
Perlahan ia mulai membuka kelopak matanya yang sedari tadi ia pejamkan, tampak permata saffier yang begitu menyejukkan di ke-dua kelopak matanya, surai pirang emasnya tampak sesekali bergerak liar tersapu angin, berdiri diam diatas pahatan patung Yondaime-Hokage yang tidak lain adalah ayahnya,,
Tanpa terasa sudah setahun pasca Perang Dunia Shinobi ke-4, keadaan telah kembali normal seutuhnya,, dunia telah mendapatkan kedamaian mutlak, dimana semua yang ada dipertaruhkan untuk meraihnya.
Kini tokoh utama kita sedang menatap hamparan desa tercintanya, desa yang begitu ia lindungi dengan satu nyawa yang ia punya, menatap hamparan desa daun tersembunyi dengan tatapan sayu, entah apa yang kini berada di benak fikiran pemuda tersebut.
Namun ada yang salah jika dilihat secara intens dari raut wajah tersebut, entah mengapa pandangan itu terasa begitu berbeda, bukan lagi tatapan yang menyejukkan bagi siapapun yang memandangnya. Seakan tersirat sebuah kesedihan didalamnya,, dan ibaratkan sebuah lentera yang mulai redup, dan pastinya akan membuat siapapun memiliki kehendak untuk mengajukan pertanyaan.
"Ada apakah gerangan ?
Sebait kata sederhana penuh tanda tanya, namun mereka tak kan pernah tau apa dan kenapa, karena pada dasarnya semua sama saja,, semua yang di impikanya, satu persatu telah direnggut, menyisakan kekosongan dan kehampaan.
Keberadaan yang perlahan mulai dilupakan, semua jasa, dan juga pengorbananya sejauh ini, seperti sebuah kapas putih yang kemudian diterpa angin, terbang dan berlalu,, seperti dirinya saat ini, semua telah menganggapnya berlalu, seakan keberadanya bukanlah apa-apa, dan kini ia merasakan kembali, hal yang selalu ia takutkan. Kesendirian,, yah !,, ia takut jika harus kembali merasakan sesuatu yang seakan merajam jiwanya.
Dan tak bisa ia pungkiri, ia sadar jika dunia pun ikut melupakanya, seakan menertawakanya saat ini. Kini,, dirinya bukan lagi Uzumaki Naruto yang dulu,, ketika dunia dan mereka telah berubah,, tak ada alasan lain untuk dirinya tidak berubah.
Tak ada lagi senyum mentari darinya, tak ada lagi Ninja berisik yang selalu berkoar-koar tentang cita-citanya,, dan tak ada lagi kebodohan yang membuat orang lain jengkel, perlahan namun pasti ciri khas tersebut seakan menghilang dari jiwanya.
Dan kemudian memejamkan kembali kelopak matanya, fikiranya berkecambuk, penuh dengan hal yang sejujurnya tak pernah ia ingin dan rasakan. Mulai dari cinta pertama yang telah ia relakan untuk rivalnya, lalu cita-cita yang semenjak kecil ia teriakkan dengan semangatnya pun telah pupus sudah, dan sekarang,, sosok yang mulai ia cintaipun iku dirampas dari dunianya.
__ADS_1
"Dimanakah keadilan itu? 'gumamnya pelan dengan mata yang terpejam.
TESS...
Tanpa terasa sebulir permata cair nan bening jatuh dari singgasana kelopak yang tersimpan iris biru shaffier didalamnya, mengiringi suasana hatinya yang tengah berkabung, bahkan langitpun nampak terselimuti awan hitam,, gemuruh mulai terdengar satu persatu,,
TES.. TES..
Dan langitpun ikut menangis, mulai membasahi permukaan tanah disetiap tetesnya,
Merentangkan ke-dua tanganya kesamping, dan mendongakkan kepalanya menatap hamparan langit yang kini tengah menangis,, menikmati setiap tetes dinginya air hujan yang menerpa tubuhnya, sejenak melupakan segala keluh kesah yg dirasakannya.
"Mau sampai kapan kau terus seperti ini,, Naruto ? 'tiba-tiba saja terdengar suara serak nan berat menggema dilangit-langit fikiranya.
"Hmmm,, entahlah Kurama ! 'gumamnya singkat.
"Kau tetap saja bodoh nak,, bukalah matamu, dan bangkitlah,, kau sangat menyedihkan dengan keadaanmu sekarang,
"Aku tau, mungkin saja mereka memiliki alasan melakukan semua ini kepadaku,, 'lanjut Naruto kemudian.
__ADS_1
"Alasan katamu? Cih,, kebodohan apa lagi yang kini bersarang di otak dangkalmu, tak sadarkah jika selama ini kau hanya dimanfaatkan oleh mereka, 'lanjut sang Rubah dengan exspresi yang tampak mengisyaratkan kekesalanya terhadap pemuda yang menjadi wadah nya tersebut.
Tak ada balasan barang sepatah katapun, Naruto memilih diam dan memikirkan perkataan Bijuu tersebut, ingin sekali ia menyangkal semua itu, namun ia sendiri sadar jika apa yang dikatakan Bijuu tersebut benar adanya.
"Ketahuilah nak, dari awal aku sudah menduga hal ini cepat atau lambat akan terjadi, dan sekarang,, kau bisa lihat sendiri, dirimu yang beberapa tahun lalu mereka sanjung-sanjung, sekarang bahkan mereka seperti tak mengenalmu.
"Tolong beritahu aku Kurama,, dimana letak kesalahanku ?
".."
"Sudahlah Naruto !,, mungkin lebih baik kau pergi dari desa bedebah ini, pergi dan carilah kebahagiaanmu diluar sana, dan mulailah hidup baru".
"Hah,, mungkin kau benar Kurama, lagipula aku takut kegelapan ini perlahan akan mengoyak kesadaranku dan menjadikanku Monster yang lebih mengerikan dari pada Madara sekalipun, 'ucapnya lirih sembari membuka perlahan kelopak matanya yang sedari awal ia pejamkan. Ia tau pasti jka keadaan seperti ini terus berlanjut akan membangkitkan kegelapan yang sejak kecil ia kubur dalam-dalam direlung jiwanya, sebuah kegelapan pekat yang hanya Naruto dan sang Bijuu yang tau.
Sontak ucapan Naruto barusan membuat Bijuu terkuat melebarkan matanya, dengan tubuh yang bergetar, Kyubi tau betul apa yang dimaksudkan Host-nya tersebut. Sebuah kegelapan yang jauh lebih mengerikan dari Ekor-10, yang pada dasarnya terkunci rapat didasar jurang jiwa pemuda yang menjadi wadahnya.
"Lalu apa yang sekarang akan kau lakukan?,, pergi atau tetap tinggal ditempat terkutuk ini, sudah tak ada lagi yang menginginkanmu terlihat di desa yang kau pertaruhkan?
Sejenak Naruto terdiam memikirkan ucapan Partner-nya barusan, ia ragu untuk mengambil keputusan bulat meski jelas-jelas ia merasakan penghianatan dari seluruh penghuni Konoha, entah mengapa ia merasa berat untuk beranjak pergi dari desa yang telah ia lindungi sejauh ini,, namun disisi lain hatinya berteriak tentang rasa sakit yang telah mewarnai perjalanan karir hidupnya. Memori-memori buruk seakan bertebaran dan terbayang difikiranya, dan kemudian ia telah memutuskan..
__ADS_1