CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 59


__ADS_3

"Jadi sebenarnya siapa pelakunya, Pak?" tanya Nurul pada laki-laki berkepala plontos itu.


"Dilihat dari pakaiannya dia orang tidak waras yang akhir-akhir ini berkeliaran di area sini, karena beberapa warga sekitar juga membenarkan," jelas kepala yayasan itu sambil mengusap kepalanya yang plontos.


Beruntung Rohman tidak luka berat hanya luka ringan saja jadi ia tak perlu di rawat di rumah sakit.


.


.


Subuh menghampiri karena malam sudah berlalu pergi, dingin terasa menusuk tulang. Dapat di pastikan siang ini akan ada mentari yang begitu panas menyengat bumi.


Saat ini Rohman masih membaringkan tubuhnya, rasa kepalanya begitu berat sedangkan dosanya begitu besar.


Laki-laki bertubuh kurus itu memaksakan dirinya untuk segera berwudhu ia ingin menemui Rabnya walaupun saat sakit begini.


Laki-laki itu sadar setiap deritanya saat ini adalah salah satu cara Allah mengugurkan dosa-dosanya.


Selesai berwudhu ia menghadap Tuhannya dengan hikmat, hanya dua rakaat jadi tak butuh waktu lama Rohman telah menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Kini untaian doa ia panjatkan, tak lupa pula doa untuk wanita yang saat ini masih setia merawat putranya. Terlalu larut dalam doa hingga banyak air mata yang ia tumpahkan tanpa dia sadari.


Teman satu kamarnya memperhatikan Rohman saat meneteskan air mata, ia tersentuh. Seorang pendosa yang telah bertaubat.


Laki-laki bertubuh kurus itu melipat sajadah dan sarungnya saat berbalik ia melihat teman sekamarnya itu tersenyum kearahnya.


"Di tunggu sama pak botak di kantornya tuh!" ujar temannya sambil mendekat lalu membantunya berjalan.


"Ada apa? Apa aku berbuat salah?" brondong Rohman beberapa pertanyaan. Ia tak pernah merasa bersalah saat ini, rasa sial kemarin saja belum hilang.


Berjalan tertatih menuju kantor yayasan yang masih satu pekarangan, sedangkan temannya hanya mengikuti langkah Rohman di belakang. Rohman mengetuk pintu yang masih terbuka lebar.


"Masuk," pinta laki-laki berkepala plontos itu sambil mengulas senyum.


"Saya ada salah lagi?" tanya Rohman tanpa basa-basi, sementara pria botak itu hanya terkekeh kecil lalu menyuruh Rohman duduk.


"Ini yang pernah kami janjikan untuk kamu." Laki-laki berkepala plontos itu menyerahkan bingkisan berbungkus kertas cokelat.


Roman mengulas senyum lalu menatap temannya dengan rasa haru dalam hatinya, ia menyeka sudut matanya kemudian mendekat dan meraih bungkusan cokelat berukuran besar.


"Silahkan dibuka lalu di coba, kalau tidak pas bisa perbaiki besok," harap kepala yayasan itu, ia menyunggingkan senyum kearah Rohman.


Seseorang merasakan bahagia maka kita pula merasakan bahagia karena membantu dengan ikhlas dan lapang dada. Rohman membuka bungkusan itu berlahan lalu mencoba kaki palsu gratis yang mereka berikan.


Benar-benar pas di kaki Rohman, karena memang sudah di ukir sebelumnya.


"Tapi sakit," papar Rohman saat ia mencoba berjalan dua langkah.


"Awalnya memang begitu karena belum terbiasa, kalo udah biasa aku yakin enggak sakit," tutur teman satu kamarnya.

__ADS_1


Senyumnya mengembang saat meninggalkan ruangan kepala yayasan setelah berpamitan dan memberikan salam sebelumnya.


.


.


.


_____


Di tempat lain Mayang telah melakukan tes kehamilan dan ternyata dirinya positif hamil, tangannya bergetar saat tes kehamilan memperlihatkan garis dua.


Bulir bening tak mampu ia tahan, antara sedih, gundah dan rasa khawatir juga rasa takut dimasa lalu yang begitu menghantui dirinya.


Abizar mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali, ia begitu khawatir karena Mayang tidak keluar-keluar dari dalam sana.


"Sayang. Kamu baik-baik saja?" tanya Abizar pelan, wajahnya terlihat begitu khawatir.


"Aku baik," ucap Mayang lirih. Sesaat kemudian ia membuka pintu kamar mandi dan mendekat kearah Abizar yang sedang duduk di dapur.


"Apa benar hamil?" tanya Abizar dengan serius, laki-laki pemilik mata elang itu sangat senang jika benar Mayang saat ini mengandung buah cintanya.


Mayang mengeleng lesu, ia terpaksa berbohong karena tak ingin sikap Abizar berubah padanya dan pada Ali seperti Rohman lakukan padanya dulu, walaupun ia menyadari suatu saat nanti Abizar juga akan mengetahuinya.


Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi namun Mayang sama sekali tidak sanggup melihat nasi apalagi untuk memakannya.


"Iya," lirih ibu satu anak itu.


"Ya sudah. Aku hari ini ada meeting penting dengan beberapa karyawan pabrik tentang alat-alat mesin yang hilang kemarin," jelas Abizar lalu bangkit dari duduknya.


"Jangan telat pulang, nanti biar kumasakin kesukaan kamu," tawar Mayang pada suaminya yang sedang mengecup pucuk kepalanya.


"Aku tidak bisa janji cepat pulang, jika aku pulang cepat maka kemungkinanbesar besok pabrik harus tutup sementara sedangkan kemarin juga mereka libur. Mengertilah Sayang kasihan karyawan tidak ada uang untuk menafkahi anak-anaknya," jelas Abizar, ia mengulas senyum setelah mengatakan itu pada istrinya lalu mengusap pipi wanita yang bertahta di hatinya dengan begitu lembut.


"Ya sudah." Mayang memanyunkan bibirnya.


Harusnya ia senang bisa beristirahat dan berbaring atau shoping untuk mengisi waktu luangnya.


Abizar berjalan keluar rumah, Mayang mengikutinya hingga depan teras, ibu satu anak itu menjatuhkan bokongnya di bangku panjang depan teras sambil menatap punggung Abizar yang masuk kedalam mobil.


Laki-laki bertubuh gempal itu melesat meninggalkan halaman rumah orang tua Mayang setelah tangan kirinya melambai kearah wanita yang sedang mengandung itu.


Mayang kembali menyeka sudut matanya yang berair, ia merasa bersalah telah membohongi Abizar saat ini.


"Maafkan aku, Abi." Mayang menangkupkan kedua tangannya di muka.


Pikirannya melayang saat makan malam di rumah orang tua Abizar beberapa hari yang lalu. Wanita paruh baya itu memberikan hadiah kalung emas untuk Mayang sebagai kado pernikahan darinya.


Tapi Mayang merasa tak enak hati karena dirinya merasa bukanlah wanita sempurna untuk Abizar.

__ADS_1


Malam itu juga menjadi malam mengejutkan untuk Mayang saat ia melihat wanita yang pernah menarik rambutnya hadir di acara makan malam itu dan Bagas hanya diam melihat kearah Mayang tanpa menegurnya.


Pantas saja Abizar memilih makan di restoran itu saat meeting dengan teman wanitanya karena itu adalah restoran saudara sepupunya.


Rasa sesak kembali merasuk dada Mayang saat wanita yang pernah menarik rambutnya dan menghinanya kembali menyindirnya malam itu.


"Cari istri harus lihat yang baik, jangan asal cari bisa selingkuh nanti," sindir Tias membuat Bagas tersedak, setelahnya Tias menatap Mayang dengan tatapan tidak suka.


Menahan rasa yang susah ia artikan begitu sulit, Mayang menyendokkan nasi kedalam mulutnya terasa seperti bongkahan batu.


"Heh, melamun kok depan teras," ucap Tuti, wanita tak punya malu itu menjatuhkan bokongnya di samping Mayang.


Mayang yang terkejut dengan suara Tuti terburu-buru menyeka sisa air mata di pipinya.


"Ada apa lagi Mbak datang kesini?" tanya Mayang pada wanita yang sedang menatapnya dengan tatapan sinis.


"Rohman tanya apa aja kemarin?" Tuti balik bertanya, ternyata wanita itu datang menemui Mayang hanya karena takut Rohman menanyakan tentang nominal uang yang di berikan oleh Tuti.


"Tanya anaknya, emang ada apa, Mbak?" Mayang merasa ada hal yang mencurigakan karena Tuti menanyakan hal yang tak pantas ia ketahui.


"Kukira dia tanya berapa uang yang kukasih untuk Ali," ungkap Tuti membuat Mayang terperangah.


"Uang untuk Ali?" tanya ibu satu anak itu lagi sambil mengerutkan keningnya.


Wanita yang memakai bedak pemutih itu menepuk jidatnya, ia salah bicara tadi seharusnya Tuti tidak mengatakan hal itu pada Mayang.


"Ia, soalnya uangnya yang dikirim Rohman beberapa bulan sebelum ia kecelakaan ga kukasih sama kamu, aku pake untuk kebutuhan mendekasak," kekeh Tuti membuat mata Mayang membola sempurna.


Sekarang Mayang paham sifat Tuti yang serakah, ia akan mengeruk siapa saja yang dekat dengannya.


"Ga ada otak kamu, Mbak," hardik Mayang membuat Tuti terperanjat.


"Berani sekarang kamu bentak aku?" Mata Tuti melebar kearah Mayang, ia berdiri sambil berkacak pinggang.


Mayang sama sekali tidak gentar saat melihat di belakang Mayang ada Pak RT sedang berdiri menatap kearah Tuti. Laki-laki berperut besar itu ingin mengantarkan cangkul yang ia pinjam tadi padi.


Wanita yang memakai bedak pemutih itu tidak sabar lagi dan segera melayangkan tamparan ke pipi mulus Mayang namun berhasil di hentikan oleh pak RT.


"Apa-apaan kamu Tuti?" tanya pak RT dengan nada kesal.


"Eh ... Pak RT, enggak kok kami hanya sedang bercanda," sahut Mayang lalu membalikkan badannya. Tuti hendak kabur menghindari pak RT agar dirinya tidak kena Omelan dan peringatan.


"Eit ... Tunggu." Pak RT menarik kerah baju Tuti hingga ia tidak bisa berlalu pergi.


"Kamu kalau masih seperti ini dan selalu membuat onar akan saya usir dari kampung ini, karena kamu hanya pendatang. Paham!" tekan pak RT membuat Tuti menundukkan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya.


Benar seperti kata pak RT, ia dan suami tinggal di desa ini sudah beberapa bulan namun kartu keluarganya masih kartu keluarga di desanya dulu dan sampai saat ini.


Tuti melenggang pergi begitu saja tanpa meresapi apa lagi merespon perkataan pak RT, kekesalannya pada Mayang belum terbalaskan. Pak RT juga berpamitan setelah meletakkan cangkul di samping rumah Bu Leha.

__ADS_1


__ADS_2