
Malam sudah berganti pagi, mentari sembunyi malu-malu di balik bukit, cuaca sedikit mendung, semendung hati wanita yang sedang di landa kegelisahan saat ini.
"Ali berangkat sekolah dulu, buk," ucap bocah berusia sembilan tahun itu, karena dia tahu ibunya saat ini sedang dalam mode malas.
Iya, Sayang. Hati-hati, maafin ibuk ga bisa ngantar," kata Mayang Sabil menyentuh kepala Ali dengan lembut
"Aman!" Bocah itu mengacungkan jempolnya. Beberapa detik setelahnya bocah itu melesat keluar rumah.
"Ga kerja, May?" Tanya wanita yang melahirkan Mayang itu. Dirinya sedang sibuk masak beberapa ayam kecap dan rendang untuk beberapa anak pondok pasantren yang memasan catering padanya.
"Rasanya kok malas Yo, Buk?!" Mayang tak bergerak dari kursinya hanya menatap ibunya yang sedang sibuk.
"Mending cuma pegang pulpen doang dan natap layar komputer. Kalo ibuk masih muda, ibuk mau tukar pekerjaan sama kamu," seloroh ibunya Mayang itu, setelahnya ibu satu anak itu ikut tergelak.
Gegas dirinya mempersiapkan diri dengan malas, sebenarnya ia sangat malas untuk bertemu dengan Bagas.
"Buk, Mayang berangkat," ucapnya saat semua telah selesai dan bersiap. Mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu lalu Mayang berangkat menuju kaffe.
____
Di tempat lain Anita dan Rohman berangkat menuju rumah Mayang, mereka mengira bahwa Mayang belum menjual rumah itu, karena ibunya Rohman belum memberi kabar apa pun.
"Bang, coba usahakan rumah ini jatuh ketangan kita. Aku tuh cape ngontrak," kata Anita saat tubuh menjatuhkan bokong di teras rumah Mayang.
"Ya sabar. Bukannya kamu tau sendiri gimana reaksinya Mayang kemarin itu?"
"Iya sih. Tapi kan kamu laki-laki bang. Bisa dong dipaksa itu wanita ga tau di untung," kata Anita yang sudah tersulut emosi. Sebenarnya apa hubungan dirinya dengan Mayang, harusnya dirinyalah yang harus malu pada Mayang.
__ADS_1
"Akan Abang coba, Dek," ucap Rohman lembut. Walaupun Anita sudah bernada tinggi tapi dirinya masih bersikap lembut pada pujaannya itu.
"Eh ada Bang Rohman," celetuk Tuti yang tiba-tiba datang ke halaman rumah Mayang,Tuti ikut menjatuhkan bokongnya di lantai granit rumah Mayang.
"Gimana perkembangan usaha kita?" Tanya Rohman tanpa basa basi. Begitu kurang ajarnya mengatakan fitnah untuk Mayang adalah sebuah usaha. Ya, usaha menghancurkan mental orang.
"Mama kamu aja kalah tuh sama wanita dekil itu," ungkap Tuti sambil mengikat rambutnya yang sebelumnya tergerai.
"Rencana selanjutnya apa?" Tanya Rohman bersungguh-sungguh.
"Besok dia akan adakan ulang tahun untuk anak kamu, datang aja buat keributan di rumah mertua kamu," jelasTuti, setelahnya ia terkekeh geli, merasa dirinya dan Rohman saat ini sedang mempermainkan Mayang.
Dengan mudahnya menghancurkan hidup orang lain maka Allah juga akan akan membalaskan yang setimpal, karma itu nyata. Jika tidak di dunia maka bersiaplah untuk balasan di akhirat.
"Kamu harus datang juga, biar kompak," kata Rohman, matanya beralih pada wanita yang ia kenal menuju kearah mereka.
"Kompak banget ngomongin saya," celetuk Mayang saat dirinya sudah benar-benar dekat, selesai kerjaan di caffe ibu satu anak itu langsung pulang karena ingin mengeluarkan isi dalam rumah dan sebagian ingin ia bakar di halaman belakang.
"Orang ga tau diri kayak kamu wajib diomongin," kata Anita menoleh lalu bangkit dari duduknya.
"Yang ga tau diri itu kamu pelakor!" Hardik Mayang dengan nada tinggi. Rohman berusaha melindungi Anita, ia begitu takut jika Mayang tiba-tiba menyerang istri yang begitu ia cintai.
"Kasih aja rumah ini sama Rohman, haknya kok kamu ambil." Tuti ikut menimpali, wajah yang bikin jengkel begitu terlihat, rasanya Mayang ingin mencincang tubuh itu jika tidak mengingat akan masuk dalam bui.
"Pergi kalian dari sini atau saya teriak biar warga keluar," ucap Mayang bersungguh-sungguh, darahnya mendidih saat ini, melihat manusia tak ada etika dan tidak tahu malu.
"Silahkan." Kali ini Rohman sang suami angkat bicara, dengan adanya warga dan ibu-ibu tukang gosip mendengarkan mereka, maka dengan mudah Rohman menjelekkan Mayang agar wanita nitu jatuh mentalnya seperti kemari dulu.
__ADS_1
"Aw ... Aduh...." Anita menjatuhkan tubuhnya di lantai granit itu, lalu mengedipkan mata pada Tuti agar memanggil warga dan tetangga.
"Tolong ... Tolong...."
Tuti berteriak begitu kencang sehingga beberapa tetangga keluar dengan wajah panik.
"Ada apa, Ti? Tanya ibunya Ugik cepat, di antara ibu-ibu lain dirinyalah yang paling cepat tersambar suar Tuti.
"Ini loh, Buk. Si Mayang dorong Anita, padahal Anita kan lagi hamil, kok ga ada rasa keibuannya sama Anita," jelas Tuti, sementara tetangga saling pandang memandang. Seolah apa yang di katakan Tuti ada benarnya.
Tanpa manusia sadari dosa yang tidak bisa di ampuni oleh Allah adalah fitnah dan ghibah. Dosa yang kita berikan pada manusia maka pada manusia itu pula kita harus meminta maaf.
"Tuti bohong, saya tidak pernah melakukan hal sekeji itu," kata Mayang dengan raut santai, dia selalu mengontrol sikapnya jika berhadapan dengan tetangga yang super iri padanya.
"Ngaku aja sih, Mayang. Ga usah ngeles," sabung Anita dengan wajah sedih yang ia buat-buat. Seharusnya Anita sadar dirinya sedang hamil saat ini, semua baik buruk yang kita berikan pada orang lain maka itu yang akan ia tuai.
Bisik-bisik dari beberapa ibu-ibu tak dapat di pungkiri, mereka doyan nghibah dan gosip. Sebenarnya tak ada manfaat dari ghibah itu sendiri, tanpa kita sadari kitalah mahluk terbodoh jika membicarakan kebodohan dan kesalahan orang lain.
Anita di bantu oleh Rohman untuk bangkit, mereka masih belum mau pulang, sengaja Rohman kerumah kontrakan Tuti terlebih dahulu untuk rencana yang akan mereka susun selanjutnya. Sambil memegang perutnya wanita hamil itu berjalan tertatih, seolah kejadian tadi benar adanya.
Ibu satu anak itu juga tak kalah cepat, dirinya segera masuk kedalam rumah dan membereskan beberapa barang lalu ia keluarkan. Beberapa novel kisah cinta yang pernah ia baca sebelum menikah juga akan ia bawa kerumah ibunya, rencana akan ia sumbangkan ke perpustakaan dekat dengan caffe ia bekerja. Sayang kisah cintanya tak seindah cerita dalam novel yang ia baca.
"Kenapa hidupku serumit ini ya Allah,"lirihnya, tubuh ibu satu anak itu tergugu, air asin yang ia tahan di pelupuk mata luruh seketika.
"Hamba tau balasan-Mu pasti ada untuk mereka yang menzalimi hamba," gumamnya hampir tak terdengar. Wanita cantik itu kini menyeka air matanya, kembali fokus apa yang harus ia lakukan. Mayang mengeluarkan kasur lusuh kesayangannya dulu dan spring bed lusuh saksi bisu saat Rohman mencela Mayang juga ia keluarkan dan akan ia bakar, agar semua kenangan juga ikut terbakar.
Setelah mengeluarkan semuanya Mayang menyiramkannya dengan minyak tanah lalu menyulutnya dengan api.
__ADS_1
Biarlah, biarkan kenangan itu menjadi asap yang tak bisa disetuh dan debu yang terinjak-injak.
Bersambung....