
Begitu jauh didasar, ia terkubur bersama penantian yang kekal, terus terpejam entah sampai kapan, tak ada yang ia rasakan atas semua ini, akal dan nafsunya telah binasa, jiwanya sebagai manusia telah direnggut dunia itu sendiri, dan yang begitu mengenaskan ketika perlahan ia tak mampu mengekspresikan arti dari perasaanya.
Pada masanya, "Dia" terpanggil kembali atas kegelapan, sejak saat itu entah sudah berapa abad ia terasing dari cahaya luar, siapa yang menyangkanya? Tak ada,, bahkan Existensinya kembali dilupakan begitu saja, dianggap musnah ataupun termakan oleh kegelapan dari kekuatan yang ia bawa sebagai perusak, begitu banyak persepsi diantara makhluk-makhluk tuhan akan keberadaanya, namun,,, beberapa diantara mereka masih ada yang mengingat dan menantinya.
Apa yang bisa dilihat dalam kegelapan tersebut? Hanyalah sebujur raga yang terlilit jutaan rantai penyiksa. Surai itu penuh akan debu, kedua lenganya terbentang kencang, kepala tertunduk seakan menyimpan begitu banyak harapan, sebuah gambaran yang menunjukkan betapa lelahnya.
Itulah yang bisa digambarkan dari cerita hidupnya, begitu menyesakkan dan membawa kisah yang memilukan, menanggung semua beban itu kembali dipundaknya. Dulu sekali ia membawa beban untuk menciptakan perdamaian, namun kini ia kembali yang ditakdirkan untuk membawa beban berat berupa pemusnahan, mengapa bukan mereka, mengapa lagi-lagi harus dirinya.
Cringgg
Cringg
Seperti sebuah lonceng gemerincing rantai itu berbunyi, dan mulai menunjukkan sebuah pertanda bahwa, masihlah tersimpan sebuah kehidupan didalamnya. Hujung jarinya yang terbebas dari lilitan tampak bergetar.
Cring
Semakin terdengar riuh bersahutan.
Grebbb
Jari-jari yang terbebas itu mengerat kencang, hingga tampak kumpulan logam yang berbentuk rantai itu semakin mengerat.
Disusul sebuah getaran anggota tubuh yang lainya.
Krakkkk
Dasssss
Satu dari sekian banyaknya rantai kelam itu telah putus.
Krakkk
Krakkk
Dassssss
Dasssss
Cring... Cringg... Criiingg
Sebuah prosesi pembebasan yang pasti, tampak belenggu-belenggu rantai tersebut terkulai lemas bak ular yang telah mati, dan pada akhirnya menyisakan seonggok tubuh yang berdiri tegap dan kokoh, kedua lengan kekar itu masih dalam posisi yang sama, membentang berlawanan arah dengan jari-jari yang mengepal. Kepala yang sedari tadi tertunduk pun nampak menunjukkan adanya pergerakan.
Krekk
Terdengar bunyi pergeseran tulang yang saling bersinggungan. Perlahan terangkat dan mulai tampak raut muka pucat penuh keretakan dibeberapa bagian. Namun,,, kelopak matanya masihlah tertutup rapat, otot-otot kekar masih terbentuk sempurna, simbol-simbol berwujud tatto pun masih tampak melekat erat ditubuh sosok tersebut, digambarkan dalam beberapa bentuk binatang buas.
Dan tibalah saatnya kedua kelopak mata itu mulai terbuka, sedikit demi sedikit,, dan pada akhirnya mampu terbuka sepenuhnya.
Kosong,, dan penuh kegelapan seperti langit malam yang suram, tak ada warna lain. Inilah detik kebangkitanya. Bibir kering nan kisut itu perlahan tertarik kebelakang dari dua sisi. Dan menunjukkan sebuah senyum misterius yang tak mampu dimengerti apa maksud dan artinya,, namun yang jelas itu bukanlah sesuatu yang baik.
Dan kemudian,,,,,, sebuah aura hitam pekat mulai berontak keluar dari tubuh sosok tersebut, menjanjikan sebuah rasa sakit dan ketakutan.
,,
,,
"Aku,,,,,,,,-
..
..
..
"Kembali"
Blarrrrrrrrrrrrrr
..
..
Degggg
'Sensasi ini,,'
,,
,,
Sepasang mata itu kembali bersinar dikegelapan, menebar terror yang dipenuhi hawa jahat.
"Naruto"
..
..
Kembali lagi pada kisah mereka para makhluk tuhan yang saling bertentangan, dari dua Ras pembangkang, "Akuma dan Datenshi"
Deru angin terasa begitu kencang menerpa, bersamaan gemuruh petir yang menyambar, menaungi dua Ras yang saling berperang.
Dan disalah satu sudut, tepatnya diudara kosong, saling melayang berhadapan terpotong jarak 50 meter, dua pemimpin saling memberikan tatapan tajam.
"Akan kubuktikan saat ini juga "gumamnya pelan, meski demikian, Satan masih dapat mendengarnya dengan sangat jelas.
"Ramiel,,, apa kau lupa takdir awal kita dimasa lalu? "Dan sebuah balasan dilontarkan darinya sang pembawa terang Putra Fajar.
Mengernyitkan dahinya tak mengerti, begitulah respon yang diberikan sang Gubernur Datenshi. "Apalagi yang ingin kau katakan Lucifer, tak ada yang perlu diingat ataupun dikenang dari masa lalu, karena,, kenyataanya sama saja! "
"Kau benar! Mengingat yang lalu memang tak akan merubah kenyataan, tapi,, adakalanya kita akan teringat meskipun kita sendiri enggan mengingatnya, kau akan selalu berada dibawahku, jangankan untuk melampauiku, berdiri sejajar denganku pun kau tak akan pernah mampu, atau mungkin tak akan pernah pantas. "
"Keh,, kesombonganmu akan berakhir dalam pertemuan ini,, karena,, aku akan mematahkan takdir konyol itu Lucifer"
"Aku harap itu semua benar,, "sahut Lucifer meneruskan.
Tak ada balasan,, kedua kelopak mata itu terpejam dengan tangan kanan yang terangkat keatas,, pada saat itu pula,, perasaan tak mengenakkan mulai mengganggu konsentrasi dari Ras Iblis yang sedang bertempur.
Terasa begitu kentara aura suci yang begitu kental, mereka yang berada di Klan rendah mencoba untuk tidak jatuh tersungkur, minimnya suplai energi Demonic membuat mereka yang lemah tak mampu untuk menetralisir aura suci yang bersumber diangkasa tempat kedua pemimpin sedang beradu.
"Ughh,,,, a-aura suci ini,, sangat besar, "terdengar sebuah rintihan dari sesosok Iblis yang tengah jatuh berlutut bertumpu sebuah pedang.
"K-kau benar,, "
..
Partikel-partikel cahaya itu terus tertarik dan terkumpul dalam satu bentuk digenggaman sang Gubernur Datenshi.
Dan kemudian kelopak mata yang sedari tadi terpejam itu kembali terbuka.
"Dengan ini,, aku akan memusnahkanmu beserta seluruh pengikutmu Lucifer "ucap Ramiel kemudian, tatapanya penuh akan keyakinan.
"Pergilah keneraka"
Swussshhhhhhhh
Tombak cahaya berukuran raksasa itu melesat cepat ketempat dimana sang target berada.
Namun bukan Putra Fajar namanya jika begitu saja ia gentar, penuh ketenangan, dan optimis dengan apa yang ia miliki, begitulah raut wajahnya kini meski beberapa meter dihadapanya meluncur sebuah serangan pemusnah massal.
"Masih terlalu dini, Ramiel! "Gumamnya pelan.
__ADS_1
Wushhhhhh
Dihadapannya perlahan beterbangan rangkaian aksara sihir yang begitu rumit membentuk pola Bintang terbalik, berputar dengan sangat cepat hingga membentuk sebuah pusaran lubang hitam diudara.
[Blackhole]
Blaaaaaarrrrrrrrr
Hempasan energi suci berbentuk tombak cahaya itu seakan menyapu daratan ketika menghantam lubang hitam ciptaan sang Raja Iblis, lalu perlahan tersedot kedalam Blackhole seutuhnya.
Surai perak itu berkibar liar ketika aura suci yang begitu familiar itu menerpa, entah apa yang sedang difikirkan.
,,
'Cih,,, benci aku mengakuinya, tapi,, kekuatanmu tetap mengagumkan,,, Lucifer! 'Ungkap Ramiel dalam hati.
,,
"Itukah kekuatan Lucifer-sama yang sebenarnya? "
"Yah! Benar-benar mengagumkan! "Tanggap beberapa Iblis yang menyaksikan pertarungan pemimpin mereka diangkasa.
"Kalau begitu ayo kita semua berjuang, demi kemenangan"
"Yah,, demi kemenangan"
"Heyaaaaaaaaaaaaaaaaaa "teriakan semangat untuk bertempur terdengar begitu menggebu dari para Iblis.
Kelompok malaikat jatuh pun tak tinggal diam, mereka ikut maju dengan semangat yang tak kalah menggebu dari lawan yang mereka hadapi.
,,
,,
Sebuah kesenangan tersendiri bagi sang Bintang ketika bisa melampiaskan hasrat berperangnya terhadap kaum Iblis yang begitu ia benci.
"Hahahahaaa, matilah kalian semua Iblis bedebah,, "ungkapnya dengan tampang psycopat ketika membantai satu persatu pasukan Iblis yang tergabung dalam satu Batalyon tempur.
Jrassss
Jlebbb..
"Arrrrrgggghhhh"
Jrasssssshhh
Ia hunuskan secara bergantian senjata yang ia genggam, sudah sangat lama Kokaibel menunggu saat-saat seperti ini. Darah berjatuhan ibarat sebuah hujan, setelah dipenghujung nafas terakhir tubuh mereka terbakar, dan terhapuskan tanpa arti.
Akhir yang menyedihkan.
Jatuh tersungkur dan tewas, meninggalkan ceceran darah yang tetap membekas abadi dikehidupan.
Terus dengan gila ia menyerang kaum Iblis dengan membabi buta, akan tetapi ia tak sadar jika lawan yang akan ia hadapi setelah ini tak selemah yang kini ia bantai.
Wuunnnggg
Braaaaakkkkkk
Sebuah hantaman Demonik power dari arah belakang berhasil membuat Kokabiel terpental jauh kesudut lain.
Brukkk
Tubuhnya tersungkur dengan keras, tampak pakaian yang ia kenakan telah berantakan.
"Ughh,, sial! Siapa yang berani melakukan ini kepadaku? "Ungkapnya kesal dengan raut wajah meringis bercampur geram.
Sipelaku hanya menyeringai senang ketika bidikanya berhasil menjatuhkan Kokabiel. "Khekhekhee,, sebelah sini paman! "Balas sosok yang menjadi pelaku penyerangan.
Jrenngg
Dari situ ia dapat melihat sosok Iblis muda bersurai perak tengah memandangnya rendah. "Cih,, sialan kau Rizevim, kau akan membayar untuk yang barusan, "tukas Kokabiel kepada sosok penyerang yang ternyata merupakan Putra dari Raja Iblis. Rizevim Livan Lucifer.
"Hoooo,, aku akan sangat senang jika kau mampu melakukanya,"balas Lucifer muda enteng.
"Sialan kau, "
,,
,,
Gerbang langit yang menghubungkan syurga pun terbuka, seakan robek dan kemudian menurunkan ratusan ribu punggawa Syurga sekaligus para Seraph yang memimpin, datang berbondong-bondong memecah kelamnya suasana Mekkai yang dipenuhi lolongan rasa sakit.
Blarrrrrr
Sambaran petir terus bergemuruh dasyat, ratusan ribu pendatang baru itu terus meluncur kebawah bak sebuah cahaya yang mencoba menerobos masuk kedalam gelap.
Dua kawanan pembangkang itu menengadahkan wajah mereka keangkasa ketika dirasa sebuah aura suci bersih tanpa noda seperti mencoba mendekat dari sebuah sudut.
"Apa itu? "gumaman penuh tanda itu terdengar serempak dan bersahutan dari kedua kubu.
"Satu,, dua,, bukan, tiga, sepuluh,, astaga banyak sekali"
Deggg
"Ti-tidak mungkin,, i-itu? "
"Hah! Sepertinya ini akan semakin panjang! "Keluh salah satu dari kaum Datenshi.
"Kau benar,, tapi,, apa yang membuat kaum Tenshi datang ketempat ini dalam jumlah besar-besaran "sahut rekanya kemudian.
"Tentu saja perang ini,, sebagai pengikut ayah yang senantiasa patuh mereka akan selalu mencoba menghentikan segala kemurkaan apapun itu"
"Heeeemmm,, jadi begitu! "
,,
Sang pemimpin Tenshi yang berada paling depan mengedarkan pandangannya mencari sesuatu dalam keruhnya Medan perang tersebut.
'Disana ya,,,' pada akhirnya ia merasakan dua energi yang begitu familiar, satunya dari kesucian yang ternoda, satunya lagi sebuah kesucian yang tertutup kegelapan pekat, Energi dari kedua kakaknya.
"Gabriel,, Raphael, Uriel, kalian pimpin semua pasukan, jangan gegabah, dan ingat tugas kita kesini untuk melerai dan menghentikan perang ini"
"Kami mengerti" jawab mereka bertiga serempak.
"Uumb,, ano,, memangnya kau mau kemana Michael-ni? " tanya Gabril kemudian.
"Tenang saja Gabriel, aku hanya ingin menemui Ramiel dan Lucifer dihujung sana"
Degg
'Lucifer-kun'
"Aku ikut denganmu Michael-ni" ucap Gabriel menawarkan diri.
Michael yang mengerti maksud dari Gabriel hanya bisa tersenyum seadanya, ia sudah menduga akan hal itu, tapi ini bukanlah saat yang tepat, "Dengar Gabriel, kita kemari bukan untuk bertegur sapa atau melepas rindu, adakalanya kita harus menahan keinginan atas sesuatu, aku tau kau begitu merindukanya, tapi,, ini bukanlah waktu yang tepat"
Gabriel menundukkan kepalanya diam, ada perasaan kecewa ketika secara tak langsung Michael melarangnya ikut, namun kemudian ia mengerti dengan ucapan pemimpin para Seraph tersebut. "Baiklah Michael-ni,, aku mengerti" ucap Gabriel mencoba menerima, menutupi kekecewaanya dengan senyum yang nampak dipaksakan.
Sedangkan Raphael dan Uriel hanya bisa tersenyum tipis, mereka tau seberapa dekatnya dulu Gabriel dengan Lucifer. Dan mereka tak bisa menyalahkan Gabriel atas perasaan rindu tersebut.
Dan kemudian Michael memisahkan diri dari kelompok dengan terbang kearah yang berbeda,, tak berselang lama Michael telah sampai ditempat tujuan, yakni tempat pertarungan antar kedua pemimpin.
__ADS_1
Dan tepat setelah kedatanganya, kedua pemimpin tersebut menghentikan tingkahnya.
"Kalian berdua,, kumohon hentikan semua peperangan ini, tidakkah kalian berdua sadar jika semua ini akan menyebabkan kekacauan dibumi tempat mereka anak adam hidup, "sebuah suara terdengar lembut namun tegas bersamaan dari sang pemimpin kaum Syurga. "Michael"
Kedua sosok yang dimaksud hanya memandang datar kepada sipengucap yang melayang bebas tak jauh diantara mereka.
"Ini tak ada hubunganya denganmu,,,, Michael, "sergah Ramiel mengomentari.
"Dan jangan ikut campur"
,,
Tentangan itu terdengar jelas dalam Indra pendengaranya. "Kenapa? Apa kalian akan menutup mata jika perbuatan kalian ini akan menimbulkan bencana dan kerusakan pada dunia? "Lanjut sang pemimpin para Seraph, menatap iba kedua kakaknya yang kini saling berseteru, dan tatapanya terkunci pada sosok Iblis bersurai perak panjang.
"Heeemm,, Michael ya! "Sebuah gumamam datar terdengar dari sosok bersurai perak tersebut yang diketahui merupakan "King of Demons".
"Lucifer,, aku mohon, hentikan semua peperangan ini, sebelum benar-benar terjadi hal yang mengerikan"tukas Michael merendahkan diri demi sebuah permohonan.
"Apa yang membuatmu berfikir aku akan menuruti ucapanmu, wahai kebanggaan Ayah? "Balas Lucifer kemudian. Sedangkan Ramiel memilih diam, menunggu giliranya untuk berargumen.
"Ketahuilah Lucifer, kami datang kemari atas perintah ayah, Karena, bahaya yang mengerikan akan muncul seiring berjalanya perang ini, hentikan sebelum semua terlambat, "
'Apa yang Michael maksud dengan sesuatu yang mengerikan? 'Sebuah tanda tanya besar terngiang difikiran Ramiel.
"Cepat atau lambat hal itu akan terjadi, takdir yang telah ditulis ayah dimasa lalu, "gumam Lucifer dengan mata terpejam, ia tidaklah bodoh, tidak pula memungkirinya, sejauh apapun lari dari kenyataan, hanya akan membuatnya seperti pengecut.
"Apa maksudmu Lucifer? "Ucap Ramiel tak mengerti.
"Kita bertiga, akan menghadapi takdir kita dalam pertemuan ini, takdir yang telah ditulis Ayah jauh-jauh hari sebelum masa penciptaan, "
Pada akhirnya sang Gubernur mampu mencerna maksud dari jawaban tersebut. 'Jadi, semua karena takdir ya! 'ungkap Ramiel dalam hati, merenungi dalam diam, teringat dulu kebersamaan sewaktu disyurga.
Mungkin ketiga makhluk Superrior tersebut sedang berdiskusi layaknya kawan, saling berusaha memahami hal yang menjadi rahasia tuhan, tentang takdir masa lalu yang telah digariskan.
"Lalu,, apa yang akan kalian lakukan setelah ini "tanya Michael memastikan.
"Tentu saja,, yang terjadi akan tetap terjadi"
"Hah,, sudah kuduga, tak ada pilihan,, aku akan menghentikan perbuatan kalian"
"Lakukan saja apa yang menjadi tugasmu Michael, kita diciptakan untuk menempuh garis dan jalan kita masing-masing"
Tanpa sebuah komando, ketiga pemimpin Ras Akhirat itu saling menunjukkan tekanan energi mereka, hawa suram dan tak mengenakkan seakan memenuhi tempat tersebut beserta guncangan mengerikan disegala sudut dunia.
Dan-,,,
Blarrrrrrrrr
Tiga kekuatan itu saling berbenturan diudara, mulai menebar bencana diseluruh dunia, dan satu persatu dari makhluk legenda mulai terusik tanpa mereka semua sadari.
,,
Semakin pilu dan menyakitkan, hanya demi sebuah dominasi segalanya dikorbankan, tanpa sadar mereka yang ditugaskan sebagai pelerai malah ikut terseret jauh kedalam petaka tersebut.
Mereka semua akan melihat apa yang akan segera terjadi.
,,
Brakkkkk
Pukulan penuh akan energi berhasil membuat Ramiel terpelanting jauh.
Wusssshhhhh
Secara bergantian, dari sudut lain Michael datang dengan sebilah senjata berupa pedang.
Slassssshhhh
Tebasan itu melesat cepat menuju Lucifer.
Mata merah darah itu hanya melirik sejenak akan keberadaan sebuah bahaya yang datang.
Wuuussshhhh
Bukan menghindar, justru melesat kedepan menyambut tebasan tersebut.
Braakkk
Tebasan yang mengandung Energi suci yang kental itu bukan menjadi masalah untuknya. Mungkin hanya ia sosok Iblis sejati yang tak terpengaruh Aura suci dari kaum pengikut tuhan yang Setia.
"Haaaaarrrrrgggghh"
Lucifer berteriak lantang sembari melepaskan sebuah Energi ungu kemerahan dalam bentuk kobaran api yang membara.
Michael tak akan diam begitu, dengan tenang ia melafalkan sebuah mantra, lalu diangkatnya telapak tangan kanan setinggi dada, lalu berkobarlah sebuah Api suci berwarna putih terang menyerupai entitas Cahaya.
Wussshhhh
Blaaaaaarrrrrrrr
Kedua serangan itu berusaha mendominasi dan saling menenggelamkan satu sama lain, tampak gejolaknya semakin embara dan enggan untuk padam.
"Jangan melupakanku sialan" terdengar suara Ramiel yang langsung ikut melesatkan anak panah berwujud tombak yang berkobar berwarna orange.
Blaaaaaaaarrrrrr
Benturan tiga power itu meledak dahsyat diudara, tanpa sadar hal itu mulai sedikit membuat keretakan diudara kosong, yang artinya Dimensi terdekat yakni bumi mulai terkena dampak luapan Energi yang memenuhi Mekkai.
Lagi dan lagi,, mereka terus beradu kekuatan seakan menunjukkan siapa yang lebih Superrior diantara mereka bertiga, tak akan ada yang mengalah ataupun menyerah, karena konflik perebutan wilayah berubah menjadi rasa ingin menunjukkan siapa yang terkuat. Meskipun itu berlaku sebagai pertarungan antara hidup dan mati. Mereka akan tetap bertempur membawa prinsip dan Ideologi masing-masing.
..
Luapan energi terus menggempur dunia tiada henti, mereka yang terusik mulai menunjukkan existensinya, lalu memberikan jawaban berupa kepedihan dan kehancuran yang tak pernah mereka harapkan.
Dari kejauhan entah sadar atau tidak, tampaklah sesosok wujud berwarna merah meliuk-liukkan tubuhnya diudara, sepasang sayapnya mengepak kokoh seakan mampu menciptakan badai dalam seketika.
Degggg
Tubuh mereka menegang seketika dengan mata terbelalak, Insting mereka bertiga berteriak kencang.
Wuuuuussshhhhh
Sebuah tembakan berupa gumpalan energi berwarna merah menerobos cepat pada kerumunan makhluk supranatural tersebut. Bagi yang sempat segera melakukan manuver untuk menghindari serangan yang dilesatkan oleh naga merah disana.
Booooooommmmmmm
Serangan pemusnah massal itu terus melesat dan menghantam sebuah gunung hingga menyisakan setengah.
Ketiga fraksi hanya mampu terbelalak menyaksikanya, jika saja muntahan energy itu menghantam tepat pada posisi mereka saat ini apa yang akan terjadi.
Musnah berbaur dengan partikel debu, begitulah yang berada dalam fikiran mereka semua.
"Heeeemmmm,,, sepertinya kita kedatangan tamu ya! "Ucap Lucifer sembari memandang makhluk besar berwarna merah yang sedang berenang diudara dikejauhan.
"Wels Dragon Emperror 'Draig' satu dari dua naga surgawi "Ramiel hanya mampu menatap terkejut dengan apa yang berada jauh dalam pandangannya.
Sedangkan Michael hanya bisa menatap sedih, 'Apa yang kukhawatirkan benar-benar terjadi,, Ayah,, apa yang harus kulakukan sekarang? 'Ungkapnya dalam hati, ia sendiri berada dalam posisi penuh kebimbangan.
..
..
__ADS_1