
"Sakit bukan?, jika Anda merasakanya,, itulah yang kurasakan dulu sebagai makhluk seperti kalian, bahkan lebih dari yang kalian rasakan saat ini, jika kalian mengira semua itu cukup untuk menebusnya, kalian salah besar, karena luka yang pernah tanam, tak tidak akan pernah hilang dan pudar, bahkan ketika saya telah menjadi makhluk yang dikutuk sekalipun, rasa sakit itu terus hidup dan semakin menggerogoti jiwaku"
"Dan dengan ini, kalian akan mengerti dan semua akan sadar akan dosa kalian dimasa lalu, Kembalilah pada kehampaan, tempat mereka-jiwa para pendosa, tempat jiwa kekal kalian untuk menghargaii keangkuhan kalian selama melakukan dilembah suci yang terkutuk ini"
"Bahkan shingami sekalipun, akan tergelamkan ia pada kutenggelamkan itu pada jiwa, karena inilah kutukanku, sebagai makhluk yang selalu dibenci, dan sebagai makhluk yang akan terus hidup dalam kesendirian, dalam hitam penuh noda"
..
..
Lonceng kematian kini seolah menggema digendang telinga mereka. Teman, sahabat, kerabat, kini perlahan mulai terenggut satu persatu olehnya, makhluk biadab yang dengan bengis mengambil nyawa Shinobi satu persatu dalam parade fetival berdarah.
Dan inikah wujud hukuman bagi mereka, sebuah penghianatan yang harus mereka tebus dengan nyawa. Lengkap sudah,,, tak perlu ada yang harus ditutup dan dirahasiakan, pada akhirnya kini semua telah terpampang jelas di hadapan mereka, "Dia" telah kembali, dan mendekatkan nyawa satu sama lain untuk dihantarkan pada kehampaan abadi, dan semua ini baru dimulai, akan tiba giliran mereka untuk menerima konsekwensi dari dosa mereka dimasa lalu.
..
..
..
Sudah tidak mampu lagi untuk menyangkalnya, Syok yang begitu berlebihan menjadi satu pemandangan yang kini terlihat di wajah gadis musim semi, ia berharap ini hanya mimpi buruk itu lagi, bukan kenyataan pahit seperti sekarang.
Tepat di sampingnya, desisan tajam dendam menusuk telinga kananya, tubuhnya kaku tak mampu digerakkan, mata tengah melotot tak percaya, "Dia" Uzumaki Naruto, telah kembali, bangkit dari kematian untuk menghukum mereka atas dosa kejam dimasa lalu.
"AWAS SAKURAAAAAAAAAA, 'teriak sang suami ketika melihat istrinya dalam bahaya.
Hingga detik berikutnya, Sakura jika ini bukan saat yang tepat untuk sadar. Kemudian Sakura mendekat dari samping Naruto yang tiba-tiba berada di sampingnya.
Tap
"Kau tidak apa-apa Sakura?, 'tanya sang suami memastikan.
"A-aku tidak apa-apa Sasuke-kun, a-aku hanya tak percaya jika dia-dia benar Naruto, dan itu terlalu mendadak dan mengejutkan untukku, 'balasnya gugup, mau bagaimanapun, perasaanya tengah dirundung ketakutan dan kegelisahan.
"Syukurlah! Jangan lengah Sakura, "Dia"bukan Naruto yang dulu lagi, 'peringat sang suami kemudian.
"Hai,, aku mengerti Sasuke-kun"
,,
,,
Wusssshhh
Wusssshhhhhh
Wusssshhhhhh
Ninja-ninja yang tersisa kini telah melesat sekuat tenaga untuk memberikan perlawanan, mereka tak boleh diam begitu saja, karena nyawa mereka kini telah dipertaruhkan, diam dan menunggu maut, atau melawan berharap mendapat keajaiban. Semangat untuk terus bertahan hidup membuat mereka melupakan rasa takut mereka sejenak.
Saffier beku itu tetap menunjukkan ketenangannya, tak ada rasa takut pada jiwanya kini, karena, ia sendirilah bentuk ketakutan untuk jiwa-jiwa rapuh penuh dosa.
Dari arah depan puluhan senjata merangsek maju kearahnya, senjata yang bermacam-macam bentuk dan ukuran, hasil karya dari seorang Kunoichi bercepol dua, namun bukan senjata-senjata itu yang ia amati, melainkan rupa dari sipembuat, perempuan itu, yang begitu meremehkanya waktu itu dengan senyum mengejek, merendahkannya dengan hina bersama rekanya yang lain.
Puluhan senjata yang tinggal 1 meter lagi itu mendadak terhenti diudara kosong ketika Naruto mengaktifkan salah satu kekuatan terkutuk miliknya, "Menghentikan waktu pada yang dikehendakinya", pada saat itu pula mereka tercengang, terlebih untuk Tenten.
'A-apa yang terjadi,, kenapa serangan-seranganku berhenti begitu saja, 'ucapnya dalam hati.
Dan-,,
Trank
Pyarrr
Senjata itu runtuh berjatuhan seketika, Naruto tetap diam,, kemudian Instingnya merasakan sebuah serangan dari arah belakang.
Sringggggg...
Grepppp
Rantai-rantai hitam kelam muncul dari dalam tanah, Itulah rantai pengekang bagi jiwa para pendosa. Rantai yang muncul tanpa diduga itu kemudian membelit tubuh dari seorang Jounin bermata merah rubi dari Konoha, Kurenai Yuhi.
"Arrrrrrggghhh! Ra-antai apa ini, 'rintihnya diiringi rontaan kuat, rantai yang membelit tubuhnya semakin mengerat, seperti seekor ular yang berusaha meremukkan tulang dari mangsanya.
Wushhhh
Brakkkk
"Ohooookkkkk,, 'istri dari mending Sarutobi Asuma itu terlempar dengan kuat membentur sebuah dinding, wajah cantik itu telah berlumuran darah segar, kesadaran yang tersisa membuat Kurenai mampu merasakan sakit yang teramat sangat. Nafas seakan tercekat di tenggorokan ketika ia melihat mata itu menatapnya nyalang. Mata yang haus akan darah.
__ADS_1
,,
"Ku-kurenai-senseiiiiii,, sial! Berani-beraninya bajingan itu, 'desih Kiba geram tatkala melihat mantan Jounin pembimbingnya yang kini terbaring lemah.
"AKAN KUBUNUH KAU BAJINGAAAAAAAN, 'teriak murka dari calon pewaris klan Inuzuka, melesat maju bersama partner anjingnya, "Akamaru".
Garoga
"HEYAAAAAAAAAAAAAAA
Grebbb
"Ap-,,,
"ARRRGGGGGGGHHHHHHHHHH, 'lolongan kesakitan terdengar memekakkan telinga ketika Naruto mencekik leher Kiba dengan kuat, bahkan putaran dahsyat dari Jutsu kombinasinya dengan Akamaru bukan sesuatu yang berarti untuk Naruto.
"Inuzuka Kiba,, 'ucap Naruto dengan nada yang terdengar penuh kebencian, menatap mata khas anjing itu dengan penuh intimidasi, ia ingat jelas wajah dari pemuda yang tengah dicekiknya, mantan sahabat yang terus menganggapnya pecundang rendahan.
,,
"Le-lepaskan a-ku Brrr-rengsekkk,, 'rintihnya kemudian, ketakutan kian terpancar dari bola matanya ketika melihat wajah kosong namun menyimpan begitu banyak dendam itu.
"Diamlah sebentar, dan-,,,
"Tunggu giliranmu, 'lanjut Naruto kemudian.
Syuuuut
Wusssss
Brakkkkk
"Arrrrggggggghhhhh,,,, 'jerit Kiba kemudian, sungguh sakit, ketika sebuah pukulan kuat menghantam wajahnya.
"Hah,, hah,, hah,, ughhh, 'ringis Kiba ketika merasakan wajahnya nampak panas dan begitu nyeri. Namun ia cukup lega ketika bisa kembali bernafas dengan teratur.
'Sial,, bagaimana mungkin Jutsuku bisa dihentikan begitu saja, 'racau Kiba kemudian, ia tak habis fikir, bisa-bisanya serangan terkuatnya tak berarti sama sekali kepada Naruto.
Sedangkan Naruto kini tengah memungut seekor anjing putih yang tergeletak.
Bahkan seekor anjing pun menjadi penghianat, 'ucapnya dalam hati. Sungguh miris tatkala ia menyadari betapa rendah posisinya didunia ini.
Krakkkk
'Pergi dan tunggulah majikanmu diNeraka'
Grakkkkk
Mati dan terhapuskan Existensinya, menyisakan sebuah duka yang mulai menghancurkan mental. Sang pemilik hanya bisa berteriak tanpa suara ketika ia melihat partnernya sejak kecil telah terobek menjadi dua bagian.
Tesss
Tesssss
Airmata deras perlahan turun membasahi pipi Kiba, Akamaru, anjing kesayangannya telah tewas dengan cara yang biadab.
"A-akamaru, 'ucapnya getir, ketika merasakan bagian penting dalam hidupnya telah hilang.
Sedangkan bersama Shinobi yang lainya semakin dibuat gemetar, sungguh, sosok dihadapan mereka kini bukan lagi seorang Monster, "Iblis", mungkin itulah kata yang cocok untuk menggambarkan siapa Naruto dalam pandangan mereka saat ini.
Setelah itu Naruto berjalan pelan menuju tempat dimana Kurenai terbaring, melewati Kiba yang tengah menatapnya penuh kebencian, namun, Naruto tak peduli akan hal itu..
Tap
Tap
Kemudian berjongkok dan memandang kosong perempuan yang bersimbah darah itu, dan Kurenai sendiri jujur merasa sangat takut ketika iris merah Rubi nya bertatapan dengan sepasang Saffier beku yang tak ada kehidupan sama sekali. Dulu sekali, ia pernah melihat Saffier itu penuh akan cahaya dan kehangatan.
Greeeeeppppppp
Lengan kekar itu menggenggam erat rambut ikal dari master Genjutsu tersebut, kemudian menyeretnya dengan tak berperasaan.
"ARRRRGGGHHHHHH,, NA-NARUTO MA-AF,, A-AMPUNI AKU,, 'ucapnya terbata, menahan rasa sakit yang semakin perih untuk dirasakan.
"Kau tau apa kesalahanmu?"
"Hikss, ma-maaf, 'airmatanya telah mengalir deras tanpa sanggup untuk dibendung, Kurenai tau, ia juga terlibat dalam tragedi penghianatan yang mengorbankan pemuda dihadapannya. Tak bisa mengelak dari kenyataan, ataupun lari dari fakta menyedihkan saat ini.
,,
__ADS_1
,,
"Naruto,, lepaskan Kurenai, jika tidak kami akan benar-benar membunuhmu!, 'ucap Kakashi tegas dengan exspresi marah melihat mantan muridnya telah kelewat batas.
Kemudian Naruto menatap mantan Senseinya itu dengan tajam, dan ia ingat, betapa brengseknya mantan guru dihadapannya itu.
"Membunuhku? Apa yang membuatmu begitu percaya diri, Kakashi? "
Entah mengapa nada yang terdengar datar itu membuat Kakashi geram, wajah yang selalu tertutup masker itu nampak mengeras, buku jarinya terkepal erat hingga memutih. Tak mampu menjawab barang sepatah katapun.
'Sial,, apa yang harus kulakukan, 'tukas Kakashi dalam hati.
Semua ninja kini hanya mampu terdiam, menatap pilu tubuh Kurenai yang kini diseret hidup-hidup, apa yang bisa mereka lakukan, bahkan rantai-rantai hitam itu seakan hidup untuk terus melindungi si pemilik dari setiap sudut, berbagai macam Jutsu mereka lepaskan untuk bisa meruntuhkan rantai-rantai itu, namun bak sebuah Benteng kokoh yang takkan pernah runtuh.
Tangisan kepedihan mulai terdengar menyayat hati, ketika melihat pemandangan yang tak pernah ingin mereka lihat, "Dia" Naruto dengan bengis telah menancapkan dua buah besi hitam pada kelopak mata Kurenai.
"ARRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHH SAKIIIIIIIIT", 'teriakan kesakitanya terasa begitu pilu, mengiringi hari yang mulai menggelap malam, matahari yang telah turun dari tahtanya sebagai sang Raja siang, kini telah berganti Bulan Purnama yang begitu terasa kelam, semua terasa kompleks bersamaan dengan hari penuh duka.
Tesssss
Tesssssss
Puluhan pasang mata itu telah dibanjiri lelehan airmata kesedihan, tubuh mereka bergetar, dengan nafas yang memburu, keringat dingin telah merayapi setiap jiwa yang berdosa, kemana harus lari dari iblis dihadapan mereka. Fikiran mereka pun menerka-nerka apa yang akan menimpa mereka setelah ini, mimpi yang berganti nyata.
Iris merah Rubi itu, kini telah kosong dengan warna merah darah, tubuhnya menggigil ketakutan, merangkak entah kemana tanpa mampu melihat.
Deb
Hingga penghujungnya Kurenai berhenti seketika tatkala kepalanya menabrak sesuatu, kemudian meraba-raba apa yang kini berada dihadapanya. Dan ia tau jika itu sebuah kaki.
"Hikss,,, to-tolong a-aku, ku-kumohon siapapun, 'rintihnya memohon. Berharap si pemilik kaki itu menolongnya. Namun sungguh miris, karena kaki itu, adalah kaki dari sipembantai.
Greppppp
Lagi-lagi, lengan kekar itu kembali mencekal erat rambutnya.
"AARRRRRGHHHH,, SA-SAKIIT"
"Diamlah perempuan sialan, 'ucap Naruto dengan keras.
"Na-naruto, a-aku mohon, ma-maafkan aku! "
",,,"
"Pergilah menuju kehampaan, dan-,,,
Sampaikan maafku pada Asuma"
Jleebbbbbbbb
"O-ohokkkkkkkk"
Dengan biadabnya Naruto menusuk dan kemudian mencabut jantung dari Kurenai.
Deb
Brughhh
Jatuh berlutut kemudian ambruk dengan mengenaskan. Dan seperti sebelumnya, tak ada yang mampu menghentikanya.
DEGGGGG
"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKK, 'teriakan demi teriakan mengiringi kepergianya, terbujur dalam bangkai tanpa nyawa,
"Ti-tidak mungkin, Ku-kurenai-sensei,, dia ma-mati,, 'gadis Yamanaka itu tampak tengah melotot melihat mantan Jounin pembimbing Team-8 itu tewas dengan mengenaskan. Buliran bening itu menciptakan anak sungai kecil disudut matanya.
Brughhhh
Para Kunoichi itu terduduk lemah tak berdaya, inikah yang disebut Karma, membawa kisah pilu untuk sekedar dikenang, dan begitu pahit ketika harus dirasakan dalam setiap detiknya. Sedangkan Sakura yang menyaksikan pembantaian tersebut hanya bisa menutup mulutnya dengan berkaca-kaca. Hatinya mencelos tatkala ia melihat hal yang selalu menjadi penghias dalam tidurnya.
Dan perlahan rantai-rantai itu kembali masuk kedalam tanah, menunjukkan sesosok pemuda bersurai pirang yang sekujur pakaianya penuh akan noda darah, wajah kosong itu, penuh akan kebiadaban dan kebengisan yang benar-benar telah kelewat batas.
'Sebegitu bencinya kah kau kepada kami?, 'hanya mampu mengungkapkan sebait kalimat dalam hati, itulah yang bisa dilakukanya saat ini. Matanya terpejam erat, untuk menikmati hembusan angin yang bercampur bau anyir darah, Kakashi tahu, akan tiba saatnya ia merasakan kepedihan dari Karma, seperti apa yang kini tengah berada di hadapanya.
,,
”
”
__ADS_1
”