CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 6


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu, Mayang sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Aku sudah ijin tak masuk kantor hari ini. Aku berkaca di cermin, kini penampilanku sempurna. Tunggu aku akan menjemputmu Mayang, mobil baru ini kamu juga yang akan menikmatinya.


Kemarin aku sudah cukup puas berjalan-jalan dengan Anita, kami bolos dari kantor. Semoga pendekatanku dengan Anita berjalan sempurna.


Kini aku tiba di rumah sakit, Mayang sudah menunggu di depan rumah sakit karena aku sedikit terlambat menjemputnya. Kali ini aku tiba melihat istriku yang sangat kurus dan matanya terlihat sangat dalam seperti orang yang kurang gizi.


Aku segera menghampirinya, tak ad niatku untuk membopong tubuhnya yang kurus itu. Rasanya malas sekali menyentuh tubuh ringkih itu, mungkin juga dia sudah tidak mandi beberapa hari pasti daki di tubuhnya sudah menumpuk. Aku memapahnya berjalan pelan menuju mobil sedangkan ibu membawa tas yang lumayan besar, mungkin itu isinya baju Mayang.


Sekilas aku melirik wajah ibu mertuaku yang tampak keheranan menatap mobil mewah yang ada didepannya saat ini, tapi tak bertanya sepatah kata pun.


Istriku memasuki mobil bagian belakang dan juga ibu mertuaku duduk di sampingnya. Mereka tak terlihat seperti nyonya tapi lebih seperti pembantu.


Aku menjalankan mobil dengan pelan, bukan tak bisa menyetir. Aku sudah bisa menyetir sejak di bangku SMA, ayahku yang mengajarkanku menyetir. Karena aku memang terlahir dari keluarga menengah keatas, jadi jangan salahkan sifatku yang ingin hidup mewah.


Sudah sampai di halaman rumahku yang tak begitu luas, ada pohon mangga yang berdiri kokoh di depannya. Untuk sementara waktu bisa kuparkirkan mobil di sini tapi besok aku akan mebuatkan garasi di samping rumah, walau garasi sederhana nantinya yang penting mobilku tak terkena terik mentari.


Beberapa ibu-ibu duduk di depan rumah tetanggaku, mereka membeli sayuran dan ikan segar yang dibawa oleh pedagang keliling.


”Eh, Mayang udah pulang?” dengan bibir khas wanita yang di buat-buat ibu itu bertanya pada mertuaku. Aku terasa terabaikan, tapi kami memilih melayani pembicaraan mereka sebentar, karena tak enak jika di abaikan.


”Iya, Buk. Udah diperbolehkan pulang,” ibu mertuaku menjawab dan tersenyum tipis. Aku tahu ibu mertuaku merasa tak enak karena aku tak ikut menjaga Mayang di rumah sakit, siapa yang mau menginap di rumah sakit karena di sana terasa sangat panas dan tak nyaman.


Bisik-bisik dari mulut ibu-ibu itu terdengar samar tapi aku tak peduli, biarkan saja mereka membicarakan aku. Bukankah makin banyak orang yang menggunjing kita makin banyak pula pahala yang kita terima.


Ibu sudah masuk duluan kedalam rumah dan membersihkan tempat tidur agar Mayang bisa beristirahat, kasian juga badannya terlihat begitu lemah. Setelahnya istriku segera di baringkan ke tempat tidur sesaat setelahnya istriku terpejam. Ini kali pertama aku merasa kasihan melihatnya.

__ADS_1


Entah mengapa hatiku terlalu keras jika pada istriku, padahal dia sering membantuku dan menyediakan keperluanku saat aku sakit, jujur Mayang wanita yang sangat baik, penurut, penyabar dan penyayang, mungkin saja sifat yang diturunkan oleh ibunya.


”Ibu mau bicara sebentar,” ibu mertuaku melirik ke arahku. Kini hatiku tak karuan. Apa mungkin ibu akan menayangkan pasal mobil yang baru kubeli. Aku mengekor di belakan ibu, kami duduk di ruang tamu beralaskan tikar yang kubeli tujuh puluh ribu dapat dua lembar.


”Ada apa, Bu?” aku bertanya ragu, rasa khawatir menyelinap dipikirkan.


”Mulai hari ini Mayang tidak boleh bekerja berat hingga dia benar-benar sembuh, kamu sebagai suami harus bisa merawat dan menjaga Mayang.” ibu berbicara penuh penekanan, penuh keseriusan.


”Baik, Bu,” kata-kata itu lolos begitu saja dari bibirku.


”Itu mobil siapa?” Matanya menatap keluar, dari dalam terlihat jelas mobil yang terparkir di bawah pohon mangga.


Benar saja pertanyaan ini akhirnya kudengar juga. Aku harus menjelaskan apa pada wanita tua ini, haruskah aku menjelaskan kalau ini mobil yang kubeli dengan uang warisan Mayang. Tiba-tiba Ali datang dan menggelayut manja pada neneknya, syukurlah aku tak harus menjelaskan saat ini mobil siapa itu, baiknya aku segera mencari alasan agar bisa menjawab pertanyaan ibu mertuaku itu lain waktu jika ia kembali bertanya.


Sebelum aku mempunyai Ali, sering kulihat ibu mertua membeli jajanan untuk anak kakak ipar ku, jika berani pelit pada anakku bersiaplah aku tak akan merawat Mayang.


”Uang nenek habis waktu di rumah sakit, ini cuma sisa dua ribu. Ali beli es krim dua ribuan aja ya?” wajah ibu mertuaku terlihat sedih, mungkin benar uangnya sudah habis.


Ali bocah polos itu memekik girang, dia berlari menuju kedai terdekat. Mungkin tadi Ali ada melihat temannya makan es krim tapi dia tidak dibagi.


Kulihat ibu beberapa kali menguap, lalu berpamitan ingin pulang, motornya tadi sudah di bawa pulang oleh temannya Riska dan diparkirkan di kedai depan gang. Aku menarik boneka panda besar milik Ali lalu menjadikannya bantal untuk merebahkan tubuh sejenak.


Ali terlalu di manja oleh ibunya dan Riska, sedikit pun aku tak boleh memarahi Ali. Mereka akan membela Ali terlebih Riska dia rela berdebat panjang lebar saat aku memarahi Ali saat melumuri lumpur di motor kesayanganku.


Aku menyuruh Ali mencuci motorku yang masih dua Minggu bersamaku, Riska yang saat ini mendengar teriakanku langsung berlari memeluk Ali. Jika terus-terusan dimanja anak itu akan besar kepala.

__ADS_1


___


Entah berapa lama aku tertidur saat aku terbangun hari sudah gelap, tidak mungkin rasanya aku harus belanja lagi dan memasak. Baiknya aku membeli makanan sudah matang saja. Kulihat istriku masih tertidur pulas dan Ali di samping ibunya, sepertinya anak itu sudah mandi, terlihat dari pakaian yang Ali kenakan sudah berbeda.


Lebih baik aku tidak membangunkan mereka, langsung saja pergi membeli makanan yang sudah matang. Tak butuh waktu lama aku sampai di kedai makan milik Sumi janda kembang incaran para laki-laki, wajahnya cantik dan bertubuh seksi menggoda, dia selalu berpenampilan menarik dan selalu menggunakan celana atau rok ketat hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.


”Dek beli nasi putih tiga,” pintaku pada Sumi yang sedang sibuk melayani pembeli, dia tidak hanya menjual nasi atau lauk juga menyediakan kopi dan cemilan.


”Apa lagi, Bang?” tanyanya tanpa menoleh. Tangannya lihai membungkus makanan.


”Ayam satu sama ikan gabus goreng dua ya, Dek,” pintaku dengan nada manja sedikit. Sumi hanya mengacungkan jempolnya tanda setuju.


Aku duduk di bangku depan, mataku tak lepas memandang lekuk tubuh Sumi. Aku terlalu bodoh dulu menolaknya hanya karena dia janda, rasanya tak adil saja jika aku tak pernah mereguk nikmatnya keperawanan, Sumi sudah menjanda sudah tujuh tahun, waktu yang sangat lama tapi dia terlihat santai saja seperti tak punya nafsu saja, atau mungkin dia terlalu patah hati saat aku menolaknya hingga Sumi tak ingin menikah sementara waktu.


Pesanananku telah selesai di bungkus. Aku menyodorkan uang seratus ribu rupiah walau pun Sumi telah menyebutkan nominal belanjaan ku. Seperti ada rasa gengsi takut jika Sumi meremehkan ku, saat kuterima kembalian dari Sumi tak lupa aku mengedipkan sebelah mataku.


____


Istriku menyantap habis ikan gabus yang kubeli untuknya begitu juga anakku, mereka lahap sekali. Pasca operasi tidak boleh makan pedas juga tidak boleh makan ayam. Ali sangat menyayangi ibunya jadi kubeli kan saja lauk yang sama, aku menghabiskan ayam tanpa sisa. Tadi Ali sempat meminta alasanku hanya satu, jika Ali tak sayang pada ibu silahkan makan ayam goreng ini namun Ali menggeleng mantap. Aku tahu anak itu berbakti.


Istriku berbeda, dia hanya diam sejak pulang dari rumah sakit. Semua perkataanku dia turuti, termasuk perkataanku barusan, aku ingin Ali tidur bersama ibunya.


Biasanya Ali tidur sendiri karena dia sudah mulai pintar dan besar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2