
Hari ini tepat hari dimana Rohman melaksanakan hukuman yang di tetapkan oleh warga kampung tempat Anita tinggal.
Ada rasa sedih di hati Mayang mengingat mental putranya akan terganggu jika banyak orang memberitahu pada anak sekecil itu dan ia akan jadi cemoohan orang-orang.
Hari ini seperti biasa, ibu satu anak itu berangkat kerja, dengan balutan rok sepan kemeja putih dan blezer senada. Rambutnya dikuncir kuda, tubuh Mayang terlihat segar dan jauh lebih mempesona dibanding saat bersama Rohman.
"Heh, Mayang. Mau ketemu sama suami orang?" Celetuk sepupunya Rohman yang melihat Mayang berangkat bekerja dengan pakaian rapi.
"Apa urusan kamu? Ga usah atur hidup saya." Kesal Mayang. Tangganya menggepal, rasanya tangan itu ingin meremukkan tulang-tulang wanita yang mencaci.
"Halah. Istri ga bersyukur kayak kamu ga kemakan nasehat," ejek Tuti lagi. Padahal selama ini Mayang cukup bersabar menghadapi mulut-mulut busuk yang ada di hadapannya saat ini. Ibu satu anak itu mendekat kearah Tuti lalu melayangkan tamparan begitu keras hingga pipi putih itu memerah. Tuti mengangkat tangannya ingin menampar Mayang namun secepatnya Mayang menahan tangan Tuti dan memelintirnya hingga ia menaruh dan berteriak membuat beberapa tetangga yang masih ada di dalam rumah keluar.
"Heh, Mayang. Kok kamu Jahat banget sama sepupunya Rohman. Apa karena dia membongkar kejelekan kamu yang kamu tutupi?" Hardik buk Eka tetangga Tuti, pasti wanita ini sering mendengarkan Tuti bercerita tentang Mayang yang tidak-tidak.
"Asal ibu tau. Yang jelek itu Rohman bukan saya," sahut Mayang kesal.
"Alasan aja, bilang aja kalo kamu nyaman sama laki-laki ga jelas itu."
"Berhenti memfitnah saya."
"Kenyataannya kamu selalu di antar laki-laki itu kan? Masih ngeles." Bu Eka memutar bola matanya malas, seolah apa yang Tuti katakan benar adanya. Beberapa ibu lainnya hanya menyimak, sementara Tuti memijit tangannya yang sebenarnya tak sakit lagi.
"Kalo ibu-ibu ga percaya bisa nanti datang ke masjid At-Taqwa, di sana nanti akan di adakan hukuman cambuk. Lihat sendiri yang di cambuk saya atau bang Rohman," jelasnya kesal, walau sudah benar-benar menaruh rasa benci pada ayah dari anaknya itu tapi Mayang tak sekalipun memanggil suaminya dengan sebutan nama. Tata Krama baginya begitu penting.
"Kami ga ada waktu. Lebih baik kami cari duit buat bayar cicilan gamis ya kan ibu ibu?" Dengan nada congklak Bu Eka tersenyum sinis kearah Mayang, tanpa mereka sadari baju yang mereka cicil berasal dari Mayang yang ia titipkan pada temannya di kampung sebelah.
Ibu satu anak itu merogoh tasnya dan meraih beberapa lembar uang pecahan seratus ribu, lalu mengipas wajahnya. Orang sombong harus di bayar dengan kesombongan sepertinya.
"Ini ada uang, kalo kalian ga nolak sih. Ga maksa juga. Eit ini bukan uang haram, ini hasil jualan online beberapa hari yang lalu, kebetulan gamis saya laku keras loh ibu-ibu. Mau duit ga Bu?" Tanya Mayang sambil menatap semua ibu yang memandangnya sambil sesekali menyenggol temannya.
__ADS_1
"Ih mau lah, May. Ga nolak rejeki kok kami." Lucu sekali kemana kesombongan tadi yang katanya lebih baik bekerja.
"Tapi ada syaratnya. Nanti tepat jam sebelas ibu ibu harus datang ke masjid At-Taqwa. Lumayan tontonan gratis." Ujar Mayang, lalu tangganya dengan cepat membagikan uang pecahan seratus ribu itu bahkan pada Tuti juga ia bagikan. Biar wanita itu juga ikut menyaksikan adik sepupu yang ia banggakan melakukan yang tak pantas.
Mayang langsung meninggalkan wanita yang suka bergosip itu lalu segera melangkah menuju tempat kerjaan walau dirinya saat ini sudah terlambat tiga puluh menit.
'Semoga pak Bagas ga marah,' lirihnya. Langkahnya ia percepat agar segera sampai keruanagn pribadi yang telah ia siapkan untuk dirinya.
Matanya membola sempurna saat Bagas sedang duduk di bangku yang biasa ia gunakan.
"Ba ... Bapak sedang apa di sini?" Tanya Mayang gugup.
"Saya sedang memeriksa laporan keuangan yang kamu buat. Semua benar, dan kenapa kamu terlambat?" tanya Bagas beralih menatap Mayang yang menunduk.
"Saya tadi ada urusan sebentar," jawab Mayang ragu. Rasanya dirinya saat ini ingin mencurahkan segala isi hatinya agar hidupnya jauh lebih lega.
"Masalah apa? Kamu bisa cerita sama saya jika kamu mau," kata Bagas lalu ia berdiri dari duduknya. "Laporan keuangan kemarin sudah saya selesaikan, bisa kita jalan-jalan sebentar sekedar menghilangkan beban pikiran," sambungnya. Mayang menatap bosnya itu tak percaya, kenapa selalu dirinya yang ia ajak jalan-jalan. Mengapa bukan istrinya sendiri.
"Kita akan ke pantai. Kamu suka pantai?" Tanya Bagas pelan tanpa menoleh ke arah Mayang.
"Suka," jawabnya singkat.
Padahal Mayang sama sekali tak suka pantai, pengalaman buruk menimpa dirinya saat remaja dulu membuat dirinya trauma saat ke pantai. Pikiran Mayang melayang mengingat belasan tahun lalu dirinya dan beberapa temannya bermain di pantai, saat itu Mayang dan sahabatnya yang pintar berselancar mengajari Mayang untuk berselancar, tanpa bertanya apakah Mayang sudah siap atau belum sahabatnya langsung melepaskan papan selancar hingga tubuh Mayang terjatuh kedalam air dan tenggelam, ombak menggulung dirinya, beruntung saat itu ada teman laki-laki yang pandai berenang dan menolong Mayang, jika tidak saat ini wanita canti itu hanya tinggal nama.
"Jangan bengong, nanti kesambet setan." Tangan Bagas menyentuh pundak Mayang hingga ibu satu anak itu terperanjat.
"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Rasa takutnya kembali menghantui saat mobil mereka tiba agak jauh dari bibir pantai. Ingin menceritakan kalau dirinya takut jika kepantai malas jika nantinya Bagas justru akan menertawakan dirinya.
__ADS_1
"Aku di sini aja ya, Pak?" Mayang memohon. Laki-laki ber badan kekar itu mengernyitkan dahi, merasa heran kenapa Mayang ingin di sini saja.
"Kamu takut? Ada masalalu yang membuat kamu trauma?" Brondong Bagas dengan pertanyaan. Ibu satu anak itu hanya mengangguk.
"Kan ada saya."
Mereka mendekat ke bibir pantai setelah memesan beberapa jenis makanan dan jus. Suasana tak begitu terik, mentara hanya mengintip malu-malu, memberi kehangatan yang cukup, namun tidak untuk hati Mayang yang kini sedingin salju.
"Duduk." Bagas menepuk pasir di sampingnya. Mayang mengikuti instruksi bosnya itu.
"Boleh saya bertanya?"tanya Bagas menatap lurus ke depan, matanya memandang deburan ombak.
"Boleh. Tanya apa, Pak?" Menetralkan suaranya, Wajah cantik itu kini terlihat pucat.
"Apa saya ini laki-laki buruk?" Namun tak ada jawaban sama sekali . Bagas beralih menatap Mayang yang sudah pucat pasi. Tubuh wanita itu semakin meringsut mundur.
"Mayang. Kamu ...." Belum usai berbicara Mayang sudah lari menjauh dari Bagas. Laki-laki bertubuh tegap itu berlari mengejar ibu satu anak itu dengan susah payah. Langkahnya terhenti saat melihat Mayang terjatuh karena menginjak ranting, kaki polos tanpa sendal itu mengucurkan darah, Mayang berdiri dan berlari menuju mobil.
Napasnya terengah-engan, begitu juga Bagas yang kini sudah berada di belakang Mayang, wanita itu sibuk membukakan pintu mobil yang sebenarnya masih terkunci.
"Mayang ...." Hardiknya, wanita cantik dengan mata merah menyala itu menoleh kearah Bagas.
"Kamu baik?" Tanya Bagas menguncang tubuh Mayang pelan namun yang di tanya tak ada respon hingga tubuh itu seketika ambruk. Dengan sigap Bagas menangkap tubuh ideal itu membopongnya ke dalam rumah makan pinggir pantai itu, mereka ikut panik saat melihat telapak kaki Mayang masih mengeluarkan darah segar. Beberapa dari mereka membawa perban dan membalut luka, namun perban itu tak sanggup menghentikan darah yang mengalir.
"Pak. Sepertinya kaki istri bapak harus di jahit. Lukanya terlalu besar," jelas salah satu pelanggan di rumah makan dekat pantai itu. Dari cara ia berbicara terlihat seperti petugas medis.
Beberapa dari mereka membopong tubuh Mayang yang terkulai lemah, Bagas membukakan mobil untuk membawa Mayang kerumah sakit. Traumanya pada lautan masih membekas walau sudah berjalan belasan tahun.
Bagas mengusap wajahnya kasar, mengumpat kasar, bagai mana jika terjadi sesuatu pada Mayang maka dirinya lah yang pantas di salahkan. Juga berpikir bagaimana menjelaskan pada ibunya Mayang tentang apa yang terjadi saat ini.
__ADS_1
Bersambung....