
Pagi-pagi sekali Tuti sudah datang kerumah Mayang, bukan membayar cicilan gamis namun ada maksud terselubung lainnya.
"Eh. Udah rapi aja," ucap Tuti memandang Mayang dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kenapa memangnya, Mbak?" Tanya Mayang sambil membenarkan gamisnya yang tersangkut di paku dekat pintu keluar.
"Aku kok kasihan sama kamu capek seharian, tambah ngurus rumah sama Ali," kata Tuti berbelit-belit.
"Terus Mbak mau jadi pembantu saya tanpa saya gaji gitu?" Mayang tersenyum setelah mengatakan hal itu, padahal jika Tuti menginginkannya pun Mayang tak akan mengizinkannya.
"Bukan sih. Cuma bok yo kamu balikan aja sama Rohman, jadi dia bisa jaga Ali," jelas Tuti menatap sinis kearah Mayang, seolah ibu satu anak itu tak akan laku lagi jika bukan bersanding dengan Rohman.
"Bukannya, bang Rohman sudah benci saya juga Ali?" Mayang terus saja bertanya tanpa menjawab pertanyaan Tuti satu pun. Terlihat Tuti menggaruk tengkuknya yang tak gatal, wanita yang memakai bedak pemutih itu terlihat salah tingkah.
"Itu cuma biar kamu simpati aja sama dia yang lagi sakit, jadi suka seenaknya," kata Tuti berbohong, dia tak pernah tahu apa sebenarnya yang Rohman katakan pada Mayang dan Ali.
"Aku ga peduli, Mbak. Selama ini aku sudah cukup baik," lirihnya lalu meninggalkan Tuti yang mematung, ibu satu anak itu malas jika terus menerus mendengar ocehan Tuti bisa- darah tinggi dirinya nanti.
Mayang menaiki motor matic miliknya, walaupun sekarang sering hujan namun ia tetap harus berangkat membuka toko demi menghidupi keluarganya, ia tak berharap pada adiknya karena Mayang tahu hidup di perantauan begitu sulit.
.
.
.
Di rumahnya Rohman mendapatkan perlakuan buruk dari kakaknya yang baru saja pulang dan akan tinggal sementara waktu di rumah ibunya. Perlakuan kasar Nila pada Rohman membuat Rohman ingin segera angkat kaki dari rumah orang tuanya, tapi ia harus tinggal di mana jika bukan di rumah ibunya, satu-satunya yang masih menerimanya saat ini adalah Yeyen.
"Heh, Rohman! Kamu tinggal sama Mayang aja lagi," kata Nila saat mereka makan di meja makan bersama. Nila menaruh curiga pada Eti yang menyisihkan piring bekas makan Rohman.
"Kami sudah bercerai," ungkap Rohman, di sela makannya, walau tenggorokannya seakan seperti ada bongkahan batu dan luka menganga tapi ia harus berusaha kuat, ia tak ingin terlihat lemah di mata keluarganya.
__ADS_1
"Kan bisa rujuk," sela Nila sambil terus mengunyah, ia tak peduli walaupun berat badannya sudah hampir sembilan puluh kilogram.
"Ide bagus, Kak. Tapi Mayang nikah dulu sama suami Kakak, setelahnya kami akan rujuk kembali," papar Rohman, setelah mengatakan itu Rohman membanting piring dari stanles tersebut lalu meraih tongkatnya dan meninggalkan Kakak perempuannya itu.
Nila tidak hanya tinggal diam, wanita berbadan besar itu bangkit dari duduknya lalu mendekat ke arah Rohman dan mendorongnya hingga tubuh kurus Rohman terjerembab jatuh ke lantai.
Rohman tersenyum miring lalu menatap tak percaya kearah kakak kandungnya itu.
"Kakakku yang baik, aku dulu menjagamu saat orang lain menghina dirimu jelek dan hitam. Tapi sekarang ...." Ucapan Rohman terhenti saat Nila menamparnya begitu keras.
"Ga ikhlas bela kakakmu?" Nila menarik kasar tubuh Rohman hingga terhuyung.
"Sangat ikhlas, hanya mengingatkan bahwa aku selalu menyayangi Kakak. Tidak seperti Kakak yang ... Entah aku tak tau seperti apa," lirih Rohman, Rohman menjatuhkan bulir bening di pipi merah bekas tamparan dari Nila tersebut.
Tertatih tubuh kurus itu melangkah mengayunkan tongkatnya menuju kamar, tubuh kurus itu tergugu menahan sejuta amarah dan sesal. Sesak kianelanda jiwanya yang pilu.
Gemuruh di hatinya bersahutan sama seperti keadaan langit saat ini, tak lama setelahnya hujan turun membasahi bumi. Rohman mengemasi barang-barang dan bajunya lalu keluar dari rumah.
Rohman menghela napas panjang lalu menganyunkan tongkatnya meninggalkan rumah masa kecilnya itu, sekilas ia pandang kebelakang sambil tersenyum. Tak ada satu orang pun di rumah itu yang menahan langkahnya, saat ini tubuh kurus itu benar-benar sudah tidak di butuhkan.
"Bismillah, semoga Allah meridhoi," lirihnya. Laki-laki bertubuh tinggi itu merogoh sakunya, hanya ada pecahan uang lima puluh ribu satu lembar.
Laki-laki yang di bantu oleh tongkat kayu itu berencana menjadi tukang parkir di pasar, daripada hidupnya terus berharap belas kasih dari orang-orang yang tak pernah menganggapnya ada.
Tak lama angkot yang ia tumpangi sudah berhenti di pasar, matanya mengintai seluruh pasar. Tak ada yang berbeda, masih seperti dulu saat ia mengantarkan Mayang sesekali ke pasar.
Matanya tertuju pada tukang parkir yang usianya kira-kira enam puluh tahun lebih.
"Permisi," ucap Rohman sedikit menyentuh pundak bapak tersebut, saat laki-laki paruh baya itu menoleh, Rohman mengulas senyum.
"Ada apa anak muda?" Laki-laki itu sedikit bergeser agar lebih dekat dengan Rohman.
__ADS_1
"Bolehkah saya ikut menjaga parkir?" Rohman mengulas senyum lagi, sementara laki-laki paruh baya itu menatap Rohman iba.
"Boleh, tapi bayaran ga seberapa. Kita juga masih bayar pajak pasar," jelasnya pada Rohman.
"Tidak apa-apa, asalkan bisa menyambung hidup," kekeh Rohman sambil mengangguk mantap. Laki-laki yang dulunya egois itu berusaha menyembunyikan pilunya saat ini.
"Baik, mulai dari ujung sana," ungkap laki-laki paruh baya itu sambil memberikan lebaran kertas parkir dengan tulisan bernominal dua ribu rupiah.
Berjalan sudah payah untuk mencapai ujung parkir yang begitu luas, banyak kendaraan roda dua yang terparkir di sana. Gerimis masih saja turun membasahi bumi tempat manusia berpijak. Rohman mengulas senyum pada beberapa orang yang menatap dirinya iba bahkan ada yang memberikan uang lebih untuk harga parkir.
Bahagia. Ya mungkin itu yang ia rasakan saat ini. Sesekali Rohman menahan rasa nyeri di bagian yang tak terlihat itu.
Wajahnya terlihat semakin pucat, namun semangatnya tak gentar untuk terus berjuang hidup. Rohman ingin menghabiskan waktunya untuk beribadah pada sang maha kuasa selagi masa hidupnya masih tersisa.
"Nak ... Ayo kita makan siang!" Laki-laki paruh baya itu berteriak sambil melambaikan tangan kearah Rohman yang sudah menoleh kearahnya. Setelah motor keluar Rohman mendekati laki-laki paruh baya itu.
"Kenapa cepat sekali makan, Pak?" Rohman menautkan kedua alisnya merasa heran, sementara laki-laki yang sudah beruban itu hanya terkekeh.
"Itu motor cuma dua lagi, saya sudah tua kalau telat makan bisa-bisa mempercepat kematian," kekehnya membuat Rohman tersenyum, laki-laki paruh baya itu begitu bersemangat menjali hidup.
Keduanya duduk di bawah pohon alpukat yang rindang, mereka saling bertukar cerita sesekali melempar pandang lalu kembali mengunyah makanan mereka.
"Pulang kemana anak muda?" Laki-laki paruh baya itu meneguk air mineral setelah menanyakan itu, sementara Rohman tersedak.
"Minumlah," laki-laki paruh baya itu menyodorkan air mineral dalam botol miliknya, namun Rohman menolaknya, ia lebih memilih meminum air putih yang ada dalam plastik pemberian dari warung nasi yang komplit dengan nasinya.
Setelah makanan keduanya habis, mereka kembali melanjutkan aktivitasnya sampai sore menjemput malam. Keduanya menghela napas berat saat kaki mereka memijakkan mushola yang di sediakan khusus di area pasar. Keduanya melaksanakan salat, banyak ibu-ibu juga yang melaksanakan salat di sana karena memang para penjaga toko sampai malam tak mungkin untuk pulang dan salat di rumah.
"Jadi pulang kemana kamu anak muda?" Tanya laki-laki paruh baya itu sekali lagi.
"Saya. Tidak memiliki siapa pun lagi," lirihnya, terpaksa ia berbicara bohong untuk menutupi keburukan keluarganya.
__ADS_1