
"Ayo pulang!" perintah laki-laki bertubuh gemuk itu sambil menyeringai kearah Nila. Sementara Tuti yang takut memutar balik badannya dan berlari kembali kerumah Yeyen.
"Ga mau, Bang. Adek mau di rumah Mama, Adek capek serumah sama Abang selalu di suruh jual benda haram itu," ucap Nila sambil terus berusaha melepaskan cengkraman laki-laki bertubuh gemuk di hadapannya saat ini.
"Wajib bantu suami," imbuhnya membuat Nila menelan Saliva.
Wanita gemuk itu selalu memarahi kedua anaknya saat mereka minta pulang, tapi kali ini ayahnya sendiri yang akan menjemput anaknya.
Dengan langkah lebar laki-laki bertubuh tinggi dan gemuk itu menuju rumah Yeyen.
Ia menyalin Yeyen yang sedang duduk di teras, wanita paruh baya itu meletakkan jarum jahitnya saat menantunya menyalinnya sementara Tuti bersembunyi di belakan tubuh Yeyen kerena takut.
"Maaf jika selama ini istri saya merepotkan Mama," tuturnya lalu memberikan kode pada Nila untuk segera bersiap dan mempersiapkan anak-anaknya.
Nila wanita yang begitu egois, dia bahkan tega meliburkan anak-anaknya sekolah hanya demi menghindari suaminya.
Laki-laki bertubuh gemuk dan tinggi itu menyuruh Nila menjual g*nja keluar kota agar kebutuhan mereka terpenuhi, sering Nila menolak namun laki-laki itu selalu memaksa.
Kelakuan suaminya yang kejam berlahan merubah sikap Nila yang lembut menjadi bringas dan kasar.
Usai mempersiapkan semuanya Nila menyalim Yeyen lalu pergi meninggalkan pekarangan rumah yang penuh kenangan masa kecilnya.
.
.
.
______
Di tempat lain Rohman keluar dari yayasan sebentar, laki-laki bertubuh kurus itu lagi-lagi melihat Anita keluar dari klinik pengobatan saraf yang tak jauh dari yayasan tempat ia tinggal saat ini.
Laki-laki berkulit putih dan kurus itu duduk di depan klinik setelah memastikan tadi pagi Anita benar-benar masuk kedalam klinik. Tak ada maksud lain, ia hanya ingin meminta maaf pada wanita yang telah ia talak itu.
"Mas, sedang apa di sini?" sapa Yazidin sambil mengulurkan tangannya kearah Rohman yang terlihat seperti melamun.
"Mas!" Yazidin meninggikan suaranya.
"Ya, maaf. Ga dengar, ada apa ya, Mas?" tanya Rohman pada laki-laki yang sekarang sudah menikah dengan Anita saat ini.
Sepertinya Rohman sudah tidak mengenali Yazidin saat ini, ia lupa pada wajah laki-laki yang pernah ia pergoki saat satu ranjang dengan mantan istrinya saat itu, sementara Anita tersenyum menatap kearah Rohman sambil mengulurkan tangannya.
Ia seperti tak pernah melakukan dosa saat bertemu dengan Rohman, sedangkan Rohman dengan cepat membalas menjabat tangan mantan istrinya.
"Maaf, Mas. Istri saya saat ini sedang depresi, mohon maafkan segala kesalahannya," pinta Yazidin penuh permohonan pada Rohman.
"Aku sudah memaafkan dia sebelum dia meminta maaf dan mohon maafkan saya juga Anita," ucap Rohman, lalu laki-laki bertubuh kurus itu bangkit dari duduknya, sementara Anita hanya mengangguk menanggapi permintaan maaf dari Rohman.
Meninggalkan klinik saraf, ternyata matanya masih belum rabun, masih mengingat setiap inci wajah dan tubuh mantan istrinya.
__ADS_1
Saat hendak menuju yayasan ia melihat toko mainan yang menjual bermacam mainan, pikirkannya kembali ke beberapa tahun lalu saat anak semata wayangnya meminta mainan, ia dengan sigap melarang dengan alasan tak ada uang.
Tanpa terasa ia menjatuhkan bulir bening, kakinya masih enggan beranjak dari depan toko itu, Rohman mengelus dinding kaca lalu hendak masuk kedalam toko mainan anak-anak itu.
"Heh. Mau nyuri di sini?" Tanya laki-laki yang seumuran dengan Rohman itu.
"Tidak. Saya ingin membeli," lirihnya sambil mengulas senyum, namun laki-laki seusianya itu tak percaya begitu saja perkataan Rohman.
"Pengemis mana ada uang," ucapnya pelan lalu meninggalkan Rohman begitu saja.
Wanita paruh baya yang melihat aksi laki-laki itu mengeleng pelan, ia mengandeng bocah kecil berusia enam tahun.
"Masuk aja, Mas. Ga usah dengarkan Abang tadi," tuturnya, wanita paruh baya itu membiarkan Rohman masuk terlebih dahulu.
Rohman berjalan tertatih, ia di bantu tongkatnya berjalan masuk berlahan, melihat pajangan mainan dengan tempelan harga yang fantastis.
Lama ia memandangi satu robot besar dengan menggunakan remote control harganya hampir lima ratus ribu rupiah, dulunya dengan mudah ia beli tapi berkilah agar tidak membelinya tapi saat ini ia ingin membeli namun tak ada uang sama sekali.
Wanita paruh baya tadi sedang memperhatikan Rohman dengan tatapan nanar, dengan langkah gontai Rohman kembali kleuar dari toko mainan. Setidaknya ia tau harga mainan itu saat ini berapa, jadi ia akan mengumpulkan uang agar cepat bisa membelikan mainan seperti permintaan Ali saat ini.
Laki-laki bertubuh kurus itu kembali ke yayasan, namun di sana ada kegaduhan. Menyebut nama dirinya seolah Rohman adalah dalang dari masalah mereka saat ini.
"Itu dia, Pak!" teriak laki-laki bertubuh tembun itu menunjuk kearah Rohman yang masih berada di gerbang.
Kepala yayasan mendekat kearah Rohman memindai wajah yang bingung di hadapannya saat ini.
"Ini laki-laki yang udah nyuri, saya lihat dia membuka tas Angga. Masa si Angga nuduh saya, padahal sebelumnya ga pernah ada kehilangan apapun," ucap laki-laki bertubuh tembun itu sambil menunjuk-nunjuk kearah Rohman.
"Diam!" teriak ketua yayasan membuat semuanya mematung, mereka kembali ketempat dimana tadi berkumpul.
"Ikut saya ke kantor!" lanjutnya sambil menggandeng tangan Rohman menuju kantor yang terpisah dari yayasan.
Ketua yayasan takut kalau Rohman bisa di keroyok dan dipukul saat ini, sementara Rohman hanya menurut saja dan mengekor di belakang laki-laki yang usianya tak jauh beda dengannya saat ini.
.
.
Setelah tiba di kantor Rohman dipersilakan duduk, ketua menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Saya tidak melakukannya," kata Rohman pelan, tubuhnya bergetar menahan amarah, ia ingin memukul laki-laki bertubuh tembun itu.
"Saya tau, tapi jika tidak ada bukti saya harus berbuat apa. Semenjak CCTV rusak saja ga bisa memantau begitu detail," jelasnya sambil menggaruk kepala plontosnya.
Nurul datang dan berdiri di ambang pintu, ia mengetuk pintu kantor yang terbuka.
"Masuk, Mbak Nurul," lontar laki-laki berkepala plontos yang bergelar ketua yayasan.
"Saya punya saksi lain yang melihat bahwa yang mencuri bukan Rohman," ungkap Nurul sambil menyuruh masuk teman satu kamar laki-laki bertubuh tembun tadi.
__ADS_1
Entah mengapa laki-laki bertubuh tembun itu begitu benci pada Rohman hingga ia melakukan apapun agar Rohman jauh dari yayasan ini.
"Apa yang kamu lihat?" tanya ketua yayasan pada teman satu kamar laki-laki bertubuh tembun itu.
"Mesa yang mencuri bukan Rohman," ungkapnya membuat Rohman terperangah begitu juga kepala yayasan yang menyelenggarakan kepalanya tak percaya.
"Apa motifnya melakukan ini semua. Sial, sudah seperti polisi saja aku," imbuhnya membuat Nurul mengulum senyum.
"Karena Rohman dekat dengan Mbak Nurul, si Mesa suka sama Mbak Nurul makanya dia ingin Rohman pergi dari Yayasan," jelasnya membuat Rohman berdecak kesal.
Nurul yang mendengar perkataan teman sekamar Mesa mengeleng tak percaya, pantas selama ini ia tidak memiliki teman laki-laki. Padahal Rohman dan Nurul hanya berteman, walaupun antara laki-laki dan wanita tak ada yang namanya teman. Berlahan tapi pasti rasa cinta pasti ada.
"Terimakasih sudah mau memberi penjelasan, sekarang kalian semua boleh keluar. Bikin pusing kepala saya," kata laki-laki berkepala plontos itu sambil bangkit dari duduknya.
Toa kecil ia siapkan di tangannya dan keluar dari kantornya.
"Semua berkumpul," pintanya dengan mengunakan pengeras suara.
Semua kembali berkumpul di halaman yayasan, setelah gerbang di kunci sebelumnya.
"Mese kenapa kamu memfitnah Rohman?" tanya kepala yayasan sambil menatap wajah Mesa yang berdiri di barisan depan.
"Kalau kamu mencintai seseorang sebaiknya bersaing secara sehat," lanjut ketua yayasan, setelahnya tersenyum menatap Nurul yang sekarang pipinya sudah bersemu, sedangkan Mesa menunduk malu.
"Wu." Semua bersorak dan mengolok Mesa yang menunduk malu, saat ini bahkan ia tak berani menatap siapa pun yang ada di hadapannya saat ini termasuk Rohman.
Semua bubar meninggalkan halaman dan masuk kedalam yayasan karena adzan dhuhur sudah berkumandang.
Sebentar lagi Rohman akan melanjutkan merajut dengan cepat, tekatnya membelikan mainan untuk Ali begitu kuat, ia ngin anak semata wayangnya mengenang kebaikannya di sisa akhir hidupnya nanti.
.
.
.
_____
Sore pun menjelma, di rumah orang tua Abizar sedang mengadakan acara masak memasak.
Wanita cantik yang melahirkan Abizar itu memerintahkan anak perempuannya menelpon Kakaknya yang mulai jarang pulang.
"Kak. Mama kangen, katanya mau ngadain perkumpulan keluarga besar," ucap adik dari Abizar itu setelah panggilan terhubung kegawai milik Abizar.
"Ya, nanti. Sendiri aja kan?" seloroh Abizar membuat Miska memanyunkan bibirnya.
"Sama, Mbak Mayang," ucap gadis berambut cokelat itu.
"Iya. Ntar malam kan?" tanya laki-laki pemilik mata elang itu.
__ADS_1
"Iya, masa tahun depan," seloroh Miska membuat Abizar tergelak begitu juga gadis berambut cokelat itu. Tak lama panggilan pun berakhir.