Dark Creature

Dark Creature
31


__ADS_3

Sudah cukup ia berbasa-basi, perlahan seringai keji tercipta dari sudut bibirnya. Sedetik kemudian,, Naruto telah melesat cepat pada dua lawan dihadapannya.


Singkatnya ketiganya bertarung dengan begitu sengit, adu Taijutsu terjadi dengan sangat cepat, Naruto terus bergerak dengan brutal, membuat dua legenda Sannin Konoha itu kewalahan.


Srettttt


"Heyaaaaaaaaaaaa"


Grepp


"Tidak lagi,, 'ucap Naruto yang menangkap pukulan super kuat dari mantan ibu angkatnya tersebut.


"Ap-,,,


Dari arah belakang Orochimaru bersiap melakukan serangan.


"MATILAH KAU BEDEBAHHHHHHH"


Sringgggg


Rantai-rantai itu kembali muncul dan menghadang pergerakan lincah Orochimaru. Terus bergerak untuk mengindari terjangan-terjangan dari rantai hitam itu,,


'Sial,, rantai ini lebih liar dari ular-ularku, 'batin Orochimaru kemudian.


Grebbbbbb


Sebuah kesalahan fatal tatkala Orochimaru melemahkan pertahananya, dari arah belakang, sebuah rantai telah menjerat leher dari Sannin ular tersebut. Berusaha melepasnya dengan segala cara, namun, ia tak tahu jika rantai-rantai itu bukanlah rantai biasa, sebuah rantai abadi sebagai pengikat jiwa.


,,


Grebbbbb


Bahkan dua Legenda Sannin yang kemampuanya diatas Kage itu tak berkutik ketika berhadapan dengan Naruto, segala Jutsu telah dimentahkan begitu saja dengan simple.


"Aaaarrrrrrrrgggggghhhh lepaskan aku bocah brengsek, 'teriak Tsunade yang lehernya tercekik erat oleh lengan Kiri Naruto.


Brughhhh


Dengan beringas Naruto menghantamkan tubuh Tsunade keatas tanah.


Brugh.


"Arghhhh,, 'erang Tsunade kemudian, dengan tertatih-tatih mencoba untuk bangun, namun sebuah injakan keras terlebih dulu membuat Tsunade membentur tanah kembali.


Bruuuuggghhh


"Ugh,,, ku-kuat sekali, 'ringisnya kemudian.


,,


"Aku tak menduganya jika kau terlibat dengan konspirasi itu. Ba-chan!, 'seru Naruto kemudian.


,


,


"Arrrggghhh, persetan denganmu bocah, 'hardik Tsunade keras.


"Jadi-,,,,


"Tak ada alasan untuk tetap membiarkanmu hidup"


"ARRRRRRGGGGGGGGGGGGHHHHHH, 'tsunade berani bersumpah, rasa sakit teramat sangat ia rasakan ketika Naruto menginjak-injak tubuhnya dengan begitu keras, terus dan terus menerus hingga tulang punggungnya mulai remuk satu persatu.


"AMPUNI AKU NARUTOOO,, AAAAAAARRRRGGGGGGGHHHHHH SAKIIIIIIIIIITTTTTT,,, 'terus berteriak kencang hingga perlahan meregang nyawa.


Krakkkk


"ARRRGGGGGGGGHHHHHHHHHH, 'sungguh sakit ketika Naruto menarik kedua lengannya keatas hingga memutar kebelakang punggung.


Grakkkkkkkk.


"AAAAAAAAARRRGGGGGGGHHHHH,,, OHOOOKKKKKK"


Kedua tanganya telah terlepas dari tempatnya berada. Darah keluar deras membanjiri permukaan tanah tempat Tsunade terbaring.


Sreeetttt


Sebuah pedang telah tergenggam erat oleh Naruto, sebuah pedang hitam kelam yang tampak usang dengan mata pedang yang terlihat tumpul.


Jrasshhhh


Jrasshhhh


Jraassssshhhh


Tubuh dari satu-satunya Senju yang tersisa itu telah terpotong menjadi tiga bagian, kepala, tubuh, dan kaki.


,,


,,


"Hoeeeekkkkkkk"


"Ughhhh,,, hoeeeeekkkkkkk, "kembali mereka para Shinobi disuguhkan pemandangan kejam yang terlihat begitu menjijikkan.


"Si-siapapun, tolong hentikan iblis itu, 'begitulah racauan demi racauan yang diungkapkan para Shinobi.


"Hiksss,,, Tsunade-sensei,, 'Sakura, ialah sosok yang begitu sedih tatkala melihat Naruto mencincang Senseinya itu dengan kejam, sungguh ia benar-benar takut.


,,


,,


YOTON : YOUKAI NO JUTSU


Sebuah gelombang lava bercampur lahar telah dilepaskan Mizukage kelima dengan Intensitas besar menuju sesosok pemuda yang berdiri disamping mayat Hokage kelima.


Mata itu berkilat tajam, lima meter, tiga meter, satu meter, dan-,,,


Wusssshhhhhh


Blarrrrrrrr


Jutsu itu terpental kearah lain ketika lengan Chakra kembali muncul dengan cepat dan mengibaskan Jutsu dari Mei Terumi dengan sangat mudah. Seakan muncul untuk terus melindungi tuanya dari segala serangan yang ada.


Brughh.

__ADS_1


Jatuh berlutut tatkala Mei Terumi menyaksikan sendiri bagaimana Jutsunya dimentahkan begitu saja, keputusasaan menggerogoti jiwanya, mata indahnya kini telah terpancar raut ketakutan yang begitu tinggi, tak ada yang bisa dilakukanya.


Sreeeetttt


,,


"AWAS MIZUKAGE-SAMAAAAAAAAA! "


DEGGGGGG


Jlebbbbbb


Terlambat untuknya sadar hingga menyebabkan sebuah pedang telah menancap diperutnya.


"Uhukkkk,, ba-bagaimana bisa?, 'ucapnya dengan terbata, ia masih tetap melihat si pemilik yang berdiri kokoh dihujung sana, namun pedangnya telah bersarang diperutnya, dengan kata lain, pedang itu sengaja dilemparkan pemiliknya.


Surai pirangnya melambai-lambai mengiringi gerakan angin, tanganya benar-benar telah berlumur darah, dalam keheningan itu tiba-tiba saja sebuah guncangan terjadi.


Grak


Blarrr


Sebuah Jutsu Doton telah mengekang pergerakan Naruto dengan mutlak, kemudian biru Saffier itu menatap seorang perempuan bersurai hitam dengan pakaian merah kecoklatan, perempuan itulah sipemilik Jutsu tersebut.


"K-kau,, kau harus membayar kematian kakek, 'jelas perempuan tersebut dengan marah, diketahui bernama Kurotsuchi, cucu dari Oonoki yang beberapa saat lalu ia bunuh.


"Kau cucu dari bedebah kerdil itu, 'ucap Naruto datar, dalam keadaan terkekang sekalipun tak membuat wajah kosong nan tenang itu gusar sedikitpun.


"MATILAH BAJINGAAAAAAAAAAN, 'teriak Choujura mengayunkan pedang Hiramekari nya kearah kepala Naruto.


Sudut matanya menginterupsi serangan dari arah belakang, dan ia melihat sekilas tampak seorang bersurai biru berkacamata tengah mengayunkan sebuah pedang kearahnya, tepatnya bagian leher.


Krak


Grakkk


Bommmmmmmmmmmmm


Ledakan energi dahsyat kembali menyeruak dari tubuh Naruto, mementalkan apa yang berada di radius jangkauannya. Termasuk Choujuro dan Kurotsuchi itu sendiri.


Tap


Tap


Setelah beberapa saat berlalu kini Naruto berjalan pelan menuju sang target selanjutnya, Mei Terumi yang tengah terduduk kesakitan memegangi perutnya akibat sebuah pedang yang masih menancap menembus punggungnya.


"Ughhh, To-tolong ma-maafkan aku Na-naruto, 'rintihnya bergetar, ia sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya, sebuah pedang tak cukup untuk pengiring kematiannya.


Kemudian Naruto berjongkok pelan dihadapan Mei, dan mengelus surai merah maroon itu dengan lembut, mata perempuan dihadapanya telah basah oleh lelehan airmata.


"Kau ingin menyiksaku hidup-hidup?, 'ucap Naruto pelan sembari tetap mengelus rambut dari Godaime Mizukage itu.


"Hiksss,, ti-tidak,, maafkan aku! "


Dalam ketakutan itu Naruto memajukan pelan wajahnya, membuat Mei Terumi merona sekaligus ketakutan, hingga wajah itu berhenti tepat disamping telinganya.


"Akan kutunjukkan bagaimana aku menyiksamu hidup-hidup, ******"


Deggggg


Mata itu melotot dengan lebar tatkala bisikan tajam itu seakan menusuk telinganya.


"Ohokkkkkkk,, 'kepala bersurai merah maroon itu telah tersungkur bersamaan dengan tubuhnya, mulut yang sebelumnya memuntahkan elemen Lava itu kini berganti memuntahkan darah segar.


Sreetttt


"ARRRRRGGGGGGHHHHHHHHHHHH, 'teriaknya ketika Naruto mencabut pedang yang bersarang diperutnya dengan sangat-sangat kasar.


Berjalan merangkak dengan tertatih-tatih, mencoba melarikan diri dari iblis dibelakangnya, berharap bisa lari dan mendapatkan pertolongan, Namun semua Shinobi tengah sibuk melawan tengkorak berjalan yang tiba-tiba saja muncul dari bawah tanah, menyebar terror dimalam yang redup dibawah sinar rembulan.


Bunyi dentingan logam, jerit kesakitan sebelum kematian, dan tangisan ketakutan membuat malam tersebut benar-benar teramat sangat mencekam, darah seperti hujan yang terus berjatuhan, mulai menggenang becek disetiap tapak kehidupan.


Dan akan menjadikan malam itu sebagai moment penuh sejarah yang takkan pernah ingin diingat, namun akan terus menjadi ingatan kekal mereka meski itu keneraka sekalipun. Menyedihkan memang, tapi begitulah hukum yang berlaku, "jangan bermain api jika tak ingin terbakar api", cukup sederhana namun penuh makna.


Terus merangkak dalam kesakitannya, meninggalkan bercak darah disetiap senti jalan yang dilaluinya, menolehkan kepalanya kebelakang untuk melihat si pembantai yang masih berdiri tegap dan memandangnya kosong dari kejauhan, kemudian menolehkan kembali kepalanya kedepan dan-,,


Brugh


Kepala itu membentur sebuah kaki jenjang berbalut celana hitam, dengan patah-patah Mei menengadahkan wajahnya pelan keatas.


Deggggg


Mata itu tengah menatapnya penuh kekosongan dan kehampaan, dan kemudian Mei melihat dengan jelas, sebuah senyum tipis, ah itu bukanlah senyuman menawan yang didambakan Mei selama ini, akan tetapi,,, itu sebuah seringai mengerikan dari mantan Shinobi Cap rubah tersebut.


Duaaaaaakkkkk


"Ohooookkkkkk,,, 'kembali Mei memuntahkan darah ketika kaki Naruto menghantam wajahnya dengan begitu keras.


Brughhh


Tubuh sexy penuh gairah itu kini tampak mengenaskan, baju yang sudah terlihat compang camping, dengan warna merah kecoklatan. Hidung, telinga, semua telah dibasahi oleh darah yang keluar.


"Ma-maaf,, 'hanya kata itu yang mampu Mei ucapkan, meringkuk kesakitan sembari menunggu ajal.


Kemudian Mei dapat melihat Naruto yang tengah menunjuknya dengan ujung pedang hitam yang tadi menembus perutnya. Semakin panik dan mencoba beringsut untuk menyelamatkan diri. Namun-,,,,,,


Crasshhhhh


Brugh


Brugh


Tubuh itu,, terbelah vertikal menjadi dua bagian. Dan terbaring menyamping menunjukkan organ-organ tubuh bagian dalamnya.


,,


,,


"Ti-tidaaaaaaaaaaaaaaakk, 'teriak Ao dari kejauhan tatkala melihat kematian Mei yang begitu tragis.


Jlebbbb


"Ohokkkkkkk,, 'lengah hingga sebuah patahan tulang tajam menembus jantungnya dari belakang, dengan gerak patah-patah Ao menolehkan kepalanya kebelakang, dan disaat itu pula ia dapat melihat tengkorak yang menjadi pelaku penusukan tengah tertawa dengan gilanya.


"Te-tengkorak sialaaaaaaaaaaan"


Dan-,,,

__ADS_1


Brughhh


Tak perlu menunggu lama untuk Ao menyusul pujaan hatinya tersebut, namun setidaknya ia mendapat bonus keringanan dalam prosesi kematiannya. Seharusnya Ao bersyukur mati dengan cepat tanpa harus mendapat siksaan terlebih dahulu.


,,


,,


Bergetar tatkala kaki itu melangkah menuju kearahnya, ia tau pemuda itu menjadikanya sebagai target penyiksaan selanjutnya.


Glekkk


'Ka-kami-sama,, aku mohon,, se-selamatkan aku, 'do'anya dalam hati, berharap ia bisa terlepas dari takdir dihadapannya, namun, do'a hanyalah sebuah do'a, takkan pernah menjadi nyata jika sang pencipta sudah menetapkan takdir mutlak baginya, berharap keajaiban,, sungguh hal konyol.


Tap


Tap


"Ti-tidak,, pe-pergi, 'ucap Tenten kemudian dengan terbata-bata sembari melangkah mundur, meninggalkan Lee yang tubuhnya mulai memucat karena terlalu banyak darah yang keluar dari luka kehilangan kaki kananya.


"K-kau pembunuh,, 'meski merasa kesakitan dan takut, Lee mengungkapkan sebait kalimat hardikan untuk pemuda dihadapannya.


"Alis tebal,, apakah kau lupa hari itu?"


Duaaaaaakkkkk


Sebuah tendangan keras menghantam Jounin berbaju hijau ketat itu, hingga membuatnya terlempar beberapa meter kebelakang.


Tap


Tap


"Kau tak akan pernah mengerti arti dari sebuah kesengsaraan yang sebenarnya, kalian tertawa diatas penderitaan bocah waktu itu, memperlakukanya lebih rendah dari binatang, Dan pada akhirnya kalian menghianatinya"


Duakkkk


Dan kini lengan kokoh itu menggampar wajah Lee dengan cukup kuat, namun,,, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Lee kembali tersungkur.


"Ohokkkkkkk,, 'mata bulat itu tampak memandang hamparan langit dengan nanar, ia tau dan ingat, apa yang membuat pemuda dihadapanya melakukan hal keji seperti ini.


"Aku telah melewati masa-masa sulit itu hingga detik ini"


Duaaaaakkkkk


Kali ini,, mata bulat itu tampak semakin sayu dan redup, dengan lelehan darah bercampur airmata.


"A-aku t-tau itu Na-naruto, ma-ma-,,,,


Jlebbbbb


"O-ohoookkkkk,,, 'darah menyembur keudara saat Naruto menancapkan pedang hitam miliknya tepat dileher Rock Lee.


"-af...!, 'maaf yang selesai terucap, namun tak akan pernah mendapatkan pemaafan sampai kapanpun, meninggalkan sosok pemuda kekar yang semakin diselimuti kegelapan dan kekosongan ketika ia merampas satu persatu nyawa, sungguh biadab dan tak berperikemanusiaan, makhluk yang tak lagi memiliki emosi, kewarasanan fikiran yang mulai hilang, dengan segel dibelakang punggungnya semakin menebal secara perlahan.


Dan kemudian membantai tubuh tak bernyawa itu dengan brutal, pedang yang ia genggam terus menerus ia hujamkan tanpa henti, hingga pada akhirnya, tubuh yang semula berbentuk manusia berambut mangkok itu berganti potongan daging-daging kecil.


"Hikss,, Lee, 'tak bisa dipungkiri jika Tenten merasa Syok ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri rekanya itu dibantai dengan ganas. Kini,, ia hanya bisa menangis dengan tatapan kosong kearah mayat rekanya tersebut, berlutut pasrah.


,,


,,


Kemudian Naruto mengamati pemandangan disekitarnya yang sudah tampak luluh lantak, mayat-mayat yang bergelimpangan menjijikkan, darah seakan menggantikan warna tanah, puing-puing berserakan, dengan kobaran api dibeberapa sudut tempat tersebut, dan juga, sekumpulan pasukan mayat hidup yang menyerang terus pasukan Aliansi yang tersisa, yah,, itu juga salah satu kemampuan terkutuk miliknya, kemampuan untuk memanggil jiwa-jiwa kotor yang bahkan bumi tak menerimanya, hanya hasrat ingatan akan kekejian yang mereka ingat.


"Hikss,,, Na-naruto,, ma-maafkan aku, 'isak tangis dari Tenten dalam penyesalan dan ketakutan yang tak mampu lagi diungkapkan,, menekuk kedua lututnya dengan tubuh bergetar seakan kedinginan.


Tap


"!?"


Berdiri dengan gagah dihadapan Kunoichi yang kini tengah meringkuk ketakutan tersebut, Naruto tak mengerti, mengapa mereka dengan tega menghianatinya, apa sebegitu hina dirinya hingga mereka menutup mata atas apa yang telah ia lakukan sejauh ini, atau memang dirinya tak pernah pantas mendapatkan penghargaan dan kebahagiaan yang pernah ia harapkan sejak kecil. Namun lupakan semua itu, walau bagaimanapun,, kisah hidupnya sudah berada dijalan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Kini,, hanyalah ada kesendirian, kekosongan, kehampaan, kesepian, dan kegelapan, tak ada cahaya yang dapat menembus gelap hatinya, Dan tak ada lagi yang mampu mengisi kekosongan jiwanya, entah sampai kapan makhluk terkutuk sepertinya akan terus berjalan pada perkara rumit kehidupan. Namun yang pasti, ia tak akan pernah lari dari takdirnya, dan jangan pernah sesekali mencoba merecoki hidup monotonya, karena,,, "Dia" akan melahap jiwa kalian dengan menyakitkan, dan pada akhirnya kalian akan berakhir dalam kehampaan tak berhujung.


,,


"Hiks,,, Lee,, Guy-sensei,, Neji-kun,, mengapa kalian meninggalkanku sendiri,, 'racau Tenten kemudian, ia tak berani menatap kedepan tempat dimana sang pencabut nyawa tengah menatapnya dengan pandangan hampa, jika boleh jujur, ia ingin bunuh diri saat itu juga, namun apa daya, bahkan untuk begerak seinchipun terasa sulit, dan kepasrahan diri adalah jalan terakhirnya saat itu.


Grebbbbb


"Kyaaaaaaaaaaaaaaa, 'jeritnya histeris ketika Naruto mecengkram erat lehernya, dan memaksanya berdiri untuk menatap langsung wajah Naruto, Tenten dapat melihat dengan jelas, wajah kosong berlumur darah, dengan lubang bulat menganga dijantungnya.


"Na-naruto, ughhhhh,, a-ampuni aku, 'ucap Tenten sebisa mungkin, mengingat kesulitannya untuk sekedar bernafas dibalik cengkraman kuat iblis dihadapannya.


"Mengapa? Mengapa aku harus melakukanya?"


"Kalian hanyalah makhluk kotor yang tak pantas mendapat pengampunan, 'lanjut Naruto kemudian.


"Hikss,,, ma-maaf"


Sretttt


"Kyaaaaaaaaaaaaaaa"


Braghhhh


"Ohokkkkkkkkkkkk, 'tubuh Kunoichi itu terhempas beberapa meter menghantam sebuah pohon besar, seketika itu, darah menyembur dari mulutnya, dengan rasa sakit yang mulai merayapi sekujur tubuhnya.


Tap


Tap


Duakkkkkkkkk


"ARRRRRRGGGGGGHHHHHHHHHHHHHH, 'teriaknya kesakitan tatkala Naruto menendang perutnya dengan sangat-sangat keras. Hingga membuatnya tersungkur menyedihkan.


Grebbbbb


Tangan kuat itu kembali mencengkram erat lehernya, mata Kunoichi tersebut tampak sayu dan nanar, melihat bagaimana ia disiksa pelan-pelan.


Braghhhh


"ARRRRGGGGHHHHHHHHH"


BRUGHHH


Kali ini,, Naruto menghantamkan kepala itu pada Batang pohon dengan cukup kuat, meninggalkan sebuah noda darah pada kulit pohon tersebut. Sedangkan Tenten telah terbaring mengenaskan dengan wajah berlumur darah dari kening yang membentur pohon.


Dalam sisa-sisa kesadarannya, ia hanya bisa diam sembari mengingat masa lalunya dulu yang penuh kebahagiaan, hingga akhirnya Tenten tersenyum kecut sesaat, pada akhirnya hidupnya harus berakhir seperti ini karena penghiatan yang ia lakukan bersama rekanya yang lain terhadap pemuda dihadapannya.

__ADS_1


Grebbb


Lagi dan lagi, lengan kekar itu mencekal rambutnya kuat, dan-,,


__ADS_2