CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 49


__ADS_3

"Abi!" Pekiknya saat seseorang menodongkan benda berpelatuk di kepala ibu satu anak itu, setelah pekikan itu tenggorokan Mayang tercekat.


Abizar menoleh menatap kearah ibu satu anak itu, Mayang menjatuhkan bulir bening terus menerus tanpa jeda.


Tak lama keluar mantan kekasih Abizar sambil bertepuk tangan seolah ia wanita yang Abizar khianani saat ini.


"Biarkan dia mati, kita akan menikah, Abi," pekik mantan kekasih Abizar itu.


Laki-laki bertubuh gempal itu memutar bola matanya malas, ia tidak takut sama sekali, ilmu beladiri yang ia miliki mampu mengalahkan sepuluh orang sekaligus, namun yang membuat dirinya kalah karena todongan benda berpelatuk di kepala Mayang saat ini.


"Lepaskan dia Clara, jika begini aku semakin benci padamu," ucap Abizar sambil terus mendekat kearah Clara.


"Benci? Aku tak peduli kita akan menikah." Cakra tergelak. Abizar semakin mendekat lalu mengunci tangan Clara ke belakang sambil tersenyum sinis.


"Lepaskan Mayang! Aku sudah menelpon polisi," dusta laki-laki bertubuh gempal itu, menatap nyalang kearah orang suruhan Clara.


Namun tak seperti yang Abizar harapkan, mereka semakin tergelak seolah Abizar sedang melakukan lelucon di depan mereka. Laki-laki bertubuh gempal itu berdecak kesal, tangannya menarik paksa tangan Clara hingga wanita seksi itu m ngaduh kesakitan.


"Lepaskan, Abi." Tangan Clara menyentuh bagian terlarang di tubuh Abizar pelan sambil mengulas senyum buas yang begitu menjijikkan.


Rasa jijik yang Abizar rasakan semakin menjadi, Abizar menghempaskan tubuh wanita seksi itu dengan kasar hingga Clara terhuyung kedepan.


"Aw," lirih Clara pelan, tatapan mata wanita seksi itu seolah sedang dalam pengaruh obat-obatan.


Tak lama terdengar suara mobil polisi membuat mata Clara dan suruhannya membola sempurna, ia berpikir bahwa Abizar tidak main-main dengan omongannya.


"Lepaskan wanita ****** itu!" Clara memekik sambil berlari kearah mobilnya.


"Sialan!" Dua laki-laki memakai masker itu mendorong tubuh Mayang hingga ibu satu anak itu terjerembab ke pasir, laki-laki bertubuh tegap itu ikut berlari kearah mobil Clara.


Laki-laki yang teramat mencintai Mayang itu mendekat kearah ibu satu anak itu lalu membantunya berdiri.


"Maafkan aku." Abizar menyapu lutut Mayang yang sedikit kotor lalu membingkai wajahnya menyapu bulir bening yang masih terus saja lolos dari pelupuk mata Mayang.


"Kenapa seperti ini, Abi? Apa salahku sampai Tuhan menghukumku," lirih ibu satu anak itu, sambil berjalan tertatih menuju penginapan.


"Jangan salahkan Tuhan, ini semua salahku karena tidak bisa menjagamu," ucap Abizar pelan. Laki-laki bertubuh gempal itu berjalan di samping Mayang.


Tubuh langsing itu berbalik lalu memeluk Abizar begitu erat, sementara sang pemilik mata elang hanya terpaku meresapi rasa yang tak biasa di berikan oleh ibu satu anak itu.


Abizar melonggarkan pelukannya lalu menatap manik mata Mayang lekat.


"Kita pulang sekarang?" tanya laki-laki bertubuh gempal itu sambil menyibak anak rambut Mayang yang tertiup angin tidak beraturan. Sementara Mayang hanya mengangguk pelan.


Entah saat ini rindu pada siapa yang ia rasakan, entah perasaan yang ada sekarang ini hanyalah sekedar rasa iba atau rasa cinta yang telah bersemi mekar bagaikan taman bunga dalam relung hati.


Setelah mereka berkemas, memberikan kunci penginapan pada pemiliknya lalu menuju mobil Abizar yang terparkir agak jauh dari penginapan.


"Mau digendong?" Seloroh Abizar membuat, ia tersenyum kecil kearah Mayang yang memanyunkan bibirnya.


"Gendong nih koper sama tas!" Mayang menyodorkan tas kearah Abizar sambil mengulum senyum.


"Demi belahan jiwa apapun akan kulakukan," gumam Abizar sambil mengambil tas kecil yang terjatuh.


"Apa?" tanya Mayang mengeryitkan dahinya.


"Aku ga ngomong kok, salah dengar," ucap Abizar, setelahnya ia mempercepat langkahnya.

__ADS_1


.


.


Membelah jalanan kota yang sedikit padat penduduk, Mayang hanya menatap keluar tanpa berkata-kata apapun yang membuat hati keduanya saling terluka.


Kini ibu satu anak itu mulai merasakan kenyamanan dan kehangatan yang lebih di berikan oleh Abizar.


Sekilas laki-laki bertubuh gempal itu melirik jam tangannya, ia ada janji dengan klien wanita yang akan ia temui untuk kerja sama dalam perusahaan kue kering miliknya.


Laki-laki bertubuh gempal itu juga sengaja membawa Mayang dalam pertemuan ini, menguji rasa cinta yang sebenarnya Mayang rasakan padanya.


Tak lama mobil Abizar menepi di salah satu cafe tempat yang tidak begitu jauh dengan rumah Mayang.


"Sayang. Bangun!" Abizar mengecup pipi Mayang lembut.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Mayang sambil membenarkan ikat rambutnya yang berantakan.


"Belum, ada pertemuan dengan seorang klien. Kita berbicara dengan mereka sebentar boleh kan?" Abizar meminta izin agar Mayang merasakan kenyamanan.


"Boleh, tapi kenapa harus di sini?" Keluhnya kesal.


Ini cafe tempat ia bekerja dulu, mau tak mau ia akan bertemu dengan karyawan lama yang masih bekerja di sini, otomatis berita tentang perselisihan dirinya dengan mantan bosnya dulu sudah tersebar luas di telinga karyawan.


"Memang kenapa?" tanya laki-laki bertubuh gempal itu sambil merangkul tubuh Mayang yang baru saja turun dari mobil.


"Aku mantan karyawan di sini, dipecat dengan begitu menyedihkan," lirih ibu satu anak itu, ia tersenyum sinis lalu melangkah perlahan masuk kedalam cafe.


Klien sudah menunggu di pojokan dengan tempat yang begitu luas, wanita yang memakai blezer abu-abu tersenyum dan melambaikan tangan kearah Abizar mengisyaratkan agar segeralah mendekat.


"Selamat siang, Pak." Wanita cantik yang memakai kacamata itu menjabat tangan Abizar dengan lembut dan suaranya begitu mendayu.


"Siang Mbak Sisil. Kita mulai sekarang apa nanti setelah makan?" Abizar memberikan kode dengan kedipan mata kearah Sisil sambil tersenyum kecil.


"Kita makan saja dulu, Pak!" Wanita cantik itu merangkul tubuh Abizar dan menyuruhnya duduk sementara Mayang ia abaikan begitu saja.


"Klien kok gatal," gumam Mayang pelan, sementara laki-laki pemilik mata elang itu hanya melirik sekilas.


Abizar dan Sisil larut dalam perbincangan mereka sambil menunggu pesanan mereka tiba, lagi-lagi Mayang terasa tersisihkan oleh mereka berdua. Laki-laki pemilik mata elang itu sesekali melontarkan candaan pada Sisil yang di sambut tawa oleh wanita cantik itu.


Mayang berdecak kesal, ia mengalihkan kekesalannya dengan memainkan gawainya walaupun raut wajahnya tak dapat disembunyikan bahwa ia menyimpan cemburu saat ini.


Tak lama makanan yang mereka pesan datang, Abizar menyendok beberapa makanan kedalam mulutnya.


"Eum. Enak, coba deh, Sil," kata Abizar pada kliennya yang tak lain adalah teman seperjuangan masa kuliahnya dulu.


Sementara Mayang memperhatikan tak suka kearah mereka, Abizar melirik sekilas kearah Mayang sambil mengulum senyum, lucu sekali ia melihat raut wajah ibu satu anak itu saat ini.


"Kamu mau juga?" tanya Abizar sambil menyendok makanan lalu hendak menyuapkan kemulut Mayang, namun Mayang menepisnya pelan hingga sendok terjatuh.


"Tidak!" Mayang bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Abizar dan Sisil yang bingung menatap Mayang.


"Maaf, Sil. Istriku emang cemburuan," kata Abizar pada sahabatnya itu.


"Santai. Aku bakal cemburu juga jika di posisi istri kamu," ucap wanita berkacamata itu lalu ia tergelak sambil memukul bahu Abizar yang sudah berdiri dari duduknya hendak menyusul Mayang yang sudah berlalu.


"Sil, bayarin. Besok ku tranfes," teriak Abizar yang langkahnya semakin cepat meninggalkan Sisil tempat duduknya.

__ADS_1


Wanita cantik itu menggeleng pelan lalu kembali menyantap makanan yang masih banyak di hadapannya.


"Rugi ga di makan," gumamnya sambil terus mengunyah makanan yang begitu lezat menurutnya.


.


.


Langkah laki-laki bertubuh gempal itu semakin cepat menyusul Mayang yang semakin jauh dari mobil Abizar yang terparkir di parkiran. Ibu satu anak itu kini merasa benar-benar cemburu ternyata.


"Kamu kenapa?" tanya Abizar saat tangan Mayang Sari berhasil ia raih.


"Aku hanya ingin memberi waktu untuk kamu dan pacarmu itu," kata Mayang, ibu satu anak itu benar-benar tak mampu mengontrol sikapnya saat ini.


"Pacar?" Abizar tergelak membuat Mayang menghentakkan secara kasar tangannya yang di pegang oleh Abizar hingga terlepas.


"Kalau bukan pacar kenapa harus sedekat itu?" Mayang mengatur napasnya perlahan.


"Dia teman kuliah, sekaligus pemilik toko bermacam snack dan makanan, dia meminta kerja sama usaha kue kering milikku agar dititipkan di toko miliknya tanpa harus bayar di muka," jelas Abizar secara detail pada kekasih halalnya itu.


"Bohong!" Mayang berjalan meninggalkan Abizar, sementara laki-laki bertubuh gempal itu terus saja mengikuti langkah Mayang.


"Aku tidak pernah berbohong, termasuk rasa cinta yang begitu dalam padamu," ungkap Abizar membuat langkah ibu satu anak itu terhenti, lalu berbalik arah dan mendekati Abizar yang juga menghentikan langkahnya dan mematung menatap Mayang.


Tanpa aba-aba ibu satu anak itu memeluk erat tubuh Abizar sambil terisak pelan.


"Kenapa?" tanya laki-laki pemilik mata elang itu sambil melonggarkan pelukannya.


"Jangan katakan apapun tentang perceraian lagi, saat ini yang aku takutkan kehilangan kamu, Abi." Ibu satu anak itu menunduk lesu lalu menyeka sudut matanya yang berair.


Perasaannya saat ini sulit untuk ia gambarkan, ada hati yang terluka di depan matanya ada hati yang begitu butuh perhatian di sudut yang berbeda.


Abizar mengangguk lalu mengajak wanita yang bertahta di hatinya itu menuju mobil.


"Semoga keputusanku saat ini yang terbaik," batin Mayang, setelahnya keduanya masuk ke dalam mobil.


Abizar menyalakan mesin mobil lalu memacu kendaraannya membelah kemacetan sore hari menuju kediaman orang tua Mayang.


.


.


.


_____


Di tempat yang berbeda Rohman tiba di yayasan dan memberitahukan keluh kesahnya pada ketua pimpinan yayasan, rangakaian cek dilakukan oleh petugas kesehatan untuk memastikan kebenaran atas pengakuan Rohman.


Laki-laki bertubuh kurus itu diizinkan tinggal di yayasan setelah rangkaian cek kesehatan di lakukan, teman-teman lain yang positif HIV memberikan dukungan luar biasa untuk perjuangan agar mereka sembuh.


Rohman di yayasan belum beradaptasi, memang butuh waktu berbulan-bulan untuk menyesuaikan diri dengan orang baru yang berbeda-beda karakter.


Laki-laki bertubuh kurus itu memperhatikan beberapa temannya sedang merajut sweater, membuat tas benang dan masih banyak kerajinan daur ulang dari plastik dan botol bekas.


Plak.


Rohman mematung saat merasakan hangat menjalar di pipi kirinya saat ini, mundur beberapa langkah lalu duduk di tikar yang terbuat dari jerami.

__ADS_1


__ADS_2