
"Magapain mesum di pinggir jalan?" Hardik laki-laki berkaca mata, sesat setelah turun dari mobil.
"Ga mesum, Ga lihat apa kami kecelakaan?" Jawab Mayang dengan suara tinggi.
"Itu pasangan kamu telanjang dada," tunjuk ya pada laki-laki bermata elang itu. Mayang berdecak kesal. Hari ini begitu buruk untuknya, sementara Abizar mengulum senyum.
Laki-laki berkacamata itu tergelak melihat ekspresi wajah Mayang yang terlihat seperti ketakutan.
"Maaf ... Maaf. Saya temannya Abizar," ucapnya lalu memalingkan wajah kearah motor Mayang yang tergeletak. Tak ada jawaban dari Mayang, hanya memutar bola matanya malas karena ia begitu kesal.
Laki-laki bertubuh sispack itu menarik tangan Mayang menuju mobil milik sahabatnya itu, tak ingin lama berdebat dengan sahabatnya karena tubuhnya begitu kedinginan saat ini.
Laki-laki berkacamata itu menuju mobil Abizar, laki-laki bertubuh sispack itu berniat mengantarkan Mayang sampai kedepan rumahnya, karena ia masih memiliki hati, tak mungkin dirinya membiarkan seorang wanita pulang malam sendirian.
"Terimakasih," ucap Mayang saat tiba di halaman rumah.
"Sama-sama, besok motomu akan diantarkan oleh temanku," ungkapnya. Laki-laki bertubuh sispack itu memutar mobilnya lalu menuju ke tempat tadi. Bagaimana mungkin sampai hati ia meninggalkan temannya di sana.
_____
Pagi menyapa, namun tak ada mentari yang menyinari bumi, awan hitam yang bergelayut manja di langit.
Di tempat lain, Anita sedang menyerang mental Rohman habis-habisan. Ini karma di bayar kontan.
"Bang. Sana cari kerjaan, capek aku hidup gini, hidup miskin," hardik ibu hamil yang sekarang duduk di teras depan, ia menunggu sayur matang agar ia tidak lelah memasak.
"Abang dah cari, tapi belum ketemu, Dek," kata Rohman, laki-laki bertubuh tinggi itu sambil membereskan map-nya yang berisi surat lamaran pekerjaan.
"Terserah sih, Bang. Mau jadi kuli juga asalkan duit," ungkapan Anita membuat mulut Rohman menganga.
"Iya. Tapi kalo jadi buruh nanti Abang jadi jelek," jelas Rohman menatap manik mata istrinya itu.
"Aku ga peduli, Bang. Hidup butuh makan bukan ganteng," ucap Anita lalu ia bangkit dari duduknya, masuk kedalam rumah kontrakannya, jika ia terus beradu argument maka akan di pastikan Rohman akan diam dan tak akan mencari pekerjaan lagi.
__ADS_1
"Dek...." Panggilannya, namun Anita abai, dirinya tak peduli sama sekali pada laki-laki bertubuh tinggi itu. Rohman berangkat dengan hati pilu, bagaimana bisa seorang istri yang begitu ia cintai sifatnya dapat berubah dalam waktu cepat.
Anita menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan kasar.
"Cari sebanyak mungkin Rohman, setelah ini aku akan pergi dari hidupmu," desis Anita pelan.
FLASHBACK
POV Anita
Betapa aku menyesali telah bercinta dengan kekasihku hingga kesucianku sirna, tidak hanya itu. Yazid juga telah menitipkan benihnya kepadaku hingga aku terpaksa menjebak bang Rohman untuk menggauliku.
Setengah keterpaksaan aku membuat seolah begitu bernafsu untuk bercinta dengannya hingga mas Rohman mengira aku benar-benar mencintainya.
Rasa sayang sedikit ada untuk bang Rohman tapi kembali terkikis saat hukuman cambuk yang menimpa diriku. Kini aku benar-benar sudah membenci laki-laki yang bergelar suamiku itu.
Tidak, tepatnya ia hanya kujadikan pengganti ayah biologis untuk anak yang aku kandung. Aku jadi teringat pada mantan istri bang Rohman yang menggugat cerai mas Rohman. Amplop coklat dari pengadilan yang di kirim untuk sidang panggilan perceraian aku simpan dengan sempurna agar bang Rohman tak menghadiri sidang.
Aku tak pernah ingin jika hubungan bang Rohman dan Mayang kembali utuh. Selalu kudesak bang Rohman agar ia meminta rumah milik Mayang, bahkan aku yang menyuruh mamanya Rohman masuk kedalam hubungan keluarga anaknya.
Yang membuatku bahagia Tuti begitu membelaku dan menjalankan skenario agar wanita ****** itu hancur, Tuti kuakui sangat pandai bersilat lidah, dia memfitnah dan menyebar gosip seolah Mayang benar-benar salah. Brafo aku suka itu.
Tertawaku menggelegar saat kami berada di kontrakan Tuti, wanita yang memakai bedak pemutih itu begitu bangga ingin menghancurkan Mayang dan menjatuhkan mental keponakannya. Sebodoh-bodohnya aku, masih punya hati tak ingin menyakiti mental anak kecil, walau kenyataannya mentalnya juga rusak karena aku telah memilih ayahnya.
Jangan tanyakan aku merasa kasihan pada Mayang atau tidak, aku sama sekali tidak pernah merasa kasihan padanya, karena menurut cerita bang Rohman, Mayang wanita dekit yang suka menuntut banyak hal dan tak pernah peduli kebersihan rumahnya.
Terbukti saat aku datang kerumahnya, sedikit mengintip dari jendela transparan yang gordennya sedikit tersibak, aku terkesiap melihat kasur lusuh dan tikar yang hampir seluruhnya terkoyak.
Semoga saja bang Rohman bersamaku terurus dan dia tidak perhitungan seperti pada Mayang, aku tergelak saat bang Rohman mengatakan memberikan uang pada Mayang hanya satu juta per bulan bahkan kadang delapan ratus ribu.
"Mbak, kok ketawa sendiri?" Tetanggaku yang datang membuyarkan lamunanku pada wanita lugu beranak satu itu.
"Maaf. Lagi nonton Drakor," dustaku pada tetanggaku yang bernama Asih. Asih memang wanita baik, sering mengantarkan buah untukku, mungkin ia tahu karena aku sering mual dan muntah di pagi hari.
__ADS_1
"Ih. Ngagetin aja, Mbak. Kukira Mbaknya kesurupan," ucapnya membuatku bergidik ngeri. Saat ini aku sendiri di rumah dan tak ada siapa pun yang bisa kuandalkan selain bang Rohman, tapi bang Rohman sudah berangkat kerja. Duh jadi merinding kan!
"Emang yang ngontrak sini sering kesurupan?" Tanyaku penasaran.
"Ga sih, Mbak." Ia tertawa memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Aku pun ikut tersenyum.
"Sih. Kamu di sini aja, sampai bang Rohman pulang, ya?!" Pintaku pada tetanggaku.
Asih hanya mengangguk, ia sibuk dengan gawainya, sekilas kulirik foto profil laki-laki memakai kopiah, sepertinya calon Asih anak pondok pesantren, semoga saja, agar ia tak seburuk diriku.
Aku mengambil gawai yang kuletakkan sebelumnya di atas meja, aku akan berbica dan mendesaknya agar bang Rohman segera datang menemui Mayang dan mengambil Ali supaya aku bisa mengasuhnya, lumayan jika Ali di sini anak itu bisa kusuruh mencuci dan menyetrika, menurut pengakuan bang Rohman Ali anak mandiri karena ajaran neneknya.
Kesempatan bagus untukku, sekalian aku bisa memeras Mayang agar rutin mengirimkan belanjaan untuk Ali, aku tahu Ali begitu mencintai ibunya begitu juga sebaliknya.
"Bang. Abang di mana?" Saat panggilan sudah terhubung dengan gawai bang Rohman.
"Abang lagi kerja," jawabnya, sinyal yang terlalu jelek membuat panggilan terputus-putus. Suara gaduh juga terdengar begitu jelas.
"Mas ... Halo." Panggilan pun di matikan oleh bang Rohman. Entah lah, mungkin dirinya sedang review kerja atau malah jadi buruh.
"Mas belikan somay sama lauk, akang sayur mateng ga lewat." Kukirimkan pesan ke aplikasi hijau miliknya. Centang dua namun belum biru.
"Sama jemputkan Ali!" Betapa bahagianya aku jika Ali bersamaku pasti ia juga akan nurut, terlebih bang Rohman juga akan memaksa jika Ali tak pernah menurut padaku.
"Ga ada uang, Dek." Begitulah jika aku meminta bang Rohman membelikan sesuatu. Menyebalkan sekali.
"Harus pokoknya. Aku ga mau tau." Kukirimkan lagi balasan padanya centang biru namun tidak di balas.
Awas saja jika permintaanku tidak dikabulkan maka bersiaplah untuk keributan seperti sebelumnya. Masih teringat saat aku membanting Pring hingga pecah berkeping-keping dan aku ingin menginjaknya namun secepatnya bang Rohman menolongku.
Aku mengulum senyum saat sudah berada dalam pelukannya, dari mana aku ada keberanian untuk menginjak beling seperti kuda kepang. Bang Rohman terus membujukku dengan penuh kasih sayang, aku suka itu, sangat suka drama yang kumainkan dengan sempurna tanpa celah ia untuk mencelaku.
"Mbak. Jangan senyum-senyum sendiri, nanti kesambet." Lagi-lagi perkataan Asih membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
"Senyum ada alasan ga akan kesambet," terangku.
Aku bangkit dari duduk menuju kedapur, membuat makanan dari bahan sisa yang tinggal kemarin. Ada kol dan bihun, baiknya aku segera mengeksekusinya agar perutku tidak berdemo.