CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 52


__ADS_3

Rohman mencoba tongkatnya lalu berjalan menuju gerbang masuk, matanya terbelak saat melihat orang yang begitu ia kenal kini berada tak jauh darinya, berusaha mengejar namun langkahnya terbatas.


.


.


Masih ada orang-orang baik di dunia ini diantara orang-orang tak peduli terhadap hidup orang lain.


Kunci utama kebahagiaan adalah rasa syukur seberapapun kita dapatkan asalkan halal, kunci keberhasilan adalah tekat yang kuat, usaha di bantu dengan doa.


"Anita," lirih Rohman sambil mempercepat langkahnya keluar dari gerbang yayasan.


"Anita!" pekiknya sambil melambaikan tangannya berharap wanita yang pernah menjadi istrinya itu menoleh kearahnya.


Namun sayang wanita itu tak mendengar bahkan tak menoleh kearah Rohman sama sekali, dengan lesu laki-laki bertubuh kurus itu membalikkan tubuhnya lalu menuju lesehan di mana teman-teman yang lain berkumpul.


Rohman duduk tepat di hadapan Nurul saat ini, mengambil jarum yang teronggok di depannya lalu merajut benang seperti yang diajarkan Nurul kemarin.


"Siapa tadi, Mas?" tanya Nurul tanpa melihat kearah lawan bicaranya saat ini, ia terus fokus merajut benang untuk di jadikan sweater.


"Mantan istri saya," lirih Rohman melirik sekilas kearah Nurul lalu kembali merajut.


"Mas baiknya lupakan saja masa lalu, karena kita sekarang berbeda dengan mereka," ucapnya santai, seolah wanita itu telah mengikhlaskan segala yang telah Allah tetapkan.


"Saya sedang belajar ikhlas," sahut Rohman tersenyum saat mata keduanya saling bersirobok.


Larut dalam aktivitas mereka hingga tapa mereka sadari waktu duhur telah tiba, salat berjamaah mereka laksanakan setiap harinya membuat suasana begitu damai, jika laki-laki bertubuh tembun sedang dalam keadaan tidak suka mengganggu.


.


.


.


_____


Di tempat lain. Kakak kandung Rohman itu datang dan menemui Mayang kerumah orang tua Mayang bersama Tuti si tukang fitnah.


Tuti tersenyum menggoda saat melihat Abizar sedang duduk di teras sambil menyesap kopinya dan sesekali menyentuh laptop miliknya untuk mengecek CCTV di perusahaannya.


"Cari siapa, Mbak?" tanya Abizar, ia meletakkan laptopnya lalu bangkit dari duduknya untuk menghargai tamu.


"Cari Mayang. Ada?" tanya Nila ketus sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


"Ada, sedang mandi. Tunggu sebentar," ucap Abizar lalu mempersilakan mereka duduk, namun mereka tidak mengindahkan perkataan laki-laki pemilik mata elang itu.


Laki-laki bertubuh gempal itu mengabaikan dua perempuan yang menurutnya tak begitu penting dan melanjutkan membuka laptopnya.


Tuti duduk di samping Abizar begitu dekat dan mengintip kearah laptop Abizar seolah mereka sudah mengenal lama.


"Abang siapanya Mpok Leha?" tanya Tuti pada Abizar dengan nada yang mendayu seolah ingin segera bermalam pertama dengan Abizar.


"Eum ... Saya ...." Belum selesai Abizar menjawab pertanyaan Tuti istrinya sudah keluar dari dalam dan memanggilnya.


"Eh ... Ada tamu," kata Mayang lalu mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Tuti dan Nila namun Nila secepatnya menepis tangan Mayang dan segera di sambut jabat tangan oleh Tuti yang sudah berada di samping Nila sebelumnya.


Wanita yang memakai bedak pemutih itu sudah bercerai dengan suaminya karena suaminya ternyata suka bermain judi online, sebab itulah dirinya selalu kekurangan nafkah. Karena tak ada ikatan pernikahan lagi ia berani mendekati Abizar.


"Ada apa, Mbak Nila datang kesini?" tanya Mayang tanpa basa basi, sementara Abizar tak ingin beranjak dari duduknya, ingin menyaksikan apa yang akan terjadi setelah ini walaupun ada rasa malas jika berurusan dengan perempuan.


"Kamu harus cari Rohman sampai ketemu, dia pergi gara-gara ibu kamu yang bilang jangan dekati kamu dan jangan temui Ali lagi, ibumu menganggap Rohman meracuni otak anaknya sendiri," jelas Nila sambil berkacak pinggang.


Dari mana Nila tahu kalau bukan Tuti biang dari semua ini.


"Buk Leha keluar!" pekik Nila sambil mendorong tubuh Mayang, tubuh berbobot di atas normal itu mendorong tubuh Mayang berulang kali hingga Mayang terhuyung.


Tergopoh-gopoh wanita paruh baya yang melahirkan Mayang keluar dari dalam rumahnya, tangannya yang basah ia lap di sarung yang ia kenakan.


"Tidak perlu, anda dan Mayang harus bertanggung jawab karena adik saya hilang gara-gara anda," ucapnya sambil menunjuk-nunjuk kearah Mayang dan Leha secara bergantian.


Wanita yang melahirkan Mayang itu menghela napas panjang lalu mengusap dadanya pelan, ia beristigfar lirih untuk mengontrol emosinya sebelum menjawab.


"Kenapa gara-gara saya? Saya hanya menyuruhnya menjauhi Mayang, mengatakan bahwa saya masih belum bisa memaafkannya ... Saya juga mengatakan ...."


"Nah kan! Ibumu ini baik di muka tapi hatinya busuk, Allah aja maha pemaaf, masa anda tidak, Buk?" Nila berkata sinis sambil melayangkan tatapan mata yang naik turun kearah Leha.


"Terserah apa kata kamu, Nila. Saya tidak ingin Rohman terus menerus mengatakan kalau orang baru yang ada di dekatnya mengatakan tidak menyayangi Ali," lirih wanita yang telah melahirkan Mayang itu sambil menahan tangis.


Air bah asin sudah tergenang di pelupuk matanya dan akan siap tumpah, ia melirik kearah Mayang lalu mengalihkan pandangannya kearah Abizar.


"Tuh bener. Udah tua masih aja ga bisa maafkan kesalahan orang, dah bau tanah loh, Buk Leha," tutur Nila setelahnya Nia tergelak, wanita paruh baya yang berada di samping Mayang itu menjatuhkan bulir bening yang tak sanggup lagi ia tahan.


"Terserah apa kata, Mbak Nila. Saat ini bang Rohman sudah pergi dan bukan urusan saya karena saya tidak ada ikatan apapun lagi dengan adiknya Mbak Nila. Paham?!" Mayang mengeser tubuh wanita yang telah melahirkannya itu dan menyuruhnya untuk duduk di samping Abizar.


Kini posisi Tuti duduk dengan Abizar semakin dekat, laki-laki yang bergelar suami Mayang itu hanya diam dan menyimak walaupun dalam hatinya saat ini sangat ingin mengusir wanita bermulut ember itu.


"Halah ... Bilang aja masih ingin balik ...." Nila tersedak dengan air yang begitu banyak masuk dalam mulutnya.

__ADS_1


Nila sama sekali tak menyangka bahwa air satu timba kecil yang di ambil Mayang dari keran depan rumah yang sudah ia tampung semalaman mengguyur tubuhnya saat ini.


Laki-laki bermata elang itu bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Mayang, walaupun Tuti berusaha mencegah Abizar untuk bangkit dari duduknya.


Benar seperti yang Abizar khawatirkan tangan wanita bertubuh gendut itu melayang dan mendarat di pipi Abizar yang segera berdiri di depan Mayang.


"Maaf, Bang. Ga sengaja," kekeh wanita bertubuh gemuk itu.


"Iya. Tapi tunggu saya juga mau ngasih hadiah untuk, Mbak," ucap Abizar lalu bergeser dan mengunci tangan Nila dari belakang.


"Lepasin atau aku teriak." Nila mengancam namun Abizar berbisik lirih di telinga Nila hingga wanita gemuk itu bergidik ngeri.


"Lepasin aja sih, Mas. Lagian Mayang juga salah kok," ucap Tuti seolah dirinya saat ini adalah istri Abizar dan dapat menguasai keinginan laki-laki bertubuh gempal itu.


"Balas, Mayang!" Perintah Abizar membuat mata Mayang membola sempurna, begitu juga dengan Tuti dan Nila sementara wanita yang melahirkan Mayang sudah masuk kedalam rumahnya.


Ibu satu anak itu mengangguk mantap lalu membalas tamparan di pipi Nila dengan sekuat tenaga sebagai pembalasan yang ia rasakan dan suaminya rasakan.


"Ini karena Mbak berani nampar suami saya dan menampar saya saat bertamu kerumah mantan mertua saya," kata Mayang, ibu satu anak itu membasuh tangannya dengan air keran seolah jijik telah menyentuh Nila, sementara Abizar menghempaskan pelan tubuh wanita yang berani menghina Mayang dan mertuanya itu.


"Berani kamu Mayang? Apa aku tidak salah dengar? Dia suamimu?" Nila memberondong beberapa pertanyaan yang malas untuk Mayang tanggapi.


"Nipu dia, Mbak. Masa ia si dekil dapat setampan ini," ungkap Tuti sambil terkekeh memperhatikan penampilan Mayang yang banyak perubahan, Abizar menyuruh Mayang mengenakan mahar pernikahan yang ia berikan dan membeli baju branded yang ia sukai.


"Apa sekarang aku masih sedekil saat bersama adiknya wanita ini?" tanya Mayang sinis, kali ini ia kehilangan kesabaran hingga melupakan tata krana pada orang yang lebih tua darinya.


"Ih. Tetap ga percaya walaupun kamu pake emas itu, kali aja emas palsu atau hasil jual anumu," ucap Tuti sambil melirik kearah Abizar, ia mengedipkan matanya genit.


Ibu satu anak itu mengambil air dan hendak menyiram kearah Tuti namun wanita yang memakai bedak pemutih itu terlebih dulu melarikan diri dan meninggalkan Nila sendiri.


"Tunggu, Tuti!" Nila membalikkan badan dan berjalan cepat menyusul Tuti yang terus saja berlari.


"Menyebalkan, moodku hilang. Malas buka toko," ucap Mayang lalu menjatuhkan bokongnya di kursi bambu panjang.


"Kasiannya istriku harus berurusan dengan mulut ember itu," kata Abizar lalu ia ikut menjatuhkan bokongnya di samping Mayang dan mengusap rambut istriya pelan.


Mayang memandang Ali sedang berjalan tertatih dan sesekali menggosok betisnya dari kejauha sambil sesekali menyeka sudut matanya. Bocah itu baru pulang dari sekolahnya.


"Ali?"


Mayang tergopoh-gopoh berlari mendekati Ali lalu memeluknya, begitu juga dengan Abizar yang khawatir pada anak tirinya itu.


"Lihat. Betis Ali lebam." Tunjuk laki-laki bertubuh gempal itu.

__ADS_1


__ADS_2