
POV Rohman
Entah kenapa rasa benciku kepada istriku itu semakin menjadi-jadi, wanita tak tahu diuntung, wanita munafik yang tidak tahu terimakasih. Rasa menyesal telah menikahi dirinya membuat pikiran buruk selalu di otakku, gara-gara wanita sialan itu aku terpaksa tinggal di rumah Anita, walau sebenarnya aku suka tinggal di sini tapi apa kata warga.
Untung saja otakku jernih menyuruh mbak Tuti mengompori warga agar warga ikut menggunjing Mayang.
Ah. Rasanya begitu bahagia saat mbak Tuti menelponku dan mengatakan bahwa dirinya berhasil mengompori beberapa warga, aku dan mbak Tuti sangat menginginkan rumahku, bukan bukan tepatnya itu rumah Mayang, tapi aku ingin memiliki dan menjualnya, rumah itu sedikit ada campur tanganku merenovasi dapur dan kamar mandi, walaupun satu juta tapi uang itu sangat kubutuhkan.
Keadaannya kini berbeda. Ali anakku menyaksikan bagaimana aku berbicara kasar terhadap ibunya, semoga kelak anak itu tak membenciku.
Ah, iya baiknya aku segera mengurus hak asuh Ali agar anak itu jatuh ketanganku, berbahaya jika Ali terus bersama Mayang, ibunya itu bisa mencuci otak anakku.
"Abang. Cepat." Suara Anita membuyarkan lamunanku. Wanita yang akan kunikahi kini tampil memukau dengan rok mini, baju ketat dan rambut tergerai.
"Ya, Sayang." Kuambil alih koper di tangan Anita.
Kami malam ini akan pergi dari kampung yang menurutku sangat menjengkelkan. Daerah yang menghukum masyarakat sesuka hati mereka.
"Kok lama banget taksinya ya?" tanya Anita mengerucutkan bibirnya satu senti, membuatku gemas.
"Mungkin macet, Dek," ucapku berusaha menenangkan dirinya. Wajar saja wanita pujaanku pasti takut jika ketahuan sama warga, sebenarnya aku juga takut.
"Abang sih lemah banget! Masa ngambil mobil sama perempuan kampung itu aja ga bisa!" Keluh Anita, sepertinya dia mulai kesal padaku.
"Bukan ga bisa, Dek. Tapi ada ibunya." Elakku. Sebenarnya memang benar ada ibunya, aku juga takut jika harus berurusan dengan polisi seperti yang dikatakan wanita tua itu.
"Nenek-nenek tinggal bentak langsung kena serangan jantung!" Cibir Anita. Aku tersenyum memandang wajahnya yang kesal semakin terlihat manis, sama sekali tak memancing amarahku. Berbeda jika melihat Mayang merajuk atau emosi, aku semakin tersulut emosi dibuatnya. Tuhan apakah ini cinta sejati.
Satu jam menunggu akhirnya taksi sampai di depan rumah, aku dan Anita naik kedalam taksi bersama karena motor ninja kesayanganku sudah kujual karena kami butuh modal untuk menikah dan buka usaha kecil-kecilan. Oh ya, rumah cicilan juga sudah kualihkan cicilan untuk temanku dengan pemotongan satu juta, sebenarnya rugi tapi ya sudah memang ini resiko dalam suatu bisnis.
"Kok lama banget sih?" Tanya Anita pada supir itu dengan nada kesal.
"Macet, Mbak." Sebenarnya supir taksi itu terlihat kesal juga, nampak dari raut wajahnya yang tak bersahabat.
Setelah memasukkan dua koper baju, kebanyakan baju Anita di dalamnya, memang begitulah wanita banyak membeli pakaian yang sebenarnya tidak begitu butuh.
Semoga setelah menikah Anita tidak seperti Mayang yang jorok dan tidak mementingkan penampilannya, baru beberapa menit perjalanan Anita sudah terlelap dan bersandar di bahuku. Romantis sekali, tidak seperti Mayang yang tak pernah bermanja-manja padaku, lagian aku malas jika Mayang bermaja padaku, tubuhnya bau makanan membuat aku eneg.
__ADS_1
Dua puluh menit perjalanan kami sampai di hotel yang sudah kami pesan tadi siang, tidak terlalu mewah karena jika hotel mewah maka akan banyak pengeluaran, sedangkan kami harus berhemat.
Yatuhan. Mengingat aku kehilangan pekerjaanku membuat pikiran dan otakku pusing, salah satu teman kerjaku melaporkan pada kepala bidang bahwa aku dan Anita sudah seminggu tidak masuk kantor, otomatis kami dipecat dengan cara tidak terhormat.
"Bang. Gendong." Anita merengek minta digendong menuju kamar hotel, karena matanya masih mengantuk.
"Pengantin baru ya, Bang?", Tanya supir taksi itu sambil tersenyum lalu tangannya segera mengeluarkan koper dari dalam taksi. Aku hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan supir itu. Malu, itu yang kurasa saat ini tapi tak apa, Anitaku manja. Aku suka itu.
Dengan terpaksa kugendong Anita yang masih memejamkan mata, untung saja tubuhnya mungil jadi tak begitu berat.
"Bang. Tolong bawakan koper kedalam ya!" Pintaku pada supir taksi yang belum beranjak karena belum kubayar.
"Siap!"
Aku berjalan terlebih dulu mengambil kunci kamar lalu berlalu menuju lantai dua kamar paling ujung.
" Makasih, Bang," ucapku pada supir taksi setelah merebahkan tubuh Anita di atas ranjang.
"Totalnya dua ratus lima belas ribu, Bang," ujar supir taksi itu membuat aku melongo tak percaya.
"Ga salah kok, Bang. Semuanya sudah sesuai tarif yang berlaku," jawabnya tersenyum membuatku muak.
"Diskon deh, Bang," pintaku dengan senyum terpaksa.
"Diskon lima belas ribu deh. Deal!" Katanya dengan senyum yang masih sama. Sungguh memuakkan masa diskon cuma lima belas ribu. Yang benar saja.
Kurogoh saku lalu kuambil dompet, kutarik uang dua ratus ribu. Sengaja kuperlihatkan uang banyak padanya agar dia iri, senang sekali hatiku jika semua orang iri padaku. Supir itu keluar dengan wajah masam, siapa suruh pasang tarif begitu mahal.
Anita, wanita yang manis dan sebentar lagi akan jadi istriku. Aku membaringkan diri di samping Anita yang sudah sampai ke alam mimpi, sedangkan aku masih memikirkan agar mobil yang ada pada Mayang jatuh ketanganku.
Aku dengan sengaja membuat Mayang mengurus segala perceraian kami nanti di pengadilan agama, nantinya akan kupersulit agar mobil, rumah dan hak asuh Ali jatuh ketanganku. Siapa suruh dia membuat warga kampungnya menyaksikan aku dihukum cambuk.
___
Pagi menyapa, kembali hati dan pikiran ini diusik suasana keramaian. Aku mengusap lembut wajah calon istriku yang masih terlelap.
"Dek, bangun."
__ADS_1
"Masih mengantuk." Tangannya meraih tanganku dan memasukkan kedalam rok mininya.
"Dah pagi, Dek," kataku tersenyum kecil.
Sepertinya Anita bergairah pagi ini. Aku akan bermain-main sebentar setelahnya kami akan sarapan, tak ada salahnya jika aku sarapan serabi dulu, aku menyeringai kearahnya.
Berlahan kulucuti pakaian Anita dan meremas bukit yang masih terasa hangat, kucium tengkuknya membuat dirinya menggeliat manja. Aku menjalankan aksiku hingga kami berdua sama lelahnya dan berpeluh.
"Kamu puas?" Tanya disela nafas kami yang masih menggebu.
""Ya." Hanya itu yang mampu ia ucapkan sambil tersenyum dan memelukku.
Masih kugoda Anita dengan meraba area bawahnya yang masih basah bekas cairan yang kutuangkan, Anita tergelak. Kupandagi setiap inci wajah mulus Anita, tak ada celah untuk aku mencelanya. Aku seperti mabuk dibuatnya.
Kami segera membersihkan diri bersama, saling menyabun badan. Hal ini tak pernah kulakukan bersama Mayang, lagipula Mayang tubuhnya sangat kotor.
Usai membersihkan diri, berganti pakaian terbaik agar tidak dianggap miskin, aku dan Anita segera keluar mencari makanan terdekat saja karena tidak ada kendaraan, jika naik ojek pasti akan ada uang keluar lagi.
"Dek mau pesan apa?" Saat aku dan Anita tiba di restoran dekat dengan penginapan, namun Anita hanya diam saja.
"Dek mau makan apa?" Tanyaku lagi pada calon istriku yang sedang menatap beberapa menu makanan.
"Mau ini." Anita menunjukkan makanan dengan harga yang lumayan mahal membuatku menelan saliva.
"Mahal, Dek," keluhku, berharap Anita tak jadi memesan makanan mahal itu, mengingat kami harus berhemat.
"Ih. Segini aja, Kok." Ia mulai merajuk, membuatku gemas. Kupesan makanan yang ia mau agar tak terlihat pelit. Bisa-bisa nanti Anita akan meninggalkanku. Tak lama makanan datang, secepatnya aku mengambil dan menghabiskan makananku tapi tidak dengan Anita, dia hanya memandang dan memakannya beberapa suap.
"Kenapa, Dek. Apa ga enak?" Tanyaku saat ia masukkan makanan kedalam mulutnya dengan malas. Anita mengangguk lalu menyodorkan makannya itu kearahku, kulihat Anita seperti mau muntah.
Huek....
Benar saja, ia memegangi perutnya dan menutup mulutnya lalu menuju kamar mandi, biarkan saja dia memuntahkan semuanya. Apa jangan-jangan Anita hamil, tapi kenapa cepat sekali.
Baiknya nanti saja sampai kekamar kutanyakan pada Anita langsung, apa dia benar hamil atau mungkin hanya masuk angin saja.
Bersambung....
__ADS_1