CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 16


__ADS_3

Dengan hati gundah Bagas melakukan kendaraannya menuju rumah sakit terdekat dan Mayang langsung di tangani oleh petugas medis di UGD, tak lama setelahnya Mayang sadar dan memegang kepalanya yang terasa berat, Bagas segera mendekat. Semetara petugas medis membalut lukanya dan sedikit melakukan jahitan kecil.


"Maafin aku, May," ucap Bagas. Wajahnya terus saja menatap kearah Mayang yang meringis menahan sakit.


"Pak. Sekarang jam berapa?" Bukannya menjawab, Mayang justru menanyakan pukul berapa saat ini.


"Jam dua belas," jawab Bagas mengernyitkan dahi. "Jangan bilang kamu hilang ingatan," sambung Bagas. Mayang mendengar penuturan Bagas seketika terbahak. Tawa yang tak pernah ia tunjukkan, bahkan tawa itu nyaris hilang.


"Saya masih ingat semuanya dan saya minta maaf atas kejadian tadi, Pak," sahut Mayang sambil tersenyum kearah Bagas.


Melihat petugas medis telah selesai memasang perban di kakinya ia segera turun, membuat Bagas diserang kepanikan.


"Hei. Jangan g*la," ucap Bagas sambil membantu Mayang pelan.


"Saya harus menyaksikan hukuman cambuk untuk penghianat," terangnya. Wajah cantik itu meringis menahan sakit pada telapak kakinya, ia begitu sulit untuk menapak dengan sempurna.


"Siapa?" Masih memasang wajah heran. Petugas medis memberikan resep obat tanpa menyela ucapan mereka.


"Bang Rohman. Dia pengkhianat, nanti usai salat duhur akan di adakan hukuman cambuk di masjid At-Taqwa. Aku harus kesana, harus menyaksikannya. Para tetangga pasti sudah berangkat dari tadi," terang ibu satu anak itu.


Wanita satu anak itu berjalan tertatih, beberapa kali ia menepis tangan bosnya yang sedang memapah dirinya. Mayang wanita mandiri, wanita tangguh yang tak ingin terlihat lemah didepan siapa pun.


______


Sementara di tempat lain dua insan manusia yang sedang di mabuk asmara sedang duduk di bangku khusus yang di sediakan, mereka tiba lebih awal. Dua tubuh insan manusi itu terlebih dulu di sucikan di depan umum, sebenarnya bukan di sucikan namun itu sebagai hukuman untuk mereka agar tak melakukan zina di lain waktu, atau sebagai pelajaran untuk anak manusia lainnya yang sedang merasakan indah dan nikmatnya madu dunia agar mereka sadar bahwa zina tidak baik dalam hukum Islam.


Ibu-ibu yang tadinya memfitnah Mayang turut menyaksikan, bahkan mereka saling berbisik dan saling menyenggol satu sama lain, sementara Rohman dan kekasihnya menunduk menyembunyikan malu. Tak lama setelahnya adzan Dzuhur terdengar begitu merdu, mereka menghentikan aktivitasnya memandikan dua sejoli itu. Bahkan ibu tukang gosip tadi ikut salat di masjid, memang itu tujuan Mayang, agar mereka salat jadi menyuruh mereka datang lebih cepat.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu mereka semua selesai melaksanakan salat Dzuhur, tatapan sedih terlihat dari manik mata Tuti, ia menatap nanar kearah dua sejoli yang sedang kedinginan dengan pakaian basah dari ujung rambut sampai ujung kaki, kemudian matanya beralih menatap Mayang yang baru saja sampai, wanita itu mengunakan tongkat yang baru saja dibelikan oleh Bagas.


Tuti mendekat lalu mendorong tubuh Mayang hingga ibu satu anak itu terjembab ke tanah, Bagas yang melihat tergesa membantu Mayang namun didahului oleh beberapa wanita yang berdiri di dekat Mayang.


"Wanita j*lang," umpatnya.


"J*lang saya di mana? Coba jelaskan," kata Mayang santai sambil menyapu bajunya yang terkena debu.


"Kamu memfitnah adik saya hingga dia seperti ini, tapi kamu sendiri jalan sama laki-laki ini," hardik Tuti dengan mata memerah dan tubuh bergetar. Wanita itu benar-benar marah pada Mayang ternyata.


Muka wanita yang memakai bedak pemutih itu merah padam.


"Hey. Ini bos saya dan laki-laki itu." Tunjuk Mayang kearah Rohman. "Silahkan tanya sama penyelengara, ini fitnah atau nyata," sambungnya. Tubuh Mayang bergetar menahan tangis, walau bagaimana pun, dirinya saat ini begitu lemah, laki-laki yang masih bergelar suaminya akan dicambuk dihadapannya dan di depan banyak warga sebentar lagi.


Sementara Tuti terdiam, ada rasa takut pada perempuan itu. Menatap pada beberapa bapak-bapak yang menatap dirinya dengan tatapan tidak suka. Langkah Mayang berjalan tertatih menjauh dari kerumunan warga yang ikut menyaksikan.


Tubuh basah kuyup itu dibawa ke atas panggung dan dudukkan menghadap warga, algojo dengan wajah yang dirahasiakan berdiri di belakang mereka, tubuh tinggi itu berdiri tegap sambil memegang cambuk.


"Kalo iba kita bisa pulang aja," celetuk Bagas saat melihat wajah ibu satu anak itu banyak meneteskan bulir bening yang membasahi pipi mulusnya.


"Saya kuat. Hanya saja saya memikirkan mental Ali nanti. Bagaimana anak itu akan paham jika semua orang menghina anak itu atas perlakuan buruk ayahnya," kata Mayang sesuguka.


"Kamu ibunya, kamu harus kuat. Kamu harus kuatkan dia juga. Paham!" Bagas mengusap punggung Mayang, berharap agar wanita itu sedikit merasa lega.


"Akan kucoba." Tangannya mengusap bulir bening yang menganak sungai di pipi mulusnya.


Mayang bersyukur masih ada beberapa orang baik bersamanya saat ini. Membantunya, bahkan sedikit meringankan beban mentalnya saat ini, bahkan tak jarang saat ini orang semakin menyalahkan pihak istri atas kesalahan yang suaminya lakukan, padahal mereka belum pernah mengerti beban apa yang mereka tanggung.

__ADS_1


Terkadang manusia juga mudah menilai apa yang terlihat oleh mata mereka tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Baru dua puluh kali cambukan tubuh yang disaksikan banyak orang itu menggigil, mengangkat kedua tangannya lemah, masih ada sisa delapan puluh kali cambukan lagi pada masing-masing sipelaku zina.


"Ampun," lirihnya. Tubuh mungil Anita ambruk, acara cambuk dihentikan dengan terpaksa. Anita di baringkan miring dengan posisi selonjoran, mengingat punggung yang baru saja di cambuk masih menyisakan luka perih yang luar biasa. Beberapa dari mereka memberikan minyak kayu putih di hidung Anita namun wanita cantik itu tak kunjung bangun. Seseorang dari mereka yang mengadakan hukuman itu mengumumkan bahwa acara harus berhenti paksa, sehingga beberapa warga menggerutu kesal karena bau saja sampai.


Wanita satu anak itu pulang di antar oleh Bagas, Mayang merasa sungkan sebenarnya jika harus selalu di antar oleh bosnya, namun setiap saat Bagas memaksa dengan alasan tak menghargai atasan. Tak butuh waktu lama Mayang tiba di rumahnya saat Adzana Ashar berkumandang.


Beberapa ibu-ibu duduk di teras rumah mereka karena baru pulang dari Masjid juga sama seperti Mayang. Seperti biasa bosnya itu tak pernah mau mampir


"May. Itu Rohman bukan di hukum karena kamu fitnah kan?" Tanya Bu Eka penasaran. Mungkin saja tetangganya Tuti ini mendengar perkataan Tuti atas fitnah yang Tuti layangkan untuk dirinya.


"Kenapa tadi ga tanya sama penyelengara, Buk?" Dengan tertatih Mayang melangkah menuju rumahnya yang berjarak beberapa langkah tapi terasa begitu jauh menurut Mayang saat ini.


"Halah. Belum apa-apa Allah udah kasih adzab sama Mayang," Tuti tertawa terbahak, seolah apa yang ia katakan benar. Ibu satu anak itu jengah mendengarkan perkataan mereka yang seharusnya tak mencemooh dirinya setiap saat.


Allah selalu memberi kenikmatan dalam kesedihan, memberi kesedihan berbalut kebahagiaan. Allah begitu mencintai hambanya, bahkan hambanya yang berbuat dosa sekali pun.


Mayang membanting pintu kasar, tubuh ideal dan anggun itu merosot di daun pintu. Tergugu memeluk lututnya yang lemah, air mata yang susah payah ia tutupi dari Bagas kini luruh. Begitu menyiksa diri jika orang yang kita kasihi tak pernah mengasihi. Hatinya telah porak poranda tak lagi bisa ditata.


Walau sepenuhnya pemilik raga itu menyadari betapa Tuhan mencintai dirinya dengan segala ujian yang telah Allah berikan untuknya.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya dari kesedihan di lembah yang dalam.


"Buk. Ibu di rumah?" Suara Ali begitu nyaring di telinganya. Gegas Mayang membuka pintu dan berhambur memeluk Ali, air mata itu rapi ia sembunyikan lagi.


"Ibu kenapa?" Merasa heran pada ibunya yang memeluk dirinya tanpa izin seperti biasa.

__ADS_1


"Ibu ga apa-apa. Ali harus rajin belajar, agar Ali pintar. Satu lagi, Ali ga boleh kayak ayah," jelas Mayang. Bocah itu mengecup pipi Mayang bertubi-tubi, tak pernah terselip rasa ingin meninggalkan ibunya di hati bocah itu sama sekali karena ia paham surga di bawah telapak kaki ibunya, orang tua Mayang sering menjelaskan tentang anak laki-laki yang harus berbakti pada ibunya.


Bersambung....


__ADS_2