
Setelah beberapa hari berlalu Rohman sudah di perbolehkan pulang kerumah, pagi yang begitu cerah menyinari bumi begitu menyilaukan, namun hati Rohman yang di landa kesedihan tak mampu mentari hangat itu menyinarinya.
"Ma, apa Mama keberatan merawatku?" Rohman mendongak menatap kearah wanita yang mehirkan itu. Dalam dua hari ini wanita itu terlihat kesal dan mengeluh saat pinggangnya sakit jika harus membantu Rohman berdiri dari kursi rodanya.
"Sebenarnya bukan keberatan, tapi coba belajar sendiri bangun dari kursi roda, besok secepatnya suruh Eti beli tongkat, biar kamu mandiri," kata Yeyen menyentuh kepalanya yang nyeri.
"Perhiasan yang aku suruh jual apa udah Eti jual, Ma?" Rohman memastikan jika uang itu masih ada.
"Halah uang ga seberapa kok nanya masih ada," ucap Yeyen terkekeh.
"Lumayan, jika di uangkan ada sepuluh juta," cicit Rohman, nyalinya menciut jika berhadapan dengan Yeyen yang sekarang jauh lebih galak, di tambah lagi keadaan Rohman saat ini sudah begitu memprihatinkan.
"Adikmu jual cuma dapat lima jutaan, karena surat-surat ga ada," jelas Yeyen lalu menjatuhkan bokongnya di sofa rumahnya.
"Ya sudah. Maafkan aku jika membuat Mama sakit hati," lirihnya lalu memutar kursi roda dengan tangannya lalu menuju kamar.
Menutup dan mengunci pintu dengan rapat, tubuh Rohman tergugu, perlakuan yang dulunya hangat berlahan berubah dingin. Uang mampu merubah sikap seseorang.
Tangannya gemetar membuka suat keterangan cek laboratorium dari rumah sakit kemarin.
"Bismillah," lirihnya. Masih berharap apa yang dikatakan dokter kemarin hanya halusinasi atau salah dalam membaca hasil tes.
"Ternyata benar," gumamnya pelan setelahnya ia tergelak, namun air mata terus saja membanjiri pipi yang di tumbuhi jambang yang sudah mulai memanjang itu.
"Aku bodoh. Ya bodoh gara-gara Anita dan uang," ia kembali tergelak dan mendorong kursi rodanya sendiri menuju meja rias. Rohman meraih parfum botol kaca yang biasa ia pakai kalau melemparkannya kearah kaca meja rias tersebut.
Mukanya memerah menahan amarah dan rasa sesak yang kian menghujam dadanya.
"Rohman, ada apa?" Pekik Yeyen di luar sana dengan nada tinggi dan mengetuk pintu berkali-kali.
"Hanya tikus, Ma," dustanya, tangannya menyeka air mata yang tak bisa ia tahan.
Pagi berlalu berganti siang Rohman masih saja setia dalam kamarnya, dengan susah payah ia membaringkan diri di atas ranjang agar tak menyusahkan wanita yang melahirkannya.
samar-samar ia mendengar suara Ali sedang bercakap-cakap dengan ibunya, sekilas ia mendengar Ali bawa makanan dan menanyakan dimana ayahnya.
Yeyen yang tak peduli mengatakan Rohman tertidur pulas, Rohman berusaha susah payah turun dari atas ranjang mendekat kursi rodanya. Tuhan masih melindunginya agar ia tak terjerembab di lantai.
Berlahan ia membuka pintu dan menuju ruang tamu, ia mengucek mata beberapa kali seolah-olah benar-benar terlelap tadi.
__ADS_1
"Ayah." Ali mendekat lalu mendekap tubuh yang berada di kursi roda itu dengan susah payah.
"Anak Ayah sama siapa?" Sejujurnya ia sangat malu mengatakan Ali anaknya karena semasa masih bersama Ali tak pernah ia pedulikan.
"Sama Ibuk, tapi Ibuk ga mau masuk. Ali bawa tongkat untuk Ayah," ucapannya begitu polos namun mampu memukul telak Rohman.
"Terimakasih anak Ayah yang baik," kata Rohman menerima tongkat pemberian dari putra semata wayangnya.
"Ini dari Ibuk," jelas anak polos itu sambil sedikit mengulas senyum.
"Apa kau ingin menghinaku, Mayang?" Geramnya, sambil mengepalkan tangan.
"Kenapa Ayah. Tak suka? Jika tidak biar Ali minta di tukarkan sama yang lebih bagus," ungkap bocah itu memandang mata Rohman yang sudah memerah.
"Suka, Nak," dusta Rohman, setelahnya bibir atasnya terangkat.
"Ya udah, Ali pulang. Jaga kesehatan Ayah!" Bocah kecil itu menyalim takzim tangan Rohman dan Yeyen lalu pergi meninggalkan rumah neneknya.
Rohman memandang tongkat pemberian Mayang yang terlihat seperti sedang memperolok dirinya saat ini. Tangannya ingin melempar tongkat itu namun Yeyen segera menahan aksi Rohman yang tak menghargai pemberian orang lain.
"Jangan bodoh. Emang kamu ada duit buat beli tongkat lain?" Yeyen tersenyum miring, memandang kelakuan Rohman yang masih mempertahankan keegoisannya.
"Dia menghinaku," jelas Rohman memandang kearah Yeyen dengan kesal.
"Terserah." Dengan kasar ia menjatuhkan tongkat di depannya lalu membalikkan kursi rodanya dan masuk kedalam kamar.
Hatinya seakan tak pernah berlabuh pada tepian yang tepat, hukuman ia yang terjatuh kedalam lembah hitam berkali-kali lalu serangkaian hukuman dari Tuhannya terus berlanjut.
"Sakit!" Rohman berteriak menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Pantas saja tubuhnya akhir-akhir ini semakin kurus, ternyata ada penyakit berbahaya yang tidak ia sadari.
Mengambil gawainya lalu mengecek siapa saja yang dapat ia hubungi, untuk sekedar menolongnya saat ini. Mata Rohman terbelalak saat melihat begitu banyak pesan di gawainya dari mami bahkan sebagian sudah di lihat beberapa.
Apa Eti melihat dan embuka pesan?" Rohman mengacak rambut frustasi.
"Sial." Laki-laki berwajah Turki yang terlihat kurus itu melemparkan gawainya ke sembarang arah.
Dalam pesan itu ancaman mami akan menyebarkan videonya di media sosial, tepat pada tanggal Rohman terbaring tak sadarkan diri. Penyesalan hanya tinggal penyesalan saat ini.
__ADS_1
Dengan lemah Rohman menuju meja makan, mencari makanan apa saja yang bisa mengganjal perutnya saat ini agar ia bisa segera minum obat.
"Bang, jangan sentuh!" Hardik Eti yang sedang mencuci piring di wastafel menatap kearah Rohman tak suka.
"Kenapa? Abang lapar," keluhnya, sendok yang sempat ia letakkan kini Rohman mengambil kembali.
"Kubilang jangan sentuh, Bang!" Hardik Eti dengan suara yang begitu tinggi. Rohman tak menyangka adik yang begitu ia sayangi tega membentak dirinya.
"Tapi kenapa?" Rohman mundur beberapa langkah ke belakang.
"Biar Eti yang siapkan," ucap Eti sambil tergopoh-gopoh menuju meja makan, tak peduli jika tangan basahnya ia lap di baju yang ia kenakan.
Sejenak hati Rohman merasakan kebahagiaan.
"Eti dengar apa kata dokter di rumah sakit kemarin," papar adik bungsunya itu sambil melirik sekilas kearah Rohman, sementara Rohman yang mendengar perkataan Eti tersedak dengan salivanya.
"Jangan kasih tau mama, jika Abang di usir ga tau mau tinggal di mana," lirih Rohman, tangannya ia tangkupkan sebagai bentuk permohonan pada adiknya itu, sementara Eti hanya bergeming.
Tak ada tanggapan sama sekali, setelah memberikan makanan ke tangan Rohman ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Laki-laki yang dulunya angkuh kini melahap makanannya dengan hati yang hancur, makanan itu terasa bagaikan kerikil yang ia makan.
Usai makan Rohman meletakkan piring kotor di wastafel namun secepatnya adiknya terburu mengambil dan meletakkan di bawah. Piring Rohman akan ia cuci terakhir dengan mengunakan sarung tangan.
.
.
.
____
Di tempat lain Anita dengan pujaan hatinya sedang dalam masa tidak baik-baik saja, Anita tak di ijinkan keluar dari rumah calon mertuanya walau hanya sekedar cari makan.
Wanita yang melahirkan Yazidin itu melarang Anita keluar karena malu anaknya membawa wanita hamil yang belum sah menjadi istrinya, selama di rumah calon mertuanya Anita sering menangis dan merasakan sakit perut yang luar biasa namun calon mertuanya hanya mengatakan bahwa itu wajar terjadi pada ibu hamil.
Wanita hamil itu sering menangis di dalam kamar bahkan tubuhnya semakin kurus dalam waktu seminggu.
"Bang Rohman maafkan aku," lirihnya sambil memeluk lututnya. Lingkaran hitam di bawah mata Anita juga terlihat jelas karena ia kurang istirahat.
__ADS_1
Calon mertuanya sering menyuruh Anita memarut singkong hingga larut malam, wanita paruh baya itu berjualan keripik singkong untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Anita berjalan menuju meja rias usang milik calon suaminya itu, melihat pantulan dirinya di cermin lalu menusuk perutnya yang sedikit sudah mulai terlihat dengan pisau buah yang terletak di meja rias itu. Anita mengulas senyum, kini tak ada lagi yang membuat keluarga calon suaminya merasa malu atas keberadaan dirinya.