
Malam merangkak naik, manusia yang masih dalam masa bulan madu itu sedang merasakan gundah.
"Kenapa merahasiakan kehamilan padaku?" tanya Abizar sambil menggenggam lembut jemari Mayang.
"Nanti kasih sayang kamu akan berubah pada Ali," ungkap Mayang serius, ia menatap manik mata elang Abizar. Kedua mata itu saling bersirobok.
Bukan hal mudah membuat hati percaya pada orang baru terlebih Mayang belum terlalu lama mengenal Abizar sudah menjadi suaminya.
"Bukankah sudah kukatakan padamu, aku mencintaimu tulus begitu juga dengan Ali. Sebelumnya sudah kukatakan ...." Abizar menghela napas panjang lalu mengecup punggung tangan Mayang.
Air mata ibu satu anak itu luruh begitu saja, sesak di dadanya kian terasa, mengingat masa depan yang entah seperti apa.
"Andai kita tidak berjodoh maka aku tidak akan melupakan Ali, anak baik itu telah merebut hatiku. Seperti ibunbundanya saat ini," lirih abizar, laki-laki bertubuh gempal itu sebenarnya takut kehilangan Mayang saat ini.
Wanita yang terbelenggu masa lalunya sangat sulit untuk di taklukkan hatinya, entah sampai kapan Abizar mampu bertahan dalam situasi seperti saat ini.
"Entahlah, Abi. Hanya saja aku teramat takut untuk memulai lagi seperti dulu, aku menyesal karena tidak memakai kontrasepsi," imbuh Mayang. Tangan kirinya menyeka sudut matanya yang berair.
"Anak adalah rejeki, dia terlahir membawa rejekinya sendiri. Aku yang akan berjuang memenuhi nafkah untuk kalian semua," jelas Abizar, setelahnya ia mengulas senyum kearah Mayang.
Berlahan tubuh langsing Mayang ia rengkuh, merasakan detak jantung yang seirama napas keduanya mulai memburu merasakan hangat yang kian menjalar keseluruh tubuh.
Berlahan laki-laki bertubuh gempal itu mendekatkan bibirnya ke bibir Mayang, wanita cantik itu terpejam, berusaha berlahan menghapus masa lalu yang membelenggu wanita berambut sebahu itu.
Abizar ******* bibir tipis Mayang, tangan Abizar meraba bukit kembar istrinya menyusup kedalam.
Berlahan tangan kekar itu melepaskan piama yang Mayang kenakan, ibu satu anak itu pasrah dengan apa yang Abizar lakukan, tak ada niatnya untuk menolak karena Mayang juga tahu menolak ajakan suami maka malaikat mengutuknya sehari semalam. Mayang akan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Berlahan kembali Abizar ******* bibir tipis Mayang, hasratnya kian membara saat ini.
"Apa boleh?" tanya Abizar sambil membaringkan tubuh polos Mayang di atas ranjang, sementara Mayang hanya mengangguk pelan. Dengan nikmat sepasang suami istri itu mereguk nikmat madu dunia malam ini.
.
__ADS_1
.
Pagi menyapa dengan begitu dingin, sedangkan di belahan desa lain Yeyen sedang mempersiapkan bekalnya untuk ke sawah. Ada tetangga mengajaknya ke sawah jadi Yeyen berpikir bisa mengumpulkan uang untuk segera melunasi hutang pada Mayang walaupun gajinya tak seberapa.
Matahari masih bersembunyi di balik awan, gerimis rintik-rintik membasahi bumi. Yeyen mengerutu kesal, pasti ia akan kebasahan seharian ini.
"Gara-gara Nila. Anak di sayang ga tau diri," grundelnya sambil memasukkan bekal kedalam ransel kecil lalu mengendong rasel itu.
Yeyen berangkat ke sawah terdekat dengan rumahnya, sebenarnya dari dulu banyak yang mengajak Yeyen tapi wanita itu malas bermain lumpur, karena dulu Yeyen bisa mengandalkan Rohman dalam keuangan tapi kini wanita itu harus berusaha mencari uang sendiri demi menyambung hidupnya sementara Eti bekerja hanya cuku untuk makannya sendiri dan biaya kuliahnya sendiri.
.
.
Berbeda dengan keadaan Rohman saat ini, ia sudah mendapatkan uang lumayan banyak dari hasil membawa benda haram itu, ia berusaha membahagiakan Ali, niatnya hanya membahagiakan putra semata wayangnya.
Ingin sekali tubuh ringkih itu menemui Ali tapi keadaannya saat ini sedang tidak enak badan, ia mengeluarkan gawainya yang barusaja ia beli kemarin, nomor Tuti yang tersimpan dalam tasnya tergesa ia ambil.
"Assalamualaikum," ucap Rohman sesaat setelah panggilan terhubung.
Lagi-lagi uang yang menjadi permasalahan retaknya satu hubungan persaudaraan, bahkan adik kakak saling bermusuhan karena uang.
"Bukan, Mbak. Kirimin nomor rekening mbak kesini, aku lagi sakit jadi tidak bisa datang dan memberikan langsung pada Ali," jelas Rohman pelan, suaranya terlihat begitu lemah.
"Boleh ... Boleh. Tapi harus ada ongkos narik sama ongkos antar kerumah Mayang, soalnya Mayang kayak benci gitu sama aku," tutur Tuti di sebrang sana, nada bicaranya terlihat begitu kesal.
"Kok bisa gitu ya, Mbak. Setahuku Mayang orangnya jelas pemaaf," ibuh Rohman sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya ga usah di pikirkan, fokus sama kesehatanmu, aku pinjam uangmu sedikit to, Man? Mbak butuh buat bayar kontrakan," ucap Tuti dengan nada sedih.
"Iya, Mbak. Ambil aja seperlunya karena Ali lebih butuh untuk biaya sekolahnya," kata Rohman lagi, ia kini berusaha menjadi ayah yang baik agar Ali tak membencinya kelak.
"Halah, kan udah ada dari laki barunya si Mayang. Kayaknya engga pelit, tapi ga tau juga sih. Kemarin aku lihat laki-laki itu guyur tubuh Ali di teras pake air keran sampe si Ali teriak-teriak loh, apa yo ga kasian kamu. Kemarin udah di minta sama ibu kamu tapi Mayang ga ngasih Ali tuk ibu kamu. Kok tega anaknya di siksa sama bapak tirinya Ali, Mayang udah ga ada mata hatinya mungkin," beber Tuti pada Rohman melalui via telepon.
__ADS_1
"Masa begitu, Mbak?" tanya Rohman ragu tapi satu sisi ia merasa ada benarnya perkataan Tuti.
"Kalau engga percaya ya coba cek aja, cari tahu dari orang sekitar deh," usul wanita yang memakai bedak pemutih itu.
Setelahnya Rohman mematikan panggilan setelah mengucapkan salam sebelumnya.
Saat ini Rohman terbakar panasnya hasutan dari Tuti, ia merasa gagal menjaga putranya.
"Brengsek!" Maki Rohman lalu bangkit dari tidurnya dengan tertatih, ia menuju dapur sambil berpegangan pada dinding.
Sesampainya di dapur ia menegak air mineral hingga tandas, matanya kini memerah menahan amarah, bagaimana bisa Mayang membiarkan Ali merasakan sakit atas perlakuan suami baru Mayang saat ini.
.
.
Sedangkan Tuti tersenyum bahagia saat ini setelah panggilan dari berakhir, ia sudah rapi dengan gamis baru saja ia ambil cicilan dari sahabat Mayang yang membawa ke desa itu juga.
"Kita main cantik, jika tidak bisa membalas langsung, aku balas melalui orang lain." Wanita yang memakai bedak pemutih itu terkekeh kecil lalu keluar dari dalam rumah.
Tujuan Tuti saat ini adalah dukun terkenal di desa seberang sana, ia ingin memberikan pelet cinta pada Abizar agar laki-laki yang ia cintai itu bertekuk lutut di hadapannya.
"Eh ... Tuti udah rapi pagi-pagi, mau kemana?" tanya ibunya Ugik yang sedang membeli sayur matang tepat di samping rumah kontrakan Tuti.
"Mau cari laki yang tajir. Emang Mayang aja yang bisa dapat laki tajir," ungkap Tuti lalu memutar badannya ke kiri dan ke kanan usai mengunci pintu kontrakannya.
"Cie, gamis baru. Cicilan lagi, Ti?" Ibunya Ugik suka membakar emosi tuti akhir-akhir ini.
"Aku banyak uang sekarang, ga level lagi pake nyicil. Bentar lagi mau narik di rekening hasil ...." Ucapan Tuti langsung di potong oleh ibunya Ugik.
"Hasil ngelonte." Bu Ugik terbahak, sementara Tuti melepas sendalnya lalu melemparkannya ke kepala ibunya Ugik.
"Kurang ajar kamu!" bentak ibunya Ugik Sabil mengejar Tuti yang langsung berlari menuju jalan besar, kebetulan angkutan umum berhenti di jalan besar karena ada penumpang yang turun dari dalam angkutan umum itu.
__ADS_1
Sementara ibunya Ugik terengah-engan mengejar Tuti yang sudah begitu jauh, berat badannya yang membuat ibunya Ugik tidak sanggup berlari. Wanita yang sedikit gemuk itu kembali sambil membawa sebelah sendal bermerek milik Tuti, ia masuk kedalam rumah lalu mengambil minyak lampu dan korek kemudian kembali ke teras, ia menyulut sebelah sendal Tuti yang ada di tangannya saat ini.
"Rasain, main-main sama aku. Besok bisa-bisa jemuran kamu yang kubakar," grundel ibunya Ugik sambil tersenyum.