CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 22


__ADS_3

Sore ini pertemuan dengan pembeli rumah, Mayang berjanji akan memberi pemotongan harga hitung-hitung untuk membalikkan nama sertifikat.


Gerimis terus saja berjatuhan, membuat tanah begitu lembab, aroma tanah begitu terasa memberikan efek ketenangan.


"Bismillah," lirihnya.


Sebenarnya Mayang juga mengajak putranya untuk main kerumah lama, hitung-hitung perpisahan, anak itu menolak dengan alasan malas.


Dengan motor matic barunya Mayang menuju rumah lamanya yang sebentar lagi akan berpindah tangan. Biasanya sepanjang jalan akan ada ibu-ibu yang mencemooh dirinya jika berjalan kaki, tapi hari ini mereka hanya menatap.


Tak lama Mayang tiba di rumahnya, terlihat dua orang wanita berdiri di sana.


"Mama," lirih Mayang, ibu satu anak itu itu lalu mendekat kearah mertuanya, Mayang menyalim dengan takzim, wanita itu sadar jika adab di atas ilmu.


"Udah lama di sini, Ma?" Tanya Mayang pada wanita yang seumuran dengan ibunya itu.


"Udah," jawabnya ketus, sementara wanita yang satunya lagi Mayang tak mengenalinya, mungkin saja sepupunya Rohman juga.


Silahkan masuk, Ma. Mbak juga," kata Mayang saat pintu rumah telah terbuka sempurna.


"Ga usah. Di sini aja," manatap tidak suka kerah menantunya itu.


"Ga enak di lihat orang, Ma. Masa iya Mayang membiarkan Mama mertuanya duduk di luar," jelas Mayang. Walaupun jawaban mertuanya itu begitu ketus dan kasar, namun Mayang masih bersikap manis, dengan malas wanita paruh baya itu melangkah menuju kedalam, matanya memindai seluruh ruangam sambil mengangkat bibir sampingnya seolah ada rasa jijik.


"Jadi cucuku Ali tunggal di rumah kotor dan kumal ini?" Mertua Mayang itu berdiri saja di dalam, tak ingin duduk sama sekali di tikar dan kasur santai lusuh milik Mayang, Mayang hanya diam saja, ingin menghormati mertuanya itu.


"Penting ga sakit, Ma, duduk dulu, Mayang buatkan minum," ucap Mayang seadanya, padahal emosinya mau meledak. Anak dan ibu sama saja, sok bersih dan ngatur-ngatur.


"Ga usah duduk ga usah minun, ibu cuma bentar," kata mertua Mayang menyapu bajunya dengan tangan seolah banyak debu yang menempel.


"Ya, udah."


"Rohman sama Tuti bilang ini rumahnya Rohman. Berikan sertifika rumah ini, Mama mau bawa," katanya. Ibu mertua Mayang menatap tajam kearah menantunya.


"Ini rumah Mayang, Bu. Bang Rohman hanya merenovasi dapur dan saya sudah Mengganti uangnya kemarin di depan istrinya," kata Mayang santai. Dirinya berusaha mengontrol emosi pada orang yang lebih tua darinya.


"Jangan bohong kamu!" Hardiknya membuat Mayang semakin jengkel.


"Ga bohong, Ma. Rumah ini sebentar lagi mau Mayang jual karena nama di sertifikat atas nama Mayang," papar Mayang. Wanita di samping ibu mertua Mayang itu diam saja seperti manekin setelan pabrik.


"Ayo kita pulang aja, bawa polisi aja kesini biar wanita keras kepala ini kapok." Ancam mertua Mayang tersebut, namun Mayang hanya bersikap netral dirinya tak pernah goyah jika atas kebenaran. Tekatnya juga sudah bulat ingin menjual rumahnya karena dirinya malas jika terus-terusan berdebat sama Rohman yang tak pernah ada akhir.


Otak ibu mertuanya telah di cuci oleh Rohman demi kepentingannya dan istri barunya. Dari dulu ibu mertuanya tak pernah sekali pun ikut campur urusan rumah tangga anaknya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu keluar sambil menghentakkan kakinya, Mayang memandang heran pada mertuanya itu.


Mayang kembali masuk lalu ia membereskan beberapa pakaiannya dan Ali yang masih bagus, sisanya akan ia bakar, termasuk kasur lusuh yang dulunya ternyaman menurutnya.


Terkadang rasa bersyukur yang membuat kita merasa beruntung dan bertahan dalam suatu keadaan.


"Assalamualaikum..." Ucap seseorang di ambang pintu, suara yang begitu ia kenali.


"Masuk, Bik," kata Mayang setelah menjawab salam.


Wanita yang lebih tua dari ibunya Mayang masuk kedalam rumah Mayang bersama seorang laki-laki seusia Mayang.


"Kenalin ini tetangga anak Bibik yang ingin membeli rumah kamu," ungkap bik Sora sambil menjatuhkan bokong di tikar lusuh milik Mayang, tempat yang biasa Rohman tidur beristirahat sebentar.


"Oh iya, Bik." Mayang menjabat tangan laki-laki itu.


Menceritakan sedikit masalah kenapa rumahnya di jual agar pemilik baru nantinya tidak terkena serangan jantung saat Rohman dan keluarganya datang.


Melihat semua ruangan, kamar dapur bahkan halaman belakang yang terbilang lumayan luas.


"Bagus rumahnya, Kak. Mana halaman belakang bisa nanam sayuran. Jadi istriku nanti ga suntuk kalo ga ada kerjaan," papar laki-laki itu dengan tawa sumringah. Mendengar perkataan laki-laki itu Mayang tersedak dengan salivanya sendiri. Pikirannya melayang saat Mayang bekerja begitu lelah namun tak pernah sekali pun suaminya menghargai pengorbanan istrinya.


"Kenapa Kak?" Tanya laki-laki itu heran.


"Semua sesuai yang kita tentukan tadi ya," kata laki-laki itu sambil tersenyum manis, sementara Mayang hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Tenggorokannya tercekat seakan tak mampu bersuara, menyadari dirinya dulu yang megitu bodoh.


____


Di tempat lain Anita dan Rohman ingin berangkat memeriksakan kandungan yang masih dini. Wanita itu selalu merengek manja dan tak mau mandi, Rohman sudah mulai merasa muak dan jenuh dengan tingkah istri barunya saat ini.


"Dek. Bisa ga kalo mau pigi itu mandi dulu," celetuk Rohman saat istrinya itu mengambil tasnya dan hendak berangkat kedokter bersama Rohman.


"Dingin loh, Bang. Makanya beli shower biar enak mandi," jawab Anita ketus. Wanita itu terlihat kesal sama Rohman yang sikapnya kini mulai sedikit menunjukkan perubahan.


"Hemat loh, Dek." Ia bangkit dari duduknya dan menatap istrinya.


"Hemat. Sampe kapan? Ibu hamil butuh butuh di perhatikan bukan di omelin." Tanpa menunggu jawaban Rohman wanita itu keluar rumah dengan muka kesal, Rohman mengekor di belakang Anita lalu mengunci pintu rumah kontrakannya.


"Bang." Senyumnya mengembang seketika.


"Apa lagi?" Tanya Rohman dengan lemas, dirinya malas berdebat dengan istri tercintanya.


"Aku punya ide, gimana kalau kita bawa aja Ali kesini biar Mayang mau membiayai Ali, kita buat banyak alasan kalo Ali banyak keperluan sekolahnya. Lumayan kan uangnya bisa buat belanja sama beli skincare," saran wanita hamil itu diiringi senyum bahagia.

__ADS_1


"Tapi...."


"Ga usah pake tapi, coba dulu jemput dia. Semoga nurut tuh anak," kata Anita. Sebenarnya dia ada rasa malas merawat anak kecil terlebih anak dari wanita lain.


"Iya. Nanti Abang coba," jawab Rohman singkat.


"Gitu dong, Bang. Nurut sama istri," kata Anita sambil tersenyum puas.


Rohman merasa kesal pada Anita karena wanita itu sering mengatur-atur dirinya dalam segala hal, untuk urusan makan, sabun kesukaan Anita dan bahkan soal tidur saja Rohman tak boleh menggunakan sarung, karena kata Anita seperti kakek-kakek kalau memakai sarung.


Anita mengandeng tangan Rohman berjalan kaki menuju yang depan. Tak ada kendaraan pribadi hanya naik angkutan umum untuk transportasi mereka.


Belum sampai persimpangan jalan, wanita hamil itu melihat mangga tetangga yang begitu banyak dan sebagian sudah ada yang matang.


"Bang. Mau," kata Anita menunjuk mangga yang banyak bergelantungan sampai keluar pagar.


"Jangan, Dek. Mangga orang," ucap Rohman, ia begitu berharap agar istrinya kali ini tidak minta yang aneh-aneh.


"Ambil satu aja," perintahnya, sambil terus merengek manja.


"Nanti dimarah sama yang punya," jelas Rohman dengan raut memelas.


"Aku teriakin maling kalo ga ya? Biar Abang di gebukin." Anita mengancam sambil memegang batu hendak melempar mangga itu.


"Jangan, Dek. Iya Abang ambil deh," kata Rohman dengan mengalah. Laki-laki itu sedikit berjinjit lalu meraih satu mangga dan memberikan pada Anita. Kebetulan jalan sepi dan pemilik tak ada, jadi mereka terselamatkan.


Beberapa langkah berjalan Anita mencium bau aroma yang begitu wangi menurutnya. Ada segerombolan kerbau sedang bermain kubangan di lapangan yang terlihat becek karena tak terawat, wanita hamil itu segera mendekat dan duduk di samping kubangan kerbau itu seraya mengendusnya.


"Ngapain, Dek?" Tanya Rohman saat melihat istrinya duduk sambil mencolek kubangan yang ada di hadapannya.


"Wangi ini bang, Nita bawa pulang, Ah." Mengambil ponselnya lalu melepaskan silikon ponselnya dan ia masukkan kubangan lumpur itu kedalam silikon ponsel miliknya.


"Jorok banget sih, Dek," ucap Rohman sambil menutup hidungnya.


"Jangan berisik," kata ibu hamil itu, lalu ia bangkit dan berjalan mendahuli Rohman.


"Kita pulang aja, Dek. Jijik Abang."


"Enak aja. Ga usah buang-buang waktu besok cari kerja lagi," kata Anita ketus.


Tak lama menunggu akhirnya angkutan umum datang, gegas Anita dan Rohman menaikinya. Beberapa dari mereka bergeser agak jauh mungkin karena bau lumpur dari dalam tas Anita.


"Cantik-cantik, kok bau kerbau sih, Mbak," kata supir angkot yang tak ditanggapi sama sekali oleh Rohman dan Anita karena mereka merasa begitu malu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2