
Pelupuk mata yang sempat berarir beberapa waktu lalu kini telah berganti dengan tatapan seekor predator kembali, netranya menatap jauh kedepan tempat dimana sang tamu berdiri angkuh, tatapan merendahkan yang begitu jelas kentara diraut dua wajah dari ketiganya. Tatapan yang begitu ia benci,, dimana tatapan itu mengartikan betapa rendah dan hinanya makhluk lain dihadapan seseorang.
Dan tak bisa dipungkiri jika tatapan itu ditunjukkan kepadanya, karena jelas-jelas hanya ia yang berdiri dihadapan mereka saat ini.
Takut?
Gentar?
Tak ada kata itu lagi dalam kamusnya, baginya takut hanyalah sebuah mitos dan hal konyol yang takkan pernah lagi ia rasakan.
Tubuh kekar berbalutkan celana hitam compang-camping itu tampak menunjukkan gestur seorang petarung yang siap untuk bertempur sampai kapanpun dan disaat apapun, tak ada kata lelah ataupun mengenal batasan, Stamina yang terlampau mengerikan, juga insting bertarung yang telah terasah tajam.
Naruto tak mengerti, apa yang mereka banggakan hingga merasa dirinya yang terkuat dan merasa tak ada yang mampu mengalahkanya, baginya prinsip sedemikian rupa hanyalah omong kosong. Karena ia sendiri yang akan mematahkan presepsi tersebut untuk menunjukkan bahwa,,, mereka yang memiliki satu atau bahkan ribuan nyawa sekalipun, akan tetap ia tenggelamkan pada keabadian Neraka hingga mereka merengek berharap pengampunan.
„
"Khukhukhuuu,, Kinshiki, Toneri,, lihatlah serangga itu, "Dia"tampak menyedihkan, 'sebuah suara yang terdengar angkuh dan meremehkan itu terucap dari sosok yang berdiri melayang paling tengah, berparaskan bak seorang bangsawan, sekilas terlihat mirip seperti perempuan, dengan dua tanduk yang terlihat mirip dengan Dewi Kelinci, Sosok tersebut adalah Otsutsuki Momoshiki.
"Grrr,,, kau benar tuan, 'sahut salah satu yang disebutkan namanya, berpostur tinggi besar dengan lengan tangan kokoh nan panjang menjuntai kebawah hampir mencapai kaki, Otsutsuki Kinshiki.
"Kehhh,,, aku merasakan sedikit sisa Chakra Ashura didalam tubuh pemuda itu,, 'tukas sosok berpostur sedang, dengan surai perak kebiruan, Otsutsuki Toneri.
"Ashura?"
"Yah! Ashura, putra bungsu dari Hagoromo,, 'lanjut Toneri sembari terus menatap sipemuda yang berada cukup jauh dari tempatnya berada.
"Menarik,, 'seringai meremehkan tercipta disudut bibirnya, kemudian mengaktifkan Byakugan miliknya untuk melihat sistem peredaran Chakra dari pemuda yang berdiri jauh dibawahnya.
'Chakra biru kuyakin Chakra murni milik pemuda itu. Kuning terang ? Ah,, itu pasti Chakra si bodoh Ashura. Lalu,, Chakra hitam kemerahan itu? Khukhukhuu, tidak salah lagi,, dari Monster mata satu yang kucari. Dan satu lagi,, ugh,, sebuah energi hitam kelam yang berkobar ganas, terasa lebih dominan dari pada yang lain, 'batin Momoshiki ketika Byakugan miliknya dapat melihat dengan jelas tiga sumber Chakra yang berbeda, dengan satu lagi energi gelap yang entah apa namanya.
"Kinshiki,, Toneri, kalian berdua harus waspada, pemuda itu sangat berbahaya"
"Aku mengerti,, tuan"
"Seperti yang kuduga! "
,,
,,
Naruto tak sedikitpun bergeming, telinganya jelas menangkap suara obrolan dari tiga tamunya tersebut. Dan sesuai dugaanya, mereka bertiga membawa darah Klan terkuat dimasa lalu. "Otsutsuki".
"Khukhukhuuu, sepertinya akan terjadi pertempuran?, 'ucap Rubah hitam yang ikut mengamati tiga Alien yang tengah melayang itu.
"Entahlah,,, 'balas tenang sipemuda, surai pirangnya kembali bergerak liar ketika deru angin kencang kembali menerpa wajahnya. Membiarkan sejenak sensasi menenangkan ini ia rasakan.
"Grrr,, sepertinya pemuda pasir dan bocah bodoh itu sudah menyelesaikan tugasnya, 'lanjut sang rubah hitam kemudian ketika samar-samar ia merasakan dua Chakra yang cukup familiar mulai mendekat.
,,
,,
Tap
Tap
Tap
"Astagaaaaaa,, apa yang terjadi ditempat ini, 'ucap Konohamaru ketika ia mulai memasuki markas pusat Aliansi Lima Desa besar yang tampak luluh lantak seperti diterjang badai.
"Heeemm, kuyakin ini perbuatanya, 'balas Gaara datar seiring berjalan disamping Konohamaru, iris mata Jadenya terus mengamati keadaan sekitar yang tampak lebih mengerikan dari pada sebuah medan peperangan sekalipun.
"Benar-benar mengerikan, dan-,,,,
"Tak ada sedikitpun tanda-tanda kehidupan, 'lanjut Konohamaru kemudian.
Gara hanya terdiam, tak berniat membalas ucapan bocah remaja disampingnya, bukan karena apa,, tapi, netranya tengah memandang seonggok mayat yang tertimbun tanah beberapa meter dihadapannya, Gaara merasa familiar tatkala matanya melihat surai kuning cerah berkuncir empat.
'Temari, 'ucapnya kemudian,, langkahnya pun terhenti sesaat ketika ia sadar bahwa seonggok mayat tersebut adalah kakak tertuanya.
Sedangkan Konohamaru sendiri sedang memainkan sebuah kepala tanpa badan dengan kakinya, ia gerakkan kekiri dan kekanan. Beranggapan jika kepala itu tak lebih rendah dari sebuah bola.
"Cih!,, inilah hukuman yang pantas bagi kalian para penghianat, 'ucapnya kesal, ia sendiri merasa begitu muak sejauh ini,, sebuah tempat yang penuh akan para penghianat, dengan lembutnya bersandiwara hanya untuk memenuhi hasrat pribadi mereka, dan kemudian,,, menikam dengan kejam dari belakang.
Duaggggkk
Wushhh
Bragkk
Entah melesat kearah mana kepala tersebut tatkala Konohamaru menendangnya dengan keras. Yang jelas bisa ia pastikan jika kepala tersebut telah hancur.
Dan dengan tak berdosanya remaja berumur 15 tahun tersebut menoleh kesana-kemari berharap menemukan sesuatu yang menarik. Terlebih keberadaan sipelaku yang merupakan tujuan utamanya datang ketempat ini.
Sedangkan Gaara kini memutuskan untuk mendekati jasad tersebut, berjongkok pelan dan memandang jasad kakaknya. Sedih,, tentu saja, bagaimanapun mereka masih memiliki ikatan sedarah, dimana terlahir dari benih dan rahim yang sama. Namun,, hukuman tetaplah hukuman, kedua kakaknya lebih memilih kubu Aliansi dari pada mengikutinya untuk membelot.
„
"Temari,,, seandainya kau memilih jalan kebenaran,, kau tak akan pernah berakhir semenyedihkan ini, keegoisanmu telah menyebabkan karma untukmu sendiri, 'ucap Gaara sendu sembari mencoba membersihkan wajah pucat berlumur darah tersebut.
"Pergilah dengan tenang-,,,
"Temari-ni"
Wushhhhh
Seonggok tubuh tak bernyawa itu perlahan melebur dalam serpihan pasir, dan pergi bersama angin ketempat dimana tubuh itu berada seharusnya, tempat lahir mereka yakni gurun pasir Sunagakure.
Memejamkan pelan kelopak matanya sesaat, mencoba meredam kesedihannya, dan perlahan tubuh itu bangkit diiringi kelopak mata yang terbuka, ia kubur perasaan dan kesedihanya sedalam mungkin direlung jiwanya, tak ada yang harus ditangisi ataupun disesali.
Kini hanya tersirat sebuah ketegasan diraut wajah datar sang Kazekage yang terlupakan itu, sudah sejauh ini melangkah, dan pantang baginya untuk menoleh kebelakang, entah jalan apa yang akan ia lalui bersama kelompok kecilnya nanti, yang jelas, ia sudah siap untuk mengikuti takdir sahabatnya.
Tap
Tap
Tap
"Ano,, Gaara-ni,, aku tak menemukan Naruto Ni-san disekitar sini, 'ucap Konohamaru dengan tampang bodohnya.
Gaara hanya diam tanpa memberikan sebuah jawaban, kemudian memejamkan matanya pelan untuk sekedar berkonsentrasi, berusaha mendeteksi aura keberadaan Naruto lewat perantara hembusan angin yang berlalu.
__ADS_1
"Sebelah barat sekitar dua Kilometer dari tempat ini,, 'ucapnya kemudian ketika samar-samar ia merasakan aura yang familiar dan beberapa aura berbeda.
"Kita pergi, sepertinya Naruto sedang berhadapan dengan lawan yang tangguh, 'lanjut Gara kemudian.
"Hai"
Wushhhhhhh
„
Masih saling terdiam,, ketiga Otsutsuki itu tengah mencoba mengintimidasi pemuda dihadapan mereka dengan aura yang mereka pancarkan. Aura yang bisa membuat Ninja sekelas Elite Jounin bertekut lutut,, namun,, tak ada reaksi yang mereka dapatkan, hanya tatapan kosong bak mayat hidup dari pemuda tersebut.
Kedua alisnya merajut ketika merasakan sebuah hawa intimidasi atau Killing Intens yang dipancarkan ketiga tamunya. "Hanya itu?,, 'ucapnya pelan, namun masih dapat didengar jelas ketiga Otsutsuki tersebut.
Merasa diremehkan adalah hal yang belum pernah mereka rasakan sejauh ini. Sebagai Generasi terakhir Klan terkuat dimasa lalu membuat mereka begitu percaya diri dengan kemampuan yang mereka miliki.
"Grrrrrrrrrr,,, berani-beraninya pemuda itu meremehkan kita. Tuan Momoshiki,, izinkan aku menghabisi serangga itu, 'desis Kinshiki kemudian, ia tak terima jika harus diremehkan, apalagi secara tidak langsung pemuda itu meremehkan tuan nya tersebut.
"Lakukan dengan cepat,, Kinshiki,,"
Sebuah kesalahan fatal, sangat-sangat fatal ketika dengan percaya dirinya mereka merasa mampu menghabisi pemuda dihujung sana dengan mudah.
Wushhh
Sebuah pendar merah melengkung muncul dipunggung Kinshiki, lengan besar miliknya bergerak kearah pendar merah tersebut, dan-,,,
Sringgg
Sebuah kapak besar telah ia keluarkan dan ia genggam kuat, seakan pendar merah tersebut merupakan sebuah dimensi penyimpanan atau mungkin sebuah kemampuan menciptakan senjata.
"Kau akan menarik pernyataanmu barusan,,, makhluk rendah, 'ucap Kinshiki dengan raut wajah yang mengisyaratkan kemarahan.
Wushhhhhh
Melesat dengan cepat bak sebuah meteor kearah pemuda yang tengah menatapnya kosong dari bawah.
„
„
Sedangkan Naruto sendiri, entah mengapa merasa begitu muak dengan wajah-wajah pucat itu, mereka tak tau apa yang sedang mereka hadapi saat ini.
Sringg
Pedang hitam yang sebenarnya hanyalah sebuah replika itu kini kembali berada digenggamanya, yah! Pedang hitam tersebut hanyalah sebuah replika, sedangkan yang asli masih menunggu sipemilik menjemputnya langsung didasar Neraka terdalam, tempat mereka para pendosa dihukum dalam keabadian.
"Dan serangga ini akan menjadi seekor predator jika kalian datang dengan niat membunuh, 'ucapnya yang terkesan monoton, namun,, tersimpan hal yang sangat berbahaya didalamnya.
"Datanglah"
,,
"HEYAAAAAAAAAA, 'teriakan perang yang terdengar keras tersebut dibarengi sebuah ayunan kuat dari lengan kanannya yang menggenggam erat senjata berupa kapak.
Trankkkkkk
Wussshhhhhhh
"Apa yang kalian inginkan dariku?, 'dalam keadaan bersitegang tersebut Naruto memberikan sebuah pertanyaan yang terdengar datar untuk lawan dihadapannya.
"Grrrrr,, makhluk yang berada didalam tubuhmu,, itulah tujuan kami kemari,, 'ucap Kinshiki dengan suara beratnya.
"Begitu,,, ambillah-,,,
"Jika kau mampu tentunya, 'lanjut Naruto kemudian sembari menatap kosong sepasang mata Byakugan yang berkilat tajam dihadapannya. Diiringi sebuah rembesan Chakra hitam yang seakan bocor dari wadahnya.
Sepasang mata Byakugan yang beberapa detik sebelumnya menunjukkan kemarahan kini tampak melebar terkejut.
'Sial,,, tak akan sempat, 'umpatnya dalam hati!.
Wushhh
Blarrrr
Ledakan Chakra dari Naruto mementalkan Kinshiki beberapa meter kebelakang.
"Grrrrrr,, berani-beraninya,, akan kubunuh kau bedebah, 'ungkap Kinshiki murka. "HEYAAAAAAAAAAAAAAA,,, 'kembali melesat cepat kearah sipemuda yang kini tengah menunjuknya dengan ujung pedang hitam yang digenggamnya.
Wushhhh
Wushhhh
Tak hanya Kinshiki,, Naruto pun ikut melesat secara bersamaan, seakan menyambut kedatangan lawanya.
Srettt
Trank
Trankk
Trank
Hujaman demi hujaman kapak dari Kinshiki selalu dapat dimentahkan Naruto begitu saja, keduanya saling bertarung dengan kecepatan diatas rata-rata, kilat putih kebiruan tampak terlihat terdesak ketika kilat hitam pekat itu terus memberikan tekanan, sebuah pertarungan udara melawan gravitasi. Namun perlahan keduanya bergerak turun diatas permukaan tanah.
Krakkk
Prankkkk
'Sialll,, 'umpat Kinshiki tatkala kapak yang digenggamnya hancur berkeping-keping.
"HEYAAAAAAAAAAAAAAAAA, 'dengan sekuat tenaga Kinshiki menghantamkan lengan kanannya kearah lawanya.
Wushhhhhhh
Brakkkkkkkkkkk
'Cepat sekali pemuda itu, 'ungkapnya tatkala lawanya telah menghilang entah kemana, menyebabkan pukulanya bersarang dipermukaan tanah yang tampak hancur dan menciptakan retakan besar dan meluas kesuluruh area tersebut.
Sreeet
'A-apa, '
__ADS_1
Duakkkkkkkkkkk
Naruto menghantam punggung Kinshiki dengan keras dari arah belakang, menyebabkan Kinshiki terperosok dibawah tanah.
„„
"Sepertinya tak semudah yang kau katakan,, Momoshiki! 'Ucap Toneri kemudian, mata biru tajamnya terus mengamati pergerakan pemuda tersebut, dan ia dapat mengambil sebuah kesimpulan. Kecepatan fisik yang gila, Stamina Monster, dengan Tenaga yang mengerikan, Insting yang begitu tajam, dan itu merupakan sebuah hal yang sangat sulit digapai dimana kriteria tersebut dengan lengkap dimiliki pemuda tersebut.
"Khukhukhuuu,, bukankah dengan begitu menjadi semakin menarik,, Toneri. Baru kali ini aku melihat lawan yang mampu membuat Kinshiki kewalahan, tapi tetap saja, serangga itu tak ada apa-apanya bagiku, 'balas Momoshiki dengan arogan, sekuat apapun lawan yang pernah ia temui, ia tak sudi untuk sekedar menurunkan harga dirinya. Karena bagaimanapun, Ego-nya terlampau tinggi untuk sekedar mengakui keunggulan lawanya.
"Keh,, tak pernah berubah, kau selalu saja meremehkan, 'balas Toneri kemudian.
"Aku tak ped-,,,
Sreeeetttt
Deg
'Ba-bagaimana mungkin, 'batin mereka berucap serempak, terkejut dengan mata terbelalak lebar.
Dalam sekejap, raut wajah kosong dari sipemuda itu telah muncul tepat dihadapan mereka.
Buaghhh
Buagggghhhh
Wussshhhh
Brakkkkkk
'Uggggh,, siallll,, beraninya serangga itu melakukan ini kepadaku, 'racaunya dalam hati ketika sebuah pukulan membuatnya meluncur deras menghantam tanah.
'Ughh,,, kecepatan dan tenaganya benar-benar mengerikan, cih!, aku harus waspada, 'batin Toneri memperingatkan dirinya sendiri.
Dan kemudian keduanya lekas bangun dari terjatuhnya, terlihat begitu kentara raut kemarahan diwajah pucat Momoshiki, baru kali ini ada yang mampu membuatnya terjatuh hanya dengan satu pukulan, dan jelas,, ia tak terima akan hal itu.
Sedangkan sipelaku tetap melayang diudara dengan tenang, menatap diam dua lawanya yang kini berada dibawahnya. Lalu menggerakkan lengan kanannya kedepan, dengan jari telunjuk yang mengacung lurus.
Wushhhhhh
Tanpa menunggu lama pendar hitam sebesar kelereng tercipta dan langsung melesat cepat kearah target.
Wushhh
Dilain pihak Momoshiki menyeringai senang ketika serangan itu semakin mendekatinya. "Khukhukhuuu,, inilah bagian yang kusuka, 'ucapnya sumringah.
Semakin mendekat dan-,,,
Zrutttt
Serangan tersebut terserap masuk ketika Momoshiki merentangkan tangan kanannya kedepan.
Setelah serangan tersebut terserap sempurna, kini terlihat sebuah mata dengan pola riak air berwarna merah ditelapak tanganya.
,,
,,
Kedua matanya memicing tajam tatkala melihat sesuatu berwarna merah yang berada ditelapak tangan lawanya. 'Rinnegan?, kau bisa menjelaskannya?, 'ucapnya dalam hati tatkala Saffier bekunya dapat melihat dengan jelas sebuah mata merah menyala ditelapak tangan lawanya meski dari jarak yang cukup jauh sekalipun.
'Cih,,, sisa buah Chakra yang dimakan Kaguya waktu itu, kuyakin Alien itu mendapatkan Rinnegan setelah mengkonsumsi sisa buah Chakra, dan aku juga merasakan Chakra Hachibi didalam tubuh pemilik Rinnegan itu, 'jawabnya geram tatkala mengetahui kekuatanya dipergunakan makhluk lain.
Walau bagaimanapun, Monster itulah sumber utama manusia didimensi ini memiliki Chakra, zaman dulu hanyalah manusia tanpa kekuatan, meski saling berperang, namun, jauh sebelum Era Shinobi dimulai, mereka para manusia berperang dan saling membunuh dengan kekuatan fisik dan senjata, hingga masa itu tiba, ketika ia mendapatkan kutukan dari sang pencipta, ia diasingkan dari tanah terkutuk Mekkai ketempat ini, bukan tanpa alasan ia dikutuk didimensi ini, melainkan untuk menunggu sipenunggang dari Neraka yang ditakdirkan menjadi tuanya.
"Souka,,! 'Balas Naruto singkat. Baginya ia sudah cukup faham dengan kehidupan masa lalu sebelum Era Shinobi dimulai, pengetahuan yang ia dapatkan dari Zetsu hitam sudah lebih dari cukup untuknya mengetahui bagaimana gambaran masa lalu.
„„
Tak henti sampai disitu, kemudian Momoshiki merentangkan lengan kirinya kedepan. "Aku kembalikan,, serangga"
Seperti awalnya, serangan tersebut kini meluncur deras keatas menuju sipemilik asli Jutsu tersebut.
'Jadi begitu cara kerjanya, satu dikanan berfungsi menyerap, satu dikiri berfungsi mengeluarkan, kemampuan yang cukup unik, 'ucapnya dalam hati ketika dalam diam ia mencoba menganalisa kemampuan lawanya.
Wushhh
Brakkkk
Duaaaarrrrrrrr
Serangan barusan terpental kearah lain ketika Naruto mengibaskan lengan kirinya seakan serangan tersebut tak berarti sama sekali untuknya.
„„
"Cihh!,,, bagaimana mungkin bedebah itu mementalkanya begitu saja, 'geram Momoshiki ketika melihat langsung cara pemuda yang melayang jauh dihadapannya mengatasi Jutsu yang ia kembalikan.
"Sudah kukatakan jangan meremehkan lawanmu Momoshiki, kau sendiri yang berkata jika pemuda itu berbahaya, 'sahut Toneri kemudian.
"Diamlah Toneri,, 'balas Momoshiki dengan nada sedikit meninggi.
"Cih! Terserah kau saja, 'decih Toneri kemudian.
,,
Lalu Naruto memutuskan turun dan menapak diatas permukaan tanah, dan kemudian berjalan menuju dua Otsutsuki yang tengah memandangnya berbeda-beda, dimana yang bertanduk atau Momoshiki menatapnya tajam penuh amarah, sedangkan satunya lagi, Toneri tengah memandangnya seakan bertanya-tanya ketika netranya menatap lubang bulat menganga didada kiri pemuda tersebut.
Tap
Tap
"Apa yang membuat kalian [Otsutsuki] begitu percaya diri?, 'ucap Naruto tenang, surai pirangnya tampak menutupi mata kananya, dan sesekali beterbangan akibat hembusan angin, tubuhnya masih nampak berlumur darah yang mengering, dengan sikap tegap yang menunjukkan kegagahan dan keperkasaannya sebagai petarung sekaligus pembantai para pendosa.
„
"Cih! Jangan berbicara seolah kau lebih kuat dariku makhluk rendahan, 'begitulah jawaban yang terlontar dari Momoshiki.
"Apa yang membuat makhluk sepertimu mampu hidup tanpa jantung?, 'ungkap Toneri kemudian, mencoba memecahkan rasa keingintahuanya akan pemuda dihadapannya.
„
"..........
__ADS_1