CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 24


__ADS_3

Malam merangkak naik, malam ini Bagas mengajak Mayang untuk makan malam dalam rangka merayakan ulang tahun keberhasilan usaha yang ia rintis, rasanya malas untuk ikut tapi mengingat Bagas adalah bos sekaligus sahabatnya maka dirinya mau tak mau harus ikut serta.


Gawainya berdering, panggilan dari Mas Bagas terpampang jelas di sana, lekas ia menggeser benda pipih miliknya.


"Ayo! Udah siap belum?" Tanya di sebrang sana.


"Belum."


"Kayak ga niat." Mayang hanya diam, sejenak ia berpikir harus menjawab apa.


"Niat sih. Tapi malas," ucap Mayang. Laki-laki bertubuh tegap di sebrang sana tergelak.


"Buruan!"


"Ya," jawabnya singkat setelah itu panggilan berakhir. Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Gegas ia menggantikan pakaiannya lalu menyambar tas, gawai dan dompetnya, ia pun berlalu meninggalkan rumah. Kebetulan Ali dan ibunya pergi ke hajatan di rumah tetangga.


Beberapa menit Mayang menunggu di caffe akhirnya Bagas datang. Mayang mendapatkan tatapan sinis dari karyawan, semoga saja tidak berpikir yang bukan-bukan.


Bagas berbincang sebentar dengan karyawannya agar omset bisa terus bertambah, maka janji Bagas akan menaikkan gaji karyawannya. Setelah berbicara sebentar Mayang dan Bagas berangkat menuju danau, di sana ada beberapa kepala cabang caffe milik Bagas. Lampu indah berhias di kegelapan danau.


"Indah banget, kok cuma enam orang?" Tanya Mayang heran.


"Emang mau berapa? Cabang caffe cuma empat," jawab Bagas sambil tersenyum kearah yang lainnya.


"Kukira ngajak anak-anak," kata Mayang.


"Anak kamu dan anakku? Kasian dah malam," ucap Bagas dengan polos. Padahal Mayang maksud adalah karyawan caffe.


"Bukan, ih. Karyawan caffe," jelas Mayang.


"Mereka besok rencananya ambil libur, mereka mau ke laut, kamu ikut?" Papar Bagas.


"Pikir-pikir dulu." Mereka berdua duduk bersamaan, api unggun juga telah mereka siapkan. Karena Bagas dan Mayang terlambat, mereka berbincang-bincang hal sepele dan bermain gitar untuk kesenangan dan hiburan.


Tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang mereka dan menjambak rambut Mayang dengan kasar.


"Hentikkan, Tias!" Hardik Bagas menatap kearah wanita yang menarik rambut Mayang dengan kasar hingga terhuyung kesana kemari.


"Oh. Papa bela pelakor ini?" Tangan Tias menunjuk-nunjuk muka Mayang dengan penuh amarah.


"Ma. Kenapa Mama seperti ini? Papa tidak ada hubungan apa pun dengan Mayang," jelas Bagas, tanggannya berusaha meraih tangan istrinya hendak ia peluk namun Tias menepis kasar.


"Ouh. Jadi pelakor ini namanya Mayang?" Tias menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sinis.


"Benar kata Mas Bagas. Aku sekretarisnya dan..."belum sempat ia menyelesaikan ucapannya Tias memotongnya.

__ADS_1


"Dan apa? Dan kamu selingkuhannya kan? Hebat sekali seorang sekretaris memanggil bosnya dengan sebutan Mas," Setelahnya Tias tergelak, sementara rekan lainnya hanya diam. Percuma mereka menolong Mayang maka mereka akan ikut disalahkan juga, bisa-bisa nanti mereka dipecat.


"Kami berteman, Buk," kata Mayang pelan, ia menahan bulir bening yang hampir tumpah.


"Alasan di depan aku. Mama ada laki-laki dan perempuan berteman, mulai sekarang kamu saya pecat. Camkan itu!" Hardik Tias denga suara lantang.


"Baik. Kalau begitu saya permisi!" Ucap Mayang sambil membalikkan badan, terus melangkah menuju jalan besar.


"Mayang tunggu!" Panggil Bagas, namun Mayang abai, ia memilih seolah tak mendengar perkataan Bagas bahkan tak menoleh salam sekali, bulir bening di pelupuk matanya yang dari tadi ia tahan lolos seketika.


"Apa dia begitu berharga untukmu, Pa?" Tanya Tias tegas.


"Ga gitu, Ma. Kasian anak orang," jelas Bagas. Walau rasa sedikit ada tapi tak niatnya sama sekali untuk menodai ikatan suci pernikahan mereka.


"Apa sama Mama ga kasian? Mama kesini sendiri juga loh," kata Tias sambil menunjuk-nunjuk dirinya. Emosi dalam dirinya begitu menggebu, hilang rasa kasihan terhadap sesama manusia.


Mayang terus berjalan dan diikuti oleh seorang ketua caffe cabang.


"Maafkan Bu Bos ya, Mbak," kata Candra pada Mayang. Candra laki-laki bujangan yang pekerja keras, Bagas mengangkat Candra karena ia begitu cekatan dalam menekuni usaha.


"Kesalah pahaman yang tidak bisa diselesaikan dengan hati dingin. Saya kecewa," ungkap Mayang, tak ada manusia yang tidak kecewa jika diperlakukan dengan begitu kasar juga buruk, karena memang bukan kesalahannya dan mereka tidak ada hubungan serius seperti apa yang dituduhkan oleh Tias.


"Saya mengerti. Mohon maafkan beliau, saya akan mengantarkan Mbak Mayang pulang. Mohon jangan tolak permintaan saya," kata Candra serius.


"Baik, Mbak." Tak lama Candra balik dan mengambil motornya, lalu menyusul Mayang ke jalanan tadi. Ibu satu anak itu terus berjalan, harusnya ia menunggu Candra tanpa harus lelah berjalan.


Beberapa menit dalam perjalanan Candra dan Mayang tiba di caffe satu. Caffe pertama yang Bagas rintis bersama sang istri yang mana istrinyalah yang menjadi koki saat itu. Semua menu caffe ini resep dari sang istri.


"Apa perlu Candra ikuti sampai rumah, Mbak?" Tanya laki-laki muda itu. Taksiran umurnya masih sembilan belas tahun.


"Ga usah. Kamu pulang aja, atau balik ke tempat tadi juga ga apa-apa," ungkap Mayang dengan hati yang masih kacau, suaranya begitu jelas masih bergetar.


"Malas balik, Mbak. Udah ga asik, mending PDKT sama karyawan sini," seloroh Candra terbahak, Mayang tersenyum getir, malu, kecewa dan merasa terhina masih terasa perih di hatinya.


"Selamat berpisah, Candra. Semoga bisa bertemu dengan wanita yang dapat menghargai keputusanmu, dan semoga kita bertemu lagi," ungkap Mayang.


"Aamiin...." Jawab laki-laki muda itu sambil tersenyum manis. "Hati-hati di jalan, Mbak," sambungnya saat motor Mayang sudah melaju.


Pulang dalam keadaan hati yang pilu, benih cinta itu maru masih mau tumbuh, sebenarnya sudah Mayang halang sebegitu kuat agar benih itu tenggelam saja, kini ia bersyukur benih itu telah patah tak tersisa. Sepanjang jalan genangan di pelupuk matanya terus saja tumpah, membuat kabut di matanya tak dapat melihat jalan dengan sempurna, namun Mayang abai, terus saja memacu kendaraan roda duanya dengan cepat.


Brak....


Tubuh Mayang tergeletak di aspal tak sadarkan diri, Mayang menabrak mini bus yang berhenti di pinggir jalan.


"Mbak, bangun!" Laki-laki bermata elang itu mengusap wajah Mayang yang terasa dingin.

__ADS_1


"Ya-Allah, bagai mana ini?" lirihnya. Menarik mayang pelan dan memangku kepalanya. Mobilnya juga mogok yang di berhentikan paksa di bahu jalan. Padahal pemilik mobil itu sudah melepaskan kaos oblong miliknya dan menancapkan di kayu yang di bentuk segitiga agar pengguna jalan dapat berhati-hati, namun Mayang tak dapat melihat itu.


Laki-laki bermata elang itu merogoh sakunya dan menelpon seseorang.


"Heh culun. Nomor Lu dari tadi ga dapat dihubungi." Laki-laki bermata elang itu menghardik temannya.


"Maaf. Sibuk cari duit." Ia tergelak di sebrang sana.


"Tolongin gue, ada cewek nabrak mobil gue yang sedang mogok. Sekarang dia pingsan." Ia menggaruk tengkuknya, merasa panik dan dipermainkan oleh keadaan.


"Ya, sebentar lagi aku kesana sama montir. Jangan lupa share alamat," jawabnya lalu panggilan berakhir. Laki-laki bermata elang itu segera mengirim alamat pada temannya itu.


Mayang menggerakkan tubuhnya sedikit lalu bangkit dari pangkuan laki-laki bermata elang itu.


"Saya kenapa, ini di mana?" Ucap ibu satu anak itu saat menyadari bahwa dirinya tidur di pangkuan seseorang.


"Kita lagi piknik di pinggir jalan," seloroh laki-laki, ia tergelak melihat ekspresi Mayang yang bingung.


"Serius dikit, Mas," kata Mayang, ibu satu anak itu memperhatikan tubuh laki-laki itu yang telanjang dada.


"Kok ga pake baju?" Tanya Mayang merasa dirinya sangat heran dan tak ingat kejadian kenapa ia sampai ada di sini.


"Tuh." Dagunya menunjuk baju yang terpasang di kayu yang berbentuk segitiga.


"Maaf, jadi saya...."


"Ya kamu menabrak saya di sini," kata laki-laki bermata elang itu, Mayang terkesiap. Ibu satu anak itu mengira dirinyalah yang telah menabrak mobil laki-laki itu.


Bangkit dari duduknya dan tergesa menghampiri motornya, ternyata stang motor bengkok tidak bisa untuk dikendarai lagi.


"Udah. Mau kemana? Di sini aja, bentar lagi teman saya datang dan motor kamu bisa di perbaiki kok, kamu pulang saya antar nanti. Tapi saya mau kamu bertanggung jawab," kata laki-laki itu sambil mengulum senyum. Mengerjai wanita polos begitu menyenangkan menurutnya. Mayang mendekat dan kembali duduk di samping laki-laki itu dan merogoh saku celana jeans-nya dan memberikan kontaknya pada laki-laki itu.


"Simpan saja Mayang," ucap ibu satu anak itu.


"Nama saya Abizar," kata laki-laki bermata elang itu.


Lampu mobil menyoroti mereka, membuat kedua menyipit.


"Magapain mesum di pinggir jalan?" Hardik laki-laki berkaca mata, sesat setelah turun dari mobil.


"Ga mesum, Ga lihat apa kami kecelakaan?" Jawab Mayang dengan suara tinggi.


"Itu pasangan kamu telanjang dada," tunjuk ya pada laki-laki bermata elang itu. Mayang berdecak kesal. Hari ini begitu buruk untuknya, sementara Abizar mengulum senyum.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2