
Malam menyapa masih dengan rintik gerimis yang membelai manja, Mayang baru saja menutup tokonya, karena emang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Saat awal mula membuka toko pakaian Mayang tidak berani pulang malam, setelah terbiasa dirinya merasa nyaman dengan apa yang ia kerjakan walaupun lelah yang ia rasakan teramat panjang.
"Yey ibuk udah pulang," pekik bocah yang tinggal bersama neneknya itu. Bocah berusia sembilan tahun itu selalu setia membukakan pintu untuk kepulangan ibunya.
"Iya. Ini makanan kesukaan kamu," ucap Mayang menyerahkan bungkus pastik berisi ayam krispi kesukaan putranya itu.
Begitu girang bocah itu menerimanya lalu berlari kearah neneknya dan menawari wanita paruh baya itu untuk makan bersamanya, sementara Mayang bergegas kekamar mandi lalu membersihkan diri.
Tak lama setelah Mayang membersihkan dirinya, Ali sudah tertidur di pangkuan neneknya. Mereka tidak memiliki banyak waktu untuk belajar dan bermain bersama. Tugas yang seharusnya di pikul oleh suaminya kini terpaksa ia pikul demi mencukupi kebutuhan keluarga yang begitu ia cintai.
Gerimis berganti dengan hujan, gemercik air terdengar begitu syahdu saling bersahutan, berlahan mata Mayang terpejam dalam hati yang gundah memikirkan siapa yang akan membimbing Ali nantinya.
.
.
.
___
Di tempat yang berbeda, Rohman sedang bergelut dengan seseorang yang berjenis kelamin sama dengannya. Tak ada lagi rasa jijik seperti biasanya, rasa itu menjadi candu untuknya saat ini, terlebih Rohman menerima uang yang begitu besar jika yang ia layani adalah laki-laki melambai.
"Aku begitu puas dengan pelayananmu, tampan." Laki-laki yang memiliki buah dada itu tersenyum manis kearah Rohman lalu kembali mendaratkan kecupan sekilas di bibir seksi Rohman.
Laki-laki bertubuh langsing itu keluar dengan pakaian seksinya setelah melemparkan beberapa ikat uang di atas ranjang bekas percintaan mereka.
Malam ini Rohman ia tidak melayani satu, tapi juga melayani beberapa Tante yang membutuhkan belaian seorang laki-laki. Terlebih Rohman tampan, banyak yang mengidolakan dirinya, bukan hanya ibu-ibu dan Tante tapi banyak gadis yang terpesona pada ketampanannya.
Namun satu kesulitan untuk Rohman, barang miliknya susah untuk berdiri jika melayani tante-tante, terpaksa tubuh tinggi itu mengkonsumsi obat perangsang agar miliknya menegang sempurna.
Saat Rohman membersihkan diri di kamar mandi, seorang wanita paruh masuk kekarnya yang memang tidak terkunci.
"Tampan!" Pekiknya sambil menjatuhkan tubuhnya yang terlihat seksi di atas ranjang karena perawatan.
"Sebentar," jawab Rohman yang masih berada di kamar mandi. Tubuh tinggi itu keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.
Gairah ingin menikmati tubuh tinggi itu terpancar jelas dari tatapan wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Siap?" Wanita paruh baya itu menaik turunkan kedua alisnya.
"Minum itu dulu." Rohman menunjuk ke atas nakas yang terletak beberapa butir obat yang biasa ia konsumsi, mulai dari obat herbal sampai obat oles.
Wanita paruh baya itu mengira Rohman meminum obat perangsang untuk menambah kepuasan untuknya. Beberapa menit berlalu setelah mengkonsumsi obat tersebut Rohman mengerang, miliknya menegang dan siap menghujam.
"Siap, Sayang?" Wanita paruh baya itu berkata begitu manja sambil mengelus dada Rohman yang sedang terbaring, sementara Rohman mengangguk lalu mengulum bibir wanita itu. Keduanya larut dalam satu hubungan yang tak semestinya mereka lakukan.
Satu jam berlalu tubuh keduanya melemah tanda mencapai titik akhir dalam pertempuran tanpa pertumpahan darah, hanya pertumpahan cairan (hehe Maaf). Wanita paruh baya yang masih berada di atas tubuh Rohman meringsut kesamping lalu menjatuhkan tubuhnya perlahan.
"Lelah." Lirihnya pelan, namun Rohman tak merespon sama sekali. Laki-laki bertubuh tinggi itu meraih tisu lalu mengelap cairan yang begitu lengket.
Wanita paruh baya yang bertubuh masih lumayan seksi itu beranjak dari atas ranjang lalu memungut bajunya yang berserakan di lantai lalu mengenakannya.
Tangannya cekatan merogoh tas kecil miliknya lalu meletakkan uang di atas nakas, Rohman menatap sekilas tanpa respon apapun.
Berlahan mata Rohman terpejam, laki-laki itu tertidur dalam keadaan tubuh tidak suci.
.
.
.
"Bangun!" Wanita tua pemilik kamar kenikmatan berbalut neraka itu menguncangkan tubuh Rohman pelan.
"Masih ngantuk, Mom. Semalam dua ronde," Rohman terkekeh kecil dalam kekecewaan.
"Hebat! Mana jatah, Mami?" Wanita tua itu meminta haknya pada Rohman, tanpa menjawab Rohman hanya menunjuk keatas nakas.
Wanita tua yang biasa Rohman sapa mom itu mengambil beberapa ikat uang lalu meninggalkan Rohman yang bergeming.
Mentari tak menunggu, seseorang siap atau tidak, waktu terus berjalan. Rohman menyentuh perutnya yang mulai terasa lapar, pertempuran semalam membuatnya lelah tak berdaya.
Dengan rasa malas tubuh tinggi yang mulai sedikit kurus itu beranjak dari atas ranjang lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, menguyur tubuhnya yang bau bekas percintaan semalam.
"Ah, begini lebih baik," lirihnya saat Rohman sudah keluar dari kamar mandi lalu mengantikan pakaian.
Tangannya mengambil uang di atas nakas tanpa tersisa, memasukkannya kedalam ransel yang biasa ia kenakan, menuju lantai bawah yang sudah mulai sepi, kupu-kupu malam tidak lagi terlihat karena matahari sudah meninggi.
__ADS_1
Kemarin Rohman tidak pulang kerumah ibunya, ia begitu rindu makanan ibunya dan berjanji pada Eti - adik bungsunya untuk mengambil cicilan motor baru karena Eti butuh motor untuk berangkat kuliah setiap harinya.
"Assalamualaikum." Ucapnya sesaat setelah roda duanya mendarat di depan rumah dengan sempurna.
"Mama pikir kamu ga pulang. Mama ga masak, kemarin mama masak kamu ga pulang," lirih wanita yang telah melahirkannya itu setelah sebelumnya menjawab salam dari anak laki-lakinya itu, sementara Rohman hanya terdiam karena memang seperti itu keadaannya ibunya juga tidak bersalah karena tidak memasak.
"Ti ... Beli makanan gih!" Perintah Rohman sambil berteriak karena ia tahu adik bungsunya itu sedang ada di dalam kamar karena ini akhir pekan.
"Baik!" Setengah berlari Eti mendekat kearah abangnya lalu menyambar uang yang baru saja Rohman keluarkan dari dalam tas miliknya.
"Giliran makanan cepet, disuruh nyapu malas," kata Yeyen pada anak perempuannya yang sudah berlalu meninggalkan rumah.
Langkah kaki Rohman terhenti saat hendak memasuki kamar yang ia tempati.
"Bisa pinjamkan ibu duit, Nak?" Yeyen menyentuh tangan putranya pelan.
"Tidak usah pinjam. Ibu butuh berapa?" Tanya Rohman menatap kearah wanita yang telah melahirkannya itu yang masih menatap dirinya lekat.
"Sepuluh juta untuk bayar uang bank serta bunganya yang menumpuk," ucap Yeyen berdusta.
Yeyen aslinya wanita boros yang biasa menghamburkan uang untuk berbelanja pakaian mewah juga perhiasan mewah. Tak banyak berpikir Rohman mengeluarkan beberapa ikat uang dan memberikan pada wanita yang melahirkannya itu. Seketika mata Yeyen berbinar memandang uang yang ada di hadapannya saat ini.
Tanpa mereka sadari Tuti berdiri di ambang pintu menyaksikan Rohman menyerahkan uang pada Yeyen dengan jumlah yang banyak.
"Bagi dong, Dek," celetuk Tuti yang tiba-tiba masuk tanpa mengucapkan salam. Rohman menatap tak suka pada kakak sepupunya yang pernah menolak dirinya hanya untuk menumpang tinggal beberapa malam.
"Mbak aja ga anggap aku ada," kata Rohman sambil mengalihkan pandangannya menatap kearah lain.
"Anggap kok. Tapi Yo kemarin emang aku lagi kere, saat ini juga kere," papar Tuti memajukan bibirnya beberapa sentimeter.
"Nah." Rohman menyodorkan pecahan uang seratus ribuan yang lumayan banyak, tapi tak sebanyak yang ia berikan pada ibunya.
.
.
.
Sahabat sejati ada ketika kita berada di titik terendah, bukan di titik aman. Jika mereka ada disaat kita berada di titik aman maka mereka hanya menganggap pertemanan hanya sebatas kepura-puraan.
__ADS_1