CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 50


__ADS_3

Laki-laki bertubuh kurus itu memperhatikan beberapa temannya sedang merajut sweater, membuat tas benang dan masih banyak kerajinan daur ulang dari plastik dan botol bekas.


Plak.


Rohman mematung saat merasakan hangat menjalar di pipi kirinya saat ini, mundur beberapa langkah lalu duduk di tikar yang terbuat dari jerami.


"Heh, jangan bengong aja di sini. Kerja biar ga kelaparan," hardik seorang bertubuh tembun yang banyak tato di tubuhnya.


"Iya, Bang. Tapi saya belum ngerti apa-apa, baru juga nyampe tadi," ucap Rohman sambil membenarkan duduknya.


"Sini, Bang!" Ajak wanita berusia lebih muda dari Rohman.


Laki-laki bertubuh tembun itu segera pergi saat menyadari seorang wanita memperhatikan dirinya, karena ketua yayasan selalu berpesan agar saling menghargai satu sama lain dan bersikap baik.


"Maafkan teman saya yang tadi ya, Mas. Baru nyampe sini udah dapat perlakuan buruk dari dia," kata wanita berambut ikal tu sambil mengulas senyum. Tangannya cekatan merajut sweater, beberapa di antaranya sudah ia rajut dan siap dijual.


"Ga apa-apa, salah saya juga bengong di sini," sahut Rohman tersenyum kikuk. Laki-laki bertubuh kurus itu memperhatikan gerak tangan wanita berambut ikal itu merajut tanpa jeda dengan gerakan begitu lihai.


"Mas, masih ada keluarga?" tanya wanita berambut ikal itu sambil melirik sekilas kearah Rohman terus kembali fokus pada rajutannya.


"Ada. Cuma ya maklum aja, seperti apa keadaan saya saat ini," jawab Rohman terkekeh kecil, dalam hatinya kian pilu mengingat serangkaian kisah dan luka yang ia lalui.


"Biasa itu, Mas. Walaupun bukan kesalahan kita mutlak mereka yang menilai kita salah tak akan pernah percaya ya contohnya seperti saya ...." Wanita cantik berambut ikal itu menghela napas panjang lalu beristighfar lirih.


"Maksudnya gimana, Mbak?" Rohman memperhatikan raut wajah sedih terpancar jelas di muka wanita berambut ikal tersebut.


"Saya sebenarnya ga melakukan apapun yang menyebabkan HIV pada tubuh saya, suami saya sebagai laki-laki yang suka jajan sembarangan mengidap HIV, mungkin di tularkan oleh perempuan yang sering dia jajani dan dia menularkan virus itu pada saya. Menyedihkannya saya lagi hamil dan bayi yang saya kandung ikut tertular dan meninggal dunia ..." Wanita cantik berambut ikal itu tersenyum kecil, pelupuk matanya ada bulir bening yang siap jatuh.


Wanita berambut ikal itu meletakkan rajutannya yang hampir selesai lalu mengulurkan tangannya kearah Rohman, tanpa berpikir panjang Rohman menjabat tangan wanita itu.


"Kita belum berkenalan. Nama saya Nurul, nama Mas siapa?" tanyanya, tangan kirinya menyeka sudut matanya.


"Namaku Rohman," ucap Rohman pelan, ia mengambil jarum rajut lain yang teronggok di samping benang-benang.


"Biar saya ajarkan, Mas," kata Nurul sambil memasang benang pada jarum lalu menyimpul bagian ujungnya terlebih dahulu.


Beberapa kali mengajarkan dan selalu salah namun Rohman tak patah semangat, ia terus belajar, sesekali mereka terkekeh karena terbalik merajut dan Rohman kembali melepaskannya.


.


.


.

__ADS_1


____


Di rumah wanita yang melahirkan Mayang ada hati yang sedang berbunga. Mayang menyingkirkan foto pernikahannya dengan Rohman, bukan tak ingin anaknya mengenang ayahnya tapi saat ini ada hati yang harus ia jaga.


.


.


Abizar terlelap di ranjang usang milik Mayang, maklum saja ranjang itu sudah ada sebelum Ali lahir kedunia, bukan pembelian dari Rohman melainkan hadiah dari orangtuanya Mayang.


Ibu satu anak itu sudah mandi dan sudah memasak untuk Abizar, ia tak ingin membangunkan laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya itu.


Mayang mengeluarkan motor miliknya lalu memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang untuk berangkat ke tokonya, sekaligus melihat keadaan Rohman karena tadi ia sempat bertanya pada ibunya bahwa Rohman sudah dua hari tidak mengunjungi Ali.


Tak lama ia sampai di tokonya, tak berniat membuka toko karena hari sudah mulai beranjak sore, hanya mengecek takutnya ada tikus karena sudah beberapa hari ia tinggalkan.


"Bang, Rohman apa kabarnya, ya?" Gumam Mayang sambil menutup kembali toko miliknya.


Mayang masih saja memikirkan Rohman karena tadi juga tidak ia temukan di parkiran, setelah mengunci toko ia tergesa menuju parkiran dan menemui kakek yang biasa menjaga parkiran di sana.


Matanya berbinar saat Mayang melihat kakek itu sedang menyesap kopinya, kesempatan untuknya bertanya keberadaan Rohman saat ini.


"Kek, bang Rohman kemana ya?" Tanya Mayang saat dirinya benar-benar berada di hadapan laki-laki tua itu saat ini.


"Siapa yang Anak maksud?" tanya laki-laki tua itu sambil bangkit dari duduknya.


"Ouh. Dia udah berangkat dan katanya mau pergi jauh biar fokus sama pengobatannya," kata kakek itu.


"Kemana kira-kira Pak?" tanya Mayang lalu merogoh tasnya dan memberikan uang parkiran.


"Ga tau, Nak. Cuma itu dia katakan sama kakek," jawab laki-laki tua itu, terlihat jelas ada kesedihan di wajahnya.


"Terimakasih, Pak. Saya pamit pulang." Mayang mengangguk, kakek tersebut juga mengangguk menanggapi ucapan Mayang.


Ibu satu anak itu menuju ke tempat di mana motornya di parkirkan, tanpa ia sadari sepasang mata sedang mengawasi gerak-geriknya saat ini.


"Kenapa masih mengharapkannya sedangkan kamu takut kehilangan aku," lirih laki-laki pemilik mata elang itu dalam mobilnya, ia memantau Mayang dari jarak jauh.


Pesis dugaannya, istrinya pasti akan menemui mantan suaminya. Ada sakit yang tak bisa ia gambarkan saat ini, masa lalu Mayang yang sulit di lupakan membuat laki-laki pemilik mata elang itu harus memiliki kesabaran lebih dalam memupuk rasa cinta yang ada.


Laki-laki bertubuh gempal itu terus saja mengikuti Mayang dari belakang, sementara ibu satu anak itu tidak langsung pulang namun ia datang kerumah ibunya Rohman, ia ingin menanyakan keberadaan Rohman pada ibunya.


Abizar hanya bisa menunggu di jalan besar, tak ingin ikut campur urusan Mayang untuk saat ini.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Mayang mengetuk pintu yang terbuka beberapa kali, suara riuh anak-anak dan suara teriakan Nila membuat Mayang sedikit mengusap telinganya. Ibu satu anak itu mengulangi ucapannya hingga wanita paruh baya keluar tak lain adalah ibu Rohman.


"Ada apa Mayang?" tanya Yeyen setelah menjawab salam sebelumnya.


Wanita paruh baya itu tidak pandai berbahasa basi, langsung ke poin inti permasalahan, karena saat ini yang ia lihat Mayang juga tidak membawa cucunya untuk menemuinya saat ini.


Mayang sedikit ragu ingin bertanya keberadaan Rohman pada wanita yang telah melahirkan Rohman itu, karena ia juga sadar Ali tak ada di sisinya saat ini untuk di jadikan alasan.


"Mau bertemu dengan bang Rohman, ada ga, Ma?" tanya Mayang ragu, takut jika ia akan di hina oleh Yeyen saat ini.


"Ga ada, dia biasanya jaga parkiran di pasar. Kenapa ga temui di sana aja. Eh ... Mama senang kamu mau balikan sama Rohman," ucap wanita yang sudah punya beberapa cucu itu sambil tersenyum kecil kearah Mayang yang berdiri di luar rumah sementara Yeyen berada dalam rumahnya.


"Ga ada bang Rohman di pasar, Ma," jelas Mayang, kemudian ia bergeser sedikit lalu menjatuhkan bokongnya di kursi panjang di depan rumah Yeyen, hal yang sama dilakukan wanita paruh baya itu.


"Duh. Tu anak kemana ga pamitan," ucap Yeyen kesal pada putranya itu.


"Kata bapak-bapak yang ada di parkiran bang Rohman mau fokus berobat, Ma. Tapi ga tau di mana." Mayang menatap raut sedih Yeyen.


"Ya ga tau. Mama juga ga tau dia sakit apa, adikmu tau tapi dia ga mau kasih tau sama Mama. Lagian kamu juga lama banget mau balikan sama Rohman aja banyak mikir. Kasian sama Ali sedikit ia kehilangan sosok ayah karena keegoisan kalian berdua," papar Yeyen membuat dada Mayang kian terasa sesak.


Siapa di sini yang egois? Bukankah Mayang sudah berjuang untuk bertahan namun selalu saja di sakiti berulang, manusia memiliki batasan kesabaran.


"Aku tidak akan pernah mau kembali sama bang Rohman, Ma. Tapi aku ..." Ucapannya terjeda saat tiba-tiba Nila keluar dan melayangkan tamparan di pipi Mayang yang mulus.


"Begitu berharapnya Rohman padamu, setidaknya dengan kembali sama kamu dia tidak harus terlunta-lunta seperti ini!" Nila berkacak pinggang lalu kembali mendorong tubuh Mayang agar ia tidak duduk di bangku lagi.


"Lalu apa fungsinya keluarga seperti Mbak Nila?" tanya Mayang kesal, ia bangkit dari duduknya lalu mundur beberapa langkah menjauhi Nila, ia tak ingin Nila berbuat kasar lagi padanya, tubuh Nila jauh lebih besar dari tubuh Mayang. Bisa-bisa ibu satu anak itu terpelanting dengan satu sentilan.


"Kalo ga mau balikan sama Rohman ga usah kesini lagi deh. Ga sudi lihat muka miskin kayak kamu," ucap Nila sambil mengipas wajahnya dengan buku, gelang emas milik Nila saling beradu satu sama lain.


Secara tidak langsung Nila sedang memamerkan gelang emas miliknya saat ini.


"Baik, saya tidak akan pernah datang lagi kesini." Mayang membalikkan btubuhnya lalu meninggalkan rumah orangtuanya Rohman dengan hati pilu.


Sudah tidak lagi bersama dengan Rohman saja Nila berani memapar dirinya apalagi jika masih bersama dan tinggal satu rumah, bisa-bisa ibu satu anak itu tinggal tulang dan kulit nantinya.


Mayang mendekat ke tempat tadi ia memarkirkan motornya dan ternyata tidak ada.


"Tadi perasaan di sini," lirihnya lalu merogoh sakunya untuk mengecek kuci motor miliknya, ternyata ia lupa mengambil kunci motornya tadi.


Ibu satu anak itu menyeka sudut matanya, bukan karena kehilangan motornya tapi kehilangan harga dirinya di depan keluarga Rohman, rasa sakit hati atas tamparan keras yang di layangkan oleh Nila membuat dirinya akan membuktikan ia bisa lebih sukses dari wanita gendut itu.


.

__ADS_1


.


Jangan pernah anggap remeh rasa sakit hati seseorang karena ia akan berusaha membuktikan bahwa ia juga bisa.


__ADS_2