
Ti-tidak mungkin,,, kekuatan mengerikan apalagi yang dimiliki bedebah itu, 'gumam Sasuke tak percaya.
Dan kini,, kedua wujud raksasa itu saling berhadapan, terlihat ukuran yang jauh berbeda dimana sosok Rubah hitam itu lebih besar dari Susano'o milik Sasuke.
Wushhh
Sasuke melesat cepat kearah rubah hitam tersebut, dengan sebuah pedang raksasa.
Sreeeetttt
Grebbb
Pedang raksasa itu ditahan Juubi dengan satu ekornya,
"A-apa,,'ucap Sasuke terkejut.
Lalu sang rubah hitam langsung mencengkram leher Susano'o Sasuke.
Grebbbb
Wushhhh
Dan langsung ia lempar dengan sangat kuat hingga menerobos keluar penjara api neraka yang sedari tadi membelenggu seluruh Ninja yang tersisa.
Bruaggghhhh
"Ohookk,, 'tampak bibir Sasuke mengeluarkan darah segar tatkala ia dan prajurit astralnya terlempar dan membentur bangunan markas pusat Aliansi yang tersisa.
Bruaggghhhh
"Ohookk,, 'tampak bibir Sasuke mengeluarkan darah segar tatkala ia dan prajurit astralnya terlempar dan membentur bangunan markas pusat Aliansi yang tersisa.
'Cih,, aku tak akan kalah semudah itu, 'kemudian bangkit secara perlahan, dan mengepakkan kedua sayapnya untuk terbang keudara.
Wushhhh
Setelah cukup tinggi Susano'o itu tampak berdiri gagah diudara, kemudian mengeluarkan sebuah busur panah dari ketiadaan. Itulah, panah Indra. Lalu menarik mata busur tersebut, dan kemudian Sasuke arahkan tepat dimana Monster ekor-10 sepuluh itu berada.
Sang Rubah hitam bersama Partnernya juga tak ingin ketinggalan, kemudian membuka mulutnya lebar dan mulai menarik seluruh energi Positif dan Negatif (Yin/Yang), hingga kemudian terkumpul besar dan terasa begitu kelam, lalu tertelan hingga tampak kerongkongan itu menggembung. Lalu dikeluarkan dalam bentuk ukuran mini.
Sedangkan diudara Sasuke telah bersiap melesatkan anak panah, lalu mengkombinasikanya dengan Amaterasu.
"TERIMALAH INI BEDEBAHHHHH, 'teriaknya kencang, ia kobarkan dendamnya pada serangan terkuatnya tersebut.
Syut
Wushhhhhh
Tampaklah hujung anak panah yang diselimuti kobaran Api hitam Abadi. Melesat dengan sangat cepat kearah Monster Ekor-10.
Begitu pula dengan Rubah hitam tersebut, tampak aura kelam semakin menyelimuti bola hitam yang tercipta di mulutnya.
Bijudama
Wushhhhhhhhh
Dua serangan kuat itu tampak saling melesat dengan sangat-sangat cepat, anak panah yang melesat diudara bak sebuah meteor. Dengan sebuah bola hitam yang melesat bak rudal dari permukaan tanah.
Semakin dekat dan terus mendekat, dan-,,,
Booooooommmmmm
Ledakan dasyat seakan menciptakan sebuah gempa ditempat tersebut, tampak cahaya ledakan yang serasa menyilaukan mata. sedangkan dari atas, Sasuke telah bersiap melakukan serangan penutupan.
"Hah, hah,, hah,, ini seranganku yang terakhir, jiga gagal, maka, bisa dipastikan Era Shinobi akan berakhir, 'ucap Sasuke dengan nafas terengah-engah.
Kemudian ia bersiap melakukan serangan selanjutnya, ia sengaja memberikan serangan tersebut sebagai pengalihan agar bisa membuat Monster ekor-10 terjebak dan masuk dalam rencananya.
,,
Chibaku Tensei.
,,
,,
Naruto yang duduk bersila diatas Partnernya hanya bisa memandang diam ledakan tersebut, menikmati sensasi pertarungan yang terus mengingatkanya dengan pertarunganya dimasa lalu, ia dan Sasuke, selalu ditakdirkan untuk terus bertarung dan bertarung.
'Aku akan mengakhiri kutukan Rikud-,,
Entah mengapa tiba-tiba Naruto merasakan sebuah firasat tak mengenakkan, seakan ia dan apa yang berada disekitarnya mulai tertarik sesuatu yang kuat.
"Grrrrrr,, kau merasakanya? "
"Kau benar, tidak salah lagi, Jutsu itu"
"Dengan kata lain, serangan yang barusan merupakan sebuah pengalihan"
"Hemmm,, sepertinya memang begitu! "
Asap telah menghilang seutuhnya, dan kini tampaklah sebuah bola yang melayang diudara, berusaha menarik apapun yang berada disekitar area tempat tersebut.
Krakk
Grakk
Grakkk
Tanah-tanah mulai terangkat dengan tarikan gravitasi yang tak mampu dilawan.
Terlihat pula Monster ekor-10 itu tertarik sedikit demi sedikit, Dan kemudian mulai tertimbun secara perlahan, dan terkurung oleh Jutsu terkuat dari Rinnegan.
Hah,, hah,, hah,,, a-aku berhasil menyegel bedebah terkutuk itu, 'gumam Sasuke kemudian ketika ia mengamati bola besar yang hampir menyerupai bulan itu tampak melayang diudara. Bahkan membawa seluruh mayat-mayat yang berada ditempat tersebut ikut tertarik.
'Hiksss,, Sa-sasuke-kun berhasil, 'tampak tangis haru Sakura melihat suaminya berhasil menyegel Naruto bersama monster yang ia duga adalah Kyubi itu.
'Hah,, hah, hah, Sakura, Hinata, aku berhasil-,,
'Tapi,,, maaf,,, aku tak bisa menyelamatkan Hirata dan Sarada, 'ucapnya dalam hati, tersirat rasa senang sekaligus sedih, senang karena bisa mengakhiri hari buruk ini, namun harus bersedih ketika harus kehilangan dua anaknya.
Kemudian Sasuke mulai jatuh ketika Chakra nya telah habis dan sudah tak mampu lagi mempertahankan wujud Humanoid nya.
Sakura yang melihatnya tak tinggal diam dan langsung melesat cepat untuk menolong suaminya.
Grebbbbb
"Hiks,,, hiks,, Sasuke-kun,, bertahanlah"
"Enghh,, Sa-sakura,, 'ucap Sasuke pelan, tubuhnya terasa begitu lemah akibat memaksakan batas kemampuannya.
Kemudian Sakura mulai mengeluarkan kemampuanya sebagai Ninja Medis untuk memulihkan suaminya.
Namun,, apakah benar berhasil? Semua masih penuh misteri.
Didalam bola besar yang menyerupai Planet itu tampak rubah hitam yang terkekang kuat tanpa mampu bergerak sedikitpun. Naruto yang ikut terkekang didalamnya, kini tengah memejamkan matanya pelan. Dan kemudian tampak aura hitam yang mulai merembes keluar dari tubuhnya.
Dan-,,,.
Sora ni Oboreru
Krak
Grakk
Booooooooooooommmmmmm
Kembali ledakan dasyat seakan memekikkan telinga telah mengguncang dunia itu. Naruto dengan sengaja meledakkan energi besar dalam tubuhnya untuk menghancurkan Chibaku Tensei. Sama seperti ketika Naruto meledakkan energinya sewaktu menghadapi gerbang ke-8 kematian dari Maito Guy. Namun kali ini dengan Intensitas gila.
,,
,,
Brugh
Brughhh
"Ti-tidak mungkin,, "Dia"menghancurkan Chibaku Tensei, 'ucap Sasuke dengan mata melotot ketika melihat Jutsu terkuat itu mampu dihancurkan dari dalam, bahkan seorang dewa seperti Kaguya tak mampu melakukanya.
"Hiks,, hikss, Sasuke-kun, a-apa yang harus kita lakukan?, 'ucap Sakura sedih dan ketakutan ketika melihat Naruto berhasil lolos dari kekangan Segel Chibaku Tensei.
"Sa-sakura,, pegang tanganku,, kita harus sembunyi di dimensi Rinnegan milikku,"
"Lalu bagaimana dengan Hinata?"
"Ughh,, tampaknya Hinata sudah tak perduli lagi dengan kita semua, bahkan membiarkan anak-anak dibawa para tengkorak sialan itu"
"Hiks,, baiklah Sasuke-kun"
Tap
Tap
Tap
Terdengar derap langkah kaki dibelakang mereka.
Tap
__ADS_1
Tap
Tap
Kemudian Sasuke mencoba membuka portal dimensi untuk lari, namun setiap lubang itu terbentuk pasti kembali mengecil dan hilang begitu saja.
"Sial,, sial,, siallllll,,,, kenapa disaat seperti ini Chakraku harus habis, 'umpat Sasuke kemudian.
Tap
Tap
Tap
Semakin dekat dan terus mendekat, Dan kemudian terlihatlah sosok Naruto dengan wujud mengerikannya.
Degg
Deeeggggg
Pasangan suami istri itu hanya mampu melotot tak percaya ketika melihat wujud Evolusi Naruto.
Tap
Tap
[Apa kau menunggu terlalu lama?] 'ucap Naruto dalam wujud "Drago".
"A-apa yang sebenarnya kau inginkan? 'Tanya Sasuke berusaha mengulur waktu hingga Chakranya terkumpul.
[Khakhakhaaaa,,, kematian kalian, yah! Itulah yang kuinginkan.]
Degggggg
Tap
Tap
"Ti-tidak, kumohon, pergi, 'ucap Sakura ketakutan tatkala makhluk itu menuju kearahnya dan Sasuke.
Debbbbb
"Ugggghhhhh,, Naruto,, ku-kumohon, jangan sakiti Sa-sakura, 'ucap Sasuke tatkala tubuhnya tengah diinjak bagian dadanya.
[Khakakhaaaa,,, teruslah memohon nak!]
Grebbbb
"KYAAAAAAAAAAAAAAAA"
[Ah,, jeritanmu terdengar merdu sekali, Sakura]
Braggggghhhh
Kepala itu ia sentakkan ketanah hingga membentur cukup keras.
"Ugghhhhh,,, Ampuni aku Na-naruto, tolong maafkan kami berdua, 'rintih Sakura kemudian.
"Naruto,, apa kau lupa kenangan kita dulu sewaktu masih berada diTeam-7?, 'ucap Sasuke berusaha membuat Naruto berubah fikiran.
[?]
[Tak ada kenangan yang tersisa dengan bedebah seperti kalian] 'jawab Naruto [Drago] dengan suara yang teramat sangat serak.
Buaghhhh
Sebuah injakan keras membuat Sasuke memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Ohooookkkk"
Grebbbb
"Hikkkssss,, Naruto,, kumohon,,! "
Plakkkkkk
Lengan kekar penuh cakar tajam itu menggampar pipi Sakura dengan keras. Menyebabkan si gadis musim semi itu oleng kesamping.
Brughhh
[Kau menginginkanya?, baiklah akan kuberikan kematian yang Indah untuk kalian berdua]
Deggggg
"Ti-tidak, Na- naruto,, kumohon,, bunuh saja aku,, tapi, kumohon biarkan Sakura tetap hidup"
[Khakhakhaaaaa, lihatlah nak,, ]
Grebbbb
Sretttt
Sebuah besi hitam yang tampak menganga panas tengah digenggam Naruto, Sakura dan Sasuke yang melihatnya hanya mampu melotot tak percaya.
"Na-naruto, kumohon jangan lakukan itu pada Saku-,,
Duakkkkk
[Khakhakhaaaa,, diam dan lihatlah nak]
Dengan bengisnya Naruto [Drago] memasukkan besi panas menganga itu kemulut Sakura yang mencoba berontak sekuat tenaga. Namun apa yang bisa dilakukanya ketika lengan kekar itu mencengkramnya dengan sangat kuat, bahkan cakar-cakar tajam itu beberapa telah menancap dipipi nya.
"Engghhh,, arghh, eghhh,, 'hanya itu yang mampu Sakura lakukan ketika besi panas itu mulai memasuki mulut, melewati leher dan kemudian bersarang di dalam perutnya. Tubuh itu kejang-kejang dengan mata melotot.
Sang suami hanya mampu merangkak pelan mencoba menggapai istrinya yang tengah sekarat itu.
Sang suami hanya mampu merangkak pelan mencoba menggapai istrinya yang tengah sekarat itu.
"Hikss,, Sa-sakura,,, 'rintihnya dengan airmata yang berlinang ketika ia tak mampu menggapai lengan istrinya yang juga berusaha menggapainya.
"Tidak,, hiksss,, Sakura,, bertahanlah, 'racaunya dengan pilu.
"BEDEBAH KAU NARUTOOOOOO"
Buagggghhh
Tubuhnya terpelanting kearah istrinya berada. Kemudian berusaha bangun dengan tubuh yang tampak begitu lemah dan mengenaskan.
"Ohooookkkkkkkkk, couuugghhhh"
"Sa-sakura,,, "
Grebbbbb
"Hikss,,, maafkan aku, aku yang menyebabkan semua ini,, hikss,,, Sakura, Hirata, Sarada, maafkan aku,, hah, hah, hiksss, 'tangisnya begitu pilu, pada akhirnya ia sadar akan dosa, ketamakan, dan keserakahannya selama ini, terus memeluk jasad istrinya tersebut tak perduli lagi kondisinya sendiri.
"SAKURAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, 'jerit Sasuke begitu keras memecah keheningan malam.
Grebbbbb
[Kau benar nak!,, kau lah penyebab kepedihan ini terjadi, dan kau pantas mendapat hukumanya]
"Aku mengutukmu, AKU MENGUTUKMU NARUTOOOOOOOOOOOOOO, 'teriak keras Sasuke sembari menatap tajam kepala tengkorak dihadapannya.
[Khakhakhaaaa,, jangan bercanda nak, bahkan, akulah kutukan itu sendiri]
Buaggghh
Kembali Naruto menghantamkan kepala Sasuke ketanah.
"Uggghh, ohookkk, cougghhkkkk, Na-naruto,, ku-kumohon, le-lebih baik kau bunuh aku secepatnya, dan b-biarkan aku pergi menyusul Sa-sakura, 'rintih Sasuke terus memohon.
Grebbbbbbb
"ARRRRRRRRGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH, 'mata itu melotot dengan lebar tatkala Naruto merobek perutnya dengan cakar-cakar tajamnya. Hingga kini, tampak organ dalam Sasuke yang menyembul keluar.
Berharap kematian, namun siksaanlah yang ia dapatkan.
Mata nya nampak sayu dan nanar, rasa sakit yang mendera tubuhnya begitu terasa amat sangat sakit.
Tak sampai disitu, Naruto [Drago] kini mengeluarkan pedang hitam miliknya dan mulai memotong satu persatu anggota tubuh Sasuke, mulai dari tangan, dan kaki,, dan kini,, terlihat pemandangan yang begitu menyakitkan, hanya terlihat seonggok tubuh tanpa tangan dan kaki, dengan perut yang tercabik-cabik.
[Akan kubebaskan kau, Sasuke,, renungilah dosa-dasamu, dan berharaplah,, kita tak dipertemukan lagi di Neraka nanti, Khakhakhaaaa]
Jlebbbbbbbbbbbbb
Pedang hitam itu,, kini tertancap tepat dikening Sasuke, mengakhiri nyawanya detik itu juga.
Kemudian Naruto [Drago] mengambil kedua bola mata berbeda warna itu sebagai oleh-oleh kepada kedua rekanya.
Change Sceane.
Melangkahkan kakinya dengan pasti pada sudut lain ditempat tersebut, entah apa yang menariknya kesana, namun percayalah, semua akan terjawab dengan sendirinya, wajah kosong berlumur darah itu tetap menatap lurus kedepan, dan mulai menerobos gelapnya hari menjelang Fajar tiba, tampak disepanjang jalan yang ia lalui, penuh akan kerlap kerlip hewan kecil yang bercahaya, angin kencang seakan telah berlalu begitu saja digantikan deru angin sepoi.
Tap
Tap
__ADS_1
Tap
Derap langkah kakinya terdengar menggema disepanjang jalan memecah kesunyian, hingga langkahnya membawa pada sebuah tempat yang membentang luas, saffier beku itu menatap lurus kedepan, dan ia menemukan sesosok perempuan yang berdiri tegap membelakanginya tepat dihujung jurang pembatas antar Negara.
Lalu, "Dia"meneruskan langkahnya, kali ini, terdengar pelan, dan kemudian, langkah itu terhenti tepat 10 meter dari sosok perempuan tersebut.
Fajar mulai menunjukkan kembali kuasanya, sinar matahari perlahan menyinari tempat tersebut, sosok perempuan itu hanya terdiam tatkala iris matanya menatap cahaya Fajar yang mulai mengisi pandangannya.
Dan kemudian sosok perempuan tersebut membalikkan badannya perlahan ketika ia tau, "Dia"telah menjemputnya.
Dalam sinar Fajar antara gelap dan siang itu,, kedua manik berbeda warna itu bertemu dalam sebuah kesempatan yang rumit, iris Lavender dari sosok perempuan tersebut terlihat berkaca-kaca, sedangkan si pemilik Saffier beku itu, tetap menunjukkan kekosonganya. Entah apa yang mereka berdua kini rasakan, karena,, semua sudah jauh berbeda, semuanya sudah berubah, Cinta yang berhujung penghianatan.
Dan entah darimana asalnya,, sebuah instrumen musik yang terdengar menyayat hati mengiringi pertemuan mereka berdua saat ini, sebuah pertemuan setelah sekian lama terpisah karena penghianatan dan kutukan, semilir angin menerbangkan kedua surai berbeda warna itu.
Hatinya mencelos saat itu juga ketika secara langsung melihat mataharinya dulu kini telah menjadi kegelapan, suatu hal yang tak pernah ia inginkan.
Tubuh lemahnya bergetar, ia tak sanggup, ia ingin menebus dosa-dosanya dimasa lalu yang menyebabkan pemuda itu menjadi seperti ini. Apapun dan bagaimanapun caranya.
,,
Keduanya masih saling menatap diam, dan sipemuda, dapat melihat dengan jelas iris Lavenderh yang berkaca-kaca. Sesuatu dalam hatinya entah mengapa merasa nyeri tatkala melihat airmata itu, sesuatu yang tak ingin ia lihat lagi.
"Hinata"
,,
,,
"Na-naruto-kun"
Tap
Tap
Tap
Tap
Grebbbbbbbbbbbb
Sungguh,, Hinata sangat rindu dengan wajah itu,, wajah dari mataharinya yang telah hilang, dan kemudian mendekap erat tubuh kekar berlumur darah itu, airmatanya telah tumpah dengan begitu deras, kesedihan yang ia simpan selama lima tahun ini pada akhirnya ia lepaskan seluruhnya tanpa ragu. Ia sudah lelah hidup dalam ketakutan akan dosanya dimasa lalu, dan kini, ia berharap semuanya akan berakhir.
Tak ada sedikitpun perasaan yang mampu diexspresikan, itulah raut wajah dari sipemuda bersurai pirang tersebut, Saffier bekunya tetap menatap lurus kedepan menatap Fajar yang mulai menerpa wajah kosong berlumuran darah.
"Hiksss,,,, hikssss,,, maaf, maaf, maaf, 'racau Hinata dalam pelukan sipemuda yang tetap diam tak bergeming.
Semilir angin tampak sedikit meneduhkan wajah Naruto saat itu pula, kemudian memejamkan kelopak mata yang tersirat ribuan rasa sakit yang telah ia lalui dan rasakan sejauh ini.
"Kenapa ? Kenapa aku harus melakukanya?, 'sebuah suara datar terucap dari bibir sipemuda, Naruto tak mengerti, mengapa disaat seperti ini mereka merasakan penyesalan, bukankah dulu mereka melakukanya dengan keji dan tanpa perasaan, mengeroyoknya yang seorang diri dengan ribuan Shinobi, dan semua, berniat membunuhnya.
"Hikss,, a-aku ingin menebus semua kesalahanku waktu itu, 'hanya itu yang mampu Hinata katakan, penyesalan telah membuat matanya terbuka lebar seberapa penting pemuda itu berarti untuknya, namun,, meskipun ia begitu menyesalinya, bukan berarti semua akan termaafkan dan kemudian berlalu begitu saja.
"Hinata,, tak ada yang perlu disesali, aku bukan lagi bocah naif waktu itu yang dengan bodohnya memaafkan kesalahan orang lain"
"Hiksss,,, ti-tidak Naruto-kun,, aku yakin kau pasti mampu, 'wajah pucat beriris Lavenderh itu mendongak keatas menatap wajah dari pemuda yang begitu dikaguminya sejak kecil.
Entah hal apa yang membuat sipemuda tersenyum, tapi, itu bukanlah senyum yang dulu lagi, sebuah senyum getir yang menggambarkan kekecewaan hatinya.
"Kau salah,, Hinata, bahkan meskipun kehancuran dunia ini sebagai ganti dari seberapa besar rasa sakit yang kutanggung, itu tak akan pernah mampu menebus ataupun mengobati lubang ini, Karena dunia telah terlanjur mengutukku"
"Hikss,,, kumohon, ku-kumohon kembalikan Naruto-kun yang dulu lagi!, 'lanjut Hinata memohon kepada sipemuda. Mengeratkan pelukannya pada tubuh Naruto, seakan ia tak ingin kehilangan dan melepasnya lagi.
"Naruto yang dulu, telah mati waktu itu, membawa jutaan rasa sakit kekal yang takkan pernah terhapuskan hingga hari itu tiba, 'matanya kembali menatap diam pijar matahari yang perlahan merangkak naik keatas untuk menunjukkan kembali kegagahanya. Mengaitkan rasa sakit dan kesengsaraanya dengan takdir yang telah menunggu.
"Hikss,,, hikssss,,,'hanya isak tangis yang kini terdengar begitu suram dan kelabu, semua sudah terlambat dan takkan mampu lagi untuk terulang.
Keduanya masih dalam posisi yang sama dimana hinata tetap menangis disandaran dada kekar yang penuh akan noda darah itu, perasaan rindu telah mengalihkan seluruh dunianya, bahkan kematian anak dan suaminya tak mampu membuatnya bersedih hingga seperti ini, karena inilah tujuan akhirnya, berusaha untuk membuat sang kegelapan kembali bersinar seperti dulu, namun,, lagi-lagi ini bukanlah ketidakmungkinan yang mampu disemogakan. Pengibaratan mustahil untuk mengukir diatas air.
Kemudian, biru Saffier itu kembali tampak menggelap, mata yang sedari tadi hanya tersirat kekosongan itu kini tampak dipenuhi akan kedengkian, amarah, dan luapan dendam yang kembali berkobar.
Dan-,,
Jlebbbbbbbbb
"Ohokkkkkk"
"Maaf-,,,,,,,
„
„
"Hinata"
"Ohokkkkkkkk,, t-tak a-apa Na-naruto-kun, coughh, a-aku mengerti"
Entah mengapa biru saffier yang beberapa detik sebelumnya menggelap itu kini terlihat menunjukkan emosi lain ketika melihat darah yang menyembur deras dari mulut Hinata, perasaan ini,,, sebuah perasaan sakit ketika ia kehilangan sesuatu yang berharga.
"Coughhh, Na-naruto-kun"
Tubuh itu terhuyung kebelakang hendak jatuh, namun-,,,
Grepppp
Sipemuda terlebih dulu menangkap tubuh ringkih itu.
"Uhukkk,, uhukkkk, Na-naruto-kun,,, su-sudah cu-cukup,, j-jangan kotori lagi tanganmu d-dengan da-darah, coughhhh,, ke-kembalilah menjadi Na-naruto-kun yang d-dulu lagi, D-dan a-aku mohon,, t-tersenyumlah,, 'pada detik-detik akhir penghujung hidupnya, Hinata ingin kembali melihat senyum Mentari itu untuk yang terakhir kalinya.
Dan kembalilah,, senyum Mentari yang pernah hilang itu kini kembali bersinar.
Pemuda itu tersenyum meski itu terlihat dipaksakan. Ia tak mengerti, yang jelas hati kecilnya memerintahkan otaknya demikian, mungkin hati kecil itulah cahaya yang tersisa, dan akan ikut musnah bersamaan dengan kepergiannya.
Kemudian lengan kekar itu dengan bergetar ia gerakkan menuju buliran bening airmata yang turun dari sela-sela kelopak mata Hinata. Lalu mencoba menghapusnya dari wajah tersebut.
"Na-naruto-kun, kuharap, k-kau b-bisa me-memaafkanku, dan-,,,,
"Te-terimakasih,, s-sudah me-membebaskanku, uhukk-uhukk-,,,
"Da-dari s-siksa ini, uhukkk "
"Dan a-aku,, uhukkkk, t-tetaplah-,,,
"Me-mencintaimu"
Brughh
Lengan-lengan itu jatuh terkulai lemas diatas permukaan tanah ketika nafas Hinata telah sampai pada penghujung akhir kehidupanya.
"Hi-hinata, 'ucapnya dengan nada bergetar, lengan kirinya mengusap pelan wajah tersebut, wajah pucat yang menjadi penutup kisah pilunya didunia ini.
Tesss...
Tessss...
Mata itu, kembali meneteskan airmata setelah sekian lama, bukan karena menyesal, ataupun menangisi kepergian Hinata, akan tetapi, kejujuran akhir yang terucap dari bibir itu, setidaknya ia benar-benar pernah ada dihati Hinata, meski semua penghianatan yang dulu dilakukan, takkan pernah mampu termaafkan, sudah cukup kenaifan yang ia lakukan, dan melupakan apa itu Cinta dan Kasih sayang, karena bagaimanapun ia akan selalu berakhir dalam kesendirian.
"HAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHH, 'teriaknya menggema dengan keras, meluapkan kesedihan dan kepedihanya sembari memeluk jasad tanpa nyawa itu.
"Kenapa, kenapa kau harus menghianatiku waktu itu, 'racaunya setelah ia berusaha mengendalikan diri agar tak terlarut dalam belenggu Cinta masa lalu.
Beberapa saat kemudian, pemuda bersurai pirang itu membaringkan tubuh tak bernyawa Hinata diatas tanah. Lalu,, Naruto kembali berdiri tegak dengan tetap memandang jasad tersebut.
Dan kemudian ia menggerakkan lengan kanan yang ia gunakan menusuk jantung Hinata kearah tubuh tak bernyawa tersebut. Sebuah pendar hitam sebesar kelereng tercipta dihujung jari telunjuknya.
"Tak ada maaf dan pengampunan dalam sebuah kisah penghianatan"
Wuuuuuusssshhhhhh
Boooooommmmmmmmmmmm
Pada akhirnya Naruto tetap memilih jalan yang ia yakini,,,,, sudah sejauh ini, dan ia takkan pernah berpaling ataupun berhenti melumuri tanganya dengan darah.
Takdirnya terlalu rumit untuk sekedar ia hindari, jadi,,, untuk apa melakukan hal yang hanya akan membuatnya semakin kehilangan arah.
,,
Plokk plok plokkkk
Tiba-tiba saja terdengar suara tepuk tangan dibelakang Naruto, lebih tepatnya diatas.
,,
"Khukhukhuuuu,,, sebuah kisah Cinta yang romantis, tapi sayang harus berakhir dramatis"
"Kau benar-,,,,
"Jadi,, dua Sumber energi besar tadi berasal dari pemuda ini"
"Hai,,, anda benar tuan,, aku tak menyangka kekuatan besar ini berada ditubuh pemuda ini"
'Chakra ini-,,,
'Ashura'
Sedangkan Naruto yang sedari tadi terdiam menatap jurang yang hancur lebur dihadapanya, kini membalikkan badanya menatap tiga orang tamu kematiannya.
"Hmmmmm/Grrrrrrrr"
__ADS_1
**"**Like lah bro biar semangat bikin nya:(. Panjang bgt chapter kali ini cape mikirnya juga:(
3049 kata