
POV Rohman
Hari ini mentari begitu terik dan menyengat kulitku yang sudah lebih putih karena sekarang aku hanya berbaring tak mengeluarkan tenaga dan berpanas-panasan.
Eti adikku memintaku membelikannya sepeda motor baru untuk berangkat kuliah, sebenarnya senang aku bisa membuat kehidupan mereka mewah, tapi di sisi lain aku juga ingin membuat diriku bahagia.
Tak lama aku dan Eti pulang kerumah. Mbak Tuti sudah ada di rumah sambil meneteskan air mata tanpa henti, wanita yang dari kecil terus saja bersamaku dan sering membelaku itu kini nampak terlihat semrawut dan acak-acakan.
"Dek, Mbak habis kemalingan," lirihnya, sambil memilin ujung bajunya.
"Kok bisa? Emang, Mbak ga kunci pintu?" Aku memberondong beberapa pertanyaan pada kakak sepupuku yang dulu kubanggakan, tapi kini kebanggaan itu sudah mulai terkikis karena ia begitu tega menolak diriku saat aku membutuhkan pertolongan darinya.
"Ya bisa. Pintunya di bobol, yuk lihat kalo ndak percaya!" Mbak Tuti meninggikan suaranya menatap kearahku, tatapannya membuatku iba.
Segera kurogoh saku celana jeans yang kupakai, ada beberapa lembar pecahan dua puluh ribu lalu kuberikan padanya, lumayan untuk mengganjal perutnya yang lapar saat ini.
"Ini ga cukup, Man," manik mata mbak Tuti menatapku lekat.
"Jadi berapa, Mbak?" Tanyaku pada anak dari adik ibuku itu.
"Satu juta dulu Mbak pinjem. Janji seminggu akan Mbak ganti," papar mbak Tuti, pandangannya beralih ke arah mama yang sedang duduk di sofa sambil memakan cemilan.
"Ada sih, Mbak. Tapi aku juga butuh." Aku menjatuhkan bokong di samping mama yang sedang mengunyah keripik singkong.
"Mbak mohon!" Kedua tangan Mbak Tuti ia tangkupkan, aku merasa iba padanya, apa selama ini suaminya begitu tak peduli padanya hingga kakak sepupuku dibiarkan meminta pada keluarganya.
Segera aku merogoh ranselku dan mengambil beberapa uang pecahan seratus ribu dan menghitungnya lalu memberikannya pada mbak Tuti. Senyum mengembang di wajah manisnya, tak lama mbak Tuti berpamitan untuk pulang dan meminta Eti untuk mengantarnya.
"Mbak Tuti tadi kesini sama siapa, Ma?" Tanyaku pada wanita yang telah melahirkanku itu yang masih setia mengunyah keripik singkong kesukaannya.
"Di antar sama tetangganya," jawab ibu datar. Sepertinya ibu tidak suka aku memberikan uang pada Mbak Tuti, terlihat dari mukanya yang begitu masam.
"Kasian ya, Mbak Tuti," lirihku, aku beralih menatap gawaiku yang sudah da beberapa panggilan dari mami.
"Ga kasian sih. Kan ada suaminya," kata ibu ketus, tenyata ibu benar tak suka aku memberikan uang pada Mbak Tuti.
__ADS_1
"Ya tapi apa salahnya nolong." Aku menyentuh tangan mama, berusaha mencairkan suasana hatinya. Aku menyalim punggung tangan wanita yang telah melahirkanku itu, berpamitan lalu berangkat meninggalkan rumah.
Aku menyusuri pekebunan warga dan persawahan, mereka masih di sawah dan di kebun padahal jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
Sore ini kau berniat ke kontrakan lamaku terlebih dahulu sebelum aku memulai aktivitas rutin. Tak ada niat hatiku membuat keributan dengan Anita karena aku sudah sedikit mulai mengikhlaskan dirinya untuk bersama laki-laki lain karena aku tak ingin jika Anita merasakan sakit yang luar biasa bila ia mengetahui di akhir bahwa aku menjajakan diriku ini, itu akan lebih sakit untuknya di bandingkan rasa sakitku saat ini.
Tak lama sepeda motorku tepat berhenti di depan kontrakanku dulu, suasana hatiku kembali tidak membaik, mengingat keadaan dan rasa yang pernah aku lalui bersama Anita.
"Assalamualaikum." Aku mengetuk pintu rumah kontrakan Anita beberapa kali namun sepi seperti tak berpenghuni.
"Cari siapa, Mas?" Tetangga samping rumah yang sering menemani Anita melambaikan tangan kearahku, jangan tanyakan siapa namanya, aku lupa.
"Cari Anita. Apa dia masih di sini?" Aku balik bertanya pada wanita yang jauh lebih muda dari Anita itu.
"Katanya mau tinggal sama sepupunya, Mas Rohman yang nginap di sini kemarin," jelas wanita itu antusias. Aku memegang dadaku yang bergemuruh hebat, bagaimana bisa Anita mengaku bahwa selingkuhannya adalah sepupuku.
Rasa benciku semakin menjadi pada wanita yang katanya mengandung anakku itu, sejenak aku duduk di kursi rotan di depan rumah ini, aku menghela napas panjang.
"Lemah." Aku bergumam pelan, kenapa aku harus menagisi kebohongan wanita yang sama sekali tidak pernah mencintaiku.
Lututku bergetar, kupaksa melangkah menuju motor milikku, menyalakannya lalu meninggalkan halaman rumah kontrakan yang penuh dengan kenangan manis dan juga pahit bersama mantan istriku.
Kabut di mataku tak bisa kutahan dan kukendalikan, tetesan bening terus saja berjatuhan. Aku benci pada diriku yang kotor dan cengeng ini.
Aku semakin mempercepat laju motorku, rasa hatiku kian panas terbakar api yang telah Anita sulutkan untuk membuat diriku semakin menderita dan merana, apa salahku padanya hingga ia setega itu padaku.
"Woi. Hati-hati!" Pengendara di sampingku yang terlihat secepat kilat berlalu berteriak padaku.
Samar kulihat mobil truk besar dari sebelah kiri. Kemarin-kemarin aku selalu berhati-hati jika melalui area ini karena sering melintas alat berat yang keluar masuk, entah bisikan angin apa aku memacu motor matic milikku begitu cepat hingga aku menabrak truk pasir itu dari samping.
Tubuhku terpelanting beberapa meter, tubuhku terlungkup di atas aspal, sekilas mataku berkabut memandang cairan merah yang mengalir, mungkin dari tubuhku, dan satu kaki berada di samping darah tersebut. Samar aku mendengar seorang wanita berteriak dan meminta tolong, tak lama setelahnya aku tak bisa melihat apapun.
.
.
__ADS_1
.
.
____
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, yang kutahu saat ini jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku menyentuh kepalaku yang terasa begitu berat, tubuhku nyeri dan kakiku terasa kebas.
"Ma, Bang Rohman udah sadar." Seorang wanita memekik, kutahu itu adalah suara Eti adikku, ternyata dia peduli juga padaku dan menjagaku di rumah sakit, dapat kupastikan ini rumah sakit karena nuansa yang begitu putih dan infus yang m nempel di tangan kananku.
Wanita paruh baya yang telah melahirkanku itu mendekat kearahku sambil mengulas senyum pahit, begitu juga Eti yang menahan air matanya.
"Bang!" Eti seketika menghambur dan memelukku, adikku yang hitam manis ini seperti orang kesurupan saja.
"Jangan nangis. Abangmu masih hidup." Aku terkekeh melihat dua wanita yang usianya berbeda jauh ini begitu peduli padaku saat ini.
Tak lama seorang dokter masuk keruangan di mana aku terbaring, wanita yang melahirkanku itu bergeser memberi ruang untuk dokter memeriksaku, begitu juga Eti yang segera duduk di bangku kecil yang ada di samping nakas.
Dengan cekatan dokter memeriksa detak jantungku, menyenter bola mataku dan berakhir menyibak selimut yang kukenakan di bagian kaki.
"Darahnya sudah berhenti. Baiknya bapak banyak beristirahat dan jangan banyak bergerak sementara waktu, biar proses pemulihan lebih cepat," paparnya dengan wajah serius. Aku meneguk Saliva.
"Memangnya ada yang salah Dokter? Saya merasa baik-baik saja." Karena nyatanya aku hanya merasa tubuhku saja yang remuk. Masih kuingat aku menghantamkan motorku kerah truk pasir besar yang berhenti.
Seketika aku teringat pada darah dan kaki yang terpisah dari tubuh saat mataku hampir terpejam dalam peristiwa kecelakaan itu.
"Apa ...." Tenggorokanku tercekat, dadaku kian sesak.
"Maaf. Kami tidak bisa menyatukan apa yang telah terpisah dari raga setelah beberapa jam," imbuh dokter itu membuat aku segera bangkit dan hendak duduk, namun dokter mencegah aksiku.
"Istirahatkan tubuh anda pak Rohman. Anda masih bisa menghirup udara saat ini, itu tandanya Allah masih menyayangi anda," papar dokter itu dan segera meninggalkanku yang menahan sesak di dada.
Kutatap Eti juga wanita yang melahirkanku itu menangis tersedu.
"Maafkan Rohman, Ma." Sekuat tenaga aku menahan air mata agar wanita yang melahirkanku tak lagi menagis.
__ADS_1
"Jangan minta maaf. Apapun keadaan anakku, aku tetap mencintai anak-anakku," ujar wanita yang telah melahirkanku itu sambil menyeka sudut matanya.
Lagi-lagi hatiku seperti terhantam batu besar, pikiranku melayang mengingat Ali. Kini aku menyadari betapa Mayang mencintai putraku yang telah kusia-siakan.