
Beberapa hati berlalu Rohman masih di tempat yang sama, ia begitu nyaman bekerja di sini.
Rohman sudah tinggal bersama laki-laki paruh baya yang memberikannya pekerjaan, pagi-pagi sekali Rohman sudah berada di parkiran khusus untuk pemilik toko di pasar.
Memang seperti biasa Mayang memarkirkan kendaraannya di lokasi itu, tanpa sengaja keduanya bertemu dan beradu pandang.
Pandangan Mayang lebih terlihat iba namun pandangan Rohman masih memendam rasa cinta, tak akan mungkin lagi cinta dapat bersemi pada lahan yang sudah gersang. Mayang mendekat kearah Rohman setelah mencari laki-laki tua yang biasa menjaga parkir tidak ia temukan.
"Apa kabar Mayang?" Rohman menahan tangan Mayang dengan sigap sesaat setelah ibu satu anak itu menyerahkan satu lembar uang pecahan sepuluh ribu rupiah.
"Baik," jawab Mayang singkat lalu melonggarkan pegagan tangan Rohman yang memegang pergelangan tangannya begitu erat.
"Maafkan aku selama ini sudah sering menyakiti hatimu," ungkap Rohman, sudut matanya berair begitu juga dengan mantan istrinya itu.
"Aku sudah memaafkan Abang sebelum Abang meminta maaf," ucap Mayang sambil mengulas senyum yang begitu sulit di artikan.
Ibu satu anak itu mengayunkan langkahnya pelan, sementara Rohman mengikuti di belakang Mayang dari jarak jauh hingga ia dapat memastikan Mayang masuk kedalam toko mana.
"Aku masih berharap hidup bersamamu, bahkan aku rela menjadi babu untuk menebus kesalahanku," lirih Rohman menatap nanar kearah Mayang dari kejauhan.
Hampir satu jam Rohman memperhatikan Mayang dari kejauhan hingga tangan renta menepuknya dari belakang.
"Berhentilah berharap pada sesuatu yang sudah bukan lagi hakmu," ucap laki-laki paruh baya itu pada Rohman yang menoleh kearah belakang. Laki-laki yang memakai tongkat itu menyentuh dadanya pelan.
"Jantungku hampir jatuh," kekeh Rohman lalu meninggalkan tempat ia berdiri saat ini, ia mengikuti langkah laki-laki paruh baya yang memberikannya pekerjaan halal itu.
Rohman kembali sibuk mengurus parkiran yang semakin padat, beruntung banyak dari ibu-ibu yang merasa iba pada Rohman dan memberikannya uang lebih.
Rohman tersenyum saat uang lebih yang mereka katakan untuk laki-laki itu, menyisihkan uang yang mereka berikan secara terpisah, bukan pelit atau perhitungan tapi ia ingin segera membeli obat untuk menahan perkembangan virus yang terus saja menggerogoti tubuhnya.
.
.
.
_____
__ADS_1
Di tempat lain Anita sudah sembuh, jahitannya sudah mengering namun fisiknya kini sudah terganggu. Wanita yang biasanya penuh dengan make up itu kini terlihat berantakan, rambutnya acak-acakan dan berpakaian lusuh.
Anita sendirian berjalan di trotoar sambil sesekali menggaruk rambutnya yang mungkin sudah berkutu, terdengar sesekali Anita memanggil nama Rohman dan Yazidin.
Iman wanita itu begitu lemah sehingga ia tidak dapat mengendalikan dirinya, sementara Yazidin yang benar-benar mencintainya terlihat bingung mencari keberadaan Anita, walau bagaimanapun depresi Anita saat ini karena ulah ibunya.
"Anita, di mana kamu," gumam Yazidin sambil terus menyusuri bahu jalan, sesekali Yazidin menunjukkan foto Anita yang baru ia ambil beberapa hari yang lalu pada penjaga toko bahkan orang yang berdiri di jalan.
Laki-laki itu hampir putus asa mencari keberadaan Anita, walau Anita terlihat begitu depresi namun tak membuat cinta Yazidin memudar.
Mata laki-laki bertubuh gempal itu membola sempurna saat melihat Anita sedang di seret paksa oleh dua orang laki-laki bertubuh tegap dan bertatto, Yazidin mempercepat langkahnya menuju keberadaan Anita.
"Lepaskan dia!" Perintah Yazidin, menatap bergantian kearah mereka.
"Ga bisa, kami akan menikmati tubuh seksi ini." Keduanya pria itu tergelak sesaat sebelum Yazidin meninju salah satu dari mereka.
"Brengsek!" Maki laki-laki bertato itu lalu memukul Yazidin mengunakan kayu, dengan langkah cepat Yazidin menahan pukulan itu, tubuhnya yang terbiasa menerima pukulan karena ilmu bela diri yang ia pelajari tak membuatnya goyah.
"Kuat juga lu. Bang sat!" Teriaknya, kaki laki-laki itu siap kendang Yazidin, namun dengan pertahanannya Yazidin mampu melawan mereka berdua sekaligus.
"Anita, ayo pulang!" Yazidin mengiba ada wanita depresi yang masih ia cintai saat ini, Anita menggeleng pelan.
"Aku janji kita ga akan pulang ke rumah ibuk lagi," ucap Yazidin meyakinkan kekasihnya itu. Wanita depresi itu kembali mengeleng.
Yazidin terus saja membujuk Anita sehingga wanita depresi itu menuruti keinginan Yazidin untuk tinggal bersama laki-laki bertubuh gempal itu. Sekarang Yazidin harus berpikir bagaimana menjaga Anita agar tidak melarikan diri dari rumah jika dirinya sedang bekerja.
.
.
.
Siang berlalu meninggalkan cahaya kekuningan di langit senja. Tubuh yang awalnya tinggi dan gagah itu kini terlihat kurus, ia sedang memeluk sebelah lututnya.
Berlahan gerimis turun membasahi dedaunan, tubuh kurus itu duduk di bawah pohon memandang langit senja yang berlahan menghilang.
Tak terasa pelupuk mata itu kembali lembab, ia menyekanya perlahan lalu tersenyum. Ia sadar kini Tuhan sedang menegurnya, memberi kesempatan kepadanya untuk bertaubat. Hanya saja penyesalannya terlalu besar karena telah menelantarkan istri dan anaknya dulu.
__ADS_1
"Tuhan, ijinkan aku menebus dosaku pada orang yang pernah kudzalimi," lirih Rohman, perlahan tubuh kurus itu bangkit dari duduknya, pohon tak mampu menahan gerimis agar tak membasahi rambutnya.
Kakinya semakin berat untuk ia ayunkan, tubuh Rohman melemah, ia jatuh terjerembab ke tanah saat dirinya selesai berwudhu dan ingin melaksanakan salat magrib.
"Astagfirullah," pekik wanita berhijab yang hendak masuk di belakang Rohman, sontak semua menoleh dan membantu Rohman, laki-laki kurus itu mereka baringkan di sudut mushola lalu mereka melaksanakan salat magrib terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian mereka telah selesai melaksanakan salat dan Rohman sudah sadar dari pingsannya, ia duduk menentuh kepalanya yang sakit, terkadang menjaga parkiran ia rela telat makan hingga membuat asam lambungnya naik.
.
.
"Terimakasih," ucap Rohman saat seseorang yang tidak ia kenal mengantarkan dirinya menuju rumah kecil milik laki-laki paruh baya yang menampung dirinya.
"Sama-sama," ucap laki-laki itu lalu meninggalkan Rohman dalam pekatnya malam, rumah kecil itu hanya di sudut pasar dengan penerangan dua bola lampu kecil.
Rohman tersenyum saat menatap laki-laki paruh baya itu membukakan pintu, laki-laki paruh baya itu hanya menjaga parkiran sampai selesai ashar sementara sisanya di jaga oleh Rohman, kata laki-laki bertubuh kurus itu lumayan untuk tambahan membeli obatnya.
"Cepat bersihkan diri kamu anak muda, makan setelahnya beristirahat. Jangan mempercepat kematianmu," kekehnya membuat Rohman tersenyum kecut, ia tatap laki-laki paruh baya itu lekat.
Rohman kini menemukan sosok seorang ayah yang sesungguhnya, perhatian yang laki-laki itu berikan melebihi yang di berikan oleh mendiang ayahnya.
Usah membersihkan diri, Rohman menjatuhkan tubuhnya pelan di atas tikar usang yang sudah lusuh. Kembali ia mengingatkan dirinya dulu yang enggan tidur di kasur usang yang Mayang pertahankan, kini keadaan memukul telak mentalnya saat ini.
"Maafkan aku Mayang, Ali," lirihnya, kembali kata-kata itu keluar dari bibir Rohman.
Tubuh kurus itu bangkit lalu mengambil makanan yang telah tersedia. Rasa seperti menelan kerikil saat ini, perasaannya campur aduk, ia benar-benar terhempaskan oleh keadaan.
.
.
.
Jangan pernah berbangga pada keadaan yang pernah membuat kita melayang tinggi, sekalinya terhempas ke lembah yang hina maka dirimu akan merasakan sakitnya terinjak-injak seperti saat dirimu menginjak-injak orang lain di masa kamu masih berada di atas.
Kepiluan saat ini tak sebanding dengan cacian yang pernah bersanding dengan kedustaan yang pernah kau berikan.
__ADS_1