakhir cinta.
Wanita yang melahirkan Mayang sibuk membuat makanan dan sudah ia hidangkan di meja.
"Nak Denis ayo makan!" Ajak wanita paruh baya yang Denis segani.
"Iya, Bu." Mereka sejenak saling pandang setelahnya berlalu menuju meja makan. Denis tak banyak protes pada makanan apa pun, dirinya mau makan apa saja asalkan halal, seperti saat ini ibunya Mayang memasak ikan lele dan tumis kangkung kesukaan Mayang.
.
.
.
"Dek. Kamu bersihkan kamar, biar Abang yang bersihkan ruang tamu," ujar Rohman pada calon istri barunya.
Kontrakan lumayan luas dengan dua kamar, perabotan sudah tersedia termasuk sofa dan beberapa pajangan dinding begitu juga perlekapan dapur, mereka hanya tinggal membeli sedikit lagi apa saja yang mereka butuhkan. Lumayan murah kontrakannya hanya tiga juta dalam jangka satu tahun namun Rohman masih menegosiasi agar jatuh dua juta lima ratus, dengan berat hati pemilik kontrakan menyetujui permintaan Rohman.
"Adek ga mau, Adek capek," jawab Anita dengan nada manjanya.
"Kita sama-sama capek. Jadi bagi tugas," jelas Rohman agar calon istri barunya mengerti.
"Adek mau tidur aja, Abang aja yang beres-beres," perintahnya pada suaminya. Rohman hanya diam, ini kali pertama dirinya diperintah oleh wanita selain ibunya, dengan berat hati Rohman membersihkan kamar terlebih dahulu, sementara Anita tidur di ruang tamu beralaskan sarung yang ia bentangkan di sofa.
Rasa cintanya membuat dirinya seperti seorang pelayan pada seorang ratu. Seperti Mayang dulu, menjadi pelayan sang saja agar sang raja puas, dunia seakan sedang membalas sedikit demi sedikit pada Rohman.
__ADS_1
Selesai membersihkan kamar dan ruang tamu juga dapur sekarang jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, suasana begitu dingin di rumah yang mungkin jarang ada yang menempati.
Rohman bergegas mandi setelah sebelumnya membangunkan calon istrinya dengan kecupan bertubi-tubi di kening dan pipi Anita. Guyuran air dingin megitu terdengar menyejukkan ditambah suasana dingin yang semakin menusuk tulang. Biasanya Rohman yang manja selalu mandi menggunakan air panas tapi kini harus tahan banting demi bidadari yang ia cintai.
Keluar dari kamar mandi masih dengan lilitan handuk di pinggangnya, matanya tertuju pada calon istrinya yang masih terlelap. Rosan mendekam dan menyentuh pipi Anita dengan tangannya yang dingin sedingin es batu, namun Anita bergumam lirih membuat Rohman semakin gemas.
"Mandi sana!" Perintah Rohman saat Anita mengerjapkan matanya.
"Dingin. Anita ga mau mandi, ah," ujar Anita. Sontak perkataan Anita membuat Rohman bergidik ngeri seakan tak percaya, dirinya begitu anti pada wanita jorok dan bau, mana Anita yang ia kenal bersih dan wangi.
"Habis panas-panas, bau matahari dan keringan masa ga mandi sih?" Rohman terlihat malas mendekat.
"Bawaan dedenya," kata Anita dengan nada manja, wanita itu telah mengungkapkan bahwa dirinya hamil saat berada di hotel tadi pengakuannya itu anak Rohman, kini kandungannya sudah hampir dua Minggu, Rohman percaya sepenuhnya pada Anita yang begitu ia cintai.
Malas berdebat jika ujung-ujungnya Anita akan merajuk tak mau makan dan mogok dalam segala hal, dengan malas Rohman beranjak ke kamar membuka koper dan mencari baju yang belum sempat ia susun dalam lemari, sementara Anita masuk kekamar dan kembali melanjutkan tidurnya, Rohman yang melihat menggeleng tak percaya.
Perut Rohman sedang berdemo minta diisikan sesuatu. Rohman beranjak ke dapur, namun tak ada apa pun yang bisa ia masak, hanya ada tepung terigu yang sudah ada penghuninya, Rohman membuang ketempat sampah lalu dirinya keluar rumah setelah lampu teras ia nyalakan.
"Lebih baik cari makan, mumpung belum terlalu larut," gumamnya. Berjalan kaki menelusuri gang kecil hingga sampai di persimpangan jalan yang menjual beberapa makanan dan juga ada nasi goreng.
"Buk. Nasi goreng dua bungkus pake telur dadar aja," pintanya pada ibu-ibu yang sedang duduk memainkan ponselnya karena warung terlihat sepi pengunjung.
"Pedes ga bang?"
"Sedang aja." Rohman menjatuhkan bokongnya di kursi plastik yang ada sandarannya. Rasanya pinggang Rohman hampir patah berbenah seharian, sementara calon istrinya hanya tidur saja.
Beberapa menit pesanan nasi gorengnya telah selesai, membayarnya dan segera berlalu dari rumah makan itu. Sepanjang perjalanan dirinya bersiul gembira seperti dirinya akan bahagia dan tak akan berakhir.
Membuka pintu mendapati Anita duduk di atas ranjang sambil memeluk lututnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Rohman panik saat Isak tangis Anita semakin keras.
"Kamu kemana sih, Bang. Aku takut!" Pekiknya membuat Rohman terperanjat.
"Ya-Allah, Dek. Cuma beli nasi. Abang lapar," jelas Rohman sambil memeluk tubuh mungil Anita.
__ADS_1
"Kukira Abang akan meninggalkan aku selamanya di sini. Hiks." Ungkap Anita masih terisak. Ternyata Anita begitu takut kehilangan Rohman si pria bertubuh tinggi dan berwajah sedikit mirip Turki. Menggenggam jemari Anita lalu mengajaknya makan malam yang begitu sederhana dengan alasan mode hemat.
Bersambung....