
Pukul sudah menunjukkan angka delapan pagi, hari ini aku kesiangan berangkat kekantor semua gara-gara Anita, tapi tak apa gadis yang teramat sangat kusayangi saat ini telah memenuhi semua hasrat ku yang menggebu.
Gadis ramping berambut panjang kini masih berbaring di sampingku, ia masih terlelap. Wajahnya begitu cantik meski sedang tertidur. Entah berapa kali kami bertempur tadi malam hingga seluruh tubuh ini terasa pegal dan remuk.
”Dek.” Aku mengguncangkan tubuh mungil nan indah itu pelan.
”Heum,” gumamnya. Lalu berbalik membelakangiku.
”Abang pulang,” ucapku lembut.
”Heum,” gumamnya lagi. Nampaknya wanita yang kucintai saat ini benar-benar masih mengantuk.
Kukenakan seluruh pakaianku kembali lalu bergegas keluar dari rumah Anita. Tak peduli walaupun beberapa pasang mata memandangku dengan tatapan aneh. Aku mempercepat langkahku agar cepat sampai pada mobilku yang kuparkirkan di ujung gang.
Gegas aku memasuki kendaraan roda empat kesayanganku. Agar aku bisa cepat sampai di rumah dan segera membersihkan diri, rasanya begitu risih, seluruh tubuhku bekas percintaan tadi malam terasa sangat bau, entahlah mungkin hanya perasaanku saja.
Mata hari menyongsong hampir berada di atas kepala, aku memarkirkan kendaraan kesayanganku di tempat biasa. Rumah terlihat sepi sepertinya Ali berangkat ke sekolah dan Mayang juga sudah berangkat kerja. Syukurlah kalau begini tidak akan ada yang banyak pertanyaan dari istriku.
Ting...
Aku merogoh saku celanaku. Satu notifikasi masuk dari istriku.
”Pi , kemana aja?” Tanya Mayang istriku.
”Di rumah temen,” balasku singkat. Kurasa tak perlu menjelaskan apa pun pada Istriku, aku sangat yakin jika dia percaya sepenuhnya padaku.
”Ya sudah kalau begitu. Maaf ya, Pi. Aku ga masak.”
”Kenapa?”
”Kamu lupa kalau kamu ga kasih aku uang bulanan?” Sungutnya di iringi emot kesal. Eh sudah berani sekarang dia.
”Bukankah kamu sudah bekerja?” Aku mulai tersulut emosi.
Beberapa detik kemudian gawaiku berbunyi. Istriku menelpon mungkin dia ingin memperjelas tentang uang belanja yang tidak kukasih.
”Ada apa, Mayang?” aku mulai kesal padanya.
”Kalau mau makan beli aja ya, Pi,” tegas Istriku di sebrang sana.
__ADS_1
”Ga ada uang, Dek,” kilahku.
”Bukankah kamu selalu kerja dan ada gaji, Pi?” Nada bicaranya meninggi. Segera aku mematikan gawai termahal milikku, bisa-bisa panas jika terus berbicara membahas tentang uang.
Apa bedanya aku memberikan dia yang belanja atau tidak, buktinya dulu dia bisa memasak ala kadarnya. Tapi sekarang, oh aku tahu, pasti ini semua gara-gara laki-laki sialan itu. Malas rasanya memikirkan Istriku yang dekil itu, ada baiknya aku membersihkan diri lalu membeli makanan, biarkan saja aku bolos lagi hari ini. Bulan ini aku sudah banyak bolos kekantor semoga saja aku tidak di pecat atau di turunkan posisiku.
Aku mengirimkan pesan pada wanita pujaan hatiku saat ini namun tak kunjung dibalas. Aku berpikir positif saja, mungki saja dia saat ini masih terbuai dalam alam mimpi. Penampilanku sekarang sempurna, ingin rasanya perutku ini diisi dengan makanan yang lezat.
Kuayunkan langkah menuju warung Sumi, dari jauh saja penampilannya sudah menarik, apa lagi dekat.
”Dek, nasi satu pake ayam geprek dan satu jus jeruk,”pintaku pada wanita bohay yang masih menatapku tanpa berkedip. Dia gelagapan saat aku menautkan kedua alisku saat melihatnya memandangku begitu terasa aneh. Buru-buru Sumi mengacungkan kedua jempolnya.
Warung tak begitu ramai, hanya ada beberapa pembeli jadi tak butuh waktu lama untukku menerima makananku. Dengan lahap aku memakan semua makanan yang di hidangkan tanpa terkecuali jus juga kutegak hingga tandas, hingga menimbulkan suara gas yang keluar dari dalam perut melalui kerongkongan.
Aku menyodorkan pecahan seratus ribu, seperti biasa, aku tak ingin Sumi mengira aku ini miskin dan tak punya uang. Aku terus memperhatikan janda bohay itu sibuk mencari uang pecahan.
”Ga ada kembalian, Bang,” Ucapnya padaku yang masih duduk.
”Ya sudah ambil saja kembaliannya,” jawabku angkuh. Biar tak apalah sesekali aku berbagi rejekiku untuk seorang janda. Itu terhitung sedekah juga.
Aku kembali kerumah dengan kuda besiku yang teramat aku sukai dan kusayangi. Hari ini bolos kerja juga rasanya aku sangat muak berada di rumah. Kembali aku mengirimkan pesan pada wanita idamanku namun hanya di baca saja. Apa dia marah padaku, ah mana mungkin sedangkan pertempuran itu dia yang menginginkan.
Duduk di teras melihat beberapa emak-emak berbelanja membuatku sedikit terhibur, jarak rumah tetangga tak begitu jauh. Kulihat emak-emak banyak yang bercerita heboh, namun entah apa yang mereka bicarakan hingga satu emak-emak mendekatiku. Aku mengernyitkan dahi melihat tingkah emak-emak lainnya tertawa geli.
”Eh, Bang. Mayang udah cantik ya sekarang?” Tanya ibu-ibu itu yang aku sendiri tidak tahu siapa namanya.
”Iya, kenapa emangnya, Bu?” Tanyaku kembali pada wanita yang kuperkirakan umurnya sekarang empat puluh tahun.
”Abang kok hebat bisa biayain Mayang hingga glow seperti itu,” paparnya lagi. Tunggu dulu, kapan aku membiayai kebutuhan Mayang? Atau jangan-jangan laki-laki itu.
Aku hanya tersenyum sumbang, tak ingin menjawab pertanyaan ibu itu lebih jauh lagi, yang ada nanti aku akan sakit hati.
Suasana halaman sudah terlihat sepi, para emak-emak sudah sibuk berkutat dengan aktivitas dapurnya masing-masing, bau makanan juga sudah tercium semerbak. Aku beranjak dari teras lalu memasuki kamar, mengacak-acak meja rias Mayang mungkin di sini ada yang bisa kutemukan.
Mataku membulat sempurna saat aku melihat surat emas sebuah kalung dan cicin. Apa yang terjadi selama seminggu terakhir ini? Apa Mayang menyembunyikan sesuatu dari aku? Selanjutnya aku membuka lemari yang hanya khusus untuk pakaian istriku. Aku terkejut melihat begitu banyak pakaian Mayang yang bagus-bagus dan masih terlihat baru. Apa mungkin dia membeli ini semua Minggu terakhir ini, dari mana dia dapat uang sebanyak itu, sementara belanjaan yang aku jatah hanya cukup untuk belanjaan dapur saja.
Ini menjadi beban pikiranku. Ada baiknya jika aku menanyakan ini semua pada ibu mertuaku. Ada rasa malas untuk mengendarai motor kesayanganku karena cuaca di luar begitu terik, bisa-bisa kulitku gosong.
Dengan rasa terpaksa kau berangkat kerumah ibu, melajukan motor kesayanganku dengan pelan agar semua cewek-cewek cantik sedikit melirikku. Semoga ini menjadi motivasi untuk mereka, agar memilih laki-laki yang berpendidikan dan juga banyak duit.
__ADS_1
Tiba di halaman rumah ibu, aku memperhatikan sekeliling. Ada yang berbeda dengan rumah ibu mertuaku, semuanya terlihat rapi dan sudah di pagar. Ini tandanya mertuaku tak kalah banyak duit sekarang.
Tok ... Tok...
”Assalamualaikum, Bu,” sapaku memberikan salam.
”Waalaikumsalam,” jawabnya lalu kuraih punggung tangan wanita tua itu. Kali ini aku harus sedikit bersikap manis agar ibu mertuaku mau membongkar rahasia istriku.
”Mau cari Ali?” Tanyanya menatap ke arahku.
”Bukan, Bu. Aku mau tanya sesuatu sama Ibu,” ucapku.
Ibu mertuaku yang baik hati lalu mempersilahkan aku masuk, lalu duduk di sofa usang miliknya.
”Ada apa?” Tanyanya.
”Soal Mayang, Bu,” lanjutku.
”Kenapa Mayang, apa dia sakit lagi?” berondongnya.
”Bukan, Bu. Hanya saja aku bingung dengan perubahan Mayang seminggu terakhir ini, aku merasa heran juga dari mana Mayang bisa mendapatkan kalung dan cincin emas yang harganya lumayan mahal,” beberku panjang lebar semoga ibu mertuaku berpihak kepadaku.
”Maaf. Ibu ga tau apa pun soal kalian, bukankah kamu suaminya dan lebih tau akan hal itu?” sanggahannya. Kini aku terasa terpojokkan.
”Ibu tau sendiri aku sibuk bekerja,” imbuhku lagi. Berharap sepenuhnya agar ibu mengerti apa yang kurasakan.
”Ada baiknya tanyakan langsung, jangan pernah libatkan ibu dalam urusan rumah tangga kalian,” sarannya.
”Tapi ...”
”Sudah Ibu mau istirahat,” potongnya lalu beranjak dari duduknya.
”Tapi kalung itu kata Mayang dari Ibu,” sosorku lagi. Kesal sekali rasanya ibu mengabaikanku.
”Ibu akan jawab, tapi kamu jangan minta kalung itu dari Mayang,” tegas ibu. Aku mengangguk mantap.
”Kalung itu mahar pernikahan Ibu dulu dengan almarhum ayahnya Mayang. Jangan sesekali menjual kalung dan cincin itu dalam keadaan apa pun. Kecuali dalam keadaan sakit,” jelas ibu.
Mataku membulat sempurna. Pantas saja surat keterangan pembelian emas tadi terlihat begitu lusuh.
__ADS_1
Bersambung....