CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 27


__ADS_3

"Assalamualaikum." Ucap Rohman mengetuk pintu rumahnya berulang kali. Tubuh tinggi itu menggigil karena udara di luar rumah bengitu dingin, namun tak ada sahutan dari dalam.


"Apa mungkin Anita sudah tidur?!" Lirihnya. Laki-laki berwajah Turki itu menjatuhkan bokongnya di kursi teras, memandang sekeliling suasana begitu hening, dedaunan melambai sesekali kearahnya seolah menghina dirinya.


"Tuhan maafkan aku!" Batinnya, tubuh tinggi itu meringkuk di atas kursi yang hanya terbuat dari rotan berbentuk bundar, sementara sang istri sudah terlelap.


Angin berhembus semakin kencang, tubuh Rohman mengigil. Sekelebat bayangan Mayang menari di pelupuk matanya. Mengingat betapa baiknya wanita yang pernah ia sia-siakan.


Rohman merubah posisinya, mengangkat kedua kakinya lalu memeluk lututnya. Semua salahnya karena angkutan umum yang ia tumpangi tak kunjung datang karena sudah begitu larut.


"Mayang maafkan aku," batinnya, penyesalan itu mulai hadir pada laki-laki berwajah Turki itu, ada penyesalan telah menyia-nyiakan waktu, menyia-nyiakan kebaikan yang Mayang berikan tanpa mengharap imbalan apa pun.


Tuhan begitu adil bukan? Berlahan melepaskan yang bukan miliknya, tepatnya hak milik yang di miliki secara paksa. Berlahan mata indah milik Rohman terpejam, mencoba menikmati dinginnya angin malam yang menusuk tulang.


.


.


.


.


Hanya tiga jam Rohman tertidur dalam keadaan kedinginan yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Pagi menyapa dengan hangat, perlahan mentari menghangatkan tubuh yang masih meringkuk dan terlelap itu.


"Bang!" Pekik Anita membuat Rohman terperanjat, ruh belum terkumpul sempurna. Masih dalam keadaan setengah sadar ia membuka matanya dan melihat istrinya memasang wajah tidak suka.


"Jantungan Abang, Dek," ucap Rohman masih memasang wajah manis.


"Abang kok tidur di luar. Kenapa ga manggil? Dilihat orang kayak aku jahat banget sama Abang," papar Anita dengan wajah malas dan cemberut.


"Maaf. Adek semalam udah tidur," ungkap Rohman dengan nada lemah.


"Pulang malam, bawa duit ha?" Tanya Anita dengan kesal.


"Bawa," jawabnya singkat lalu merogoh tas ransel yang ia bawa sebelum berangkat kemarin. Sialnya nomor wanita kemarin ikut terjatuh dan Anita meraihnya dengan cepat.


"Nomor hp siapa ini, Bang?" Anita menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Nomor hp teman di tempat kerjaan kemarin," jawabnya datar agar Anita tidak menaruh curiga, wanita hamil itu hanya ber 'oh' saja.


Rohman menyerahkan uang yang ia dapat pada Anita semuanya, masuk kedalam rumah dan menguyur tubuhnya dengan air dingin yang terasa seperti air es, walaupun menggigil namun ia tidak pedulikan karena merasa begitu jijik dengan bekas percintaan semalam.


Wanita hamil itu menyusul dengan mata berbinar menghitung-hitung uang yang ada di tangannya yang lumayan banyak. Tak lama Rohman keluar dari kamar mandi dengan aroma tubuh yang semerbak harum.


"Udah mandi mau kemana?" Tanya Anita menaik turunkan sebelah alisnya.


"Abang mau cari kerja lagi biar kamu senang, Dek," ungkapnya. Sejujurnya hatinya begitu tersayat dengan keadaannya saat ini ,uang selalu uang di pikiran Anita bahkan saat Rohman sakit Anita menyuruh Rohman cari uang, tak salah pepatah mengatakan jodoh adalah cerminan dirimu, jadi jodoh yang kemarin hanya kesalahan kah?


"Bagus! Tapi ...." Ucapan Anita tertahan saat melihat suaminya mengabaikannya dan masuk kedalam kamar. Wanita hamil itu berdecak kesal.


"Bang!" Anita berteriak di ruang tamu sebelum menyusul suaminya ke kamar.


"Apa? Jangan berteriak, Dek. Malu!" Jelas Rohman pada Anita sementara Anita hanya memiringkan bibirnya.


"Ngomong-ngomong uang sebanyak ini dari mana, Bang?" Tanya Anita masih memegang uang yang ada di tangan dengan perasaan bahagia.


"Ga perlu tau. Nikmati aja, puaskan dirimu dan calon anak kita," kata Rohman, tangannya cekatan mengancingkan pakaiannya.


"Oke. Shoping kita sayang." Anita mengelus perutnya yang masih belum begitu terlihat, sementara Rohman tak memberikan tanggapan apa pun.


Sekelebat bayangan Mayang menari dalam ingatan, sekarang ia sadari betapa sulitnya Mayang mempertahankan rumah tangganya dulu, betapa sulitnya Mayang berkorban untuk dirinya dan anaknya.


Hati Rohman sudah mantap dan tak akan mengambil Ali untuk ia asuh, walau bagaimanapun ia tak pernah ingin anaknya menjadi budak.


"Abang kenapa?" Tanya Anita yang tiba-tiba sudah berada di samping Rohman.


"Aku baik. Jangan pedulikan aku," jawab Rohman ketus, hatinya sedang tidak baik-baik saja, sementara wanita hamil itu hanya menganggukkan kepalanya seolah Rohman tak butuh siapa pun untuk ketenangan hatinya.


Wanita hamil itu mengantikan pakaian terbaik yang sedikit kurang bahan, Rohman manatap tapi ia tidak peduli untuk saat ini. Laki-laki bertubuh tinggi itu meraih gawainya lalu mencari nomor yang diberikan oleh wanita tua semalam, ah menjijikkan sekali jika harus menyimpannya.


"Madam." Pesan yang Rohman kirimkan pada wanita tua itu segera ia hapus, bisa bahaya jika Anita mengetahui semua ini. Beberapa menit tak ada balasan hingga Anita sudah berangkat untuk berbelanja, namun nomor wanita yang ia hubungi belum ada balasan.


"Ada apa, Tampan?" Balasnya, jika dari suara akan dipastikan begitu lembut dan menggoda.


"Hapus saja video semalam," pinta Rohman dengan sedikit memelas.

__ADS_1


"Tidak bisa sayang. Bekerjalah padaku maka video itu aman dan tidak akan tersebar." Wanita tua itu mengirimkan pesan suara singkat pada Rohman.


"Arghh ... Menjijikkan!" Rohman membanting gawainya kasar ke atas ranjang. Laki-laki bertubuh tinggi itu memindai wajahnya di cermin, menghapus gurat kegundahan di hatinya, menyentuh bibirnya pelan. Kali ini ia harus merelakan pada semua wanita yang menginginkan tubuhnya. Hatinya begitu pilu mengingat dirinya tak pernah berkorban untuk Ali anak semata wayangnya dengan Mayang.


Kembali ia mengambil gawai yang telah ia lemparkan, untuk menemui Ali rasanya Rohman tidak memiliki nyali sama sekali, bahkan ulang tahun anaknya saja ia lewatkan begitu saja.


Menekan panggilan pada nomor Tuti beberapa kali tidak terhubung, pada panggilan kesekian kalinya Tuti mengangkat panggilan dari sepupunya itu.


"Ya kenapa, Man?" Tanya di sebrang sana.


"Mbak puya nomor rekening?" Tanya Rohman tanpa basa-basi.


"Eh. Ada dong, baik banget mau ngirimin duit untukku," jawaban cengengesan terdengar jelas dari sebrang sana.


"Mau nitip untuk Ali sedikit, nanti Mbak juga bisa ambil untuk jajan mbak seperlunya saja," jelas Rohman.


"Ya sudah. Nanti kukirimkan nomor rekeningku, tapi beneran bisa kupake juga kan?" Tuti memastikan dengan nada ketus.


"Ia, Mbak." Tuti mematikan panggilan sepihak sebelum Rohman mengucapkan salam. Sesat setelahnya pesan dari Tuti masuk kegawainya. Nomor rekeng pemilik Tuti Samar. Pantas saja kelakuannya seperti itu karena namanya saja masih samar dan tidak jelas. (ya Allah)


Rohman beranjak keluar kamar, berniat menuju BRI link terdekat untuk transfer pada nomor rekening mbaknya yang terlalu ia banggakan.


Langkahnya gontai menyusuri jalanan aspal kecil di gang rumah kontrakannya, beberapa ibu-ibu duduk di balai seperti tempat pos ronda.


"Mas Rohman ga kerja?" Celetuk ibu-ibu yang sedang memakan rujak di balai itu.


"Sebentar lagi, Bu. Abis duhur," jawab Rohman sopan.


"Istrinya shopping kok ga di temenin?" Tanya ibu-ibu lainnya yang merasa ingin tahu tentang kehidupan mereka.


"Saya capek. Biarkan dia sendiri selagi ia bisa," jawab Rohman setelahnya mempercepat langkahnya. Begitu malas ia melayani mulut ibu-ibu yang tak akan ada habisnya.


.


.


.

__ADS_1


___


Urusan rumah tangga orang biarkan ia menyelesaikannya dengan caranya sendiri, selagi ia tidak meminta apa pun pada kita maka biarkan saja.


__ADS_2