
Setelah menceritakan segalanya pada laki-laki yang bersamanya beberapa waktu terakhir ini ia Rohman merasa sedikit lega.
"Hati-hati di jalan, jaga kesehatan," ucap laki-laki paruh baya itu dengan raut sedih, saat ada Rohman ia punya teman untuk sekedar bersenda gurau untuk menghilangkan gundah di hatinya begitu juga dengan Rohman.
"Iya. Pasti!" Ucapnya lalu melambaikan tangan kearah laki-laki paruh baya itu, Rohman berjalan tertatih yang di bantu oleh tongkatnya lalu meninggalkan kota yang penuh kenangan baginya. Ia akan memutuskan tinggal di yayasan khusus untuk penderita AIDS atau akrab di sebut YAIDS.
Laki-laki bertubuh kurus itu terlihat begitu lemah, tak lama bus tujuan yang ia inginkan tiba, memasuki mobil sambil mengucap bismillah lalu melambaikan tangan kembali kearah laki-laki paruh baya yang mengikutinya sampai hate bus, sebenarnya ada rasa tak tega meninggalkan laki-laki tua itu sendiri namun apa boleh buat karena ini sudah menjadi keputusannya.
.
.
.
_____
Sementara dua manusia dalam ikatan suci pernikahan masih di penginapan, wanita yang melahirkan Ali itu terlihat gelisah entah apa yang ia pikirkan saat ini, wajahnya terlihat menyimpan kesedihan yang mendalam.
"Kamu kenapa, Sayang?" Abizar mendekati Mayang yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Aku gelisah, Abi," jelas Mayang dengan wajah sedihnya.
"Mikirin Ali apa Rohman?" tanya Abizar memandang lekat wajah Mayang yang terlihat salah tingkah saat ini.
"Entahlah. Bagaimana kalau kita pulang saja," ucapnya pelan terdengar seperti sedang merayu.
"Tapi masih ada satu malam sewa kamar jika kita pulang sekarang," jelas Abizar, perkataan laki-laki bertubuh gempal itu membuat Mayang memanyunkan bibirnya.
Abizar mencubit gemas pipi istrinya lalu mengecup punggung tangan wanita yang ia cintai.
"Baiklah kita pulang sekarang," sambung Abizar lalu bangkit dari duduknya, namun ibu satu anak itu menahan tangan Abizar.
"Ga apa-apa jika satu malam lagi," ucap Mayang lalu ia ikut bangkit dari tepi ranjang dan mengecup sekilas pipi laki-laki yang bergelar sebagai suaminya saat ini.
.
.
Laki-laki bertubuh gempal itu terlihat begitu romantis, mengajarkan Mayang untuk berselancar walaupun banyak rayuan maut agar ibu satu anak itu mau belajar, bukan tujuan lain, Abizar hanya ingin menghilangkan rasa trauma yang Mayang rasakan.
Dua jam di dalam air mereka sudah lelah dan kembali kedalam membersihkan diri mereka di dalam penginapan mereka.
Abizar terlebih dahulu mandi dan kini tubuh yang hanya menggunakan celana pendek itu terbaring di atas ranjang, sementara Mayang berada di kamar mandi.
__ADS_1
Tak lama tubuh yang membuat Abizar sulit mengatur napas keluar dari kamar mandi, laki-laki bertubuh gempal itu menelan salivanya.
"Rugi," kata Abizar sambil menincingkan mata melihat kearah Mayang yang semakin mendekat kearahnya.
"Mau ngapain?" tanya Abizar pada Mayang yang kini berada di sampingnya, napas Abizar kian menderu menahan hasrat yang kian bergejolak.
"Kenapa tidak ingin menyentuhku heum?" Mayang manatap manik mata elang Abizar lalu tangan ibu satu anak itu menyentuh bibir Abizar, membelainya perlahan tangannya turun ke dada laki-laki bertubuh gempal itu.
"Apa aku harus mengulang perkataan yang sama, Mayang?" Laki-laki bertubuh gempal itu menyembunyikan rasa gugupnya.
"Maafkan aku, Abi." Mayang menatap kearah lain.
Jujur saja menerima penolakan berkali-kali membuatnya terlihat seperti wanita murahan hanya karena Rohman.
Laki-laki bertubuh gempal itu bangkit dari duduknya lalu mendekat ke arah Mayang yang berdiri menatap cermin, ia memeluk Mayang dari belakang, Abizar menghirup tengkuk Mayang yang masih tercium aroma sabun.
"Abi." Mayang melonggarkan tangan Abizar yang memeluk dirinya.
"Ya, kenapa?" Mata keduanya bersirobok, mencari ketulusan cinta di antara hati yang tenggelam di ruang kerinduan.
"Aku mencintaimu," ucap Mayang lalu menunduk, tak Merani menatap pemilik mata elang itu.
Abizar meraih dagu Mayang lalu mengecup bibirnya sekilas, wajah ibu satu anak itu bersemu. Mayang saat ini belum mengenakan pakaian sama sekali, Abizar menelan salivanya berulang kali saat melihat gunung kembar yang ada di depan matanya saat ini yang terlihat begitu indah.
"Tidak. Aku tidak mencintainya," ungkap Mayang lalu membenarkan handuk yang hampir saja jatuh.
"Terserah apapun itu, jelasnya saat ini aku ingin membuat pernikahan kita berkesan walaupun nantinya kamu dan Rohman akan bahagia." Tangan Abizar mwmbelai rambut wanita cantik yang sudah memiliki anak itu.
"Aku mengerti sekarang, aku tidak akan menuntutmu menceraikan ku secepatnya, aku mohon juga mengerti keadaanku saat ini, aku juga merasa berdosa jika tidak bisa memberikan suamiku kepuasan," lirih Mayang membuat laki-laki pemilik mata elang itu tersenyum sinis.
"Hanya itu?" tanya Abizar, ia kini benar-benar melepaskan pelukannya lalu berjalan beberapa langkah menuju jendela dan menatap kearah luar.
"Aku tak peduli apa yang ada di pikiranmu saat ini, jelasnya aku benar-benar mencintaimu, Abi," kata ibu satu anak itu sambil mengenakan pakaiannya.
Abizar mendekat kearah Mayang yang sudah membaringkan btubuhnya di atas ranjang, berbaring di dekat ibu satu anak itu lalu memeluknya erat. Keduanya kini tidak berjarak, deru napas mereka terdengar seirama.
Abizar sedikit melonggarkan pelukannya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Mayang, menghirup aroma tubuh Mayang yang membuatnya semakin candu.
Kini bibir Mayang ia ***** perlahan, napas keduanya terdengar sangat berat, tangan laki-laki bertubuh gempal itu merayap seluruh tubuh Mayang tanpa jeda, perlahan melucuti pakaiannya tanpa penolakan sedikit pun dari ibu satu anak itu. Kini pertahanannya roboh, ia tak mampu lagi menahan hasrat pada wanita yang telah bertahta di hatinya saat ini. Keduanya larut dalam kenikmatan, saling menikmati dan mengeluarkan suara ******* yang semakin memabukkan sehingga keduanya mencapai titik kenikmatan yang begitu memuaskan.
Abizar membaringkan tubuhnya di samping Mayang yang masih terlihat begitu lemah, napasnya masih terengah-engah.
"Jangan katakan apapun tentang perceraian," ucap Abizar sambil menempelkan jemarinya di bibir Mayang, sementara ibu satu anak itu hanya menganggu lemah. Tak lama mereka berdua terlelap tanpa sehelai benang pun, hanya selimut yang menutupi tubuh mereka keduanya.
__ADS_1
.
.
Adzan subuh berkumandang, sedangkan mereka terlelap tanpa makan malam. Ibu satu anak itu membalikkan btubuhnya lalu menatap Abizar dengan senyum yang sulit untuk di artikan.
Berlahan ia mengguncangkan tubuh Abizar.
"Abi, bangun. Kita salat subuh berjamaah," ucap Mayang lalu membelai wajah yang di tumbuhi jambang halus.
"Apa aku ga salah dengar?" tanya Abizar membuat Mayang malas menanggapinya.
"Ya udah kalo ga mau," kata Mayang pelan lalu bangkit dari tidurnya dengan menutup sebagian tubuhnya yang polos.
"Mau ... Mau ..." Abizar mempererat pelukannya, tujuan laki-laki pemilik mata elang itu saat ini adalah mandi bersama. Sedikitnya ia paham sunah yang di ajarkan Rasulullah jika sedang bersama istri.
"Menyingkir. Aku mau mandi." Mayang berusaha melepaskan pelukan Abizar yang begitu erat.
"Bareng!" Laki-laki bertubuh gempal itu tergesa bangkit lalu mengendong Mayang menuju kamar mandi hingga membuat ibu satu anak itu memekik kaget setelahnya menutup mulutnya.
Bunga-bunga cinta diantara mereka sepertinya akan mekar dalam waktu dekat. Saling bersenda gurau dalam kamar mandi membuat suasana hati keduanya semakin hangat, Abizar yang tak pernah menginginkan perpisahan akan berjuang mempertahankan cinta tulusnya pada ibu satu anak yang telah lama hatinya terkoyak.
.
.
Usai menghadap Tuhannya kedua insan yang sedang manis dalam satu hubungan halal itu terlihat sama-sama menyentuh perutnya lalu tergelak bersamaan.
Ayo cari makanan! Sebentar lagi kita pulang," ucap Abizar sambil menarik lembut tangan Mayang agar mengikuti langkahnya.
Di tempat biasa mereka menikmati sarapan pagi, menghabiskan waktu menatap pantai untuk terakhir kali hari ini.
"Bang ...." Mayang menjeda ucapannya saat menyadari Abizar menatap kearahnya dengan tatapan aneh.
"Bukankah biasanya kamu memanggilku Abi?" tanya Abizar sambil menyesap kopinya yang sudah hampir habis.
"Maaf, aku kepikiran sama bang Rohman," ucap Mayang pelan, seketika raut wajah laki-laki bertubuh gempal itu berubah masam.
"Rohman lagi. Bisa tidak jika momen indah seperti ini tidak usah memikirkan laki-laki yang sudah bukan mahram untukmu lagi," kata Abizar pelan tapi sukses membuat hati Mayang tersentil.
"Bukan maksudku, Abi ...." Perkataannya terjeda melihat Abizar bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kantin dan membayar semua tagihan, Mayang menyusul laki-laki yang bergelar sebagai suaminya itu sambil sedikit berlari.
"Abi!" Pekiknya saat seseorang menodongkan benda berpelatuk di kepala ibu satu anak itu, setelah pekikan itu tenggorokan Mayang tercekat.
__ADS_1
Abizar menoleh menatap kearah ibu satu anak itu, Mayang menjatuhkan bulir bening terus menerus tanpa jeda.