
Pagi-pagi sekali Rohman sudah sibuk mempersiapkan dirinya ingin berangkat kekantor untuk bekerja, jangan tanyakan seberapa dia peduli pada anak dan istrinya sama sekali tidak peduli.
Matanya terus menatap pantulan dirinya di cermin, tubuhnya yang tinggi dan alis tebal terkesan seperti wajah Turki. Itu yang ia banggakan selalu, seolah ia merasa tak pernah terkalahkan dengan siapapun.
Mobil yang ia dapatkan dari warisan Mayang membuat dai semakin angkuh dan seenaknya.
Matanya terus menelisik setiap inci wajahnya yang terlihat putih dan bersih.
'Sudah tampan,' gumamnya lalu melenggang keluar kamar. Istrinya yang belum pulang dari rumah mertuanya saja ia tak peduli. Ia merasa tak harus peduli karena bukan dia yang menyuruhnya pergi.
Matahari mengintip dari balik bukit, memperlihatkan cahaya indahnya. Dari kejauhan Mayang Sari istri dari Rohman terlihat berlari kecil menuju kediamannya, melambaikan tangan kearah suami yang hendak berangkat kekantor. Namun Rohman sama sekali tak peduli akan hal itu, ia memilih melajukan mobilnya tanpa menoleh kearah sumber suara.
Mayang yang di tatap beberapa warga memandangnya iba, bisik-bisik terdengar ke telinga Mayang sang istri. Namun wanita anak satu itu lebih memilih diam, dia yakin akan tiba saatnya bahagia menyapanya.
Sebelum pulang kerumah Mayang terlebih dulu mengantarkan Ali kesekolahnya karena pakaian sekolah Ali juga berada di rumah orang tua Mayang. Wanita berambut sebahu itu memasuki rumahnya yang tidak terkunci.
Niat dalam hatinya tadi memanggil sang suami untuk meminta nafkah bulanan yang tak kunjung ia berikan. Semua manusia punya batas kesabaran begitu juga Mayang, wanita berkulit putih itu kini merapikan diri, hendak melanjutkan aktivitas yang rutin ia lakukan beberapa Minggu terakhir ini.
Bukan aktivitas seperti dulu yang membuat kulitnya terlihat menghitam akibat paparan sinar matahari, kini pekerjaan yang dia lakukan jauh lebih baik. Juga penghasilannya sudah bisa untuk mencukupi sekedar untuk menyenangkan buah hatinya, tidak seperti dulu dia harus berhemat dan mengubur keinginannya untuk memiliki baju, sepatu dan tas bagus.
Berlari kecil keluar rumah karena hari ini dia sedikit terlambat, bahkan tadi sudah di tegur melalui aplikasi hijau di gawainya.
___
Caffe masih terasa sepi, seperti biasa caffe buka jam sepuluh pagi, sedangkan sekarang Mayang tiba pukul sepuluh lewat lima belas.
”Kok telat?” Sapa suara yang bagitu ia kenal menghentikan langkahnya lalu berbalik.
__ADS_1
”Maaf, Pak. Saya tadi ...”
”Sudah ... Sudah, kerjakan tugasmu setelah itu kita ada meeting penting,” potong laki-laki bertubuh tegap yang berdiri tepat di hadapan Mayang saat ini.
Wanita beranak satu itu kini tersenyum sumbang, ia mengira bosnya akan marah padanya jika ia terlambat, nyatanya tidak. Tapi suara laki-laki itu sedikit membuat nyali Mayang menciut.
Tugas wanita beranak satu itu hanya mengumpulkan data-data pengeluaran dan pemasukan yang ada di caffe ini dan beberapa caffe cabang di kota S dan di kota B.
”Huam.”
Wanita beranak satu itu menggeliat sedikit membenarkan tulang-tulang yang terasa nyeri akibat lama duduk di kursi, walau kursi yang ia duduki lumayan empuk tapi cukup terasa pegal juga jika di gunakan dalam waktu yang lama.
Tanpa ia sadari sepasang mata menatapnya sambil mengulum senyum. Bagas memperhatikan setiap detik tanpa terlewatkan apa yang dilakukan ibu beranak satu itu.
”Mayang. Sudah selasai?” Tanyanya membuat ibu beranak satu itu memegang dadanya dengan cepat.
Mereka berangkat menggunakan mobil mewah milik Bagas, walau berulang kali ibu beranak satu itu menolak namun dapat paksaan juga yang berulang kali dari laki- bertubuh atletis itu.
”Kita makan di mana?” Selalu saja Bagas yang memulai percakapan. Jarang sekali Mayang mau berbicara jika bukan dalam keadaan terdesak. Seperti kemarin saja ibu beranak satu itu rela menahan lapar seharian demi mengikuti bosnya melakukan survei lapangan untuk pembangunan caffe baru.
”Kita punya caffe pak. Kenapa tadi ga makan di caffe aja?” Alis Mayang bertaut. Terlihat ada rasa kesal di sana, namun laki-laki yang mengemudikan mobil di sampingnya malah tertawa terbahak.
”Bosan,” lontarnya. Mata ibu beranak satu itu beralih menatap bosnya itu. Merasa heran dengan sikap orang kaya yang gampang menghambur-hamburkan uang.
”Aku nurut aja, Pak,” imbuh wanita beranak satu itu. Mata Mayang kini fokus kembali menghadap pandangan lurus ke depan, melihat jalanan yang macet dan kendaraan yang sibuk ingin menyalip agar cepat sampai tujuan. Sementara Bagas hanya mengangguk-angguk.
Walau sudah menikah hampir delapan tahun tapi Mayang masih seperti anak kecil, wanita butuh bimbingan bukan cacian. Terasa lemah dan gampang menangis karena begitulah wanita diciptakan.
__ADS_1
_____
Mobil menepi di sebuah restoran mewah yang ada di dekat kota S. Mereka akan makan di sini setelahnya akan mengunjungi cabang caffe kota S dan berangkat ke tempat yang di janjikan kliennya.
Ibu beranak satu itu merasa salah tingkah saat memasuki ruangan yang luas dan di penuhi dengan orang-orang yang berpendidikan dan jauh lebih hebat di atasnya. Matanya memindai sekitar lalu dengan terpaksa wanita yang terlihat anggun itu mendadak takut dan dengan sigap memeluk tangan kiri Bagas.
Laki-laki yang bertubuh atletis itu kaget dan jantungnya berdetak lebih cepat, berusaha dengan sekuat tenaga mengontrol emosi yang semakin menggebu. Wajar saja, dia laki-laki normal seperti laki-laki pada umumnya.
Sampai pada meja yang ia tuju akhirnya Bagas melepaskan tangan Mayang dengan pelan.
”Maaf, Pak.” Ibu satu anak itu menunduk dan lalu meraih kursi miliknya. Namun laki-laki yang di butuhkan itu hanya mengangguk kecil.
Memilih beberapa menu makanan, tak lama setelahnya makanan datang dan mereka menyantapnya dalam keheningan karena merasa canggung hingga sendawa Bagas memecahkan keheningan antara mereka. Ibu satu anak itu mengulum senyum, Bagas hanya meliriknya sekilas, tak perduli dengan apa penilaian wanita cantik yang ada di hadapannya saat ini.
Bagas memanggil pelayan untuk membayar makanan lalu mengajak Mayang untuk ikut meeting yang telah dijanjikan. Suasana canggung masih menyelimuti kedua insan yang sudah sama-sama memiliki tujuan hidup hanya saja permasalahan mereka berbeda.
Dalam mobil laki-laki bertubuh atletis itu menyetel lagu yang membuat lara di hati Mayang kian menghimpit dada, bongkahan kecil yang telah banyak lubang akibat terlalu banyak merasakan kecewa semakin sakit terasa. Air mata yang sudah payah wanita cantik itu tahan kini luruh juga, membentuk sungai kecil di pipi putihnya.
”Kamu kenapa, apa saya ada salah sama kamu?” Tanya Bagas lembut, ia merasa bersalah. Takut jika nanti dirinya menyakiti hati sekretarisnya saat ini.
Mayang menggeleng pelan, rasa sesak di dada ia tahan agar tak terdengar sesugukan, rasanya wanita yang berbadan ideal di samping Bagas saat ini ingin menjerit sekuat tenaga agar hatinya terasa lega. Laki-laki berambut ala artis Korea itu kini mengusap pelan pipi lembut Mayang.
”Sudah. Lupakan masalahmu, kita sedang kerja. Sebaiknya profesional dalam suatu pekerjaan,” tuturnya, matanya terus fokus kedepan.
Mayang masih tak sanggup mengatakan apapun, dia hanya terdiam tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Sesekali ia terisak lalu mengusap sudut matanya menggunakan punggung tangan.
”Make up kamu jadi luntur,” kata Bagas melirik sekilas kearah Mayang. Tak ada jawaban dari ibu satu anak itu, tapi dia mengeluarkan sesuatu dari tas kecil miliknya. Memoleskan sedikit di bibirnya lalu memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Sementara laki-laki tampan yang sedang mengemudi itu hanya menatap Sabil tersenyum tipis dan menggeleng kepalanya pelan. Wanita memang sulit di mengerti ya.
__ADS_1
Bersambung...