CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 41


__ADS_3

Mayang menatap Abizar lekat saat laki-laki bertubuh gempal itu mengendong anaknya dan bermain dengan bahagia, seolah Ali menemukan sosok ayah saat ini. Tanpa terasa Mayang menjatuhkan bulir bening yang segera ia usap saat pandangan keduanya beradu.


Ali terlihat begitu bahagia dengan mainan yang beragam, laki-laki bertubuh gempal itu tidak segan membelikan apa yang Ali minta selagi masih bisa ia turuti.


"Ali senang?" Tanya Abizar pada calon anak sambungnya nanti yang telah lelah bermain.


"Senang, Om. Kapan-kapan kita jalan lagi ya, Om?!" Ali mendongak menatap wajah Abizar yang berdiri membuka bagasi mobil.


"Baik. Ibu kamu ga usah ajak, dia reseh banyak ngatur. Kita pergi berdua aja," ucap Abizar membuat Mayang mendelik tak suka kearah Abizar.


"Bener, Om. Kesel," ucap bocah itu melirik kearah Mayang yang takut di marah oleh Mayang.


"Aku ga suka ya kamu pengaruhi anak aku!" Bentak Mayang membuat Ali dan Abizar saling menatap.


"Marah terus! Makin jelek tuh muka," kekeh Abizar lalu masuk kedalam mobilnya bersama Ali, lama menunggu Mayang tak kunjung masuk kedalam mobil.


Abizar kembali keluar dari dalam mobil untuk memastikan keadaan Mayang, ia berpesan pada Ali untuk segera tidur dalam mobil. Ali anak yang penurut mengikuti perintah Abizar walau mereka baru hanya beberapa kali pertemuan.


"Kirain kemana? Ga mau pulang?" Abizar memandang wajah Mayang yang memanyunkan bibirnya, ibu satu anak itu merasa cemburu dengan kedekatan Ali dengan Abizar.


"Aku harap katakan pada orang tuamu untuk mengatakan bahwa aku bukan calon istrimu dan jauhi Ali, jika kebahagiaan yang kamu beri padanya lebih maka ia sedikit demi sedikit akan melupakan ayahnya. Aku tidak ingin itu terjadi," jelas Mayang tanpa menatap kearah Abizar, mereka duduk di bawah pohon Pinus yang akan menjadi saksi bisu perkataan Mayang yang menyakiti hati Abizar.


"Demi apa harus kukatakan aku begitu menyanyi anakmu itu, jika kita nanti tidak berjodoh aku berharap jangan pisahkan aku dengan Ali," lirih Abizar menatap lekat wajah Mayang.


"Aku akan kembali pada bang Rohman," ucap Mayang pelan, Abizar yang mendengar perkataan Mayang menyentuh dadanya pelan.


Ia menyesal menjatuhkan hati pada orang yang masih terbelenggu dengan masa lalunya.


"Kenapa masih berharap pada masa lalu yang pernah menghancurkan dirimu?" Abizar meraih tangan Mayang hendak mengecupnya walau perih kenyataan yang ia terima saat ini begitu menyiksa jiwanya, setidaknya ini bisa menjadi momen berharga untuknya. Mayang menarik tangannya kasar, beralih menatap manik mata indah Abizar di bawah cahaya lampu.


"Semua ada alasannya, Abi. Aku ada permohonan untukmu," lirih Mayang menyeka sudut matanya pelan.


"Permohonan apa?" Tanya Abizar serius.


"Aku akan kembali rujuk dengan bang Rohman, tapi aku harus nikah lagi dengan laki-laki lain agar aku bisa rujuk dengannya," jelas Mayang, ia kembali menyeka sudut matanya, sementara Abizar merasa sesak di dadanya tiap kali mendengar Mayang menyebutkan ingin kembali pada masa lalunya.


"Lalu?" Abizar mencoba memahami apa tujuan wanita yang kini sudah memberi warna dalam hidupnya.

__ADS_1


"Aku ingin kamu menikahiku agar aku bisa rujuk kembali dengan bang Rohman," ungkap Mayang membuat mata Abizar membola sempurna.


Sedikitnya Abizar paham tentang agama, ketika seorang wanita yang sudah bercerai dengan suaminya sudah talak tiga atau sang istri menggugat cerai suaminya maka ketika mereka ingin rujuk kembali, sang istri harus menikah lagi dengan orang lain dengan syarat orang lain itu menggauli wanita yang di nikahinya lalu bercerai kembali dengan orang lain itu, kembali menunggu masa Iddah, setelah masa Iddah selesai maka mantan suami istri yang ingin rujuk kembali itu sudah boleh menikah lagi.


"Kamu ingin memanfaatkan kebaikanku?" Abizar bertanya datar, memang kenyataannya saat ini seperti itu.


"Tidak sama sekali. Jika kita menikah maka tak ada yang curiga, kamu juga boleh mengatakan kalau aku bukan wanita baik-baik pada ibumu," ucap Mayang sambil tersenyum mengejek, seolah sedang mengejek kebodohannya sendiri saat ini.


"Baik. Aku akan menuruti apa keinginanmu, tapi jangan pisahkan aku sama Ali apapun yang terjadi," ungkap Abizar lalu mengecup sekilas pipi Mayang sehingga membuat ibu satu anak itu mematung merasakan kasih sayang yang tulus dari Abizar.


Mayang masih duduk mematung, ia memikirkan apa kepuasannya baik atau mungkin akan membuat petaka untuknya nanti.


"Ga mau pulang? Mau tidur di pasar malam?" Abizar bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangan agar Mayang meraihnya.


.


.


.


"Apa aku jelek?" Tanya Abizar pada ibu beranak satu itu yang memandang lurus ke depan. Pertanyaan Abizar memecahkan keheningan di antara mereka.


"Tidak. Kamu manis baik dan pengertian," ungkap Mayang masih menatap lurus ke depan, memandang jalanan yang hanya di terangi oleh lampu mobil.


"Lalu kenapa aku hanya kamu peralat untuk kepentingan dirimu? Padahal aku begitu tulus mencintaimu." Abizar bertanya kembali karena masih merasa bingung dengan jalan pikiran Mayang saat ini.


"Aku tidak mencintaimu," lirih Mayang sukses membuat hati Abizar tersayat berkali-kali, kini ia paham cinta Mayang pada mantan suaminya masih begitu besar, masih terlalu kuat untuk ia pisahkan.


Laki-laki bertubuh gempal itu akan menuruti keinginan wanita yang ia cintai saat ini, ia akan menjalankan lakon sesuai dengan perannya dalam kehidupan Mayang. Jika Mayang berpura-pura maka ia juga bisa berpura-pura.


Beberapa menit dalam perjalanan mereka tiba di rumah orang tua Mayang, Mayang sudah mengatakan pada ibunya bahwa ia akan mengajak Ali jalan-jalan ke pasar malam bersama Abizar, wanita paruh baya itu setuju selama Mayang harus pandai menjaga dirinya, walau saat ini ia sudah tidak perawan setidaknya jangan mempermalukan dirinya dengan berkelakuan murahan, wanita yang melahirkan Mayang sudah terlelap namun pintu tidak terkunci karena Mayang suda berpesan sebelumnya.


Dengan wibawa seorang ayah, Abizar mengendong Ali lalu menidurkan di dalam kamarnya, Abizar tak ingin mebangunkan Ali yang terlihat begitu lelah, sementara Mayang mengeluarkan mainan yang di beli oleh Abizar begitu banyak.


"Aku pamit. Apa aku masih bisa mengunjungimu atau kamu ingin menjaga perasaan mantan suamimu, jika ia maka aku akan menjauh untuk menunggu saat itu tiba," ucap Abizar, ia berdiri di teras sedangkan Mayang berada di ambang pintu.


"Boleh," jawab Mayang setelah beberapa saat berpikir.

__ADS_1


Sedikit mengulas senyum pada Mayang lalu Abizar masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan Mayang di ambang pintu.


Sebenarnya detak jantung Mayang merasa berbeda saat mendengar perkataan dari Abizar yang menyakiti hatinya padahal ia sendiri tidak tahu apa kata-kata Abizar yang mampu membuat hatinya terasa sakit. Ibu satu anak itu berdecak kesal dengan keputusannya lalu masuk kedalam rumah dan menutup pintu.


.


.


.


____


Di tempat lain Rohman menatap langit-langit kamar yang terbuat dari karung bekas yang sudah terlihat usang.


Hatinya bahagia menerima notifikasi dari Mayang yang mau menerima kehadirannya untuk kedua kali mengisi hari-hari Mayang.


Senyumnya mengembang membaca deretan pesan Mayang yang memberi perhatian padanya.


"Semoga Allah meridhoi," lirihnya lalu menyentuh pusaka miliknya yang terasa nyeri.


Laki-laki bertubuh kurus itu berandai dengan apa yang pernah ia lakukan dulu, ada penyesalan yang teramat dalam yang membuat hatinya teriris.


Permintaannya saat ini untuk bersama Mayang tak lain hanya untuk mengabdi pada wanita yang pernah ia perbudak, detak jam dinding terus berdendang sementara hatinya yang gundah masih memaksakan mata Rohman untuk terbuka.


"Tidurlah anak muda. Besok kita akan bekerja untuk menyambung hidup," lirih laki-laki paruh baya yang terbangun dari tidurnya, ia menatap kearah Rohman.


Laki-laki bertubuh kurus itu hanya menanggapi dengan senyuman lalu berusaha memejamkan mata walaupun hatinya masih belum mengajaknya tidur.


.


.


.


___


Terkadang manusia tidak menyadari Tuhan menguji hamba-Nya dengan berbagai cobaan agar hamba-Nya bertakwa kepada-Nya.

__ADS_1


__ADS_2