
Langit semakin kelabu, seperti suasana hati Mayang saat ini. Mayang memejamkan mata masih duduk di bawah pohon menikmati angin yang semakin berembus menerpa dedaunan hingga daun itu melambai indah.
"Assalamualaikum," ucap seseorang lalu duduk di samping tubuh ramping Mayang, mata elang itu mentap setiap helai rambut Mayang yang di embus oleh angin.
"Lupa sama janji?" Abizar berbisik di telinga Mayang hingga membuat wanita itu menoleh kesamping.
"Aku tidak pernah lupa, cuma akhir-akhir ini aku terlalu sibuk," ucap Mayang menatap manik mata keabuan milik Abizar.
"Menghilang kayak di telan bumi," kekehnya membuat Mayang berdecak kesal.
"Menyingkir, aku lagi menikmati syahdu hujan," lirih Mayang menolak tubuh gempal itu pelan.
"Aku juga," ucapnya tak goyah sedikit pun.
Keduanya larut dalam rintik hujan yang berlahan membasahi tubuh keduanya, abhizar yang kebetulan lewat di jalanan itu melihat Mayang melamun, ia laki-laki bertubuh gempal itu telah jatuh cinta pada Mayang sejak pandangan pertama.
Rintik hujan tak pernah mau mengalah pada dua insan yang sekarang sedang kedinginan, ia terus mempertahankan dirinya.
Tubuh Mayang tergugu, tangis dalam kepiluan begitu menyiksa dirinya saat ini, kujan sebagai penyamar tangisnya yang berusaha ia sembunyikan.
Sejak pertemuan kembali dengan Rohman kondisi ayah dari anaknya itu semakin memprihatinkan bahkan Mayang seakan ikut merasakan pahitnya hidup laki-laki yang dulu pernah merajai hatinya.
Ibu satu anak itu bertemu dengan Rohman di pasar lalu diam-diam mengintip ayah dari anaknya itu tinggal di mana, air matanya luruh saat ia tahu Rohman di campakkan oleh keluarga yang dulunya sangat ia banggakan.
Hatinya melemah, ibu satu anak itu telah memaafkan apa yang telah Rohman lakukan padanya dulu.
"Jangan menangis di sini," lirih Abizar menyentuh pundak Mayang pelan, ia tersenyum saat Mayang berusaha menyeka air matanya.
"Ga kok, cuma ...." Suaranya tertahan saat Abizar menarik lengannya sedikit kasar agar mereka menjauh dari bawah pohon tersebut.
Cuaca semakin dingin, Abizar memaksa Mayang masuk kedalam mobilnya namun wanita itu menolak, Mayang lebih memilih pulang bersama motornya dalam rintik hujan yang tak kunjung berhenti, ia membelah jalanan yang di guyur hujan, beberapa saat perjalanan akhirnya ia sampai di rumah.
Laki-laki bertubuh gempal itu mengikuti Mayang hingga kerumahnya, Abizar mengantikan pakaiannya di dalam mobil lalu ikut masuk kedalam rumah orang tua Mayang tanpa di izinkan oleh pemiliknya.
"Mau ngapain?" Tanya Mayang menatap mata elang Abizar penuh selidik.
"Mau minta izin sama Ibuk kamu," ucapnya santai sambil memindai setiap sudut ruangan.
Matanya tertuju pada foto lama yang terpajang di dinding. Foto keluarga ibu, ayah, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang bisa di pastikan itu adalah Mayang.
"Izin apa? Mau nginap di sini?" Mayang mengernyitkan dahinya merasa heran pada sikap laki-laki yang baru beberapa bulan terakhir ini ia temui.
"Tidak. Saya ingin melamar ... Wanita itu!" Abizar mendekat kearah foto lalu menunjukkan kearah anak-anak polos dalam bingkai foto tersebut.
__ADS_1
Mayang mengulum senyum, tanpa merespon apapun ia meninggalkan ruang tamu dan masuk kedalam kamar untuk mengantikan pakaian.
Tak lama wanita yang melahirkan Mayang itu keluar lalu bersalaman dengan Abizar, mereka saling bertukar cerita, bahkan nenek Ali itu menceritakan sa kecil Mayang hingga membuat laki-laki tertawa terbahak.
.
.
.
____
Di tempat lain, Rohman duduk termenung. Bingung harus memutuskan apa, satu sisi ia ingin membeli obat satu sisi lainnya ia ingin membeli sepeda seperti yang pernah Ali minta padanya waktu mereka masih bersama.
Rohman merutuki kebodohannya, ia tak pernah mengingat Ali saat uang yang ia miliki lebih dari cukup untuk menyenangkan anaknya.
.
.
Senja berlahan menghilang, meninggalkan Rohman dan masa lalunya dalam pekat malam.
Langkah kaki yang di bantu tongkat itu melangkah gontai menyusuri jalanan licin, menyetop angkutan umum lalu naik perlahan, beberapa dari mereka memberi ruang lebih untuk Rohman.
Beberapa jam berlalu ia sudah membawa pulang obat di tangannya, rasa rindu pada wanita yang telah melahirkannya tidak dapat ia singkirkan. Laki-laki bertubuh kurus itu kini ragu harus melangkah kemana, takut jika kakak kandungnya menghina dirinya lagi.
"Assalamualaikum." Rohman mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada sahutan, hanya suara televisi yang berbunyi, sedangkan jam dindingasih menunjukkan pukul delapan malam.
"Ibuk," pekiknya begitu keras dan mengetuk kembali pintu rumah yang penuh kenangan masa kecilnya itu.
Dua kali ketukan dan ingin memanggil kembali tiba-tiba gagang pintu berputar.
Keponakan Rohman membuka pintu dan menatap datar kearah Rohman yang mengulas senyum pada anak yang usianya selisih dua tahun dengan anaknya itu.
"Nenek mana?" Tanya Rohman lembut pada anak perempuan yang biasa memanggilnya Om itu.
"Nenek saki, Om. Bunda ga punya uang tuk bawa nenek berobat," jelasnya membuat Rohman menyentuh dadanya yang terasa nyeri. Begitu tega Kakak kandungnya membiarkan wanita yang telah melahirkan mereka itu menahan sakit.
Tergesa Rohman masuk kedalam rumah lalu menuju kamar Yeyen yang bersebelahan dengan kamar yang ia tempati dulu.
Matanya memandang iba pada Yeyen yang terbaring lemah dan terlihat sedikit kurus. Berlahan Rohman dekat, meletakkan tongkatnya lalu duduk di samping ranjang.
Nila yang sedang menyuap bubur ke mulut Yeyen terlihat begitu kasar, sehingga sesekali terdengar suara dentingan sendok mengenai gigi Yeyen.
__ADS_1
"Pelan-pelan, Kak," lirih Rohman menatap kearah kakaknya yang tengah masang muka tak suka.
"Kamu ga usah protes, kalo engga rawat Mama, kakak mau pulang ke tempat suami lagi," hardiknyabuat Rohman menatap tak suka kearah kakak kandungnya itu.
"Kakak sudah ga anggap aku sebagai anak Mama, bahkan aku pergi dari rumah ini aja ga ada yang menahan kepergian-ku," lirih Rohman menatap kearah Yeyen yang sedang menjatuhkan bulir bening.
"Terus ngapain balik?" Nila tersenyum sinis menatap adiknya itu.
"Aku kepikiran sama Mama, makanya aku kesini," lirih Rohman, ia mengambil alih mangkuk yang di letakkan Nila di atas nakas lalu berlahan ia menyuapi Yeyen.
"Maafkan Mama, Nak," lirih Yeyen sesaat setelah bubur yang ada dalam mangkuk sudah tandas, sementara Nila sudah meninggalkan kamar Yeyen sejak tadi.
"Rohman sekali pun tak pernah marah sama Mama," laki-laki kurus itu mengulas senyum kearah wanita yang telah melahirkannya itu.
"Eti sudah menjual motor yang kamu beli, dia sekarang kerja di dekat kampusnya. Ia menitipkan uang motor yang ia jual pada Mama, katanya suruh kasih sama kamu," papar Yeyen dengan suara bergetar, ia memaksakan berbicara pada Rohman.
"Tapi kan rugi, pasti haganya turun," jelas laki-laki berjambang tebal itu. Kini Rohman terlihat tidak terurus.
"Katanya buat berobat kamu, sebenarnya kamu sakit apa?" Tanya wanita yang melahirkan Rohman itu serius, ia pandang lekat manik mata anaknya mencari jawaban di sana.
"Tapi Mama harus janji ga akan membenci Rohman," lirih kali-kali kurus itu, kepalanya ia tundukkan sebagai penyesalan yang teramat berat, Yeyen hanya menanggapinya dengan anggukan.
"Sebenarnya Rohman menderita HIV," ungkap Rohman, seketika Yeyen menyentuh dadanya tak percaya.
"Maafkan. Rohman khilaf," sambung Rohman sambil menyeka sudut mata Yeyen yang terus saja menjatuhkan bulir bening.
Dada wanita yang melahirkannya itu terasa begitu sesak, tangannya menunjuk almari miliknya.
"Uang dari adikmu ada di situ," ucap Yeyen dengan suara bergetar.
"Rohman akan menelpon Eti dan menyuruh dia pulang, hatiku tak sanggup meliha Mama yang di perlakukan kasar sama Kak Nila," papar Rohman, menyentuh lembut tangan Yeyen lalu menciumnya, sementara Yeyen mengeleng lemah.
"Jangan. Biarkan adikmu fokus kuliah, Mama bangga jika ia sukses," jelas Yeyen membuat Rohman merasakan sesak di dadanya, selama ini ia belum pernah bisa membahagiakan ibu kandungnya itu.
Di kamar Nila ia sedang berpikir bagaimana supaya Rohman tidak mendapatkan warisan sama sekali, karena selama Rohman banyak uang ia sama sekali tak pernah memperhatikan Yeyen. Hanya Nila yang selalu mengirimkan Ibunya itu uang.
.
.
.
Jangan pernah menganggap seseorang lemah, karena orang lain juga akan menganggap kita demikian.
__ADS_1