CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 57


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, Mayang saat ini merasakan tubuhnya terasa sangat berat. Ibu satu anak itu duduk di teras sambil menyesap sisa teh hangat yang sudah dingin, perlahan Mayang mengusap perutnya yang rata.


Pikirannya kembali ke beberapa tahun silam saat sedang mengandung Ali.


"May, belikan seblak di warung Bandung ujung gang sana," pinta laki-laki yang Mayang panggil Abang itu.


"Ga ada duit," ucap Mayang pelan sambil menyentuh pinggulnya yang terasa nyeri.


Wanita cantik itu sudah tidak terurus, rambut tak lagi seindah dulu.


"Usaha, kayak aku. Oh aku ingat bik Murni minta kamu untuk segera kesalonnya dia mau pergi sebentar lagi, pulang dari sana jangan lupa beli seblak," tutur laki-laki yang bergelar suami Mayang itu.


Dengan alangkah gontai Mayang mendekati Rohman yang dan mengulurkan tangannya, dengan cepat laki-laki bertubuh tinggi itu menepis tangan sang istri.


"Buruan sana, nanti juga akan di kasih sisa uangnya sama Bik Murni," ungkap laki-laki berstatus suami Mayang itu.


Dengan hati gembira Mayang melangkah meninggalkan rumah, wanita cantik itu menuju salon mbak murni yang tidak begitu jauh dari rumahnya.


Laki-laki bertubuh tinggi itu enggan mengantarkan istrinya karena beralasan Mayang harus olah raga agar mudah saat persalinan nanti.


Tak lama Mayang tiba di salon mbak Murni, wanita paruh baya dengan rambut yang berwarna itu tersenyum bahagia karena Mayang sudah ada di hadapannya saat ini.


"Kok baru datang, May?" tanya Mbak Murni sambil mempersilakan Mayang untuk duduk di kursi yang biasa di gunakan untuk menyalon.


"Baru di kasih tau sama bang Rohman," ucap Mayang dengan polosnya.


"Kita keramas dulu," titahnya setelah rambut panjang itu tersisir rapi.


Mayang menurut apa yang di perintahkan oleh mbak Murni karena ia mengira dirinya akan merasakan sensasi salon yang memanjakan dirinya.


"Di stailing enggak nanti?" tanya mbak Murni setelah rambut Mayang di keringkan.


Rambut halus dan panjang begitu indah, dengan cekatan mbak murni memotong rambut Mayang sebahu, setelahnya ia luruskan sedikit lagi.


Senyum sumringah terlihat jelas di wajah Mbak Murni setelah rambut panjang Mayang berada di tangannya.


"Loh kok di potong?" tanya Mayang dengan wajah teramat sedih saat melihat rambut panjang miliknya tersusun rapi dan sudah di beri isolasi di sebagian sisi agar tidak berantakan.


"Loh. Rohman ga bilang apa-apa toh?" tanya mbak Murni balik saat melihat Mayang mengelus rambutnya yang tinggal sebahu.


"Engga, Mbak," ucap Mayang pelan lalu bangkit dari kursi kebanggaan pengunjung salon.


"Ya Allah," lirih mbak Murni sambil menepuk jidatnya.


"Jadi Rohman kemarin kesini, pas saat saya sedang memasang rambut sambung untuk pelanggan. Tiba-tiba dia bilang kalo rambut aja laku aku mau jual rambut istriku, Mbak. Kata dia gitu, May. Ya Mbak terima aja asalkan rambutnya indah ...." Mbak Murni menarik napasnya dalam.


"Terus kenapa tadi ga bilang kalo mau di potong, Mbak? Tau gitu aku ga mau," jelas Mayang membuat wanita berambut pirang itu gugup.


"Ya kukira Rohman udah cerita," lirihnya pelan sambil menatap manik mata Mayang yang berkaca-kaca. "Rohman bahkan udah ambil uangnya sebelum kamu datang kesini," terang mbak Murni membuat Mayang tersentak.


"Ini sisanya," sambungnya sambil menyodorkan dua lembar uang sepuluh ribu.


Mayang menyeka sudut matanya, ia mengambil dua lembar pecahan uang sepuluh ribu dan berlalu dari hadapan mbak Murni setelah memberikan salam.

__ADS_1


"Pagi-pagi udah melamun." Abizar menepuk kening Mayang pelan membuat pikiran tentang masa lalu yang membuat dirinya takut akan terulang lagi buyar seketika.


"Cuma ingat masa lalu," tutur Mayang sambil tersenyum kecil kearah Abizar yang duduk di sampingnya.


"Lupakan saja, sekarang aku di sini, bukan laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu," ucap Abizar lalu menarik tentang Mayang lalu mengecup punggung tangan ibu satu anak itu pelan.


Ibu satu anak itu saat ini begitu malas untuk datang ke toko gamisnya.


"Kenapa enggak buka toko?" tanya laki-laki pemilik mata elang itu pada kekasih halalnya saat ini.


"Tidak ada mood," sahutnya tanpa menoleh kearah Abizar.


"Karena ga ada Rohman," seloroh Abizar membuat Mayang mencubit lengan kekar Abizar pelan.


Wanita cantik berambut sebahu itu malas berdebat dengan Abizar, ia bangkit dari duduknya tiba-tiba menyentuh perutnya dan menutup mulutnya.


Ibu satu anak itu setengah berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi dalam perutnya yang baru saja ia makan. Abizar tak hanya diam, ia mengekor dan memijat tengkuk istrinya itu dengan lembut.


"Sudah baikan?" tanya Abizar saat Mayang sudah mencuci mulutnya, sementara Mayang hanya menggelengkan kepalanya lemah.


Laki-laki pemilik mata elang itu membawa istrinya menuju kamar berlahan ia baringkan tubuh Mayang yang semakin berisi.


"Kita ke dokter?" tanya Abizar pada istrinya yang terlihat berlahan memejamkan matanya, berlahan Mayang kembali menggelengkan kepalanya.


Rasanya mengeluarkan suara saja wanita itu merasa enggan.


"Belikan aku tes kehamilan," ucapnya lirih lalu menjatuhkan bulir bening.


Abizar terperangah mendengar perkataan Mayang yang sama sekali tak ia sangka.


"Kenapa harus bersedih?" sambung Abizar saat melihat mata Mayang yang sudah begitu basah.


"Tidak. Hanya saja aku takut jika perlakuanmu padaku berubah," lirih Mayang sambil menyeka sudut matanya.


"Aku bukan dia. Pahami itu! Aku akan membelikan apa yang kamu katakan tadi. Tunggu di sini," ucap Abizar lalu pergi meninggalkan Mayang seorang diri, sementara wanita yang telah melahirkan Mayang itu pergi kerumah saudaranya bersama Ali karena kebetulan hari libur.


.


.


.


_______


Di tempat yang berbeda Rohman telah membelikan mainan kesukaan putranya, ia berjalan tertatih menyebrangi jalan. Mainan yang telah ia beli kini berada di tangannya.


Menaiki angkutan umum lalu menuju rumah Mayang seorang diri, tak ada lagi yang setia bersamanya saat ini. Entah kemana Anita yang ia banggakan dulu.


Mata sayu itu menatap kearah luar jendela, bayangan wajah putranya selalu dalam ingatan, saat ia menolak wajah memelas bocah kecil yang merengek sesuatu padanya.


"Maafkan ayah," lirihnya lalu menyeka sudut matanya yang belum sempat berair. Terlalu malu jika mangis dalam keramaian.


.

__ADS_1


.


Tak lama angkutan umum itu menepi, Rohman membayar seperti biasa.


"Kurang ini, Bang. Ga seperti biasanya. Sekarang udah lima belas ribu," tutur supir angkutan umum itu sambil tersenyum kearah Rohman.


"Oh. BBM sekarang naik ya, Bang," ucap Rohman lalu menyodorkan beberapa lembar uang dua ribu.


Angkutan umum itu melesat begitu saja, meninggalkan asap mengepul yang sedikit di hirup oleh Rohman. Laki-laki bertubuh kurus itu berjalan beberapa meter agar sampai kerumah orang tua Mayang.


"Eh. Bang Rohman mau jenguk mantan nih, weleh ... Kangen to," celetuk ibunya Ugik yang di tanggapi dengan senyum oleh Rohman.


Ia yang saat ini tak begitu lagi peduli pada omongan wanita yang dapat membuat suasana hatinya kacau nantinya.


"Iya, nih. Mau rujuk ya, Bang?" tanya ibu-ibu yang duduk di samping ibunya Ugik.


Orang kampung tak banyak yang tahu kalau Mayang sudah menikah lagi, mereka juga malas untuk mengatakan jika Mayang akhirnya akan menerima cemoohan dari warga terutama tetangga rumahnya yang lama.


Kini Rohman tepat berada di depan rumah Tuti, ia lupa saat itu menanyakan berapa uang yang Tuti berikan pada Ali.


"Assalamualaikum..." Rohman mengetuk pintu kontrakan Tuti beberapa kali namun tak ada jawaban.


"Tidur siang kali dia, Bang!" pekik ibunya Ugik dengan nada lantang.


Rohman menghela napas kasar lalu pergi meninggalkan rumah kontrakan Tuti, sementara Tuti hanya mengintip dari jendela setelah Rohman benar-benar pergi ia membuka pintu kontrakannya.


"Sialan si Tuti, tega bener sama si Rohman," ucap ibunya Ugik mengeleng tak percaya.


"Pasti dia mau minta pinjam uang tuh, ogah minjamin," papar Tuti lalu kembali masuk kedalam rumahnya.


Ibunya Ugik walaupun suka mengolok orang tapi tak setega Tuti.


.


.


Rohman menghela napas kasar saat sudah berada di depan rumah orang tua Mayang. Ia begitu lelah berjalan kaki hanya di bantu tongkat.


Kini ia menyadari dan menyesali betapa lelahnya Mayang dulu harus berjalan kaki dari rumah lama mereka menuju kerumah orang tua Mayang menjemput Ali lalu menjual beberapa sayuran yang ia panen sendiri.


"Assalamualaikum," ucap Rohman sambil mengetuk pintu rumah yang terbuka.


"Masuk," ucap Mayang lirih setelah menjawab salam dari mantan suaminya itu.


Mayang mengenal ciri khas suara laki-laki yang pernah menjadi suaminya itu. Ibu satu anak itu terlalu lemah untuk bangkit dari tidurnya.


"Duduk aja, Bang. Abi sedang ke apotek sebentar, bentar lagi pulang." Mayang mempersilakan Rohman untuk duduk di sofa sedangkan dirinya sih terbaring.


Rasa enggan dan sungkan menyelinap di hati Rohman, ia merasa canggung sekaligus tak enak hati jika melihat dirinya hanya berdua dengan Mayang di dalam rumah.


Lima belas menit menunggu namun Abizar belum juga pulang.


"Lebih baik aku pulang saja, Mayang," pamit Rohman kalau bangkit dari duduknya. Laki-laki bertubuh kurus itu akan menemui putranya, ia berpikir Ali di bawa oleh Abizar tadinya.

__ADS_1


"Itu Pak RT," tunjuk Tuti kearah Rohman yang sedang menjabat tangan Mayang, karena laki-laki bertubuh kurus itu baru saja meminta maaf pada mantan istrinya.


"Sabar ... Sabar ...." Pak RT menyuruh Tuti dan ibu-ibu lainnya mundur agar tidak main hakim sendiri.


__ADS_2